it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

26.6.14

Paino VS Robert (Rahasia Merek Sukses)


Tulisan ini sudah diterbitkan di harian
medan bisnis, tgl 23 Juni 2014

mohon sebutkan sumbernya secara khusus
jika anda berkenan mengcopy-nya
BAYANGKAN anda sedang berada di bagian belakang rumah. Lalu, anak anda dari depan rumah berlari menghampiri anda dan mengatakan bahwa ada tamu yang bernama Pak Paino dari Tembung. Beriktunya anda memintanya untuk mengantarkan Pak Paino menunggu di teras sebelah kanan rumah. Sementara anda bersiap diri, anak anda datang lagi sambil menyebut bahwa ada tamu lain yang bernama Pak Robert dari Medan baru. anda memintanya untuk mengantar Pak Robert menunggu di teras sebelah kiri rumah. Kedua tamu anda tidak saling lihat dan tidak saling tahu, mereka ada di 2 tempat yang berbeda.

Sebelum anda menemui mereka, jika anda boleh memilih dengan jujur, siapa dulu yang ingin anda temui? Pak Paino yang dari Tembung atau Pak Robert dari Medan Baru?

Baiklah, jika anda ragu-ragu, coba saya bantu dengan beberapa pertanyaan berikut ini;

Menurut anda, siapa dari kedua tamu tersebut yang datangnya karena berniat meminjam uang dari anda? Siapa dari mereka berdua yang sudah 6 bulan nganggur dan datang mau minta kerjaan?  Siapa yang datang naik sepeda butut? Siapa yang pakai sendal jepit? Siapa yang pakai kaus lecek? Siapa yang sedikit bau dan panuan?

Saya tidak tahu, apa jawaban anda, tetapi saya sangat yakin salah satu dari tamu anda sedikit sial bahkan ketika anda belum menemuinya. Anda sudah bersikap dari hanya mendengar nama dan asalnya. Anda sudah memilih sebelum bertemu.

Jika Paino dan Robert adalah nama seorang salesman, maka salah satunya sudah gagal untuk menjual bahkan sebelum terjadi transaksi. Jika Paino dan Robert adalah sebuah merek, maka salah satunya sudah gagal sebelum dipasarkan.

5 kunci Membuat Merek.

               Pertama, pastikan kata merek yang anda pilih memiliki arti/makna yang positive, bersemangat dan memotivasi. Apakah anda akan membeli obat di apotik yang bermerek “Tuba Store Apoteek”?

Yang kedua, kata merek mengandung korelasi yang cocok dengan produk anda. Apakah pantas toko bunga dengan nama “Ucok florist”?. Apakah anda merasa haus ketika mendengar iklan sebuah minuman botol dengan merek “Badak”?. Pasti anda setuju nama “Badak” mungkin lebih cocok untuk produk traktor, atau sesuatu yang menonjolkan kekuatan dan sesuatu yang kokoh.

               Yang ketiga, nama merek idealnya bisa disebutkan oleh semua suku bangsa, sehingga bisa dipasarkan secara global. Jika nama Cahyo dijadikan merek, sepertinya akan gagal kalau dipasarkan di daerah Toba. Di sana, umumnya alfabet “C” dibaca dengan “S”. Kalau mereka bilang “Kunci”, mereka menyebutnya dengan “KUSI”. Kalau bilang “COCOK”, mereka menyebutnya dengan “SOSOK”.

               Yang keempat, buat kata merek tidak lebih dari 4 suku kata. Merek-merek besar tidak lebih dari 4 suku kata, sebutlah Mercy, Nokia, BMW, Audi, Google, Samsung, dan Medan Bisnis. Orang sumut jarang yang menyebut nama “Jalan Sisingamangaraja” dengan lengkap, kita sering hanya menyebutnya dengan “jalan Singa”, atau Cuma “SM raja”, seperti kita sebut “limpul” untuk “lima puluh rupiah”.

               Yang kelima, nama/merek usaha yang menggunakan nama orang semestinya orang yang memang benar sudah terkenal, seperti “Rudy Hadisuwarno” yang sudah terkenal dengan tata rambut dan salon. Jangan paksa menggunakan nama istri atau anak anda yang pasti belum terkenal dan teruji.

               Yang terakhir, saya mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat. Sungguh ini tidak disengaja dan hanya sebuah ilustrasi untuk tujuan pembelajaran.


Konsultasi; tj@cahyopramono.com
Share:

22.6.14

Finishing Rumah Aisyah

Kepada para dermawan yang sudah membantu Aisyah,  perlu kami update situasi rumah Aisyah.

Kini dalam proses finishing, kita tambahkan jerejak pengaman disemua jendela, kita ganti toilet jongkok dengan toilet duduk,  perbaikan mesin pompa,  pemasangan pagar dan canopy untuk rencana usaha si Ayah.

Kita juga pasang tembok penutup dapur belakang,  atapnya, pembuatan meja kompor dan pengecatan.

Semoga setelah pembagian rapot aisyah sudah bisa menempati rumah ini.




Sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya 








Share:

16.6.14

Kalau sudah kaya raya, anda mau apa? (niat dan alasan memulai bisnis)


tulisan ini sudah diterbitkan di
harian medan bisnis,
tgl 16 juni 2014
               Sebab seseorang berbisnis biasanya hanya seputar kemerdekaan finansial, tidak lebih.  Artinya, hanya ingin kaya raya saja. Sayangnya, alasan itu hanya akan memberikan rasa lelah yang luar biasa. Dan jika pun gagal, akan terasa sangat menyakitkan.

               Beberapa pengusaha yang sukses ternyata tidak hanya mengejar materi, tetapi dalam batinnya terselip niat kuat untuk ibadah. Mereka memberikan manfaat yang lebih besar kepada orang lain. Baik bagi pegawai, keluarga pegawai, pembeli dan supplier. Sebutlah bisnis dengan 50 orang pegawai, dengan rata-rata tiap pegawai beranak 1 orang plus istri/suaminya, maka bisnis itu sebenarnya sudah menghidupi 150 orang secara langsung. Bayangkan jika jumlah pegawai supplier/pemasok juga dihitung.

               Pada sisi lain, Ketika produk bisnis bermanfaat bagi pembeli, maka nilai ibadah yang terkontribusi akan semakin luas. Disinilah salah satu alasan mengapa, para pebisnis sukses menjalankan bisnisnya sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhannya.


ALASAN

               Seseorang tidak akan tergerak mengerjakan sesuatu jika tidak ada alasannya. Jikapun dilaksanakan, biasanya hanyalah sesuatu yang tiada bernilai dan cenderung berakibat kesia-siaan.

               Alasan menjadi kompas menuju tujuan akhir. Alasan adalah motivator yang efektif untuk memastikan seseorang memiliki energy yang cukup demi tercapai tujuan yang diharapkannya.

               Karena kekuatan alasan sangat berpengaruh terhadap kinerja dan prestasinya. Carilah alasan yang mendasar, hakiki, menyeluruh dan mulia.

 
ALASAN MULIA

               Ada 2 tipe pengusaha; yang tenang dan Bahagia serta pengusaha yang selalu terlihat susah. Secara ralita teksnis, cara kerja, sistem operasional manajemennya ternyata sama-sama dikerjakan oleh kedua pengusaha. Yang membedakan keduanya adalah hanya pada alasannya saja. Alasan mengapa mereka menjadi pengusaha.

Pengusaha yang terlihat susah hanya mencari kekayaan pribadi saja. Hari-harinya dipenuhi dengan target keuntungan, rasa khawatir rugi dan rasa khawatir ditipu serta semua hal yang bernuansa materialis.

               Pengusaha yang terlihat lebih Bahagia, memiliki alasan yang tidak dimiliki pengusaha yang terlihat susah. Mereka bukan minta kaya raya dalam doa-nya. Mereka mencari Ridho Tuhan YME. Mereka mengharapkan kekayaan yang lebih hakiki dari Tuhannya.

Ketika mereka menjalankan bisnisnya, mereka berharap bisa memberikan manfaat yang lebih besar kepada mahluk Tuhan lainnya. Mereka percaya, ketika mereka mendapat Ridho dari Tuhan YME, secara otomatis mereka akan mendapat bonus berupa kekayaan material. Disamping itu, mereka cenderung tidak sangat stress dan takut menghadapi tantangan bisnisnya, karena mereka percaya bahwa berjuang untuk Tuhan, akan mendapatkan bantuan yang tidak terbatas dari Tuhannya.
 
MAU APA?

               Suatu ketika dengan menghiba, seorang calon murid menghadap ke seorang biksu tua di sebuah padepokan agar dia diberi pelajaran bermeditasi. “Anda ingin apa?” Tanya Biksu, “Apakah anda ingin menjadi sakti?”. Si biksu mejelaskan bahwa dengan belajar meditasi, seseorang akan bisa terlihat sakti, bisa mengendalikan hujan, bisa berkomunikasi dengan binatang dan banyak sekali kesaktian lain yang berpotensi dimiliki seseorang yang belanjar meditasi.

               Si Murid menjawab, “ya, Mengapa tidak Biksu?, kan asyik bisa sakti begitu”. Lalu Biksu bertanya lagi, “Memang kenapa kalau sudah sakti?, Anda mau ngapain kalau sudah hebat? “

               Sejenak suasana sunyi, si calon murid masih terlihat bingung. Karena sejatinya, itu kesaktian bukanlah capaian akhir dari sebuah praktek meditasi. Ujung meditasi adalah tercapainya hubungan yang lekat dengan semesta, menyatu dan mendapatkan kesejatian hidup.

               Apalah arti menjadi sakti jika itu hanya setengah dari perjalanan menuju kesejatian hidup?
 

Konsultasi tj@cahyopramon
 

 

 

 
Share:

11.6.14

Sarah dan Rama kini yatim ,

 

Ferry, ayah Sarah dan Rama, sudah menghadap yang Maha Kuasa, Kamis 4 Juni 2014.

kiri, foto jenazah dalam proses pengurusan.
tengah, foto almarhum ketika pesta pernikahan
kanan, foto almarhum ketika dirawat di rumah sakit.
 

dengan iklas Sarah meninggalkan bangku sekolahnya untuk merawat ayahnya  


Ini sarah ketika menjaga ayahnya di rumah sakit, dia suka pakai baju sepak bola.
 
belum ada gambaran jelas, bagaimana anak 12 tahun ini melanjutkan hidupnya.

 
 

Share:

Kalau Cinta Sudah Melekat, .... kucing terasa coklat. (bisnis dari hobby)

tulisan ini sudah diterbitkan di harian medan bisnis, tanggal 9 juni 2014
 

ADALAH Maulana Tarigan, anak SMP yang berhemat setengah mati tidak jajan demi bisa mengumpulkan dana untuk membeli kamera foto professional. Dunia fotografi membuatnya mabuk kepayang. Puasa jajan 7 bulan ditambah beberapa honor membantu seniornya jadi tukang angkat
lampu di beberapa acara kawinan, akhirnya mengujudkan impiannya.

               Adalah Bang Ali, berulang kali jatuh bangun dilumpur dan terperosok di jurang bahkan berkali-kali terjebak ditengah hutan tidak membuatnya jera. Semakin hari justru kegilaan atas olah raga keras menggunakan sepeda motor trail menerobos belantara Sumatera semakin bertambah saja. Bermula dari sepeda motor trail yang berharga belasan juta hingga ratusan juta ia miliki. Ia berburu peralatan untuk hobbynya tidak saja di dalam negeri tapi jauh sampai ke ujung Asia.

               Kegilaan serupa dialami oleh semua dari kita. Kegilaan jatuh cinta terhadap sesuatu atau seseorang menjadikan kita memiliki energi yang luar biasa besar. Ada kecenderungan yang tiada berbatas, karena ada enzim kesenangan yang mendominasi pikiran dan perasaan.

               Semua dari kita memiliki energy itu. Bayangkan jika energy jatuh cinta itu digunakan untuk memulai dan menjalankan bisnis.

Bisnis Hobby

               Banyak yang menyarankan agar kita memilih bisnis dari hobby kita. Alasannya sederhana, karena energy jatuh cinta seperti terhadap hobby cenderung terasa menyenangkan, memberikan pesona ketertarikan dan power yang besar.

               Realita memulai bisnis tidak selamanya indah. Ketika rasa yang dianut oleh pemula bisnis ini tidak berdasar cinta, maka realita-realita itu akan terasa menyakitkan. Sebutlah betapa sulitnya mencari modal. Tidak mudah mendapat pinjaman. Betapa sulit memproduksi dan memasarkannya. Terkadang pelanggan mengeluh hingga marah besar. Kadang produksi gagal, kadang ada cacat disana sini. Dan kompetisi yang menyengit dan kasar. Belum lagi berhadapan dengan peraturan pemerintah yang lebih berpihak kepada pemodal besar. Apes deh..!

               Berbisnis hobby akan terasa nikmat dan menyenangkan bahkan ketika segala-sesuatunya tidak berjalan sesuai harapan. Realita bisnis umumnya tidak memberikan hasil keuntungan yang amat besar dan bahkan biasanya jauh dibawah nilai bunga bank. Artinya jika tanpa rasa yang khusus, seseorang akan lebih memilih berharap bunga tabungan daripada berepot-repot bisnis. Bagaimana ribet mengurus pegawai yang umumnya hanya ingin gaji dan fasilitas lengkap sementara mereka tidak perduli dengan untung-ruginya perusahaan, bahkan waktu kerja mereka pun sangat terbatas, lewat sedikit saja minta lembur. Belum lagi ancaman demo jika tuntutan mereka tidak dipenuhi. Pusing deh..!

Keterlibatan batin

               Bisnis bukanlah sekadar modal, produk dan pasar.  Bisnis sejatinya adalah perihal karakter. Bisnis adalah gaya hidup dan jalan hidup. Artinya, keterlibatan batin menjadi sangat penting. Bisnis apapun yang tidak diikuti oleh batin pelakunya, akan terasa hambar dan pada akhirnya tidak bernyawa.

               Jika anda belum jatuh cinta terhadap bisnis anda, cobalah untuk menerimanya dengan senang hati. Nikmatilah.  Mengelola bisnis yang baik tidak saja hadir secara fisik, tapi ada totalitas batin yang benar hadir.  Keperdulian yang tiada putus dan rasa terpesona yang tiada luntur. Totalitas itulah yang akan menjadikan diri pengusaha akan tahan terhadap semua kesulitan. Ada janji diri untuk sukses dan impian indah dalam menghibur diri atas kesulitan yang dihadapinya.

Batin yang indah adalah batin yang jatuh cinta dan penuh energy dan kerelaan berkorban. Sampai orang bilang, “Kalau cinta sudah melekat, ... kucing serasa coklat”.


Share:

3.6.14

3 X Puasa, 3 X Lebaran (usia usaha melewati ujian pertama)

tulisan ini sudah diterbitkan di harian medan bisnis medan, pada hari senin 2 juni 2014.

BANG Toyib jelas sudah sukses pergi dari anak-istrinya. Durasi kepergiannya membakukan kesimpulan bahwa Bang Toyib benar-benar pasti meninggalkan tanggungjawabnya.

Durasi (waktu) yang sama juga bisa dijadikan salah satu acuan untuk menilai kemapanan sebuah bisnis.  3 tahun adalah waktu yang sangat strategis untuk menilai apakah sebuah bisnis bias bertahan langgeng. 

3 tahun awal adalah waktu yang cukup padat dalam pembentukan pola dasar bisnis yang kompleks. Dalam masa itulah, ibarat bayi mulai bisa merangkak, berdiri dan berjalan tertatih-tatih. Pada tahap itu bisa saja terjadi keajaiban yang disebut dengan “beginner luck” (nasib baik bagi pemula). Keajaiban itu bisa terjadi ketika memulai usaha dengan moment yang tepat. Proses mudah, bisnis mudah di dapat dan memberikan keuntungan yang baik.

Atau selama masa awal tersebut, sangat mungkin bisnis terseok dan memerlukan banyak dukungan dan suntikan vitamin. Lalu kemampuan bertahan atas segala godaan dan ujian selama 3 tahun membuktikan bahwa kinerja manajemen sanggup untuk menghadapi ujian pada jangka yang lebih panjang.

Tahun pertama

               Semua hal terlihat baru bagi pebisnis. Semua teori dan keyakinan yang dianut pebisnis dihadapkan dengan realita-realita yang bisa jadi tidak terbayangkan sebelumnya.

               Terlepas dari peluang Beginer Luck, pada tahap ini semua masih meraba. Persis seperti harus menancapkan sebuah paku dalam kegelapan, mungkin pukulan yang ke 1001 baru bisa tepat sasaran. Pada tahap ini segala-sesuatu dilakukan hanya dengan referensi dari pihak luar, karena data dari internal belum pernah ada sebelumnya.
bang toyib...?

               Perencanaan keuangan, perencanaan stok, perencanaan jam kerja operasional, hingga perencanaan pemasaran masih merupakan porses uji.

               Beruntungnya tahap ini adalah karena pelaku bisnis umumnya sedang dalam situasi psikologis yang penuh semangat. Di tahap inilah bisa terbukti bahwa kekuatan pikiran sangat berperan. Bisa saja ketidakmungkinan yang logis justru akan terjadi karena semangat yang positif dari pelaku bisnis ini.

Tahun kedua

               Inilah waktu yang paling krusial untuk melanjutkan atau menutup sebuah bisnis. Kinerja selama 1 tahun awal bisa dianggap positif atau negatif oleh si pelaku bisnis. Tergantung keyakinan si pelaku bisnis, apakah akan dilanjutkan atau harus di tutup. Disinilah jiwa kewirausahaan terasah dengan baik. Apakah seseorang mudah patah semangat atau terus pantang mundur.

Secara operasional, pada dasarnya tahun kedua adalah proses pengulangan atas kejadian tahun pertama. Sudah mulai ada acuan untuk membuat standard dan prosedur. Pola manajemen keuangan sudah mulai bisa ditata rapih dan terseruktur. Pegawai dan sumberdaya lain sudah mulai terpola jelas.

Bisa jadi efek atau hasil promosi pada tahun pertama dapat dipanen pada tahun kedua ini.

Tahun ketiga

               Setidaknya sudah 2 kali proses pengulangan dilakukan. Di tahap ini, pelaku bisnis sudah bisa menyimpulkan secara garis besar tentang apa yang akan terjadi dalam masa depan berdasar data 2 tahun sebelumnya.

               Produk mulai lebih luas dikenal pasar. Operasional kian lancar, sumber daya lain sudah makin matang dan yang paling penting adalah bahwa     Pihak luar akan lebih yakin dan percaya. Kalangan Perbankan dan pemasok juga akan lebih percaya dalam pemberian kredit.  Pada tahap ini bisnis anda sudah memiliki nilai tawar.

              

                                                                                                         Konsultasi; tj@cahyopramono.com

              
Share:

Blog Archive