it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

30.7.12

Arogansi Market Leader



           AKHIR pekan lalu, saya mengurus perijinan di salah satu dinas di Kota Medan. Disana ada hanya ada satu gerai layanan fotocopy. Dua kali saya harus kembali ke gerai tersebut dan mendapatkan situasi layanan yang sedikit perlu diperbaiki. Tidak ada salam dan pertanyaan bantuan layanan.
Saya sudah berdiri mendekat tetapi tetap saja dihiraukan oleh para petugasnya. Setelah akhirnya saya bertanya dan minta tolong barulah mereka bergerak melayani saya. Soal harga? Saya tak berani berkomentar, karena gerai itulah satu-satunya yang ada disana. Apakah salah jika saya berkata-kata dalam hati, kalaulah ada beberapa gerai lain disana, pasti situasinya berbeda.
Kita masih ingat ketika dahulu kita harus seperti menyembah kepada perusahaan telekomunikasi negara untuk mendapatkan sambungan telepon. Lama antri, dibiarkan bahkan kadang harus menyogok oknumnya. Kini, situasi berbalik, mereka yang merengek menawarkan produk mereka yang dulu kita minta. Itu terjadi karena kini banyak pilihan produk telekomunikasi.
Saya ingat di beberapa negara yang saya kunjungi ada memiliki beberapa perusahaan penyuplay bahan bakar minyak. Karena banyak pilihan, mereka bertanding untuk merebut simpati pelanggannya. Suatu saat pasti terjadi di indonesia.
Jikalah ada pilihan lain untuk mendapatkan energi listrik dan air minum, pasti banyak orang sekarang ini yang akan senang hati melakukannya. Bukankah begitu?

Berkuasa
           Bisnis menjadi besar dan ‘berkuasa’ adalah hak siapapun juga. Jika kegigihan dan nasib bertemu, maka itu akan terjadi. Faktor penyebabnya bisa saja karena faktor monopoli. Tiada saingan dalam bisnis tersebut.
           Kekuasaan bisnis bisa juga terjadi karena kedekatan dengan penguasa. Kedekatan tersebut menciptakan pengkhususan pelayanan publik. Kemudahan akses dan aroma kekuasaan.
           Kekuasaan bisnis juga bisa tercipta karena kekuatan modal. Dengan modal yang besar sangat berpotensi mendapatkan suplay bahan dengan murah dan banyak, sehingga persaingan di pasar mudah dikendalikan dengan harga.
           Ada juga kekuasaan bisnis tercipta karena keunggulan produk yang diciptakannya. Keunggulan tersebut tidak dimiliki oleh pesaing lain dan bisa bertahan lama tanpa persaingan yang seimbang.
           Kekuasaan bisnis tersebut diatas boleh saja dimiliki seseorang. Tetapi kekuasaan tersebut bisa jadi tidak bertahan lama dan berpotensi menuai permusuhan ketika tahta kekuasaan itu tidak dijalankan dengan baik.
           Kekuasaan binsis yang berpotensi menunai permusuhan adalah ketika kekuasaan bisnis itu dijalankan dengan keyakinan diri yang berlebihan tanpa memanusiakan pihak lain, ketika merasa paling besar / paling hebat sehingga mengabaikan yang kecil, mengabaikan yang sepele dan mengabaikan yang kurang penting.

AROGAN
Adalah perilaku yang menandakan bahwa seseorang bermartabat rendah. Arogansi itu biasanya ditunjukkan dengan harapan agar pihak lain tahu bahwa dirinya hebat. Secara sederhana, jika seseorang memang benar-benar hebat, tanpa perlu mengaku bahwa dirinya hebat pun orang lain akan mengetahuinya.
           Dibalik perilaku arogan, ada sebuah rasa tidak percaya diri bahwa dirinya hebat dan bermartabat, sehingga seseorang yang arogan itu berusaha mengabarkan ke pihak lain dengan perilakunya agar ia di akui bahwa dirinya hebat. Kehebatan itu juga akan luntur ketika mereka berperilaku tidak memanusiakan pihak lain. Ketika mereka merasa begitu besar sehingga mengabaikan yang kecil, mengabaikan yang sepele dan mengabaikan yang kurang penting.
Jika betul demikian, bukankah seseorang itu sebenarnya tidak hebat?. Kehebatan yang tidak hebat itu biasanya tidak akan bertahan lama. Ketika waktunya tiba seseorang itu tidak hebat lagi, maka kejatuhannya akan sangat menyakitkan.
           Mengawali bulan Ramadhan yang mulia ini, saya ingin berbagi dengan anda tentang kenyataan manusiawi yang sering terjadi dalam dunia bisnis. sebuah kenyataan bahwa sering kali posisi pemimpin pasar berlaku arogan yang pada akhirnya akan menjadi bumerang yang menjatuhkan bisnis mereka itu sendiri.

PELAYANAN
           Ketika berkuasa dan bisa melakukan apapun, seseorang akan cenderung bekerja “semaunya sendiri”. Toh pada kenyataannya, semua orang akan datang kepadanya, baik senang atau tidak senang. Sehingga banyak penguasa bodoh yang memperlakukan pembeli dengan cara sesuka hatinya saja. Mulai dari cara menyediakan produk dan layanan, penentuan harga, pembayaran, ketersediaan suplay, hingga bentuk layanannya. Berhati-hatilah, Ini adalah awal dari kehancuran dimasa yang akan datang.
           Benar kita mungkin sedang berkuasa. Benar mungkin kita tidak memiliki pesaing. Benar mungkin kita diperlukan orang lain. Tetapi apakah kita tidak menyadari bahwa Tuhan memberi uang kepada kita melalui tangan pelanggan?
Ketika kita tidak memanusiakan pelanggan, ketika itu juga kita sedang menjauhkan mereka dari kita. Ketika kita berlaku arogan, sombong dan tidak memberikan pelayanan yang baik, sebenarnya kita sedang menutup pintu rejeki di kemudian hari.
Nah, ketika berbicara masalah pelayanan, selain sistem dan prosedur, pelaku pelayanan itulah yang harus benar-benar menyadari mengapa ia harus melayani.
Hindarkan aksi-aksi memperlakukan pelanggan dengan sesuka hati. Hindarkan perilaku hanya mengutamakan pelayanan secara mencolok kepada pelanggan besar dan mengabaikan pelanggan kecil. Hindarkan aksi-aksi yang berpotensi menyakiti hati pelanggan.
Tempatkan pelanggan secara manusiawi. Layani mereka dengan senang hati. Layani mereka sebagai perantara rejeki dari Tuhan. Layani mereka dengan baik, karena jika tidak, maka akan ada orang lain yang akan senang hati melakukannya untuk mereka.
Jangan sekali-kali salah langkah dengan kekuasaan di tangan. Kekuasaan itu adalah amanah. Semua kekuasaan pada akhirnya harus dipertanggungjawabkan. Menyalahgunakan kekuasaan untuk kepuasan diri yang sombong dan menginjak/memeras yang sedang tidak berkuasa, adalah perilaku manusia dengan martabat yang paling rendah. Ingatlah bahwa diatas langit ada langit, ada yang lebih berkuasa diatas kekuasaan kita saat ini.
Selamat berpuasa bagi kaum muslim. Puasa penting untuk kemuliaan kedewasaan batin dan mengawal kekuasaan bisnis kita untuk kebaikan yang sebenarnya. Jadikan diri kita orang-orang yang selalu bersyukur.

Konsulatasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

tulisan ini sudah terbit di harian waspada medan, pada tanggal 01 aGUSTUS 2011 pada halaman bisnis dan teknologi.
Share:

26.7.12

Golden Time BERAPA usia anda saat ini? Sukses apa yang anda rayakan saat ini?



DAUR hidup manusia secara alamiah persis seperti terbitnya matahai pagi, menjadi kuat pada siang, lembut bercahaya pada sore dan temaram hingga padam terbenam pada malam hari. Kita terbentuk dalam rahim ibu dengan sebutan janin, lalu dilahirkan ke bumi menjadi bayi, tumbuh menjadi anak-anak, remaja, dewasa, tua dan akhirnya mati.
           Setiap tahap perkembangannya memiliki karakter dan keadaan khusus. Dari tahapan itu saya melihat bahwa kebanyakan orang Indonesia menjadi sangat produktif pada usia tertentu. Inilah yang saya sebut sebagai waktu emas – golden time--.
           Disebut waktu yang istimewa karena disanalah puncak vitalitas seseorang. Semua prestasi, semangat hidup, energi dan pikiran sedang dalam kondisi yang sangat prima. Sebelum pada akhirnya masa itu berubah menjadi masa menjelang tua yang keadaannya sangat berbeda.
           Pertanyaan berikutnya adalah “Posisi dan kemenangan apa yang akan dirayakan pada posisi emas itu?” apakah kejayaan karir pekerjaan?, karir politik? Atau karir dan kemuliaan bisnis?
           Saya menulis pengamatan saya ini dengan harapan bisa dijadikan referensi bagi mereka yang belum kehilangan masa emasnya. Untuk mereka yang sudah melawatinya, minimal bisa mengantisipasinya serta memastikan generasi berikutnya tidak berbuat bodoh dengan tidak menghormati waktu.
           Saya menghormati jalur apapun yang anda pilih untuk berprestasi di dunia yang sebentar ini. Tetapi dengan keyakinan bahwa kemiskinan adalah dosa dan kejahatan yang sebenar-benarnya, saya lebih menyarankan anda untuk tumbuh dan berkembang sebagai wirausahawan.
           Dan untuk menjadi pengusaha sukses, ada baiknya jika sudah dimulai sejak dini.

Usia 15 sd 27 tahun
           Memperkenalkan mekanisme uang bekerja dan bekerja untuk mendapatkan uang sangat bagus jika dimulai sejak anak-anak. Berikan mereka referensi bahwa uang tidak seperti hujan yang begitu saja turun dari langit.
Pahamkan kepada mereka bahwa manusia perlu mengerjakan sesuatu untuk mendapatkan uang. Jelaskan bahwa keajaiban kartu plastik yang di sebut ATM tak akan terjadi jika tidak ada uang yang disetor terlebih dahulu ke bank. Jelaskan bahwa kartu plastik yang disebut kartu kredit adalah beban yang harus disikapi dengan bijaksana.
Perkenalkan kepada mereka bahwa keindahan gengsi dan kemewahan adahal hak mereka ketika mereka mengusahakannya dengan benar dan bersungguh. Jelaskan kepada mereka bahwa semua kemewahan yang mereka rasakan adalah hak orang tua-nya yang sudah susah payah mencarinya. Dan mereka harus tahu prosesnya.
Memasuki usia 15 tahun, mulailah dipraktekkan konsep-konsep transaksi. Tawar-menawar, membeli, menawar dan menjualnya kembali. Paham menghitung modal dan harga jual. Hingga mereka nanti berusia 20 tahun, mereka akan semakin paham bagaimana bisnis berlaku.
Pada tahapan itu, tak usahlah berharap mereka akan menjadi kaya raya. Yang penting mereka memahami dan merasakan bagaimana menjadi pengusaha dan berbisnis. Jikapun mereka bangkrut, biarkan saja. Pada tahap inilah mereka harus didera untuk merasakan berbagai kegagalan dan pahitnya kehidupan. Percayalah, semua derita itu justru akan memperkuat mereka.
Bimbing meraka untuk bangkit kembali dari kegagalan dengan memahami kekurangan dan semua hambatannya. Bangkitkan semangat mereka dengan impian-impian yang positif. Dampingi meraka untuk mempersiapkan bisis selanjutnya yang lebih hebat pada usia 20 hingga 27 tahun.
Pada usia 20 hingga 27 tahun, aplikasikan pengalaman mereka pada usia sebelumnya. Ijinkan mereka memasuki tahap bisnis yang lebih serius. Kasih kesempatan mereka bertaruh dengan kesungguhan dan semua potensinya. Pada tahap inilah mereka memantapkan kompetensi, kepercayaan diri dan memupuk pengalaman.
Ingat, mereka adalah anak muda yang nekat dan tidak banyak pertimbangan. Biarkan darah bisnis mengalir dalam dirinya.

Usia 27 s/d 38 tahun
           Jika pelajaran bisnis yang baik sudah dialami seseorang sejak anak-anak atau remaja, niscaya rentang usia ini adalah usia keemasannya. Dibatas usia inilah seseorang sedang memiliki potensi terbaik dari dalam dirinya. Semua energi dan vitalitasnya sedang berada diorbit terbaik.
           Yang lebih perlu dibantu pada usia ini adalah membangun jaringan yang lebih luas dan lebih besar. Mereka sudah mulai lebih memahami makna bertanggungjawab dan realistis walau semangat muda-nya masih menggelora.   
           Dibatas antara 30 dan 38 tahun, mereka sudah mulai melirik nilai-nilai non karir. Mereka sudah mulai bermain ke zona tanggungjawab keluarga. Mereka adalah buah yang matang.
           Berhati-hatilah pada usia 27 hingga 30, disana mereka sangat mungkin tergoda oleh kemegahan sukses. Dengan potensi yang sangat besar, mereka bisa mengalami gangguan preferensi. Kasus-kasus kontra produktif seperti mengerjakan hal lain selain bisnis utamanya terjadi diusia ini. Jika tidak terbina dengan baik, mereka akan menyesal pada akhirnya.

Usia 38 s/d 45 tahun
           Disinilah posisi titik balik. Posisi ini tempat mereka semakin mantap berbisnis mengembangkan lebih mantap lagi atau mereka hanya bisa mempertahankan atau malah membiarkan bisnisnya turun perlahan ke titik nadir seiring potensi dirinya yang semakin redup.
           Ada yang bilang, “hidup di mulai pada usia 40” benar adanya. Kehidupan usia tersebut akan mengarahkan seseorang kepada zona “kedewasaan yang matang”.

Memulai bisnis ketika sudah tua
           Jangan panik dulu jika anda baru berniat membangun bisnis ketika anda sudah tua. Bukan salah siapapun jika kehidupan anda tidak tertata menjadi pengusaha sejak anda berusia muda. Tidak ada kata terlambat.
           Yang anda perlukan hanyalah semangat dan pemikiran seperti anak muda. Anda perlu nekat dan segera melakukannya. Tentu saja potensi jatuh akan terasa lebih menyakitkan bagi orang setua anda, tetapi kejatuhan itu sangat perlu untuk menjadikan anda seorang master.
           Kurangi kebanyakan menimbang dan berfikir. Rejeki seringkali tidak logis. Persis seperti keuangan anda selama ini. Jujurlah, jika dihitung-hitung, pasti tidak akan mampu anda membiayai kehidupan anda. Disana anda akan yakin bahwa ada Tuhan yang akan memberikan berkahnya bagi siapa saja yang percaya.

           Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 25 juli 2011. pada halaman bisnis dan teknologi.
Share:

SPESIALIS ≠ PENGUSAHA


mana yang pengusaha?


           ADA lelucon, bahwa jadi pengusaha itu tak perlu sangat pintar.  Dalam praktik bisnis yang sering kita temukan adalah banyak pengusaha sukses yang kadang hanya lulusan sekolah menengah tapi ia memimpin sekelompok orang-orang pintar lulusan perguruan tinggi terkenal dari dalam dan luar negeri. Tak cuma sarjana, bahkan master ataupun kelas doktor.
           Lelucon nyata itu banyak terjadi di sekitar kita. Ada seorang pengusaha rumah makan sukses yang hanya bisa memasak air. Ada pengusaha konstruksi hebat yang tak pernah bisa memegang sendok semen. Ada pengusaha rumah sakit besar yang tak pernah sekalipun jadi perawat apalagi dokter. Ada pemilik koran yang tak pernah sekalipun belajar menulis berita.
           Walapun tidak sekolah dibidang itu, tidak berpengalaman dibidang itu, tetapi mereka sukses mengarahkan orang-orang pintar untuk bekerja baginya.

Gagal
           Di sisi lain, banyak orang pintar yang gagal ketika beralih menjadi pengusaha. Terlebih dahulu saya memohon maaf bagi mereka yang mengalami pengalaman pahit ini. Lelucon diatas jelas bukan canda bagi mereka yang gagal padahal mereka jelas pintar dibidangnya.
           Terimakasih untuk kepercayaan para pembaca dengan berbagi pengalaman gagal melalui email saya. Mereka adalah seorang dokter spesialis yang bergelar proffesor, gagal total ketika membuat rumah sakit. Seorang mekanik dengan pengalaman 20 tahun diperbengkelan mobil tetapi kandas dalam 8 bulan ketika ia membangun bengkel sendiri.
           Ada seorang chef – kepala juru masak—yang sudah malang melintang di lebih dari 10 hotel bintang 5 di berbagai belahan dunia yang gagal ketika membuka restoran impiannya. Ada seorang fotographer senior yang selalu mendapat acungan jempol untuk karya-karya fotonya, tetapi tidak sampai 2 tahun ia sanggup mempertahankan studio fotonya sendiri.
           Ada seorang kepala pelayanan kebersihan yang berpengalaman di lebih dari 14 hotel dan memimpin 3 jasa kebersihan publik, tetapi terjungkal bebas ketika ia membangun bisnisnya sendiri. Sangat ironik, ia hanya bertahan 20 bulan. Akhirnya menyerah dan kembali mejadi pegawai.
           Ada seorang ahli akuntasi dengan pengalaman lebih dari 15 tahun menangani perusahaan-perusahaan besar, tetapi bangkrut di bulan ke 15 sejak ia membuka praktek jasa akuntan publiknya sendiri.

Spesialis
           Obsesi banyak pemuda adalah menjadi ahi yang spesialis. Itu impian yang bagus. Karena biasanya spesialis mendapatkan gaji yang lebih besar daripada yang umum. Sebutlah pekerja hotel, yang bergaji besar adalah spesialis seperti pimpinan juru masak dan pimpinan teknisi. Dokter spesialis biasanya juga bergaji lebih besar dari pada dokter umum atau bagian umum.
           Dalam bisnis studio foto atau production house, gaji kamerawan biasanya paling tinggi dibanding bidang lain. Di perbengkelan, mekanik berpengalaman biasanya juga mendapat gaji yang lebih tinggi daripada bagian-bagian lain.
           Sayangnya, para spesialis itu jarang menjadi pimpinan umum, karena keahlian mereka sangat khas dan khusus. Dalam kondisi itu akhirnya kemampuan dan pengalaman mereka lebih banyak terfokus kepada bagianya saja. Semakin sempit dan kecil.
           Dengan gaji yang lebih besar, seringkali para spesialis ini terjerembab di zona nyaman. Tetapi ingat, ketika pendapatan mereka berjudul gaji, artinya mereka adalah pegawai. Lalu, ketika kesadaran kebebasan finansial dan keinginan untuk berkembang datang, terfikirlah untuk menjadi pengusaha, kemudian pindahlah mereka dengan mendadak ke zona yang selama ini awam bagi mereka.
           Sebagian dari mereka merasa bahwa mereka pasti bisa menjadi pengusaha yang sukses. Karena mereka adalah produk dan kunci bisnis yang selama ini mereka geluti.

Bukan pengusaha
           Peran dan cakupan pekerjaan pengusaha jelas berbeda dengan peran dan cakupan peran pekerja spesialis.
           Pengusaha mengelola banyak hal sekaligus, termasuk sebagian kecilnya adalah yang di tangani para pekerja spesialis dibawahnya. Pengusaha mengelola permodalan, tata kelola operasional, tata laksana keuangan, memimpin pekerja-pekerja, mejalin jaringan pendukung baik dari suplier, pelanggan hingga pihak-pihak penguasa resmi dan tidak resmi.
           Pengusaha juga harus berkonstrasi kepada pemasaran, termasuk didalamnya adalah antisipasi perang dengan pesaingnya. Pengusaha tidak bisa mengabaikan proses perijinan dan segala bentuk legalitas atas peraturan yang berlaku.
           Benar bahwa uang penting, tetapi begitu menjalani bisnis dengan banyak orang yang terlibat, menangani manusia jauh lebih sulit dibanding mengelola uang itu sendiri.

Berlatih sebelum perang
           Pertempuran bisa ditulis dalam sebuah teori, apalagi sekadar sukses berbisnis. Banyak sekali buku-buku cara sukses berbisnis. Ada banyak referensi menjadi pemimpin yang ideal. Ada yang menyimpulkan dalam 7 langkah saja, bahkan ada yang menjamin sukses memimpin dalam hitungan menit.
           Tak terhitung banyaknya motivator yang mengadakan pelatihan-pelatihan bisnis dan kepemimpinan dalam hitungan jam. Ketika kita berada di ruang seminarnya, kita terhipnotis, seolah-olah memimpin dan berbisnis itu mudah. Tetapi begitu kembali kepada bisnis sendiri, kita bisa mati kutu tak tahu harus bagaimana.
           Bisnis adalah seni hidup. Seni ini tidak cukup dikuasai hanya dengan membaca atau ikut seminar sekali dua kali. Seni ini harus dialami sendiri, karena seni itu akan mengalir dalam darah kita dan membentuk pola yang berbeda-beda antara satu orang dengan orang yang lain. Seperti sidik jadi dan garis tangan, ada yang mirip tapi tak ada yang sama persis.
           Seperti kemampuan para spesialis. Seni bisnis ini pun baiknya dimulai sejak dini. Usia yang baik untuk memulai bisnis adalah ketika seseorang berusia 15 tahun hingga 20 tahun. Bagusnya segala bentuk gagal dan pembelajaran terjadi di usia itu, usia yang tak banyak berfikir dan mencari selamat. Usia yang nekat karena darah muda-nya.
           Selanjutnya usia pemantapan pada umur 20 hingga 30 tahun hingga masa keemasannya pada usia 30 hingga 35 tahun. Usia sesudah 35 tahun adalah titik balik. Semakin menurun atau semakin meningkat.
           Jika anda memulai bisnis pada usia diatas 35 tahun, pastikan jiwa dan pikiran anda persis seperti anda berusia 15 hingga 20 tahun. Tetap nekad dan tak takut bertaruh.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

tulisan ini sudah di terbitkan di harian waspada medan, pada tangga; 18 juli 2011, di halaman bisnis dan teknologi
Share:

Jika Tak Bisa Jadi Pengusaha



           KESADARAN untuk bisa terlepas dari status buruh –dalam bahasa yang halus disebut pekerja/pegawai-- dan bisa mandiri lalu terbebas merdeka secara finansial selalau berkembang setiap jaman. Obsesi menjadi pengusaha atau pemilik binsis adalah impian banyak orang.
           Memang ada sebagian kecil pekerja/buruh yang mendapatkan pendapatan yang sangat besar. Tetapi yang jauh lebih banyak adalah mereka yang terlilit hutang bulanan, menikmati gaji dalam hitungan hari dan selebihnya merana dan lalu berhutang lagi.
           Mereka para pekerja menjadi risau dalam musim liburan ini. Pertama karena tak bisa sesuka hati cuti untuk berlibur bersama anak-anaknya atau kedua karena tidak punya cukup anggaran untuk liburan.
           Berbeda dengan para pengusaha yang berpotensi mendapatkan uang dengan jumlah yang lebih besar dan bisa mempekerjakan orang lain, sehingga liburan kadang bukan permasalahan yang perlu di khawatirkan.
           Apapun status kepangkatan pekerjaan anda, sebutlah nama yang paling terpuji dalam jajaran manajemen, status itu tidak bisa serta merta melepaskan diri dari kategori buruh/pekerja. Itu hanya nama kepangkatan pekerja, bukan berubah menjadi pemilik bisnis tersebut. Dan siapapun yang masih berstatus pekerja, dia bisa dipecat kapan saja.
           Sayangnya di negeri tercinta ini tidak ada sekolah formal yang mengajarkan bagaimana caranya menjadi orang kaya. Dan sekian banyak orang kaya, ternyata mereka bersekolah dijalanan. Mereka bersekolah dengan kegagalan dan keterpurukan.
           Tidak sedikit kelas pekerja yang berusaha pindah posisi menjadi pengusaha. Tetapi diantaranya banyak yang gagal dan terjerembab di lembah kesengsaraan dan akhirnya kembali ke posisi yang tidak ia inginkan, kembali menjadi pekerja.
           Tulisan ini saya dedikasikan kepada mereka yang merasa sudah mencoba tetapi tetap gagal. Kepada mereka yang masih ingin mempertahankan status kepegawaiannya tetapi ingin memiliki pendapatan “sampingan”. Kepada mereka yang merasa bahwa mereka ‘diciptakan’ Tuhan sebagai pekerja saja.
          
Investasi
           Adalah cara lain untuk mendapatkan penghasilan besar selain menjadi pengusaha. Konsepnya sederhana saja. Gunakan modal anda untuk sebuah bisnis dan biarkan orang lain yang mengerjakannya. Perbedaan yang basik dari menjadi pengusaha adalah sistem kerjanya saja. Sama-sama menggunakan modal, tetapi sebagai investor, anda tidak perlu terlibat sangat jauh seperti menjadi pengusaha.
           Ada banyak ladang investasi untuk mengembangbiakkan uang Anda. Sebutlah membeli saham, obligasi, reksadana, emas, properti, atau penyertaan modal ke bisnis orang lain. Setiap ladang investasi ini tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tapi, di mana pun investasinya, idenya tetap sama. Yakni: menempatkan sebagian uang agar bisa memperoleh penghasilan lebih. Secara kasar saya sebut langkah ini sebagai langkah memancing uang dengan uang.
           Ketika anda berinvestasi, anda sudah disebut investor. Tak usah pikirkan nilai investasi yang sangat besar seperti yang sering disebut di koran-koran. Sering kita dengar pemerintah mengundang investor dari luar negeri dengan nilai milyaran rupiah.
           Anda sudah disebut investor sekalipun yang ada tanamkan hanya sedikit. Sebutlah anda memiliki Rp. 5 juta dan anda memberikan uang tersebut kepada seseorang untuk berjualan bakso lalu anda mendapatkan keuntungan dari bisnis tersebut. Dari posisi itu anda sudah bisa disebut investor.
Sebelum memilih bentuk investasi yang akan anda pilih pikirkan terlebih dahulu investasi apa yang cocok untuk anda. Yang membedakan investasi dengan berjudi adalah pertimbangan dan pemikiran logisnya. Jangan pernah asal melemparkan uang sambil terpejam. Analisis, berbagai langkah uji dan bergerak dengan lincah hanya ketika memang ada potensi keuntungan yang masuk akal. Saya menyebut resiko dengan istilah konsekuensi logis dan itu juga ada ketika berinvestasi.

Bagi hasil
           Ada beberapa konsep investasi yang sekarang ini banyak sekali referensinya. Mulai dari menyertakan modal pada perusahaan yang sudah memiliki sistem kuat dan anda tinggal membeli sahamnya di bursa saham. Atau cara mudah lain dengan membeli waralaba/franchise atau yang sudah kaprah disebut orang dengan ikut personal franchise/network marketing.
           Pertanyaanya adalah, bagaimana kalau modal yang kita punya hanya sedikit saja? Kali ini saya ingin menyarankan anda kepada konsep paling sederhana berupa penyertaan modal.
           Pilihlah bisnis dan pebinsis yang anda kenal dengan baik. lalu pelajari dan jajagi potensi keuntungan dan prospek bisnis tersebut. Jika anda perhitungkan layak dan bagus, coba pelajari apakah ada kemungkinan anda ikut menyertakan modal anda.
           Tentu saja anda akan mendapatkan hasil dari bisnis tersebut. Konsep pembagiannya bisa dibicarakan dan dirundingkan dengan si pimilik/pengelola bisnis. ada sebagian orang yang memberikan jaminan keuntungan dalam persentase tertentu tanpa membebankan potensi kerugian bagi anda. Cara ini persis seperti menabung di bank dengan potensi keuntungan yang lebih sedikit diatas bunga bank. Tentu saja presentase keuntungan akan dimiliki oleh si pegelola usaha, karena ia menanggung resiko yang paling besar.
           Untuk mendapatkan persentase keuntungan lebih besar, coba tawarkan penyertaan modal dengan sistem bagi untung-rugi. Artinya, baik keuntungan maupun kerugian akan ditanggung bersama-sama. Dengan posisi tawar ini, anda bisa meminta pembagian yang lebih besar, karena anda juga ikut menanggung potensi kerugian dan anda tidak terlibat dalam pengelolaan bisnisnya. Artinya maju-mundurnya usaha itu tergantung kapasitas kemampuan si pelaksana.
           Tanpa anda sadari, anda bisa merubah posisi kepada pemodal utama, dimana andalah pemilik modal utuh dan pihak lain hanya menjadi pelaksananya saja. Dan ketika itu terjadi anda adalah pengusaha yang bekerja dengan sistem tanpa harus terlibat sangat dalam.

Manusia
           Gaya investasi yang saya sebutkan diatas sangat bergantung kepada kualitas dan karakter manusia yang anda ajak bekerjasama. Benar bahwa investasi memerlukan berbagai kemampuan manajemen, tetapi investasi yang aman selalu bergantung kepada kualitas pelaksananya.
           Artinya, faktor manusia menduduki posisi sangat penting untuk kelangsungan bisnis tersebut. Jadi inti dari manajemen investasi seperti yang saya sebut diatas akan sangat bergatung kepada integritas orang-orang yang melaksanakannya.
           Seni investasi diatas adalah ketika kita mencari dan mendapatkan serta mempertahankan orang-orang yang berkualitas dan cocok karekternya dengan harapan kita. Sesuatu yang kadang sangat sulit mencarinya.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com 

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan pada tanggal 11 juli 2011, di halaman bisnis dan teknologi.
Share:

Blog Archive