it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

19.6.11

Iming-iming kesempurnaan

Tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 14 Juni 2010. pada halaman bisnis dan teknologi. silahkan meng-copy. Tetapi tolong sebutkan sumbernya.



DECAK kagum dan rasa iri bermain di mata pengunjung sebuah pameran foto. Kebetulan pameran itu memajangkan foto-foto beberapa pasangan tokoh masyarakat yang diakui sukses oleh masyarakat.

Tampilan foto yang mengena dan pas sesuai karakter objeknya membawa khayal yang tinggi bagi pengunjung yang menikmati karya foto tersebut. Secara sederhana, saya bisa menafsirkan apa yang muncul dari pikiran para pengunjung “Betapa indah jika saya dan pasangan bisa seperti pasangan-pasangan dalam foto-foto ini”.

Foto-foto pasangan itu sangat bercerita. Salah satu cerita yang disampaikannya adalah makna sebuah sukses. Sukses dalam karir dan sukses dalam cinta. Foto-foto itu seolah mengkisahkan mereka adalah orang-orang yang sangat beruntung yang memiliki kesempurnaan hidup. Bukan saja sukses dalam hal material dan tetapi juga sukses dalam membina rumah tangga. Sebuah anugerah yang langka.

Sebutlah foto seorang bankir sukses yang baru saja selesai mengerjakan shalat jamaah bersama istri tercintanya dalam pose si istri mencium tangan si suami. Tata cahaya, pakaian shalat dan komposisi warnanya mencerminkan kedamaian lahir dan batin. Siapa yang tak mau seberuntung ini?

Di foto yang lain, ada seorang suami yang pengusaha dan juga politikus sukses yang gemar berburu sedang melihat koleksi binatang langka yang dikeringkan bersama istrinya yang cantik. Bahasa emosi wajahnya menceritakan sebuah kebahagiaan yang menjadi impian semua orang.

Ada lagi pose sepasang suami istri yang sukses sedang berkendara motor gede yang mahal melaju sambil berpelukan mesra. Belum lagi foto-foto lain yang semuanya menggambarkan kata sukses.

Menikmati foto-foto itu selalu beriringan dengan kenyataan hidup yang tidak semuanya seindah itu. Kabanyakan pengunjung pameran adalah mereka-mereka yang masih harus berjuang lebih lama untuk bisa sukses secara material. Ada diantara mereka yang masih bergelut dalam kisruhnya hubungan keluarga. Bahkan Ada diantara mereka yang merasa gagal dikeduanya.

Pada orang tertentu, foto-foto pasangan beruntung itu menjadi inspirasi untuk maju dan sukses. Pada orang tertentu yang lain, foto-foto itu hanyalah sumber kecemburuan dan sumber perasaan sial, “mengapa bukan aku?”. Tetapi rasa apapun itu, diatasnya bercokol sebuah persetujuan atas sebuah kesempurnaan hidup yang semua orang ingin menggapainya.

Menumpang Impian

Bukan lagi sebuah rahasia, jika semua orang memimpikan sukses lahir dan batin. Semua orang ingin kesempurnaan kebahagiaan dunia dan akhirat. Semua orang ingin menjadi sempurna.

Pada akhir setelah menikmati pameran itu, pengunjung juga akhirnya mengakui siapa fotographer yang mendokumentasikan momen-momen itu. Ting....! inilah klik pemasaran yang jitu.

Pertama, semua orang setuju bahwa sukses adalah impian semua orang. Jadi mendokumentasikan pasangan-pasangan sukses adalah langkah cerdas menerobos pikiran publik. Apalagi publik sudah mengenal profil sukses dari objek foto.

Kedua, kesempurnaan sukses adalah jika cinta juga diraih dan bisa bertahan. Lihatlah hampir semua filem bioskop, telenovela atau novel akan laku dan banyak peminatnya jika berkisah tentang cinta. Artinya, ini adalah alasan bagus untuk mendapat persetujuan dari publik.

Ketiga. Gaya dan teknik pengambilan gambar sangat pas dengan latar belakang masing-masing tokohnya. Disini fotographer sedang menunjukkan bahwa dirinya adalah fotographer berkelas yang bukan sekadar bisa memfoto.

Tema Impian

Kini, cobalah lihat produk-produk yang sukses dipasaran. Pada umumnya mereka mencuri perhatian dan perasaan publik dengan mengedepankan tema-tema kesempurnaan impian hidup dalam media-media komunikasi pemasarannya.

Saya ingat salah satu rokok yang memunculkan tokoh muda, sporty, berjas elegan mengendarai mobil sport modern yang terkenal mahal. Tak ada pria yang tidak ingin menjadi apa yang terlihat dalam promosi tersebut.

Mungkin anda masih ingat, sebuah produk sabun yang menggambarkan kelembutan kulit para bintang kesohor karena menggunakan produknya. Atau pembalap sukses yang jadi tokoh dalam iklan sepeda motor.

Tema-tema ilustrasi atau gambar yang digunakan untuk berpromosi yang menggambarkan kesempurnaan hidup adalah kunci bagaimana asosiasi target bisa dikendalikan. Contohnya gambar perempuan cantik yang berbelanja apa saja. Atau lelaki yang terlihat sukses dengan gambaran atribut yang dikenakannya, dari baju jas necis, kendaraan yang dipakainya atau bentuk kegiatan mahal seperti olah raga golf dan sebagainya.

Tema-tema, keluarga kecil yang bahagia dengan wajah-wajah ceria, atau anak muda yang berprestasi atau pasangan dewasa yang mapan dan anggun. Semua bisa saja direkayasa agar target terpengaruh.

Tema-tema sukses sangat mudah dicerna pikiran publik, karena memang dalam pikiran publik menyetujui sukses sebagai impian mereka.

Kadang kala kita bahkan tidak menyadari bahwa produk yang kita beli sebenarnya bukan membeli fungsinya, tetapi membeli gengsi dan impian yang ditawarkan dalam iklan itu. lucu tetapi nyata. Mungkin anda setuju dengan saya, kalau sekadar untuk mengetahui waktu, kini banyak sekali jam kacangan yang harganya setara dengan 3 bungkus rokok murahan. Tetapi kita akan merasa menjadi pribadi yang berbeda dan berkelas jika mengenakan jam tangan yang harganya sepadan dengan 10 bulan upah minimum propinsi yang berlaku sekarang ini. Sama dengan orang-orang yang menggunakan handphone amat mahal tapi hanya untuk bertelepon dan sms plus bergaya, tidak lebih.

Produk non Gengsi

Aplikasi konsep promosi dengan ilustrasi yang membawa pemikiran tentang kesempurnaan cocok untuk produk-produk yang menjanjikan gengsi dan kelas sosial. Lalu bagaimana jika produk kita bukanlah produk yag demikian. Tentu saja konsep ini sedikit kurang pas untuk produk-produk sembako atau yang dijual bukan karena nilai tambah gengsinya.

Tetapi konsep ini masih tetap bisa dilakukan sekadar untuk meyakinkan publik bahwa produk kita juga digunakan atau diminati oleh orang-orang berkelas. Contoh sederhananya sudah banyak dilakukan oleh pengelola restoran yang memfoto pengunjungnya –khusus dari kalangan bergengsi—dan memajangkan foto itu sekaligus pernyataan dari tokoh tersebut.

Bayangkan kalau sepatu yang anda produksi dipakai oleh seorang wakil presiden dan dia mengakuinya dengan senang hati. Asyik bukan?

Konsultasi & Pelatihan Tj@cahyopramono.com

Share:

Janji Penjahit

Tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 07 Juni 2010. Pada halaman bisnis dan teknologi




PERMOHONAN maaf saya haturkan kepada semua penjahit di negeri ini untuk menggunakan istilah diatas sebagai judul dan topik tulisan saya kali ini. Saya bukan sedang menjatuhkan martabat penjahit yang mulia adanya. Saya sekadar menggunakan istilah ini sebagai perumpamaan saja untuk dijadikan renungan bagi kita semuanya.

Istilah tersebut saya dapat saat terlibat dalam diskusi terbuka pada sebuah forum di intenet yang sedang membahas tentang praktek-praktek ingkat janji dan tidak amanah yang dilakukan sebagian penjual jasa. Disitulah muncul kalimat ini. Janji Penjahit.

Salah satu peserta forum menyebutkan kata-kata “janji penjahit” untuk memberikan gambaran atas sebuah situasi, yang kadang-kadang terpaksa dialami oleh pelanggan gara-gara penjual cedera janji. Kebetulan saja, baru-baru ini dia mendapatkan pengingkaran janji itu dari seorang Tukang jahit yang sebelumnya juga pernah dia alami dari penjahit langganananya yang lain.

Menurut pengakuannya, sudah lebih dari 10 kali ia merasa terjebak oleh jani-janji tukang jahit dengan modus yang sama. Pengingkaran itu seringkali berputar pada topik-topik yang sama. Misalnya tentang tanggal jadi untuk serah terima pemesanan, komitment bahan, model dan motif. Dan itu bukan hanya dilakukan oleh satu orang penjahit dan pengalaman itu terjadi di 5 kota yang berbeda di Indonesia.

Lalu serentak beberapa peserta diskusi tertawa dan mengaku masing-masing juga pernah mengalami hal yang sama. Tetapi keluhan yang terbesar adalah ingkarnya penjahit dari waktu yang sudah dijanjikan.

Saya jadi tertarik untuk mendalami kisah ini dan mencoba ngobrol dengan sekitar 12 orang penjahit di Kota Medan, 3 orang penjahit di Jakarta dan 1 orang penjahit di Batam. saya menemukan beberapa hal lucu yang penting kita bahas. Yang pertama, benar bahwa penjahit memerlukan waktu untuk menyelesaikan pekerjaanya, tetapi yang aneh adalah bahwa penjahit rata-rata memerlukan waktu hanya 1 hari untuk menyelesaikan satu pekerjaan jika semua bahan dan alatnya tersedia. Yang lebih aneh tetapi nyata adalah bahwa rata-rata penjahit menjanjikan pekerjaannya akan selesai dalam waktu rata-rata 6 hari.

Mengapa harus menjanjikan 6 hari untuk sesuatu yang bisa selesai hanya dalam 1 hari? Jikalah ada masalah bahan baku seperti benang, kancing dan resleting, mereka mengaku bisa di dapat dalam waktu cepat, apalagi ada yang membantu membelikannya ke toko perlengapan jahit.

Yang kedua, benar kadang-kadang seorang penjahit sedang dalam keadaan banjir order dengan pekerjaan yang menumpuk, tetapi masih saja ia mau menerima order dan tidak memberikan gambaran situasi pekerjaannya kepada pelanggan/pemesan. Hal ini adalah awal dari munculnya keluhan pemesan dikemudian hari.

Yang ketiga, benar bahwa pekerjaan seorang penjahit kadangkala banyak dan sulit menangani semua hal, tetapi jarang sekali penjahit yang mencoba mendelegasikan pekerjaannya kepada orang lain untuk memudahkan dan mempercepat penyelesaian pekerjaan.

Yang keempat, rata-rata para penjahit yang demikian memiliki kemampuan untuk bertahan dari wajah malu dan dengan cerdas mengkreasikan beberapa alasan agar dimaklumi setiap terjadi pengingkaran janji.

Yang kelima, rata-rata para penjahit yang terpaksa melakukan praktek ingkar janji menyadari bahwa pengingkarannya akan berakibat kepada pencitraan yang buruk dan kontra produktif untuk dirinya. Tetapi rata-rata mereka pernah mengulanginya lebih dari 2 kali.

Melukai Perasaan

Benar bahwa rejeki itu urusan Tuhan, tetapi jika peluang rejeki itu disia-siakan, maka Tuhan pun akan marah. Dengan mengingkari janji, jelas kita sedang melukai perasaan pemesan. Memang ada pemesan yang terluka hatinya yang masih terus menjadi pelanggan, tetapi biasanya itu terjadi karena terpaksa, seperti masyarakat luas yang sakit hati dengan perusahaan listrik negara tetapi tak bisa berpaling.

Jika ada pesaing yang lebih baik dan tidak ingkar janji, pasti para pemesan akan berpindah dan melupakan kita. Kalau Cuma dilupakan masih lumayan, tetapi kalau pelanggan berpaling sambil membawa luka di hati, biasanya mereka akan menceritakannya kepada orang-orang lain dan tersebarlah pesan berantai tentang kejelekan kita.

Mungkin ada bagusnya menyadari bahwa bisnis itu bukanlah sekadar jual beli, tetapi ada unsur moral didalamnya. Ada Tuhan dalam semua ceruk bisnis. Pelaku ingkar janji kadang tidak menyadari bahwa harusnya unsur Tuhan jangan pernah lepas dari sendi-sendi bisnis kita. Sekadar mengingatkan, Nabi Muhammad SAW pernah mengingatkan ciri-ciri Tentang Orang-Orang Munafik yaitu;

"Tanda orang-orang munafik itu ada tiga keadaan. Pertama, apabila berkata-kata ia berdusta. Kedua, apabila berjanji ia mengingkari. Ketiga, apabila diberikan amanah (kepercayaan) ia mengkhianatinya". (Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim).

Saya pikir anda sepakat dengan saya, bahwa para munafiklah yang biasanya merusak tatanan sosial dan tatanan kehidupan. Jadi mereka layak untuk ditempatkan di kasta yang paling rendah jika kita mengakui ada sistem kasta dalam hidup ini.

Bukan Cuma Penjahit

Fenomena janji penjahit ini rupanya tidak saja dilakukan oleh penjahit, tetapi juga pernah dilakukan oleh pebisnis lain yang bersifat pesanan. Baik dari bisnis makanan, bisnis perabot, konstruksi, sepatu, tas, dan lain-lainnya.

Selalu saja ada masa sial dimana mereka ‘terpaksa’ ingkar janji dari yang seharusnya dipenuhi pada saat kesepakatan dilakukan.

Jika benar-benar diamati, terlepas dari faktor luar (seperti bencana alam, bahan baku yang tidak ada di pasaran dll), penyebab utama ingkar janji adalah faktor internal pelaku. Mulai dari sikap angap enteng, sikap menunda, sikan tidak terbuka dan sikap teledor. Lalu juga tata kerja yang tidak teratur dan terencana apalagi bekerja tanpa catatan dan sistem pengingat yang efektif.

Tidak Semua Penjahit

Penyakit ingkar janji ini saya tegaskan tidak terjadi pada semua penjahit. Banyak juga penjahit yang tampil dengan profesional, tepat janji dan bahkan memberikan lebih dari yang sekadar mereka janjikan.

Mereka-mereka ini umumnya sanggup menjaga pelanggannya hingga lama dan bahkan sampai merekomendasikan kepada generasi-generasi dibawahnya.

Anda masuk golongan yang mana?

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Kalau bukan kita, siapa lagi?

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tgl 31 Mei 2010. pada halaman bisnis dan teknologi

SUYANTO (38 thn) adalah seorang salesman perusahaan otomotif keluaran negeri Jepang yang cukup terkenal, tapi dia malah menggunakan mobil buatan korea. Sama seperti Anita (23) yang jadi SPG produk handphone buatan China tetapi malah menggunakan handphone bermerek buatan Kanada. Aneh tapi nyata!

Sekarang, saya bertanya apakah anda menggunakan produk merek yang anda sendiri dalam keseharian? Apakah karyawan anda juga mengerjakan hal yang sama?

Saya pikir sedikit naif, jika kita meminta agar orang lain mengenal dan menggunakan merek kita bahkan kalau perlu mereka harus bisa jatuh cinta kepada merek kita, tetapi kita sendiri tidak melakukan hal yang kita suruhkan kepada orang lain itu.

Pertanyaan yang sama adalah, apakah benar seorang Komeng menggunakan sepeda motor merek Yamaha seperti yang ia iklankan? Apakah seorang Dedi miswar mengkonsumsi obat Magh yang selalu ia iklankan? Konon sekali waktu ada cerita menarik ketika wartawan memergoki Nirina Zubair, VJ MTV, memakai nomer operator lain padahal tengah menjadi brand ambassador IM3. seperti parahnya seorang karyawan pabrik minuman ringan ternama yang ketahuan di depan umum meminum bermerek kompetitor utama.

Pembaca yang budiman, saya sedang bicara tentang loyalitas. Sebuah aksi keterikatan diri terhadap sesuatu yang diyakini memberikan kebaikan bagi seseorang yang meyakininya. Dalam hal ini, loyalitas atas sebuah merek adalah hal penting yang diupayakan penuh oleh para pemasar terhadap targetnya.

Pada saat yang sama, loyalitas terhadap merek yang dilakukan oleh pihak internal adalah kunci penting untuk terciptanya pancaran pesona merek itu keluar menembus paradigma dan persepsi pasar.

Bangga

Saat saya menuliskan artikel ini, saya sedang mengenakan T-shirt dengan logo salah satu mobil sport unggulan dari Amerika. Pakaian ini saya beli karena merek dan pesan sederhana dibawah merek itu. Saat mengenakan pakaian ini, saya merasa memiliki karakter yang terkesan dari merek mobil ini.

Saya juga ingat bahwa dipintu mobil kawan saya juga tertempel stiker logo sepeda motor besar yang legendaris dari Amerika. Sebegitu mempesonanya merek itu, hingga kawan saya dan banyak orang lain rela menutup cat mobil yang bagus itu dengan stiker ’promosi’ yang dia beli sendiri. Tidak dibayar sama sekali oleh pemilik merek itu.

Tidak sedikit orang yang rela menjadi papan reklame berjalan dari berbagai klub sepak bola eropa. Tidak sedikit orang yang merelakan badannya membawa pesan-pesan promosi dari merek-merek dagang tertentu. Lucu kan?

Betapa anehnya, jika si pemilik merek atau orang-orang dalam perusahaan itu sama sekali tidak bangga dengan merek mereka sendiri.

Martin Lindstrom mempunyai cara unik untuk mengukur loyalitas terhadap merek. Dalam survei yang melibatkan responden dari 13 negara, responden ditanya kesediaannya untuk ditato logo merek favoritnya secara permanen di lengan atau anggota tubuh lainnya. Pendekatan nyleneh ini ternyata didukung oleh 18,9 persen responden yang memfavoritkan Harley-Davidson. Tiga merek paling favorit yang secara berturut-turut mengikutinya adalah Disney, Coca-Cola, dan Google.

Loyalitas internal

Siapa lagi yang akan mempromosikan merek kita kalau bukan di mulai dari pihak internal? Tentu saja harus ada usaha untuk melibatkan pihak internal untuk melakuakn hal itu. Beberapa perusahaan besar membuat system mulai dari rekrutmen, pelatihan, sampai kebijakan SDM agar mencerminkan atribut dan pesan yang terkandung dalam merek mereka. Yang itu juga mencakup layanan, perilaku, sampai pakaian karyawannya. Manajemen juga memastikan bahwa karyawannya mengerti dengan gamblang makna merek mereka, dan bagaimana mereka harus bersikap dan berperilaku untuk mendukungnya.

Jadi loyalitas atas merek oleh karyawan sebagai pihak internal mempunyai makna yang lebih dalam. Bukan sekedar memakai produk dengan setia, tetapi juga harus mampu menjaga agar pelanggan tetap setia. Jadi karyawan mesti dijadikan sebagai pasukan inti dalam menghidupkan merek.

Keyakinan ini harus dimulai sejak awal, sejak tahap perekrutan karyawan baru. Selanjutnya adalah langkah-langkah membangkitkan antusiasme dan gairah karyawan sehingga merek menjadi komitmen mereka. Cara membangkitkan yang paling efektif adalah melibatkan mereka dalam prosesnya. Termasuk komunikasi yang melibatkan edukasi karyawan berikut mekanisme umpan baliknya, sehingga karyawan memiliki kesadaran yang tinggi terhadap esensi dari merek. Pemahaman esensi ini harus dimulai dari nilai-nilai yang terkandung dalam setiap atribut identitas merek sampai filosofi merek sehingga tumbuh dan berkembang semangat tanggung jawab dan rasa memiliki.

Kesemua tahapan itu harus didukung komunikasi internal secara konsisten untuk menjelaskan tata nilai dan perilaku yang sesuai dengan kekuatan inti merek tersebut. Kesuksesan internalisasi ini ditandai dengan merasuknya tata nilai dan perilaku ini dalam keseharian karyawan.
Hambatan

Sedikit ironi ketika merek yang diemban oleh para karyawan adalah merek mahal dan tidak terbeli oleh karyawannya. Tidak semua karyawan sebuah produk mobil mewah sanggup membeli dan menggunakan mobil itu dalam keseharian. Sama dengan pekerja pemasaran komplek perumahan mahal juga tinggal di komplek tersebut.

Tetapi hal tersebut diatas tidak menutup kemungkinan agar pihak internal tersebut diatas menggunakan atribut-atribut yang bisa membangun kekuatan dan kebanggaan produknya.

Kini, banyak media jejaring sosial yang sangat potensial untuk juga mempromosikan sebuah merek. Sayangnya sedikit sekali karyawan yang mau mengkoneksikan dirinya dengan merek perusahaan dimana dia bekerja.
------
Bayangkan jika orang-orang lain sangat bangga mengenakan logo dan merek yang kita miliki tanpa kita harus membayarnya untuk melakukan hal itu. Bayangkan betapa beruntungnya kita ketika mengetahui banyak orang yang rela mentato tubuhnya dengan logo itu.

Tentu hal itu tidaklah mustahil. Semuanya harus segera dimulai, dan siapa lagi kalau bukan kita sendiri yang melakukannya.

Konsultasi dan Pelatihan; tj@cahyopramono.com



Share:

Spiritual Bisnis

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, pada tanggal 24 Mei 2010.pada halaman bisnis dan teknologi

UANG itu penting tetapi bukan segalanya. Dengan uang kita bisa membeli jam tetapi bukan waktu. Dengan uang kita bisa membeli buku bukan pengetahuan. Dengan uang kita bisa membeli darah, dokter dan obat tetapi bukan membeli nyawa. Dengan uang kita bisa membeli posisi tetapi bukan kehormatan. Dengan uang kita bisa mebeli rumah tetapi bukan kehidupan. Dengan uang kita bisa membeli tempat tidur tetapi bukan tidurnya itu sendiri. Dengan uang kita bisa membali sex tetapi bukan cinta.

Benar bahwa kemiskinan adalah kejahatan yang sebenar-benarnya. Benar bahwa kemiskinan adalah pintu terdekat dengan dosa. Benar bahwa kemiskinan dekat dengan penderitaan keduniaan. Jadi, sangat benar jika orang berusaha untuk menyelamatkan dirinya dari kemiskinan dengan jalan bisnis. Benar bahwa mendapatkan kekayaan adalah cita-cita yang terpuji dan perlu dukungan. Tetapi sangat benar bahwa uang tidak tidak selamanya membawa pemiliknya memasuki dunia kebahagiaan sejati.

Pembaca yang budiman, beberapa waktu terakhir ini saya bertemu dengan banyak pengusaha sukses yang gundah-gulana, mendapati hidupnya yang penuh rutinitas dan melelahkan tanpa isi/makna. Di kala lain, saya sering mengatakan bahwa bisnis adalah salah satu pintu terdekat untuk menggapai ridho Tuhan.

Bagi anda yang baru memulai bisnis, anggaplah ini ide-ide dari pengalaman beberapa pendahulu yang saya pikir cukup berharga untuk dipertimbangkan menjadi referensi.

Saya meyakini bahwa akhir perjalanan kita adalah sebuah kebahagiaan sejati. Akhir perjalanan kita adalah bersama sang Khalik yang suatu saat akan kita sapa dengan kata “kekasih”. Jadi sangat positif jika ujung jalan itu kita capai dengan proses yang benar dalam arah yang lurus. Demikian selayaknya kita memanfaatkan jalur bisnis untuk menjadi kendaraan mencapai tujuan itu.

Saya mendapati 3 tahap hubungan yang paling utama dalam mencapai spiritualitas bisnis. Yaitu kemampuan mengelola hubungan internal, interpersonal dan spiritual. Mari kita bahas satu-persatu.

Hubungan Internal

Ini menyangkut diri sendiri. Apapun yang terjadi diluar diri, tidaklah menjadi lebih begitu strategis dibandingkan dengan harmonisasi diri. Kualitas diri adalah pondasi pertama dari konstruksi ini.

Pembaca yang budiman, setelah saya amati, mengatur dan mengelola orang lain sangatlah gampang jika kita sanggup mengatur dan mengelola diri sendiri. Dan yakinlah semua kebahagiaan dan sukses ada bersemayam dalam diri kita. Tak usah dicari kemana-mana, tidak di gunung tinggi, tidak dilembah, tidak di air terjun yang tinggi, tidak juga di dasar lautan luas.

Untuk sukses lahir dan batin dalam berbisnis, saya mencatat 3 hal penting yang harus dikembangkan dalam hubungan internal ini, jauh hari sejak memulai bisnis apapun. Yang pertama adalah SABAR. Sukses dan kaya hanya dimiliki oleh orang-orang sabar. Yang sanggup menjaga diri untuk tidak berlebihan, untuk bersaja, untuk kuat menunggu momen dan tangguh menjalani semua proses pembelajaran dengan segala potensi-potensi kegagalan.

Hampir tidak ada pengusaha yang begitu mulai bisni langsung sukses dan selalu berjalan mulus. Semua dijalani dengan proses yang benar-benar menuntut kesabaran. Sabar yang unggul biasanya terjadi karena adanya kesadaran bahha Tuhan akan membantu orang-orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh.

Yang kedua adalah BERSYUKUR. Membatasi diri untuk tidak berlebihan akan menjadikan rasa cukup. Rasa cukup yang benar akan mengundang rasa puas. Rasa puas yang benar akan mengajarkan rasa bahagia dan terimakasih. Yang pasti, janji Tuhan sangat jelas bahwa Ia akan menambahkan berkah bagi orang-orang yang tahu bersyukur.

Mati-matian mencari uang tanpa mempertimbangkan keseimbangan justru mengarahkan pelakunya menjadi budak. Bukan tuan yang bisa mengatur uang, tetapi orang yang diperbudak uang.

Yang ketiga adalah KESEDERHANAAN. Semua orang-orang pintar dari abad pertama adanya kehidupan di bumi ini selalu menciptakan yang komplikasi dan sulit menjadi sederhana dan mudah. Kesederhanaan menempatkan patron-patron yang pas dan tidak berlebihan.

Hidup bersahaja akan mengantarkan diri kepada kejayaan. Ingat sekadar gengsi, tiada akan membawa kebaikan. Gensi tidak akan mengantarkan anak-anak kita sekolah ke jenjang yang tinggi. Gensi tidak akan menjadikan kita kenyang.

Hubungan Interpersonal

Ada tiga pilar utama untuk sukses berhubungan dengan orang lain yang akan berbuah keindahan dan harmoni, yaitu; kasih sayang, memberi dan memaafkan.

Benar bahwa uang tiada kenal kawan atau saudara, kita harus benar-benar serius menanganinya. Tetapi rejeki jelas urusan Tuhan. Dan rejeki itu datang melalui orang-orang yang ada disekitar kita. Berhubungan dengan orang lain, pantasnya dilandasi oleh kesadaran penuh kasih sayang. Singkirkan rasa iri dengki dan curiga yang menyesatkan. Bahkan jika kita dirampok atau tertipu sekalipun, hilangkan rasa khawatir itu. Karena Tuhan pasti sedang berbicara dengan bahasanya dan pasti Dia akan menolong kita selanjutnya.

Kasih sayang intinya hanya memberi dan memaafkan. Mulailah dengan memberi, karena dengan memberi, kita akan berpotensi menerima. Mulailah dengan melayani, karena sesudahnya kita akan dilayani.

Orang-orang jahat yang mengganggu bisnis kita bukanlah datang begitu saja. Mereka telah diatur oleh Tuhan untuk memperkuat kita. Ada rahasi yang kadang kita tidak paham, bahwa Tuhan menghendaki kita untuk naik kelas ketingkatan spiritual yang lebih tinggi.

Hubungan Spiritual

Nah, semua tahapan diatas adalah sebuah rangkaian pondasi dan tubuh sebuah bangunan diri untuk mencapai tingkat ketuhanan. Dalam tahapan ini saya meyakini hanya ada satu kata kunci, yaitu MENYERAH.

Menyerah bukanlah kalah. Menyerah adalah laku sengaja dengan kesadaran tinggi untuk percaya. Ya, percaya bahwa Tuhan tidak pernah tidur dan tidak pernah ingkar janji, sejauh kita masih berpegangan dan tetap digandengNya.

Mungkin perjalanan hidup kita akan melewati jurang terjal, badai yang menghancurkan, atau kering yang menyengsarakan, tetaplah percaya dan serahkan saja tangan kita untuk tetap dalam gandenganNya. Pasti kebahagiaan sejati akan mejadi milik kita.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com





Share:

Blog Archive