it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

30.9.14

Anda Naik Apa? (Merek terkenal)


PERHATIAN
Silahkan mengcopy dan mengedarkan tulisan ini, tetapi harus dengan menyebutkan sunbernya dan bukan hanya mengedit dan menyisipkan kata-kata "menurut cahyo pramono" saja. karena dalam hal ini saya bukan nara sumber tulisan anda, sayalah yang menuliskan artikel ini dan anda mengcopynya apa adanya

                TANYALAH kepada banyak orang, “merek mobil apa yang paling bagus dan aman?” Dengan segera Jawaban mereka berkisar pada merek Mercy, Audy, Volvo dan Ferary. Bahkan bisa sekali terjadi perdebatan antar mereka yang saling membandingkan diantara merek-merek tersebut.

                Lalu cobalah tanyakan kepada mereka, saat ini anda naik mobil apa? Mereka akan menyebutkan merek yang lebih rendah tingkatnya dibandingkan merek mobil yang mereka sebut diawal pertanyaan tadi. Bahkan diantara mereka ada yang tidak memiliki mobil.

                Pertanyaan ini tidak bermaksud mengejek dan meredahkan mereka, tetapi jawaban atas pertanyaan tersebut adalah bukti atas terjadinya “proses hipnotis” tentang merek-merek yang sukses diatas. Jikapun saat ini para penjawab belum memiliki mobil dengan merek idamannya, jelas sekali dalam hati dan pikirannya, jika mereka ada rejeki, mereka pasti akan membeli mobil bermerek impian tersebut.

Diingat

                Sebutlah ketika anda ingin membeli air minum kemasan, biasanya anda akan menyebut merek Aqua. Jika anda diberikan Ades atau Indones, anda tetap saja akan menerimanya. Sama ketika anda ingin membeli ditergen bubuk untuk mencuci pakaian, anda akan meminta Rinso kepada penjualnya.  Dibanyak daerah, masyarakat menyebutkan sepeda motor dengan sebutan Honda.  Lucu sekali ketika seseorang bertanya, “Naik honda apa?” jawabnya, “saya naik Honda Yamaha”

                Contoh produk lokal adalah ketika anda singgah ke Kota Pematang Siantar dan ingin membeli oleh-oleh, anda akan teringat “Roti Ganda”. Ketika anda ingin membawa oleh-oleh berupa makanan dari medan, anda akan terfikir Bika Ambon dan mereknya adalah “Zulaika”.

                Untuk bisa diingat oleh publik seperti merek-merek tadi, syarat utamanya adalah, menjadi yang pertama. Karena kita tidak terbiasa untuk mengingat yang ke-2 dan seterusnya. Coba anda jawab pertanyaan ini, “Siapa yang pertama kali menemukan benua Amerika?” pasti anda segera bisa menjawabnya. Lalu, “Siapa orang kedua yang menemukannya?”. Pertanyaan lain adalah, puncak tertinggi di dunia apa namanya? Lalu yang tertinggi kedua?. Tambah satu pertanyaan lagi, siapa yang pertama kali berjalan di bulan? Dan siapa yang berikutnya?

                Jawaban atas ketiga pertanyaan diatas adalah bukti bahwa manusia pada umumya hanya memperhatikan yang pertama, bukan yang kedua. Sekadar intermezzo, makanya banyak istri kedua yang sibuk mencari pengakuan, karena orang tidak mengingatnya.

Utama di kelasnya

                Merek Mobil kijang tidak pas jika dibandingkan dengan merek Mercedes bens. Mereka menyadari itu, maka mereka tidak akan melawan merek Mercy. Tetapi, ketika kita tidak sanggup melawan pemimpin pasar, kita harus unggul dikelas kita.

                Dalam hal ini, Toyota Kijang berusaha untuk selalu lebih unggul dari pesaingnya. Mereka terus berinovasi hingga mereka sekarang sanggup mengalahkan merek-merek lain yang juga menggunakan nama binatang.

                Konon kini mereka tidak lagi mau disebut kijang, mereka menyebutnya Innova.

Promosi

                Inilah cara mengantarkan merek kepada benak orang. Harus dikomunikasikan kepada publik dengan cara dan media yang benar. Manfaatkan media-media yang bisa menjangkau pasar anda. Ingat, yang anda perlu adalah bagaimana memasuki alam pikiran yang terdalam mereka. Pelajarilah dengan seksama dan dapatkan perhatiannya.

Saya meyakini bahwa mutiara dalam lumpur adalah lumpur, ketika seseorang tidak tahu bahwa didalamnya ada mutiaranya. Berpormosilah dengan aktif, jemput rejeki dari langit!

                Harap juga disadari bahwa promosi hanyalah laksana kabut menyelimuti alam pikiran masyarakat, tidak otomatis mereka akan segera membelinya. Ingat pertanyaan, “Anda Naik apa?” 

 

 

Share:

29.9.14

Medan Punya Bika, Ambon Punya Nama. (kekuatan Merek)

TULISAN ini sudah diterbitkan di harian Bisnis Medan, tgl 14 Juli 2014.

PERHATIAN silahkan mengcopy dan mengedarkan tulisan ini, tetapi harus dengan menyebutkan sunbernya dan bukan hanya mengedit dan menyisipkan kata-kata "menurut cahyo pramono" saja. karena dalam hal ini saya bukan nara sumber tulisan anda, sayalah yang menuliskan artikel ini dan anda mengcopynya apa adanya.
 
                “SAYA mengelola pabrik sepatu mas, ada 6 pabrik di seluruh Jawa Timur” sebut seorang rekan pengurus Apindo Jatim dalam perjalanan bersama dari hotel ke Bandara Soekarno Hatta beberpa waktu lalu. “Tapi 90% merek yang kami produksi miliki orang lain, kami hanya memproduksinya saja” jelas rekan tersebut.          Ternyata rekan saya ini melayani produksi berbagai merek sepatu kelas dunia yang dipasarkan di Amerika, Jepang, Chili, India bahkan Eropa Timur.
                Sangat ironik ketika biaya produksi sepatu di pabrik seperti milik rekan saya itu, sebutlah hanya sekitar 100.000,- dan ketika beredar dipasaran –bahkan di dekat pabrik sepatu itu sendiri—harnganya menjadi 10 hingga 16 kali lebih mahal.
                Dalam kesendirian saya menunggu jadwal terbang, saya teringat satu desa pandai besi di desa kecil di daerah Tapanuli yang sudah menjadi sentra pengrajin sejak jaman penjajahan Belanda dulu. Mereka berpeluh keringat hingga banyak yang telilnganya menjadi pekak dan tuli. Dan seperti pabrik sepatu yang di jawa timur, mereka juga tidak memiliki merek dagang sendiri. Merek cangkul yang legendaris wilayah Sumatra utara sejatinya dimiliki oleh seorang pengusaha di Kota Medan yang tak sekalipun pernah kena panas besi yang membara untuk ditempa menjadi perkakas.
                Ketika harga eceran pisau tempahan ini di pasaran berkisar Rp.25.000,- para pengrajin itu hanya mendapat upah kerja antara Rp. 1.500 hingga Rp. 3.500 saja.
 
Modal Merek Doang
                Kisah nyata diatas adalah bukti salah satu kekuatan dan nilai sebuah merek. Biaya produksi sebuah produk bisa jadi sangat murah, tetapi ketika merek sudah diterima dan dihargai, harga jualnya menjadi sangat tinggi dan memberikan keuntungan yang berlipat ganda.
                Bahkan pada tahap tertentu seperti kisah diatas, pemilik merek tidak lagi harus dipusingkan dengan proses produksinya. Mereka bisa menyerahkan proses tersebut kepada pihak lain, dengan biaya yang relatif terjangkau dan janji margin keuntungan yang besar. Mereka hanya fokus membesarkan merek yang mereka miliki.
                Perjuangan membesarkan merek menjanjikan imbalan yang tidak sedikit. Dalam kehidupan keseharian kita, banyak contoh yang menunjukkan bahwa merek lebih bernilai dari sekadar produknya. Sebutlah penerbangan nasional, Garuda Indonesia -- dengan pesawat yang sama persis dengan operator lainnya-- mematok harga tiket yang jauh lebih mahal. Sebutlah beberapa hotel yang melabel merek internasional menyewakan kamarnya jauh lebih mahal dari hotel dengan label merek lokal.
                Kini banyak pemilik merek juga melebarkan sayapnya dengan cara menyewakan merek mereka. Mereka menyebutnya dengan pola franchise. Jika anda pemilik kedai kopi, apakah anda mengetahui bahwa kopi yang anda jual dengan yang dijual di Starbuck sebenarnya relatif sama. Tapi kenapa mereka bisa menjualnya dengan harga 10 kali lipat lebih mahal dari harga anda? Jawabannya terletak pada mereknya.
 
Bangun Merek Sendiri
                Ketika anda saat ini sudah melakukan proses produksi tanpa merek. Cobalah berfikir untuk menciptakan merek anda sendiri. Demikian juga bagi anda yang saat ini bergerak dalam bidang perdagangan dan distribusi, alih-alih hanya menjual dan mendistribusikan produk orang lain, mengapa tidak ada coba memulai merintis dan mengembangkan merek milik anda sendiri?
                Membangun merek memerlukan strategi, dan strategi yang paling ampuh adalah waktu. Merek anda tidak harus sukses pada jaman anda, seperti Honda yang semakin sukses pada generasi ke-3 dan seterusnya.
 
Konsultasi; tj@cahyopramono.com
 
 
 
Share:

Blog Archive