it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

2.10.14

15 tahun jualan, 1 istri, 3 anak, 1 kuliah, 1 sma kelas 3, 1 sd kelas 3

"Nama popular atau nama Asli Be?" begitu pria riang ini menjawab pertanyaanku, ketika kutanya siapa nama dia.
Bertahun aku senang membeli Koran yang tidak berlangganan kepadanya, dia penjual Koran yang paling ramah sepanjang jalan Gajah Mada Medan.
sudah ku samperin semua pedagang di jalan ini, yang lain jutek dan bahkan males untuk menyapa pembeli.

"Nama asli-nya Suardi, nama panggilan bang Adek" aku nya.

Bang adek selalu terlihat riang dan ramah sepanjang hari. gak perduli di pagi hari maupun di malam hari.
sapaan paginya terasa sebagai genderang penyemangat memulai hari. masih lebih sedap terasa dibanding satpam komplek yang merengut atau bahkan tak sempat berdiri karena terlanjur lengket kena getah kursinya.

Ternyata bang adek sudah ada di kedai itu "Baru" 15 tahun. Waktu yang panjang demi membiayai keluarganya. anaknya 3 orang. yang paling besar sedang kuliah, yang nomor 2 sudah kelas 3 sma dan yang paling kecil kelas 3 SD. "yang kecil ini rejeki nongol belakangan Be" katanya sambil tertawa renyah.

 Dia menyapa siapapun yang laki-laki dengan sebutan Be, singakatan dari Babe, dan driverku senang sekali dengan panggilan itu.

Selamat pagi bang adek, selamat berjuang dan sejenak tak perlu perdulikan kebodohan dan kepintaran para pengurus partai serta lucunya anggota DPRRI. ketika kita berdikari dan tidak membebani Negara untuk mengurus kita, itu adalah aksi heroisme seorang pahlawan. walaupun ketika Negara sedang keteter ngurus orang-orang pintar di atas sana.

 
Share:

30.9.14

Anda Naik Apa? (Merek terkenal)


PERHATIAN
Silahkan mengcopy dan mengedarkan tulisan ini, tetapi harus dengan menyebutkan sunbernya dan bukan hanya mengedit dan menyisipkan kata-kata "menurut cahyo pramono" saja. karena dalam hal ini saya bukan nara sumber tulisan anda, sayalah yang menuliskan artikel ini dan anda mengcopynya apa adanya

                TANYALAH kepada banyak orang, “merek mobil apa yang paling bagus dan aman?” Dengan segera Jawaban mereka berkisar pada merek Mercy, Audy, Volvo dan Ferary. Bahkan bisa sekali terjadi perdebatan antar mereka yang saling membandingkan diantara merek-merek tersebut.

                Lalu cobalah tanyakan kepada mereka, saat ini anda naik mobil apa? Mereka akan menyebutkan merek yang lebih rendah tingkatnya dibandingkan merek mobil yang mereka sebut diawal pertanyaan tadi. Bahkan diantara mereka ada yang tidak memiliki mobil.

                Pertanyaan ini tidak bermaksud mengejek dan meredahkan mereka, tetapi jawaban atas pertanyaan tersebut adalah bukti atas terjadinya “proses hipnotis” tentang merek-merek yang sukses diatas. Jikapun saat ini para penjawab belum memiliki mobil dengan merek idamannya, jelas sekali dalam hati dan pikirannya, jika mereka ada rejeki, mereka pasti akan membeli mobil bermerek impian tersebut.

Diingat

                Sebutlah ketika anda ingin membeli air minum kemasan, biasanya anda akan menyebut merek Aqua. Jika anda diberikan Ades atau Indones, anda tetap saja akan menerimanya. Sama ketika anda ingin membeli ditergen bubuk untuk mencuci pakaian, anda akan meminta Rinso kepada penjualnya.  Dibanyak daerah, masyarakat menyebutkan sepeda motor dengan sebutan Honda.  Lucu sekali ketika seseorang bertanya, “Naik honda apa?” jawabnya, “saya naik Honda Yamaha”

                Contoh produk lokal adalah ketika anda singgah ke Kota Pematang Siantar dan ingin membeli oleh-oleh, anda akan teringat “Roti Ganda”. Ketika anda ingin membawa oleh-oleh berupa makanan dari medan, anda akan terfikir Bika Ambon dan mereknya adalah “Zulaika”.

                Untuk bisa diingat oleh publik seperti merek-merek tadi, syarat utamanya adalah, menjadi yang pertama. Karena kita tidak terbiasa untuk mengingat yang ke-2 dan seterusnya. Coba anda jawab pertanyaan ini, “Siapa yang pertama kali menemukan benua Amerika?” pasti anda segera bisa menjawabnya. Lalu, “Siapa orang kedua yang menemukannya?”. Pertanyaan lain adalah, puncak tertinggi di dunia apa namanya? Lalu yang tertinggi kedua?. Tambah satu pertanyaan lagi, siapa yang pertama kali berjalan di bulan? Dan siapa yang berikutnya?

                Jawaban atas ketiga pertanyaan diatas adalah bukti bahwa manusia pada umumya hanya memperhatikan yang pertama, bukan yang kedua. Sekadar intermezzo, makanya banyak istri kedua yang sibuk mencari pengakuan, karena orang tidak mengingatnya.

Utama di kelasnya

                Merek Mobil kijang tidak pas jika dibandingkan dengan merek Mercedes bens. Mereka menyadari itu, maka mereka tidak akan melawan merek Mercy. Tetapi, ketika kita tidak sanggup melawan pemimpin pasar, kita harus unggul dikelas kita.

                Dalam hal ini, Toyota Kijang berusaha untuk selalu lebih unggul dari pesaingnya. Mereka terus berinovasi hingga mereka sekarang sanggup mengalahkan merek-merek lain yang juga menggunakan nama binatang.

                Konon kini mereka tidak lagi mau disebut kijang, mereka menyebutnya Innova.

Promosi

                Inilah cara mengantarkan merek kepada benak orang. Harus dikomunikasikan kepada publik dengan cara dan media yang benar. Manfaatkan media-media yang bisa menjangkau pasar anda. Ingat, yang anda perlu adalah bagaimana memasuki alam pikiran yang terdalam mereka. Pelajarilah dengan seksama dan dapatkan perhatiannya.

Saya meyakini bahwa mutiara dalam lumpur adalah lumpur, ketika seseorang tidak tahu bahwa didalamnya ada mutiaranya. Berpormosilah dengan aktif, jemput rejeki dari langit!

                Harap juga disadari bahwa promosi hanyalah laksana kabut menyelimuti alam pikiran masyarakat, tidak otomatis mereka akan segera membelinya. Ingat pertanyaan, “Anda Naik apa?” 

 

 

Share:

29.9.14

Medan Punya Bika, Ambon Punya Nama. (kekuatan Merek)

TULISAN ini sudah diterbitkan di harian Bisnis Medan, tgl 14 Juli 2014.

PERHATIAN silahkan mengcopy dan mengedarkan tulisan ini, tetapi harus dengan menyebutkan sunbernya dan bukan hanya mengedit dan menyisipkan kata-kata "menurut cahyo pramono" saja. karena dalam hal ini saya bukan nara sumber tulisan anda, sayalah yang menuliskan artikel ini dan anda mengcopynya apa adanya.
 
                “SAYA mengelola pabrik sepatu mas, ada 6 pabrik di seluruh Jawa Timur” sebut seorang rekan pengurus Apindo Jatim dalam perjalanan bersama dari hotel ke Bandara Soekarno Hatta beberpa waktu lalu. “Tapi 90% merek yang kami produksi miliki orang lain, kami hanya memproduksinya saja” jelas rekan tersebut.          Ternyata rekan saya ini melayani produksi berbagai merek sepatu kelas dunia yang dipasarkan di Amerika, Jepang, Chili, India bahkan Eropa Timur.
                Sangat ironik ketika biaya produksi sepatu di pabrik seperti milik rekan saya itu, sebutlah hanya sekitar 100.000,- dan ketika beredar dipasaran –bahkan di dekat pabrik sepatu itu sendiri—harnganya menjadi 10 hingga 16 kali lebih mahal.
                Dalam kesendirian saya menunggu jadwal terbang, saya teringat satu desa pandai besi di desa kecil di daerah Tapanuli yang sudah menjadi sentra pengrajin sejak jaman penjajahan Belanda dulu. Mereka berpeluh keringat hingga banyak yang telilnganya menjadi pekak dan tuli. Dan seperti pabrik sepatu yang di jawa timur, mereka juga tidak memiliki merek dagang sendiri. Merek cangkul yang legendaris wilayah Sumatra utara sejatinya dimiliki oleh seorang pengusaha di Kota Medan yang tak sekalipun pernah kena panas besi yang membara untuk ditempa menjadi perkakas.
                Ketika harga eceran pisau tempahan ini di pasaran berkisar Rp.25.000,- para pengrajin itu hanya mendapat upah kerja antara Rp. 1.500 hingga Rp. 3.500 saja.
 
Modal Merek Doang
                Kisah nyata diatas adalah bukti salah satu kekuatan dan nilai sebuah merek. Biaya produksi sebuah produk bisa jadi sangat murah, tetapi ketika merek sudah diterima dan dihargai, harga jualnya menjadi sangat tinggi dan memberikan keuntungan yang berlipat ganda.
                Bahkan pada tahap tertentu seperti kisah diatas, pemilik merek tidak lagi harus dipusingkan dengan proses produksinya. Mereka bisa menyerahkan proses tersebut kepada pihak lain, dengan biaya yang relatif terjangkau dan janji margin keuntungan yang besar. Mereka hanya fokus membesarkan merek yang mereka miliki.
                Perjuangan membesarkan merek menjanjikan imbalan yang tidak sedikit. Dalam kehidupan keseharian kita, banyak contoh yang menunjukkan bahwa merek lebih bernilai dari sekadar produknya. Sebutlah penerbangan nasional, Garuda Indonesia -- dengan pesawat yang sama persis dengan operator lainnya-- mematok harga tiket yang jauh lebih mahal. Sebutlah beberapa hotel yang melabel merek internasional menyewakan kamarnya jauh lebih mahal dari hotel dengan label merek lokal.
                Kini banyak pemilik merek juga melebarkan sayapnya dengan cara menyewakan merek mereka. Mereka menyebutnya dengan pola franchise. Jika anda pemilik kedai kopi, apakah anda mengetahui bahwa kopi yang anda jual dengan yang dijual di Starbuck sebenarnya relatif sama. Tapi kenapa mereka bisa menjualnya dengan harga 10 kali lipat lebih mahal dari harga anda? Jawabannya terletak pada mereknya.
 
Bangun Merek Sendiri
                Ketika anda saat ini sudah melakukan proses produksi tanpa merek. Cobalah berfikir untuk menciptakan merek anda sendiri. Demikian juga bagi anda yang saat ini bergerak dalam bidang perdagangan dan distribusi, alih-alih hanya menjual dan mendistribusikan produk orang lain, mengapa tidak ada coba memulai merintis dan mengembangkan merek milik anda sendiri?
                Membangun merek memerlukan strategi, dan strategi yang paling ampuh adalah waktu. Merek anda tidak harus sukses pada jaman anda, seperti Honda yang semakin sukses pada generasi ke-3 dan seterusnya.
 
Konsultasi; tj@cahyopramono.com
 
 
 
Share:

13.8.14

SaveAisyah resmi dibubarkan


Berita Acara Penyelesaian Pendampingan terhadap Aisyah Pulungan

SaveAisyah dengan ini menyatakan membubarkan diri. Pembubaran ini dilakukan setelah menyelesaikan dan menyerahkan semua bantuan dan pendapingan terhadap Aisyah Pulungan.


Adapun yang sudah dikerjakan oleh tim SaveAisyah adalah;
1.      Mendampingi Aisyah dan M. Nawawi Pulungan pada periode awal di rumah sakit.
2.      Mengobservasi secara psikologis atas situasi yang dihadapi Aisyah dan M. Nawawi Pulungan
3.      Mengumpulkan dukungan publik sampai dengan dibukanya rekening pribadi atas nama M. Nawawi Pulungan di Bank Sumut Syariah.
4.      Mengawal dan berkoordinasi dengan pihak Pemko Medan dan semua instansi terkait dalam hal;
a.      Legalitas kependudukan
b.      Sekolah Aisyah
c.      Pengobatan dan perawatan Aisyah dan Nawawi Pulungan
d.      Mendapatkan rumah tinggal
5.      Atas permintaan pihak donor, prioritas bantuan ditujukan untuk ;
a.      Tempat Tinggal
b.      Sekolah Aisyah (sudah dibayarkan hingga Aisyah lulus SD, lengkap dengan seragam dan buku paketnya).
c.      Jaminan lanjutan sekolah Aisyah (termasuk polis asuransi pendidikan hingga Aisyah berusia 25 tahun).
d.      Pengobatan Aisyah
e.      Usaha lanjutan.
6.     Rumah untuk tinggal dengan isinya sudah ditiinggali oleh M. Nawawi Pulungan dan Aisyah.
7.   Daftar pembelian perlengkapan rumah adalah berupa barang-barang yang tidak mendapat sponsor dari donor. (terlampir).
8.      Mengingat konsep ekonomi lanjutan yang diyakini oleh pihak M. Nawawi Pulungan berbeda dengan keyakinan Tim SaveAisyah, akhirnya diputuskan semua dana yang tidak terpakai diberikan dalam bentuk tunai.
9.      Penyelesaian pekerjaan pendampingan ini dilakukan dengan keyakinan Penuh dari M. Nawawi Pulungan bahwa dirinya sudah bisa mandiri.

Atas nama semua tim SaveAisyah, kami berterimakasih atas semua dukungan yang diberikan dan memohon maaf kepada Aisyah dan M. Nawawi Pulungan atas semua keterbatasan dan kesalahan yang ada.

Medan, 12 Agustus 2014
Atas nama Tim SaveAisyah                   Diketahui oleh




CahyoPramono                                       M. Nawawi Pulungan

surat penyerahan dan pernyataan pembubaran SaveAisyah

Bersama nawawi dan Aisyah, "Pak Kita foto macam sama pejabat-pejabat itu ya" he he he..., "didepan rumah saja pak" sekaligus saya juga ingin menunjukkan kepada para donatur rumah yang akhirnya ditambah 1 kamar oleh nawawi dan mobil bak terbuka yang dibeli oleh nawawi untuk usahanya.

sayang hari ini Aisyah tidak sekolah, hanya karena baju-nya belum ada yang disetrika. (masih menyesuaikan dengan pembantu, belum ada yang cocok dan pas dengan selera Nawawi.)


Perlu kami sampaikan bahwa dana yang terkumpul melalui rekening Cahyo Pramono tercatat senilai Rp. 121.198.719,93,- (seratus dua puluh satu juta seratus sembilan puluh delapan ribu tujuh ratus sembilanbelas rupiah, sembilan puluh tiga sen).
keseluruh dana tersebut kami berikan langsung kepada Aisyah Melalui Ayahnya.

Dana yang terkumpul melalui jaringan Sdr. Zulfahmi Fithri adalah senilai Rp. 104.910.392,- (seratus empat juta sembilan ratus sepuluh ribu tiga ratus sembilan puluh dua rupiah).
dana tersebut digunakan untuk keperluan kebutuhan aisyah, sekolah, asuransi dan renovasi rumah serta pembelian kelengkapan rumah yang tidak mendapat dukungan dari sponsor/donatur.
setelah semua transaksi, masih tersisa Rp. 718.392,- (tujuh ratus delapan belas ribu tiga ratus sembilan puluh dua rupiah) dan sisa tersebut diberikan secara tunai kepada Nawawi Pulungan.

Melalui kesempatan ini, kami menyampaikan rasa terimakasih yang sedalam-dalamnya atas seluruh dukungan yang diberikan kepada Tim SavaAisyah dan kepada Aisyah serta Ayahnya.

Terimakasih kepada seluruh donatur dimanapun anda berada, dari pelosok timur Indonesia, hingga ujung barat di Banda Aceh. termasuk yang dari Amerika, Jerman, Australia, Hongkong, Malaysia dan dari berbagai daerah yang tidak bisa saya sebut satu persatu.

Terimakasih kepada 
1. Bapak Zulmi Eldin, Walikota Medan dan seluruh jajarannya yang sudah memberikan dukungan luar biasa, dalam pengobatan ayah aisyah, tempat tinggal, sekolah pertama aisyah dan legalitas kependudukan ayah asiyah.
2. kepada seluruh donatur yang tidak bisa saya sebut satu persatu.
3. Kepada tim SaveAisyah dan Tim Peduli Asyah yang merupakan kesatuan koordinasi (seluruh jajaran pemerintahan kota medan dan provinsi sumatera utara).
4. Kepada direktur Rumah Sakit Pirgadi dan jajarannya yang berkenan memberikan pelayanan kesehatan hingga selesai.
5. Kepada jajaran Media yang terus memberitakan perkembangan pekerjaan mendampingi Aisyah.
6. Kepada seluruh pihak yang tidak bisa kami sebut satu persatu.

dengan dibubarkannya SaveAisyah, tim ini akan membentuk sebuah yayasan dengan nama Yayasan Tangan Kanan, sebagai perwujudan komitmen untuk memberikan tangan kepada Aisyah-aisyah yang lainnya, seperti;
1. Kakak adik Sarah dan Rama yang yatim di Langkat.
2. Bayi dari ibu belia yang merupakan Korban pemerkosaan di Pangkalan  Susu.
3. Bayi sumbing yang dibuang di Kabanjahe.
4. Remaja pengidap Hemophilia 
5. DLL.

Semoga seluruh mahluk hidup tenang, damai, tenteram, bahagia dan sejahtera.

medan, 13 Agustus 2014.
atas nama tim SaveAisyah
Cahyo Pramono
Zulfahmi Fithri.








Share:

7.7.14

TULALIT (nomor telepon untuk bisnis)

Tulisan ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis, tanggal 7 juli 2014, di halaman 7.

silahkan mengcopy asal anda harus menyebut sumber dan link blog ini, terimakasih.




  DI dunia yang semakin menglobal, nomor telepon adalah nama anda dalam bentuk lain. Dalam hal ini, nomor telepon adalah merek atau wajah anda dalam bentuk angka yang merefleksikan diri dan perusahaan anda.

Saat ini, telepon adalah salah satu cara yang paling efisien untuk saling terhubung. Jarak dan waktu bisa menjadi penghambat produktifitas. Karenanya telepon tercipta sebagai penghubung yang meniadakan hambatan jarak dan waktu.

Sayangnya sebagian dari kita menganggap nomor telepon adalah hal yang remeh. Padahal ini point penting sebagai pintu koneksi dengan pihak luar, baik pembeli maupun pemasok. Ketika kita memberikan nomor telepon kepada calon pembeli/pelanggan yang potensial, tidak semuanya akan menghasilkan bisnis pada saat yang segera. Bisa jadi pesanan/order terjadi beberapa bulan atau tahun berikutnya. Bayangkan jika anda mengganti nomor telepon tanpa pemberitahuan kepada semua pihak, maka para pemesan akan kecewa, karena bukan suara anda yang mereka dengar, tetapi bunyi TULALIT yang akan mereka dapatkan.

Bunyi Tulalit tadi adalah tanda kerugian anda! Artinya, mulai sekarang, berfikirlah lebih bijak jika berencana mengganti nomor telepon anda.

Memilih nomor cantik
Sekarang, yang menjadi pemikiran adalah, apakah nomor telepon anda sudah cukup cantik? Yang saya maksud dengan cantik bukanlah sekadar indah dipandang, tetapi mudah disebutkan dan mudah diingat. Karena, bertukar nomor telepon sering kali terjadi dengan cara menyebutkannya.

Semakin mudah nomor telepon anda disebutkan, semakin mudah diingat, jadi para pemberi order anda akan mudah menghubungi nomor telepon anda. Harap diperhatikan, bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan daya ingat yang baik atas angka dan nama. Apalagi jika nomor itu lebih dari 7 angka.

Menguji apakah nomor anda adalah nomor cantik, coba saja sebutkan secara lisan kepada beberapa orang. Lalu suruh mereka mengulang menyebutkan nomor anda. Jika mereka bisa menyebutkannya dengan lancar, berarti nomor anda termasuk nomor cantik.

Sekadar untuk referensi, yang pertama, nomor cantik biasanya pendek. Kemudian, nomor itu akan mudah diingat karena ada irama dalam penyebutannya. Nomor cantik tersusun seperti pantun, misalnya AA-BB (misal, 11-22), AB-AC (misal 12-13), ABCD (misal 1234) atau AB-AB (misal 12-12).

Jika ada nomor hp 0888888888, itu hanya telihat cantik, tapi sulit menyebutkannya! Berapa jumlah angka 8-nya? Sulit bukan? Lalu, untuk menyebutkan nomor yang lebih dari 7 digit idealnya gunakan potongan-potongan yang memudahkan, jika nomor anda misalnya adalah 081935732890, maka sebutlah dengan potongan 0819/3573/2890

Kaidah yang sama juga berlaku untuk aplikasi PIN BB. Penggunaan tanda-tanda non alphabet yang terliihat cantik sebenarnya menyulitkan. Tanda seperti “&^%$#Nama” menyulitkan orang lain mencari nama anda. Kesulitan mencari nama anda adalah hambatan untuk rejeki yang akan mendatangi anda.

Telepon = pintu uang
Ingat, telepon seharunya menjadi sumber pemasukan untuk menerima order, bukan menjadi penambah beban pulsa. Sebagian dari kita menjadi korban iklan paket hemat operator telepon yang menjanjikan gratis bicara hingga mulut dower atau gratis sms hingga jempol bengkak. Sekali-kali jangan tergoda lalu merubah nomor anda. Jika tidak bisa tahan, boleh saja anda menambah nomor lain yang paketnya lebih hemat untuk bertelepon.

Jika kini pengeluaran pulsa anda lebih besar daripada pemasukan yang anda terima. Mungkin ini waktu anda harus berfikir ulang, apalah guna anda memiliki telepon.

               Konsultasi; tj@cahyopramono.com
Share:

26.6.14

Paino VS Robert (Rahasia Merek Sukses)


Tulisan ini sudah diterbitkan di harian
medan bisnis, tgl 23 Juni 2014

mohon sebutkan sumbernya secara khusus
jika anda berkenan mengcopy-nya
BAYANGKAN anda sedang berada di bagian belakang rumah. Lalu, anak anda dari depan rumah berlari menghampiri anda dan mengatakan bahwa ada tamu yang bernama Pak Paino dari Tembung. Beriktunya anda memintanya untuk mengantarkan Pak Paino menunggu di teras sebelah kanan rumah. Sementara anda bersiap diri, anak anda datang lagi sambil menyebut bahwa ada tamu lain yang bernama Pak Robert dari Medan baru. anda memintanya untuk mengantar Pak Robert menunggu di teras sebelah kiri rumah. Kedua tamu anda tidak saling lihat dan tidak saling tahu, mereka ada di 2 tempat yang berbeda.

Sebelum anda menemui mereka, jika anda boleh memilih dengan jujur, siapa dulu yang ingin anda temui? Pak Paino yang dari Tembung atau Pak Robert dari Medan Baru?

Baiklah, jika anda ragu-ragu, coba saya bantu dengan beberapa pertanyaan berikut ini;

Menurut anda, siapa dari kedua tamu tersebut yang datangnya karena berniat meminjam uang dari anda? Siapa dari mereka berdua yang sudah 6 bulan nganggur dan datang mau minta kerjaan?  Siapa yang datang naik sepeda butut? Siapa yang pakai sendal jepit? Siapa yang pakai kaus lecek? Siapa yang sedikit bau dan panuan?

Saya tidak tahu, apa jawaban anda, tetapi saya sangat yakin salah satu dari tamu anda sedikit sial bahkan ketika anda belum menemuinya. Anda sudah bersikap dari hanya mendengar nama dan asalnya. Anda sudah memilih sebelum bertemu.

Jika Paino dan Robert adalah nama seorang salesman, maka salah satunya sudah gagal untuk menjual bahkan sebelum terjadi transaksi. Jika Paino dan Robert adalah sebuah merek, maka salah satunya sudah gagal sebelum dipasarkan.

5 kunci Membuat Merek.

               Pertama, pastikan kata merek yang anda pilih memiliki arti/makna yang positive, bersemangat dan memotivasi. Apakah anda akan membeli obat di apotik yang bermerek “Tuba Store Apoteek”?

Yang kedua, kata merek mengandung korelasi yang cocok dengan produk anda. Apakah pantas toko bunga dengan nama “Ucok florist”?. Apakah anda merasa haus ketika mendengar iklan sebuah minuman botol dengan merek “Badak”?. Pasti anda setuju nama “Badak” mungkin lebih cocok untuk produk traktor, atau sesuatu yang menonjolkan kekuatan dan sesuatu yang kokoh.

               Yang ketiga, nama merek idealnya bisa disebutkan oleh semua suku bangsa, sehingga bisa dipasarkan secara global. Jika nama Cahyo dijadikan merek, sepertinya akan gagal kalau dipasarkan di daerah Toba. Di sana, umumnya alfabet “C” dibaca dengan “S”. Kalau mereka bilang “Kunci”, mereka menyebutnya dengan “KUSI”. Kalau bilang “COCOK”, mereka menyebutnya dengan “SOSOK”.

               Yang keempat, buat kata merek tidak lebih dari 4 suku kata. Merek-merek besar tidak lebih dari 4 suku kata, sebutlah Mercy, Nokia, BMW, Audi, Google, Samsung, dan Medan Bisnis. Orang sumut jarang yang menyebut nama “Jalan Sisingamangaraja” dengan lengkap, kita sering hanya menyebutnya dengan “jalan Singa”, atau Cuma “SM raja”, seperti kita sebut “limpul” untuk “lima puluh rupiah”.

               Yang kelima, nama/merek usaha yang menggunakan nama orang semestinya orang yang memang benar sudah terkenal, seperti “Rudy Hadisuwarno” yang sudah terkenal dengan tata rambut dan salon. Jangan paksa menggunakan nama istri atau anak anda yang pasti belum terkenal dan teruji.

               Yang terakhir, saya mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat. Sungguh ini tidak disengaja dan hanya sebuah ilustrasi untuk tujuan pembelajaran.


Konsultasi; tj@cahyopramono.com
Share:

22.6.14

Finishing Rumah Aisyah

Kepada para dermawan yang sudah membantu Aisyah,  perlu kami update situasi rumah Aisyah.

Kini dalam proses finishing, kita tambahkan jerejak pengaman disemua jendela, kita ganti toilet jongkok dengan toilet duduk,  perbaikan mesin pompa,  pemasangan pagar dan canopy untuk rencana usaha si Ayah.

Kita juga pasang tembok penutup dapur belakang,  atapnya, pembuatan meja kompor dan pengecatan.

Semoga setelah pembagian rapot aisyah sudah bisa menempati rumah ini.




Sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya 








Share:

16.6.14

Kalau sudah kaya raya, anda mau apa? (niat dan alasan memulai bisnis)


tulisan ini sudah diterbitkan di
harian medan bisnis,
tgl 16 juni 2014
               Sebab seseorang berbisnis biasanya hanya seputar kemerdekaan finansial, tidak lebih.  Artinya, hanya ingin kaya raya saja. Sayangnya, alasan itu hanya akan memberikan rasa lelah yang luar biasa. Dan jika pun gagal, akan terasa sangat menyakitkan.

               Beberapa pengusaha yang sukses ternyata tidak hanya mengejar materi, tetapi dalam batinnya terselip niat kuat untuk ibadah. Mereka memberikan manfaat yang lebih besar kepada orang lain. Baik bagi pegawai, keluarga pegawai, pembeli dan supplier. Sebutlah bisnis dengan 50 orang pegawai, dengan rata-rata tiap pegawai beranak 1 orang plus istri/suaminya, maka bisnis itu sebenarnya sudah menghidupi 150 orang secara langsung. Bayangkan jika jumlah pegawai supplier/pemasok juga dihitung.

               Pada sisi lain, Ketika produk bisnis bermanfaat bagi pembeli, maka nilai ibadah yang terkontribusi akan semakin luas. Disinilah salah satu alasan mengapa, para pebisnis sukses menjalankan bisnisnya sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhannya.


ALASAN

               Seseorang tidak akan tergerak mengerjakan sesuatu jika tidak ada alasannya. Jikapun dilaksanakan, biasanya hanyalah sesuatu yang tiada bernilai dan cenderung berakibat kesia-siaan.

               Alasan menjadi kompas menuju tujuan akhir. Alasan adalah motivator yang efektif untuk memastikan seseorang memiliki energy yang cukup demi tercapai tujuan yang diharapkannya.

               Karena kekuatan alasan sangat berpengaruh terhadap kinerja dan prestasinya. Carilah alasan yang mendasar, hakiki, menyeluruh dan mulia.

 
ALASAN MULIA

               Ada 2 tipe pengusaha; yang tenang dan Bahagia serta pengusaha yang selalu terlihat susah. Secara ralita teksnis, cara kerja, sistem operasional manajemennya ternyata sama-sama dikerjakan oleh kedua pengusaha. Yang membedakan keduanya adalah hanya pada alasannya saja. Alasan mengapa mereka menjadi pengusaha.

Pengusaha yang terlihat susah hanya mencari kekayaan pribadi saja. Hari-harinya dipenuhi dengan target keuntungan, rasa khawatir rugi dan rasa khawatir ditipu serta semua hal yang bernuansa materialis.

               Pengusaha yang terlihat lebih Bahagia, memiliki alasan yang tidak dimiliki pengusaha yang terlihat susah. Mereka bukan minta kaya raya dalam doa-nya. Mereka mencari Ridho Tuhan YME. Mereka mengharapkan kekayaan yang lebih hakiki dari Tuhannya.

Ketika mereka menjalankan bisnisnya, mereka berharap bisa memberikan manfaat yang lebih besar kepada mahluk Tuhan lainnya. Mereka percaya, ketika mereka mendapat Ridho dari Tuhan YME, secara otomatis mereka akan mendapat bonus berupa kekayaan material. Disamping itu, mereka cenderung tidak sangat stress dan takut menghadapi tantangan bisnisnya, karena mereka percaya bahwa berjuang untuk Tuhan, akan mendapatkan bantuan yang tidak terbatas dari Tuhannya.
 
MAU APA?

               Suatu ketika dengan menghiba, seorang calon murid menghadap ke seorang biksu tua di sebuah padepokan agar dia diberi pelajaran bermeditasi. “Anda ingin apa?” Tanya Biksu, “Apakah anda ingin menjadi sakti?”. Si biksu mejelaskan bahwa dengan belajar meditasi, seseorang akan bisa terlihat sakti, bisa mengendalikan hujan, bisa berkomunikasi dengan binatang dan banyak sekali kesaktian lain yang berpotensi dimiliki seseorang yang belanjar meditasi.

               Si Murid menjawab, “ya, Mengapa tidak Biksu?, kan asyik bisa sakti begitu”. Lalu Biksu bertanya lagi, “Memang kenapa kalau sudah sakti?, Anda mau ngapain kalau sudah hebat? “

               Sejenak suasana sunyi, si calon murid masih terlihat bingung. Karena sejatinya, itu kesaktian bukanlah capaian akhir dari sebuah praktek meditasi. Ujung meditasi adalah tercapainya hubungan yang lekat dengan semesta, menyatu dan mendapatkan kesejatian hidup.

               Apalah arti menjadi sakti jika itu hanya setengah dari perjalanan menuju kesejatian hidup?
 

Konsultasi tj@cahyopramon
 

 

 

 
Share:

11.6.14

Sarah dan Rama kini yatim ,

 

Ferry, ayah Sarah dan Rama, sudah menghadap yang Maha Kuasa, Kamis 4 Juni 2014.

kiri, foto jenazah dalam proses pengurusan.
tengah, foto almarhum ketika pesta pernikahan
kanan, foto almarhum ketika dirawat di rumah sakit.
 

dengan iklas Sarah meninggalkan bangku sekolahnya untuk merawat ayahnya  


Ini sarah ketika menjaga ayahnya di rumah sakit, dia suka pakai baju sepak bola.
 
belum ada gambaran jelas, bagaimana anak 12 tahun ini melanjutkan hidupnya.

 
 

Share:

Kalau Cinta Sudah Melekat, .... kucing terasa coklat. (bisnis dari hobby)

tulisan ini sudah diterbitkan di harian medan bisnis, tanggal 9 juni 2014
 

ADALAH Maulana Tarigan, anak SMP yang berhemat setengah mati tidak jajan demi bisa mengumpulkan dana untuk membeli kamera foto professional. Dunia fotografi membuatnya mabuk kepayang. Puasa jajan 7 bulan ditambah beberapa honor membantu seniornya jadi tukang angkat
lampu di beberapa acara kawinan, akhirnya mengujudkan impiannya.

               Adalah Bang Ali, berulang kali jatuh bangun dilumpur dan terperosok di jurang bahkan berkali-kali terjebak ditengah hutan tidak membuatnya jera. Semakin hari justru kegilaan atas olah raga keras menggunakan sepeda motor trail menerobos belantara Sumatera semakin bertambah saja. Bermula dari sepeda motor trail yang berharga belasan juta hingga ratusan juta ia miliki. Ia berburu peralatan untuk hobbynya tidak saja di dalam negeri tapi jauh sampai ke ujung Asia.

               Kegilaan serupa dialami oleh semua dari kita. Kegilaan jatuh cinta terhadap sesuatu atau seseorang menjadikan kita memiliki energi yang luar biasa besar. Ada kecenderungan yang tiada berbatas, karena ada enzim kesenangan yang mendominasi pikiran dan perasaan.

               Semua dari kita memiliki energy itu. Bayangkan jika energy jatuh cinta itu digunakan untuk memulai dan menjalankan bisnis.

Bisnis Hobby

               Banyak yang menyarankan agar kita memilih bisnis dari hobby kita. Alasannya sederhana, karena energy jatuh cinta seperti terhadap hobby cenderung terasa menyenangkan, memberikan pesona ketertarikan dan power yang besar.

               Realita memulai bisnis tidak selamanya indah. Ketika rasa yang dianut oleh pemula bisnis ini tidak berdasar cinta, maka realita-realita itu akan terasa menyakitkan. Sebutlah betapa sulitnya mencari modal. Tidak mudah mendapat pinjaman. Betapa sulit memproduksi dan memasarkannya. Terkadang pelanggan mengeluh hingga marah besar. Kadang produksi gagal, kadang ada cacat disana sini. Dan kompetisi yang menyengit dan kasar. Belum lagi berhadapan dengan peraturan pemerintah yang lebih berpihak kepada pemodal besar. Apes deh..!

               Berbisnis hobby akan terasa nikmat dan menyenangkan bahkan ketika segala-sesuatunya tidak berjalan sesuai harapan. Realita bisnis umumnya tidak memberikan hasil keuntungan yang amat besar dan bahkan biasanya jauh dibawah nilai bunga bank. Artinya jika tanpa rasa yang khusus, seseorang akan lebih memilih berharap bunga tabungan daripada berepot-repot bisnis. Bagaimana ribet mengurus pegawai yang umumnya hanya ingin gaji dan fasilitas lengkap sementara mereka tidak perduli dengan untung-ruginya perusahaan, bahkan waktu kerja mereka pun sangat terbatas, lewat sedikit saja minta lembur. Belum lagi ancaman demo jika tuntutan mereka tidak dipenuhi. Pusing deh..!

Keterlibatan batin

               Bisnis bukanlah sekadar modal, produk dan pasar.  Bisnis sejatinya adalah perihal karakter. Bisnis adalah gaya hidup dan jalan hidup. Artinya, keterlibatan batin menjadi sangat penting. Bisnis apapun yang tidak diikuti oleh batin pelakunya, akan terasa hambar dan pada akhirnya tidak bernyawa.

               Jika anda belum jatuh cinta terhadap bisnis anda, cobalah untuk menerimanya dengan senang hati. Nikmatilah.  Mengelola bisnis yang baik tidak saja hadir secara fisik, tapi ada totalitas batin yang benar hadir.  Keperdulian yang tiada putus dan rasa terpesona yang tiada luntur. Totalitas itulah yang akan menjadikan diri pengusaha akan tahan terhadap semua kesulitan. Ada janji diri untuk sukses dan impian indah dalam menghibur diri atas kesulitan yang dihadapinya.

Batin yang indah adalah batin yang jatuh cinta dan penuh energy dan kerelaan berkorban. Sampai orang bilang, “Kalau cinta sudah melekat, ... kucing serasa coklat”.


Share:

3.6.14

3 X Puasa, 3 X Lebaran (usia usaha melewati ujian pertama)

tulisan ini sudah diterbitkan di harian medan bisnis medan, pada hari senin 2 juni 2014.

BANG Toyib jelas sudah sukses pergi dari anak-istrinya. Durasi kepergiannya membakukan kesimpulan bahwa Bang Toyib benar-benar pasti meninggalkan tanggungjawabnya.

Durasi (waktu) yang sama juga bisa dijadikan salah satu acuan untuk menilai kemapanan sebuah bisnis.  3 tahun adalah waktu yang sangat strategis untuk menilai apakah sebuah bisnis bias bertahan langgeng. 

3 tahun awal adalah waktu yang cukup padat dalam pembentukan pola dasar bisnis yang kompleks. Dalam masa itulah, ibarat bayi mulai bisa merangkak, berdiri dan berjalan tertatih-tatih. Pada tahap itu bisa saja terjadi keajaiban yang disebut dengan “beginner luck” (nasib baik bagi pemula). Keajaiban itu bisa terjadi ketika memulai usaha dengan moment yang tepat. Proses mudah, bisnis mudah di dapat dan memberikan keuntungan yang baik.

Atau selama masa awal tersebut, sangat mungkin bisnis terseok dan memerlukan banyak dukungan dan suntikan vitamin. Lalu kemampuan bertahan atas segala godaan dan ujian selama 3 tahun membuktikan bahwa kinerja manajemen sanggup untuk menghadapi ujian pada jangka yang lebih panjang.

Tahun pertama

               Semua hal terlihat baru bagi pebisnis. Semua teori dan keyakinan yang dianut pebisnis dihadapkan dengan realita-realita yang bisa jadi tidak terbayangkan sebelumnya.

               Terlepas dari peluang Beginer Luck, pada tahap ini semua masih meraba. Persis seperti harus menancapkan sebuah paku dalam kegelapan, mungkin pukulan yang ke 1001 baru bisa tepat sasaran. Pada tahap ini segala-sesuatu dilakukan hanya dengan referensi dari pihak luar, karena data dari internal belum pernah ada sebelumnya.
bang toyib...?

               Perencanaan keuangan, perencanaan stok, perencanaan jam kerja operasional, hingga perencanaan pemasaran masih merupakan porses uji.

               Beruntungnya tahap ini adalah karena pelaku bisnis umumnya sedang dalam situasi psikologis yang penuh semangat. Di tahap inilah bisa terbukti bahwa kekuatan pikiran sangat berperan. Bisa saja ketidakmungkinan yang logis justru akan terjadi karena semangat yang positif dari pelaku bisnis ini.

Tahun kedua

               Inilah waktu yang paling krusial untuk melanjutkan atau menutup sebuah bisnis. Kinerja selama 1 tahun awal bisa dianggap positif atau negatif oleh si pelaku bisnis. Tergantung keyakinan si pelaku bisnis, apakah akan dilanjutkan atau harus di tutup. Disinilah jiwa kewirausahaan terasah dengan baik. Apakah seseorang mudah patah semangat atau terus pantang mundur.

Secara operasional, pada dasarnya tahun kedua adalah proses pengulangan atas kejadian tahun pertama. Sudah mulai ada acuan untuk membuat standard dan prosedur. Pola manajemen keuangan sudah mulai bisa ditata rapih dan terseruktur. Pegawai dan sumberdaya lain sudah mulai terpola jelas.

Bisa jadi efek atau hasil promosi pada tahun pertama dapat dipanen pada tahun kedua ini.

Tahun ketiga

               Setidaknya sudah 2 kali proses pengulangan dilakukan. Di tahap ini, pelaku bisnis sudah bisa menyimpulkan secara garis besar tentang apa yang akan terjadi dalam masa depan berdasar data 2 tahun sebelumnya.

               Produk mulai lebih luas dikenal pasar. Operasional kian lancar, sumber daya lain sudah makin matang dan yang paling penting adalah bahwa     Pihak luar akan lebih yakin dan percaya. Kalangan Perbankan dan pemasok juga akan lebih percaya dalam pemberian kredit.  Pada tahap ini bisnis anda sudah memiliki nilai tawar.

              

                                                                                                         Konsultasi; tj@cahyopramono.com

              
Share:

Blog Archive