it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

26.11.11

GRATIS



Tulisan ini sudah diterbitan di harian waspada medan, pada halaman ekonomi dan bisnis. tgl 27 Juni 2011.


            HANYA ada dua bagian orang yang mendapatkan sesuatu tanpa harus membayar alias Gratis. Yang pertama adalah orang yang terhormat dan yang satu lagi adalah orang miskin.

            Sebagai pebisnis sesekali anda ‘harus’ mengorbankan keuntungannya dengan memberikan layanan dan produknya tanpa harus meminta bayaran dari si pelanggan.

            Bagi pebisnis, orang yang terhormat dalam sekelompok yang pertama adalah orang-orang tertentu yang dipandang memberikan ‘pengaruh’ untuk bisnis, sehingga layak diberikan penghargaan dengan memberikan ‘hadiah’ berupa layanan/produk gratis.

            Terkadang pebinsis juga menemui orang-orang ‘miskin’ yang memerlukan belas kasihan sehingga ‘harus’ diberi gratis.

Semua pemberian gratis itu bisa bersifat sukarela atau terpaksa, juga karena status si penerima layanan/produknya.



Hormat

            Dalam bentuk sederhana, praktek ini bisa dilihat dipasaran seperti sampling produk. Sengaja dibagikan kepada banyak orang agar mereka mencicipi atau mencoba produk tersebut sehingga masyarakat tahu kelebihan produk tersebut dan berlanjut menjadi pelanggannya.

            Tetapi pemberian gratis karena faktor hormat, biasanya diberikan dengan suka rela oleh pengusaha karena penerimanya adalah orang-orang yang dipandang bisa memberikan keuntungan tertentu bagi si pengusaha.

            Bisa jadi mereka adalah pejabat yang memberikan pengaruh sosial. Bisa jadi mereka adalah tokoh publik atau artis terkenal sehingga pemberian gratis itu memberikan promosi tambahan bagi produk dan si pengusaha.

            Secara praktis, bisa jadi target penerima penghormatan itu adalah pembeli potensial. Mungkin mereka adalah manager pembelian, kepala bagian keuangan, atau pimpinan umum dari perusahaan yang dijadikan sasaran pemasaran si pengusaha.

            Pemberian gratis itu adalah bagian dari biaya promosi. Beban biaya itu diharapkan akan menjadi impas, terbayar oleh transaksi lanjutan atas efek pemberiannya.

            Dalam kelompok penerima karena unsur hormat ini adalah mereka-mereka yang bisa dianggap sebagai kawan dan saudara. Tetapi dalam hal ini sudah tidak lagi bisa dianggap bisnis karena itu bersifat perkawanan dan persaudaraan. Dalam hal ini biaya yang timbul tidak semestinya dibebankan ke bagian promosi. Karena mereka itu jelas bukan sasaran yang dituju oleh perusahaan.



Sumbangan

            Saya membagi kelompok penerima sumbangan ini dalam 2 kategori. Yang pertama adalah mereka yang benar-benar miskin secara material. Mereka masuk dalam daftar kriteria orang-orang yang harus disantuni. Mereka adalah fakir miskin yang tidak bisa diterlantarkan.

            Kepada mereka, pemberian gratis itu cenderung bersifat sumbangan. Oleh karenannya, biaya penggratisan itu tidak bisa dibebankan kepada biaya promosi.

            Memberikan sumbangan kepada fakir miskin seperti diatur oleh agama-agama besar adalah salah satu kunci sukses sebuah proses pencarian rejeki. Dalam kontek manajemen modern, memberi sedikit dan menerima dalam jumlah yang besar adalah kunci kekayaan. Tetapi saya pikir manajemen yang ditawarkan Tuhan tidaklah demikian; “Keluarkan sebanyak-banyaknya dan Tuhan pasti akan memberikan lebih banyak lagi...” Tentu hukum ini hanya berlaku bagi yang percaya.

            Kategori kedua penerima sumbangan adalah mereka yang miskin moral. Mereka adalah orang-orang yang sebenarnya memiliki uang cukup bahkan bisa jadi kaya raya. Tetapi mereka merasa harus dihormati sehingga mereka melakukan pemaksaan-pemaksaan untuk mendapatkan segala sesuatunya secara gratis.

            Mereka cukup lihai dengan melakukan berbagai tekanan untuk mendapatkan apa yang mereka kehendaki. Gaya premanisme bermain dalam pola ini.

            Dalam pikiran saya, mereka adalah perampok dalam bentuk lain. Mereka memiliki kekuatan dan ketegaan untuk memaksa kita memberikan layanan/produk kepada mereka secara gratis sebagai bentuk perwujudan atas sikap gila hormat yang mereka cari.

            Sangat disayangkan bahwa ada sebuah kayakinan yang salah yang berlaku di tatanan sosial kita. Konon, bagi sebagaian orang, ada sebuah keyakinan dan kebanggaan bahwa mereka menjadi hebat jika mereka mendapatkan sesuatu dengan gratis.

            Saya pikir, melawan adalah pilihan yang paling ideal. Tentu perlawanan itu bertingkat sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Dari memberikan perlawanan terbuka, mencari perlindungan dari lembaga hukum negara, atau hingga ketika semua tidak mungkin, melawan dengan doa dalam hati juga bisa dilakukan.



 Penghormatan

            Telepas dari kelompok perampok yang tak bermoral. Ketika memberikan penghormatan dengan memberikan layanan/produk gratis kepada seseorang, selayaknya pemberian itu juga harus dilakukan dengan rasa hormat yang tinggi. Pastikan semua pihak pelayanan memahami bahwa pemberian gratis itu dilakukan dengan penghargaan dan memposisikan si penerima dengan martabat yang juga tinggi.

            Semula petugas pelayanan harus tahu siapa mereka itu dan memberikan keyakinan bahwa mereka adalah orang-orang yang memberikan manfaat bagi perusahaan. Pastikan pegalaman-pengalaman melayani para perampok amoral selama ini tidak mengganggu pelayanan penghormatan kepada mereka yang memang layak menerimanya.



Anggaran

            Menganggarkan pemberian layanan gratis dalam sub bagian promosi adalah pilihan bijaksana. Karena dalam iklim usaha di negeri ini, pilihan itu terkadang tidak bisa dielakkan. Tentu saja memberikan yang terbaik dan sesuai anggaran promosi yang ditetapkan adalah keharusan yang dipilih.

            Yang meringankan beban pengusaha dalam hal ini adalah, bahwa memberikan produk layanan gratis ini biasanya berbiaya lebih rendah daripada memberikan uang untuk membiayai produk layanan orang lain. Pengusaha tetap menghitungnya dari biaya produksi bukan dari harga jualnya. 

            Dan pasti keuntungan langsung yang didapat adalah bertambahnya jumlah orang yang mencoba dan menikmati layanan produk kita. Artinya ada peluang bertambahnya jumlah mulut yang ikut mempromosikan produk kita.

            Media publik juga tidak akan menyiarkan kehabatan produk jasa layanan kita jika tidak ada orang-orang yang memiliki nilai berita yang mencoba membuktikan keunggulan produk kita. 

            Karena bisnis adalah pilihan untuk mendapatkan keuntungan, maka tetaplah berorientasi kepada untung dan rugi atas semua langkah-langkah yang di putuskan. Yang perlu disadari adalah bahwa keuntungan tidak selamanya diukur dari nilai rupiah yang didapat. Dan keuntungan tidaklah selalu harus dipetik hari ini, pada saat biaya dikeluarkan. Mungkin tahun depan atau bulan depan. Bijaksanalah.





Konsultasi & pelatihan; tj@cahyopramono.com


Share:

RADIUS 3 KM

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 20 Juni 2011. anda boleh mengcopy-nya tapi tolong sebutkan sumbernya, dengan jelas ditulis di awal atau akhir tulisan, bukan disisipan di tengah.

            SELALU melihat ke langit, bisa membuat kita tersandung. Mungkin begitu jika kita selalu memperhatikan hal-hal yang jauh dan luas tanpa menyadari keadaan sekeliling kita.

            Demikian juga dengan pemasaran bisnis kita. Untuk produk-produk yang dibutuhkan banyak orang dalam frekuensi yang sering. Mungkin perlu ada semacam kesadaran pemasaran di lingkungan kita berada.

            Yang saya maksud adalah bahwa warga masyarakat disekililing kita sebenarnya adalah pasar yang potensial untuk kita jadikan sasaran. Kadangkala, atas nama keinginan bisnis yang besar, kita lupa bahwa kita sudah tidak memperhatikan sasaran yang lebih dekat dan terjangkau di tangan kita.

            Mereka-mereka yang tinggal di sekitar lokasi bisnis kita adalah calon pembeli, calon pelanggan. Dengan melakukan pemasaran ke masyarakat sekitar, kita akan mendapatkan banyak hal positif. Yang pertama; anggaran pemasaran pasti jauh lebih hemat. Tidak perlu distribusi yang memakan biaya karena jauh. Kita tidak perlu menciptakan “pengganti” diri untuk menjadi dekat dengan mereka yang jauh.

Yang kedua; strategi komunikasi pemasarannya bisa disederhanakan dan disesuaikan dengan keadaan sekitar kita dengan tepat. Karena itu lingkungan kita, jelas kita bisa dengan mudah mempelajari dan mengamati kebiasaan-kebiasaan yang mereka lakukan.

Yang ketiga; pengeluaran pemasaran akan lebih sesuai dengan hasil yang kita harapkan.



Radius 3 KM.

            Jika anda memiliki peta kota atau daerah tempat gerai anda berdiri, buatlah titik dengan jarak 3 KM dari posisi usaha anda itu. Lalu buat lingkaran megitari lokasi anda dari titik 3 KM itu. Dan itulah sebenarnya daerah 3 KM yang penting untuk anda jadikan sasaran.

            Perbesarlah tampilan peta tersebut, sehingga anda bisa melihatnya dengan lebih detail semua bagian dalam lingkaran anda. Dari posisi tersebut anda bisa melihat potensi-potensi apa saja yang ada. Mulai dari jumlah rumah, kondisi perumahan, jumlah pertokoan, jumlah perkantoran dan semua potensi lainnya.

            Selanjutnya pelajari, apakah mereka yang ada di dalam lingkaran itu sudah menjadi pelanggan anda. Kategorikan mereka kedalam 3 bagian utama. Yang pertama; mereka yang sudah anda hubungi dan sudah menjadi pelanggan anda. Yang kedua; mereka yang sudah anda hubungi tetapi belum menjadi pelanggan anda dan yang ketiga adalah mereka yang belum anda hubungi dan belum menjadi pelanggan anda. Buat daftarnya..!

            Daftar itulah yang bisa dijadikan acuan kerja pemasaran anda.

            Jangan salah sangka! Banyak dari kita merasa bahwa pasti tetangga kita di radius itu sudah menjadi pelanggan kita, padahal bisa jadi mereka tidak pernah tahu tentang bisnis kita. Manusia hari ini sangat penuh dengan pesan-pesan di dalam pikirannya. Bahkan cenderung berlebihan sehingga mereka tidak lagi mau menerima pesan-pesan baru.

            Seperti sering saya ingatkan, banyak dari kita sudah tidak lagi mau atau memiliki kesempatan untuk membaca poster dan spanduk-spanduk di pinggir jalan. Kita sudah tidak lagi tertarik dengan iklan. Kita bahkan tidak pernah membaca tulisan dikemasan makanan yang kita pegang. Kita tidak lagi pernah membaca tulisan yang ada di bungkus rokok yang tiap hari kita pegang. Media komunikasi sangat banyak, dari koran, tv, radio, internet dan promosi luar ruangan. Untuk membaca semua pesan dari koran terbitan jakarta yang bisa sampai 30-an halaman, dengan cara baca cepat, kita membutuhkan sedikitnya 32 jam –bahkan hari kita pun tak cukup untuk itu--.

            Bahkan kita tidak pernah lagi membaca semua tulisan dalam brosur-brosur promosi yang pernah kita terima. Apalagi menyimpanya.

            Begitu juga dengan tetangga kita yang juga sibuk dan penuh kegiatan. Artinya, walaupun sudah lama bisnis anda, jangan merasa bahwa mereka yang menjadi tetangga anda paham dan tahu bisnis anda. Karena selain kesibukan mereka, bisa jadi para tetangga itu sebenarnya orang-orang yang silih berganti tinggal dan pergi. Artinya; segeralah buat daftarnya, dan segera lakukan sesuatu untuk menjadikan mereka pelanggan anda.



Klik

            Data yang anda dapat dari peta itu adalah awal yang baik untuk bisa mendapatkan data tamahan berupa jumlah penduduk, bentuk rupa profesi atau bisnis mereka, jumlah pesaing, kondisi pesaing dan binis lain yang bisa kerjasama dengan anda dan bukan pesaing.

            Setelah itu siapkan strategi dengan tahapan perkenalan, mengundang, mencoba, kolaborasi dan jualan. Tahapan perkenalan adalah tahapan yang perlu sekali dilakukan. Tentu saja terasa sedikit aneh kalau kita berkenalan lagi kepada tetangga yang sudah sekian waktu berdekatan tapi tidak kenal. Untuk tahap ini, cobalah buat re-louncing –peluncuran ulang--. Buatlah sesuatu sebagai alasan untuk memperkenalkan lagi produk atau outlet anda. Bisa saja anda membuat paket khusus untuk tetangga dekat dengan judul yang sama. Lalu mungkin dengan pemberian diskon dan hadiah-hadiah tertentu.

            Komunikasikan dengan para tetangga itu dengan media promosi yang sederhana dan tepat. Kunjungi mereka bersama tim anda. Mungkin dengan membagikan brosur dan diikuti dengan presentasi penjualan. Undang mereka untuk hadir dan melihat bisnis anda. Jika produk anda memungkinkan untuk diberikan sebagai contoh, mungkin anda bisa membagikannya kepada mereka dengan gratis untuk menarik perhatian mereka.

            Untuk mereka mungkin anda bisa memberikan layanan pesan antar. Toh jaraknya tidak jauh, bisa cepat sampai dan relatif mudah.

            Untuk mereka yang sama-sama berbisnis tetapi bukan pesaing, selain secara pribadi mereka bisa menjadi pelanggan anda, secara lembaga mereka juga bisa dijadikan partner. Bisa saling numpang brosur, brosur anda ada di tokonya dan brosurnya ada di toko anda. Ini penting, karena mereka juga memiliki pelanggan yang bisa jadi belum pernah menjadi pelanggan anda.

            Jika hubungan semakin bagus, anda bisa saling memancing pelanggan dengan memberikan hadiah atau diskon kepada pelanggan mereka. Misalnya, pelanggan toko roti tetangga anda yang berbelanja lebih dari 200 ribu akan mendapat kupon diskon 35% untuk berbelanja di tempat anda.

            Selamat mencoba.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com




Share:

Blog Archive