it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

21.4.11

Tak perlu menipu dalam promosi


foto http://blog.pulsa.web.id/2008/03/18/perang-tarif-ala-gsm.html


Berikut adalah keluhan dari seorang konsumen yang dia tulis di situs Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia http://www.ylki.or.id/consults/view/34. Saya berharap ini menjadi pelajaran yang baik untuk kita.

Promosi First Media Menipu Konsumen

Hindarta Kamis, 18 Juni 2009

Pada tanggal 13 Juni 2009, saya mengunjungi pameran FKI 2009 (Fetival Komputer Indonesia) di Jakarta Convention Center dan saya mampir ke stand First Media. Di sana, sedang ada promosi untuk pemasangan baru, yaitu untuk berlangganan layanan Home Cable 66, maka seluruh channel akan dibuka selama 3 bulan. Dan untuk pendaftaran Fast Net, maka akan diberikan free biaya berlangganan untuk 1 bulan pertama dan pembelian cable modem dengan harga 50%. Kemudian saya mendaftar untuk berlangganan Home Cable 66 dan Fast Net 384kbps.

Pada tanggal 16 Juni 2009, dilakukan pemasangan untuk kedua layanan tersebut di rumah saya. Keesokan harinya saya menghubungi customer service First Media untuk mengaktifkan all channel selama 3 bulan, sesuai dengan promosi mereka di FKI. Tetapi ternyata hal itu tidak dapat dilakukan, karena menurut mereka, saya adalah pelanggan lama, sedangkan promosi ini hanya khusus untuk pelanggan baru, yang belum pernah sama sekali menggunakan layanan mereka. (2 tahun lalu memang saya pernah berlangganan layanan mereka, kemudian berhenti berlangganan karena saya menggunakan provider lain).

Seandainya pada saat pendaftaran, disebutkan tentang hal ini, maka saya tidak masalah. Tetapi karena pada saat pendaftaran, tidak ada pemberitahuan sama sekali tentang hal ini, baik secara lisan maupun tulisan, maka saya merasa tertipu oleh promosi Firt Media.

Saya hanya menginginkan agar apa yang telah dijanjikan pada saat pameran, yaitu all channel dibuka selama 3 bulan, dapat direalisasikan. Terima kasih.

Name : Indarta

Account : 461534

Telp.021-70224038



Keluhan diatas sebenarnya banyak sekali dialami oleh para konsumen. Keluhan-keluhan serupa sering terjadi karena salah persepsi yang biasanya tetap dimenangkan oleh pihak promotor dan konsumen dalam posisi pasrah tetapi tak rela.

Memang tetap saja semuanya bisa diselesaikan, tetapi dalam proses itu kekecewaan mencokol dan menyebabkan ketidakpuasan yang dalam.

Kondisi dan ketentuan berlaku

Inilah bahasa hukum yang sering dijadikan alat untuk menutupi kekurangan atau kelemahan promosi. Contoh sederhana adalah pada beberapa waktu yang lalu, salah satu operator telekomunikasi selular yang mempromosikan besar-besar bahwa penggunaan telepon-nya gratis. Tetapi dengan kondisi-kondisi yang sangat rumit dan sulit serta penulisan bergaya trik syarat tersembunyi yang tidak diketahui konsumen. Kondisi tersebut diperparah perilaku konsumen yang enggan mencari informasi yang lebih jelas mengenai promo atau tarif murah tersebut. Konsumen sering tergiur pada harga murah sementara yang ditawarkan. Bentuk trik yang umum dilakukan adalah ketika para operator menawarkan tarif murah hanya berupa promosi pada saat tertentu saja, bukan tarif reguler yang berlaku selamanya.

Atau pedagang retail di pasar modern yang menyebutkan diskon besar-besaran tetapi ternyata untuk item tertentu pada jam tertentu saja tanpa kejelasan yang detail sehingga membuat pembeli salah sangka dan merasa terjebak oleh bahasa promosinya.

Sama dengan bank yang menawarkan gratis iuran tahunan kartu kredit atau nilai bunga rendah yang ternyata hanya berlaku untuk tahun pertamanya saja dan kemudian naik setinggi-tingginya pada tahun kedua dan seterusnya.

Secara hukum, mungkin langkah ini dibenarkan, tetapi niat buruk yang berpotensi menjebak pelanggan sangatlah tidak bijaksana. Artinya, pada saat yang sama, seseorang berpromosi untuk mendapat perhatian dan simpati masyarakat tetapi pada saat yang sama ia sedang mempertinggi tempat untuk jatuh. Pada saat yang sama ia sedang menggali kuburannya sendiri, karena kekecewaan masyarakat atas jebakan bahasa promosi berujung kepada ketidak percayaan masyarakat.
Mencuri perhatian

Benar, promosi yang baik adalah promosi yang mencuri perhatian, tetapi jika dilakukan hanya sekadar untuk mencuri perhatian tanpa tindak lanjut yang benar. Jelas itu sesuatu yang tidak bijaksana. Sama juga untuk nama-nama produk. Saya beberapa kali tersenyum ketika memesan Ayam Penyet, tetapi ayam yang disajikan adalah ayam utuh yang tidak di-penyet sama sekali.

Demikian juga dengan properti yang sering menyebut istilah garden, hijau, taman dll. Pada kenyataannya malah sama sekali tidak ada kebun, taman atau pepohonan dalam komplek perumahan itu. Sangat berbeda dengan brosur dan nama dari perumahan yang dipromosikan.

Anehnya, sebagian masyarakat akhirnya merasa bahwa itu sudah jamak dan terpaksa dimaklumi. Seperti orang yang terpaksa makan di restoran di bandar udara yang merasa harganya sangat mahal tetapi terpaksa menerimanya saja.

Murah dan mahal memang perkara relatif tergantung daya beli konsumen, tetapi memberikan gambaran yang menyesatkan saya pikir adalah doa yang tidak termaafkan. Aha... saya jadi ingat ketika salah seorang kawan membuat brosur tentang hotel dengan kolam renang yang sangat jernih dan bersih. Sekilas tidak ada yang tahu kalau sebenarnya kolam renang itu belum terisi air sama sekali. Lalu pada kesempatan lain saya melihat seorang bule yang mengeluh kepadanya tentang kualitas air kolam itu yang tidak seperti terlihat di brosur.
Etika

Etika mungkin menjadi topik yang mendasar dalam pembicaraan ini. Lagi-lagi kembali kepada nurani bisnis masing-masing. Saya pikir tidak salah jika mempromosikan sesuatu dengan sebenarnya. Jika dipromosikan murah, selayaknya memang harus murah adanya. Jika dipromosikan bagus ya selayaknya juga bagus .

Semua itu sering terjadi karena cacat produk yang tidak sesuai dengan kehendak masyarakat pada umumnya. Misalnya upaya menurunkan harga hanya sebatas tertentu yang asal ada. Atau membuat produk yang kurang bagus dan terpaksa dipoles dengan olah gambar atau foto.

Saya merasa yakin bahwa hidup selalu berputar dan pada gilirannya seseorang akan menuai apa yang dia tanam.



Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

6.4.11

7 Penyakit Sarjana Baru Kerja

Tulisan ini sudah di terbitkan di harian waspada medan pada halaman bisnis dan ekonomi pada tanggal 10 mei 2010


“SAYA melamar untuk jabatan Manajer” aku seorang calon pegawai dalam sebuah wawancara penerimaan tenaga kerja. Saat ditanya mengapa memilih jabatan itu, jawabnya, “Saya kan sarjana!”. ”Phueh...!” dalam hati saya menjawabnya dalam diam. Begitupun saya tanya apa hubungannya sarjana dengan jabatan manajer. Jawabnya, ”Kalau lulusan SMP itu untuk level pelaksana, lulusan SMA untuk Supervisor dan kami yang sarjana untuk level Manajer”.

Terpingkal-pingkal rasanya hati ini mendengar pengakuan si sarjana ini. Seperti masuk akal tapi naif sekali terasa di hati. Si sarjana yang masih hangat terselimut baju toga kemaren dulu, masih belum kenal dunia. Dia masih belajar cara naik sepeda tapi tak pernah belajar naik sepeda.

Untuk para sarjana atau yang belum menjadi sarjana yang ingin bekerja, dengarkan nasehat ini, “ijazahmu hanya jadi kunci masuk, selanjutnya lupakan saja!” dunia kerja amat berbeda dengan dunia sekolahan. Dan yang pasti, tak ada posisi manajer yang didapat dari sekolahan. Manajer adalah jabatan karir yang harus dianyam dari bawah, sehebat apapun sekolah yang pernah dilalui.

Terlepas dari posisi itu, ada yang selalu menjadi ganjalan ditolaknya para lulusan sekolahan dalam dunia kerja. Ada semacam budaya yang aneh dan tidak diterima oleh orang-orang di dunia kerja. Saya berharap catatan ini berguna bagi mereka-meraka yang baru memasuki dunia kerja. Saya mencatat sedikitnya ada 7 ’penyakit’ yang perlu disembuhkan agar bisa memasuki budaya dunia kerja dengan baik. Berikut catatan saya;

Tak ada yang mendadak besar

Yang besar itu datang dari yang kecil, yang kaya bergerak dari yang miskin, yang pintar bergerak dari ketidak pintarannya, yang tua datang dari yang muda. Dalam dunia kerja juga demikian. Seperti saat sekolah, tak ada juga mahasiswa yang begitu masuk langsung masuk semester akhir dan langsung ujian meja hijau. Tak ada!

Pikiran ”Karena saya bergelar sarjana, saya tak tidak mengurusi hal-hal yang remeh” adalah pemikiran yang sangat salah. Hampir semua lulusan yang bru bekerja justru memulai dari bawah dan mengerjakan hal-hal yang terlihat remeh. Bukan hal yang aneh, jika dalam perkara menerima telepon saja, si sarjana itu pun harus dilatih terlebih dahulu.

Apapun gelar Anda, cara terbaik untuk mempelajari kerja adalah dengan berjalan perlahan dari bawah dan mengerjakan hal-hal kecil yang dianggap "kurang penting". Ingat, tiada pekerjaan besar akan diberikan kepada seseorang yang tidak bisa mengerjakan hal-hal kecil.

Pikiran sempit

Mahasiswa pada umumnya cenderung idealis dan senang kontra dengan penguasa. Mereka punya opini pro atau kontra terhadap semua hal, dan memegang teguh pandangannya itu dengan berposisi melawan. Sedangkan di tempat kerja, kita dituntut untuk mempertimbangkan semua pilihan, lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya.

Dalam hidup yang nyata, baik dan benar itu perkara yang sangat jauh berbeda. Dalam dunia nyata, warna tidak cuma hitam dan putih. Dalam dunia nyata tidak Cuma ada gelap dan terang. Dalam dunia nyata tidak cuma ada perempuan dan laki-laki.

Menunda pekerjaan

Suana kuliah yang serba santai terbawa hingga awal kerja. Contoh aksi menyelesaikan kuliah sesuka hati. Mengumpulan tugas-tugas kuliah bisa cepat bisa lambat, tanpa rasa bersalah. Itu akan berefek kepada pola menunda mengerjakan tugas hingga himpitan deadline.

Di tempat kerja, jika menunda pekerjaan, maka pekerjaan orang lain pun akan ikut terganggu. Lalu seluruh sistem rangkaian kerja juga terganggu. Sudah pasti Imej di mata atasan pun akan rusak.

Manja

Mahasiswa sering masih tetap merasa dirinya muda dan kebanyakan bersifat kekanak-kanakan. Biasa menuntut untuk dimaklumi jika berbuat kesalahan inginnya tiada mendapat hukuman yang keras. Sehingga berujung kepada kualitas kerja sesuka hati.

Sikap itu biasanya diikuti oleh kebiasaan merajuk dan itu sangat menyebalkan rekan kerja, senior dan pimpinannya.

Bermain-main

Keinginan untuk tetap bermain itu terbawa hingga sering menganggap enteng jejaring sosial. Fasilitas kantor disalahgunakan untuk kepentingan pribadi. Dan para pekerja dari lulusan yang baru, biasanya tidak memikirkan dampak dari isi Facebook dan Twitter mereka terhadap pekerjaan.

Mereka begitu saja menumpahkan rasa hati dalam media jejaring sosial itu. Sayangnya kadang status meraka suka merusak imej profesional. Dan jika status itu berisi keluhan-keluhan terhadap perusahaan atau atasan, maka potensi pemecatan akan sangat tinggi.
Kurang Lobby

Memang enak ngumpul dengan rekan-rekan kerja yang seumuran. Tapi jika ingin mendaki tangga karier dengan lebih cepat, Anda juga harus bergaul dengan para senior.

Benar bahwa selera pembicaraan dan gaya akan berbeda dengan selera anak muda, tetapi bergaul dengan senior akan memberikan banyak tambahan wawasan dan informasi-informasi tambahan yang penting untuk bisa berprestasi dan mendapatkan celah untuk maju kedepan.
Tata krama

Penyakit yang sering hinggap dalam perilaku ’anak baru lulus’ adalah tidak ada kemampuan pengendalian diri untuk berikap meredah, memohon saran, mengerjakan perintah atasan dan mengucapkan terimakasih kepada siapapun yang memberikan bantuan walaupun bantuan itu kecil nilainya.

Jika anda terkesan tidak peduli, maka para atasan, senior atau kolega akan berpikir dua kali jika suatu saat anda ingin meminta pertolongan kepadanya.
-----

Jadi, saya sampai saat ini masih senang merekomendasikan para pemula untuk mengikuti program magang kerja sebelum mereka lulus. Saya juga sangat merekomendasikan agar para mahasiswa tidak saja meningkatkan kecerdasan akademik tetapi juga berusaha meningkatkan kemampuan pergaulan di dunia kerja.

Karakter pekerja yang keras dan pantang menyerah serta tabah ditambah kepribadian yang komunikatif adalah obat yang mujarab untuk menjawab penyakit-penyakit tersebut diatas.
Share:

Memilih

Tulisan ini sudah di terbitkan di harian waspada medan pada halaman bisnis dan ekonomi pada tanggal 03 mei 2010



“DUNIA semakin aneh dan menjadi terbalik”, hardik seorang Manager kepada bawahannya sekali waktu dalam kemarahan yang tak bisa lagi dipendam. Si manajer tadi melanjutkan, “Aku mencari pegawai sebenarnya untuk meringankan beban pekerjaan dan pikiranku, tapi kini semua terbalik, yang terjadi adalah aku membayar kamu agar kamu menyuruhku memperingatkan dirimu setiap hari!”

Sebuah ironi yang terjadi dimana-mana. Si manajer tadi tersadar benar, siapa sebenaranya yang menjadi boss dan siapa yang menjadi bawahan. Dia mengutuk keadaan yang terbalik itu, dia merasa bukan menjadi boss yang seharusnya menyuruh dan memerintah, tetapi dalam kenyataannya dia malah yang bersusah payah setiap hari mengingatkan dan meminta bawahannya untuk kerja dengan baik sesuai janji pada awal masuk kerja.

Ya, janji pada awal masuk kerja. Sepertinya semua calon pegawai berjanji untuk bekerja dengan sungguh-sungguh, cerdas, kreatif, penuh inisiatif dan dedikasi yang tinggi. Tapi entah karena kesurupan atau karena keterbatasannya, janji si pegawai itu pun luntur seiring berjalannya waktu.

Tentu saja tidak semua pegawai bertingkah menyebalkan seperti contoh diatas, tetapi sepertinya jumlah yang nyalah itu lumayan lebih banyak daripada yang baik-baik.

Para pembaca yang budiman, bersamaan dengan kampanye pemilihan kepala daerah di banyak tempat, saya merasa ada semacam kemiripan antara memilih pegawai dengan memilih bupati atau walikota. Mari kita telaah bersama-sama.

Seperti kemarahan manajer diatas, kita sebagai rakyat yang memegang keadulatan tertinggi terkadang mendapat kesialan yang sama. Pada awal kampanye janjinya luar biasa, tetapi pada pelaksanaannya NOL besar menempel di jidat pilihan kita itu. Lalu kita terbodoh melongo melihat hasilnya yang jauh dari harapan.

Belajar dari berkali-kali saya membuat kesalahan dalam merekrut pegawai, kini saya memiliki beberapa persyaratan yang harus terpenuhi pada saat merekrut pegawai dan saya pikir syarat ini juga cocok untuk memilih calon bupati /walikota.
Pengalaman

Pendidikan memang penting, tetapi pengalaman adalah kunci keberhasilan yang tidak tertandingi. Banyak pun titel pendidikan calon pegawai kita, itu tidak menjamin bahwa dia akan bisa bekerja dengan baik jika tidak ada pengalaman dalam bidang itu. Dari pengalaman saya, semakin banyak titelnya malah si calon itu lebih pandai cakap dan berteori, tapi cenderung tidak bisa mengaplikasinya dengan baik.

Pengalaman dalam hal spesifik sesuai kriteria pekerjaan yang akan diemban seringkali tidak tersebut dalam teori-teori manajemen modern. Banyak hal ‘sepele’ yang tidak terpikirkan atau tidak terlacak oleh calon pegawai yang tidak berpengalaman di bidangnya. Tak sedikit insinyur keluaran universitas terkenal dengan IP yang tinggi, tetapi tidak paham dengan cuaca yang bisa merusak proyek.

Saya jadi ingat rencana salah satu kepala bagian saya yang akan mengunci kamar mandi umum agar tetap bersih. Lucu dan menjengkelkan! Bagaimana mungkin kamar mandi di kunci hanya agar tetap bersih! Trus orang-orang akan buang air dimana? Dibawah pohon?

Pengalaman tidak ada hubunganya dengan usia. Calon yang berumur tidak dijamin memiliki pengalaman. Sekadar terkenal juga tidak dijamin bisa menjadi orang pemasaran. Seperti banyak koki handal yang pandai memasak tapi tak semuanya bisa mengajarkannya kepada orang lain.

Bukankah syarat itu juga cocok dengan syarat untuk memilih bupati/walikota?
Karakter

Nah syarat inilah yang paling saya pentingkan berikutnya dan menjadi syarat absolut bagi calon pegawai. Kepribadian seseoarang tidak bisa disulap berubah dalam waktu singkat. Ia dibangun oleh perjalanan hidup, lingkungan, pendidikan, dan kekuatan pribadi.

Kredibilitas seseorang bukan dari pengakuannya, tetapi dari apa yang ia tunjukkan. Artinya, jika si calon mengaku berkepribadian baik, santun, taat beragama, dan sederet pengakuan lain, jangan pernah percaya! lebih baik tanya kepada orang lain yang mengenalnya selama ini. Apakah benar si calon demikian adanya. Tentu saja sumber tersebut harus kredibel dan bisa dipercaya.

Tentu saja, kita menghendaki orang yang santun, bersahaja, bersungguh dalam bekerja dan amanah dengan tanggungjawabnya. Dalam kondisi tertentu, kita bisa menggunakan jasa konsultan psikologi untuk menguji-nya.

Yang penting dipahami adalah bahwa jangan terjebak percaya begitu saja karena kemasan dan tampilannya. Orang yang jidatnya hitam gosong tak semuanya karena rajin sujud, bisa saja karena ia membuatnya menjadi hitam agar dianggap dia seorang agamis.

Sayang, hasil uji psikologi calon bupati/walikota tidak diumumkan ke publik.

Latar belakang

Latar belakang kehidupan calon juga penting. Mungkin dia berangkat dari keluarga yang berantakan? Mungkin ia datang dari budaya yang luhur dan santun? Mungkin ia pernah menjadi pencuri? Bagi saya jika ada 2 pilihan, antara bekas maling dan tak pernah menjadi maling, saya akan memilih yang tidak pernah menjadi maling. Bukan tidak percaya kepada niat seseorang untuk bertobat, tetapi penyakit walaupun sudah lama, akan ada potensi untuk kambuh suatu saat nanti.

Tentang perbuatan maling, bagi saya orang baik itu bukan orang yang tidak bisa berbuat jahat, tetapi orang baik adalah orang yang bisa berbuat jahat dan memilih untuk tidak melakukan perbuatan jahat.

Pada kasus tertentu, misalnya untuk bagian penjualan/pemasaran, tentu latar belakang pengalaman selama bekerja adalah point yang sangat penting. Karena si calon tidak lagi memerlukan waktu yang panjang untuk beradaptasi dan belajar. Mereka dengan mudah tinggal memberitahukan ke jaringannya, bahwa ia sudah bergabung dengan kita. Mudah dan hasilnya lebih cepat.

Jaringan yang dimiliki secara pribadi juga harus benar-benar diwaspadai, apakah lingkup jaringan yang dimiliki calon adalah jaringan yang positif dan menguntungkan. Jika si calon dikelilingi oleh para petualang dan pencari keuntungan sesaat, maka si calon akan menjadi korban dan berikutnya kitalah yang menjadi sasarannya.
Beda

Perbedaan yang mendasar antara memilih calon pegawai dan calon bupati/walikota adalah bahwa jika kontrak sudah jadi dan terpilih, kita cenderung lebih mudah untuk memecat pegawai kita. Tetapi sangat sulit untuk bisa memecat bupati/walikota.

Itu saja!
Share:

Blog Archive