it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

23.12.15

PROPOSAL HIDUP (pengantar renungan akhir tahun 1)

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 21 Desember 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

            MENGADAKAN pesta malam tahun baru saja pihak panitia membuat proposal kegiatan. Bahkan perlombaan 17 agustusan di tingkat lingkungan saja ada proposal kegiatanya. Pertanyaannya, apakah anda sudah membuat proposal untuk hidup anda?
Sungguh aneh ketika hidup yang berharga ini dilalui begitu saja tanpa proposal yang tersusun dengan baik. Hidup yang mengalir begitu saja tentu tidak akan menjadi berwarna dan indah. Hidup yang mengalir tanpa kendali bagi saya adalah laksana buah kelapa kering yang jatuh keatas sungai, ia terombang ambing dibawa arus. Tak jelas mau kemana dan apa yang harus dilakukan.
Saya menuliskan artikel ini sebagai peringatan bagi kita semua bahwa jika kita tidak merencanakan hidup kita, maka kita akan lebih banyak membuang kesia-siaan belaka.
Saya pernah mengenal ‘rencana karir’ dan saya benar-benar menjalankannya. Dalam hitungan kurang dari 8 tahun, dari posisi paling rendah, saya sudah bisa menembus posisi puncak karir manajemen. Saya mencapai jabatan General Manajer di sebuah perusahaan dalam hitungan relative singkat.
Lalu saya pindah lagi ke perusahaan lain dengan posisi puncak juga. hingga akhirnya saya menghadapi kegalauan profesi. Saya menemukan kesalahan saya. Ketika itu, saya hanya merencanakan dan memimpikan posisi puncak saja. Tidak labih.
Saya hanya berencana menduduki posisi puncak, hingga akhirnya saya tidak tahu apa yang harus saya kejar untuk posisi berikutnya. Saya kehilangan orientasi. Ini terjadi karena saya tidak memiliki proposal hidup. Saya hanya memiliki proposal karir. Itupun hanya sampai posisi manajemen puncak. Tidak lebih.
Kegalauan saya berputar hingga menghabiskan belasan tahun dengan posisi karir yang datar. Benar bahwa saya memerlukan perenungan dan pendewasaan batin pada masa itu, tetapi lagi-lagi perjuangan saya terasa seperti tiada berujung.
Ini adalah pengalaman saya yang patut dijadikan catatan bagi anda yang belum memiliki rencana hidup.

Proposal Hidup
            Proposal Hidup adalah cita-cita. Proposal Hidup adalah doa. Dan ketika kita tidak punya Proposal Hidup, kita sebenarnya tidak memliki doa yang spesifik dan layak dipanjatkan kepada Sang Khalik. Ketika itu terjadi, kita hidup dalam posisi terbawa arus. Kita bukan pemimpin yang memberi warna, kita hanya pengikut yang diwarnai oleh pihak lain. Sungguh memprihatinkan.
            Seorang Jamil Azzaini adalah orang yang menggugah saya untuk menyadari bahwa hidup begitu mulia untuk dilewatkan begitu saja. Hidup adalah sesuatu yang harus diperjuangkan. Hidup adalah sebuah ikhtiar menuju Ridha Tuhan untuk bisa memasuki alam keabadian dengan kebahagiaan sejati.
          Proposal hidup tidak saja berisi rencana karir, rencana usaha, rencana pernikahan dan rencana rumah tangga, tetapi berisi rencana yang lebih holistic, menyeluruh dan pada akhirnya menjadi acuan dalam berdoa dan bekerja.

Tulisakan
Konon, satu penelitian yang dilakukan di Universitas Harvard menyatakan bahwa 3% orang yang diteliti membuat proposal hidupnya secara tertulis, 13% memiliki proposal hidup tetapi tidak ditulis, 84% tidak mempunyai proposal hidup atau dengan kata lain membiarkan hidupnya mengalir.
Beberapa tahun kemudian diteliti kembali bahwa 13% orang tersebut memiliki penghasilan dua kali lipat dibanding 84% orang yang tak memiliki proposal hidup serta 3% orang yang membuat proposal hidupnya secara tertulis memiliki penghasilan sepuluh kali lipat dibanding 97% orang lainnya.
           Mimpi-mimpi harus diubah menjadi cita-cita. Cara sederhana untuk memulai mengubahnya adalah dengan menuliskannya. Tuliskan apa yang anda kehendaki dalam hidup ini. Menjadi apa pada akhir hidup anda nanti. Prestasi apa yang dicapai. dan sebagai apa anda ingin dikenal oleh orang banyak.

                                                                Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

17.12.15

ETIK

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 14 Desember 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

BUKAN Cuma DPR, dalam dunia bisnis juga ada Mahkamah Kehormatan yang setiap saat membuka Sidang Etik atas bisnis kita. Siapapun yang duduk di kursi pesakitan dalam sidang itu (maka kemungkinan besar), bisnisnya akan terganggu, bahkan bisa tutup.
Mereka adalah konsumen kita, para pendukung bisnis (supplier dan semua pihak yang terlibat) serta otoritas pemerintahan yang melakukan kontrol.
Mereka akan menilai dan menghakimi kita tanpa kenal ampun. Walau dunia bisnis kian modern, tetapi mereka –para hakim itu—akan bisa menilai diri dan nurani kita yang terselubung dalam karakter bisnis kita.
Dalam berbisnis, prinsip-prinsip etika adalah pilar utama dalam membangun kredibilitas bisnis. Reputasi masih tetap menjadi kunci pengakuan publik yang berujung pada sukses sebuah bisnis.
Inilah etika bisnis yang harusnya dijaga;

JUJUR
          Bisa saja kita menipu dan menutupi kekurangan dan kesalahan kita, tapi tunggulah ketika tipuan itu terbongkar, kita akan terjun jatuh kedasar jurang yang amat dalam.
          Semakin terbuka dan jujur atas kekurangan produk atau jasa kita, maka potensi tingkat kepercayaan akan semakin naik. Jika ada yang rusak, ada yang cacat, lebih bagus disampaikan diawal transaksi. Bahkan ketika kita tidak mampu mememuhi permintaan konsumen, jujurlah.
          Membuka isi kandungan nutrisi dan bahan baku makanan kepada konsumen adalah langkah berani yang pasti akan mendapat respon positif.

KONSEKUEN
Memenuhi janji atau komitmen adalah kunci untuk dapat dipercaya. Sekali janji diucap, sampai liang lahat pun orang akan mengejarnya. Bisa berupa Janji kualitas, janji waktu pengiriman, janji harga dan semua janji apapun. Pastikan tidak cedera. Penuhilah janji itu.
Oleh karenanya, jika tidak perlu, jangan sembarangan membuat janji.

IKUT ATURAN
Aturan dalam berbisnis ada yang tertulis dalam bentuk undang-undang ataupun aturan tak tertulis dalam bentuk norma masyarakat. Ikutilah aturan main itu. Mengikuti aturan akan menghindarkan diri dari pencemaran nama baik suatu saat jika terjadi krisis.
Pada semua bentuk kesepakatan bisnis, akan selalu menyantumkan aturan pelaksanaannya, ikutilah. Jika tidak, anda akan mendapaat label sebagai pelawan aturan. Dan tukang melawan biasanya tidak pantas untuk duduk sejajar.

PEDULI
Mementingkan diri sendiri adalah cara yang paling efektif untuk mengasingkan bisnis kita dari pusaran pasar. Perduli kepada pihak lain adalah tanggungjawab moral yang akan menuai simpati semua pihak. Rasa simpati itu adalah asset yang bernilai untuk meningkatkan kredibilitas bisnis.
         
MENGHARGAI
Menempatkan pihak lain pada posisinya, tidak mengecilkan, dan tidak mendiskriminasi adalah sikap etik yang unggul. Termasuk terhadap pesaing.
Tak harus merendahkan pihak lain untuk meninggikan bisnis. Tak harus menjilat untuk mendapat perhatian dan tak harus berlaku seperti binatang untuk bisa menguasai pasar.
Berilah pihak lain (pegawai, pembeli, pemasok dan pesaing) untuk menjaga wajah mereka, niscaya mereka akan lebih menghargai anda.
Yang terakhir, kemampuan Pebisnis membangun dan menjaga nama baik perusahaan beserta seluruh hal yang berada di dalamnya adalah rahasia medekatnya konsumen dan semua pendukung kepadanya.
Pasar bekerja karena sentimen, karena perasaannya! Dan mereka akan berani mengadili kesalahan kita yang tidak menjaga persepsi dan perasaanya. Mereka mengadili kita dalam Mahkamah Etik Sosial.
Ketika pebisnis sukses menjaga etik bisnisnya. Maka citra yang positiflah yang akan terbentuk. Citra itulah yang akan mendatangkan pembeli, memudahkan urusan perijinan dan keamanan, urusan permodalan, dukungan pegawai yang tiada henti dll.

                             Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

10.12.15

MANAJEMEN MUSIMAN

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 7 Desember 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

KOPI di sore akhir pekan lalu saya nikmati sendirian sembari menunggu seorang sahabat di sebuah cafe. Dalam kesendirian itu sempatlah saya memperhatikan sekitar. Kini dekorasi ruangan berubah dengan berbagai hiasan yang bertema Natal. Musik yang diputar adalah lagu-lagu natal dalam versi jazz. Tersadarlah saya bahwa ini sudah Bulan Desember, bulan perayaan Natal sudah tiba.
Seperti biasanya, menjelang natal, suasana menjadi romantis, sedikit melo dan syahdu. Ini adalah musim menjelang liburan akhir tahun. Musim dimana semua orang ingin segera libur dan berkumpul bersama keluarga.
Sesudah natal, suasana akan berubah menuju musim pesta besar pergantian tahun masehi. Perubahan suasana itu adalah musim yang direspon dengan cara dan suasana khusus pula.
Ketika sudah datang sahabat saya, mulailah kami ngobrol sana-sini hingga berputar pada topik tentang bisnis dan gaya manajemen pemiliknya.

GAYA MUSIMAN
              Kami sepakat bahwa pada skala bisnis mikro, kecil hingga sebagian kecil skala menengah, peran pemiliknya sangat sentral dan penting. Pada tataran ini keterlibatan pemilikya sangat besar. Pemilik mengendalikan semua hal. Mulai dari A sampai Z.
           Pada skala bisnis ini biasanya pemilik tidak mempraktekkan sistem delegasi yang baik. Apalagi ketika pemiliknya memulai dari Nol dan lupa bahwa semestinya ia harus mengembangkan sebuah cara agar pundaknya tidak penuh beban.
            Benar bahwa tidak mudah mempercayai orang lain. Benar bahwa tidak mudah mendapatkan pekerja yang loyal dan mau berkorban demi usaha kita. Benar bahwa mentalitas pekerja kita sangat memperihatinkan. Tetapi itu bukan alasan untuk memenjarakan diri dalam pusaran rutinitas yang menjebak dan tidak membuat keleluasaan bagi pemilik untuk mengembangkan usahanya.
            Konsekuensi logis dari situasi diatas adalah pada akhirnya suasana batin dan pikiran si pemilik usaha menjadi warna yang mencolok pada budaya manajemen usahanya. Secara sederhana; mood pemilik usaha sama dengan kinerja usahanya. Ketika pemilik senang dan semangat, maka kinerja perusahaannya akan mengikutinya maju dan dinamis. Tetapi ketika si pemilik sedang tidak bersemangat, maka otomatis semua pihak dan ritme kerja perusahaan juga melemah.
               
ANTI ANGIN-ANGINAN
Gaya manajemen yang angin-anginan ini sangat berbahaya bagi kinerja perusahaan dan jaminan kelangsungan bisnisnya. Sangat manusiawi dan memang wajar jika terjadi. Tetapi Ketika si pemilik usaha masih belum sukses mengembangkan sistem yang baik, maka sebaiknya dibangun sebuah cara agar komitmennya dalam menjalankan roda bisnis agar tidak angin-anginan.
Ada 2 cara sederhana, bagi anda yang keterlibatannya sangat dominan dan belum ada solusi manajemen yang lebih baik.
Yang pertama adalah usahakan untuk mengurangi rutinitas. Pilah-pilah pekerjaan yang bisa anda delegasikan. Delegasikan dan delegasikan lagi. Semakin banyak hal rutin yang anda bisa delegasikan, semakin bagus. karena mengurangi beban anda dan memberi peluang bagi anda untuk mengevaluasi, mencari solusi dan berfikir kreatif.
Pekerjaan rutin, tak perlu dikhawatirkan untuk didelegasikan, karena rutin dan standardnya pasti berulang.
Yang kedua, bangun teknik memotivasi diri. Misalnya dengan berkumpul dengan sesama pengusaha. Tidak penting apapun usaha kawan-kawan anda, karena dengan berkumpul dengan sesama pengusaha, anda akan termotivasi untuk terus maju dan berkembang seperti pengusaha-pengusaha lain itu. Sesekali saja boleh bergabung dengan orang-orang dari profesi lain untuk penyeimbang.
         Yang ketiga, luangkan waktu untuk melihat usaha lain agar menambah ide-inspirasi dan Intiplah pesaing anda. Jika mungkin ikutlah seminar-kursus untuk Pengembangan diri.


Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

1.12.15

“Mahal Kali Bah!”

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 30 November 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dengan selalu menyebutkan sumbernya.

                TAK perduli produk apapun yang anda jual, dengan harga seberapapun, mulai dari harga jual Seribuan Rupiah hingga Ratusan Juta Rupiah, biasanya reaksi pertama para pembeli akan sama. Hampir semuanya langsung latah dan mengatakan bahwa harganya mahal.
                Reaksi latah itu sepertinya sudah menular dan menurun. Sehingga bentuk reaksi tersebut mestinya tidak usah dijadikan beban untuk menjual apapun pada harga seberapapun.
                Benar bahwa faktor harga menjadi salah satu komponen suksesnya proses penjualan. Tetapi harus juga diingat bahwa ‘mahal’ adalah sebuah relatifitas.
                Artinya, kata mahal bagi seseorang sangat relatif. Tetapi, biasanya nilai/value produk tersebut menjadi lebih penting dibanding nilai harganya. Untuk menjamin sebuah kenyamanan berkendara, produk mobil import dari Eropa biasanya lebih nyaman dan teruji keamanannya. Dan harga mobil itu cenderung mahal. Biarpun mahal, orang masih saja mau membelinya. 
                Jangan heran ketika ada pembeli yang sengaja membeli segala sesuatu dengan memilih produk yang mahal. karena keyakinannya bahwa mahal adalah jaminan kualitas.
               
BUKA SAJA
                Ini saran saya. Buka saja harga anda. Berapapun itu. Tak usah segan atau khawatir. Karena jika ada respon mahal, itu hanyalah sebuah kelatahan yang kadang tak perlu kita khawatirkan.
                Anda akan segera tahu apakah memang si calon pembeli adalah target anda. Jika memang mereka bukan target anda, maka mereka akan segera pergi, dan anda tidak semestinya membuang energi mengurus yang bukan target pasar anda.
                Tentu anda mematok harga jual dengan berbagai pertimbangan diluar keuntungan. Misalnya karena keyakinan nilai produk dan kualitasnya. Artinya, anda sangat boleh menjual kualitas, bukan sekadar harga murah.

BERSAING
                Ketika anda menjual produk yang bersifat masal. Anda tentu memiliki banyak pesaing. Situasi ini memaksa anda harus jeli menentukan harga jual. jika terlalu mahal anda akan kalah bersaing dan jika terlalu murah, anda akan mendapat keuntungan yang tipis.
                Disini anda dituntut untuk berani bersikap. Tentukan harga jual anda setelah melalui proses studi lapangan dan pertimbangan lainnya. Ketika anda memutuskan harga yang berbeda-bedda tergantung masing-masing konsumen, anda akan terombang-ambing dalam keragu-raguan.
                Jika produk anda bukanlan produk masal. Mestinya anda akan lebih berani menentukan harga jual. buatlah harga pas yang tidak perlu ada negosiasi. Jika perlu sesekali buat promo harga murah.

SALAH NILAI
Bijaksanalah, Jangan melihat seseorang dari penampilannya semata. Karena pernah datang seorang paruh baya yang bergaya udik dan membawa tas lecek yang terlihat penuh barang sepele ke sebuah show room mobil dan bertanya berapa harga sebuah mobil. Ketika itu petugas yang bekerja merasa bahwa Pak Tua ini bukanlah target mereka, lalu menjawab dengan tidak menyebut harga, tetapi mengatakan, “Mobil ini mahal sekali Pak” dengan menunjukkan raut wajah yang masam. Pak Tua merasa tersinggung, lalu ia membuka tas dan menumpahkan semua isinya ke atas meja dihadapan si petugas. Ternyata isi tas itu adalah uang tunai dengan jumlah sangat banyak. Pak tua bilang, “Coba kamu hitung, dapat berapa mobil itu dengan uang ini”. Dengan tergagap si petugas menghitun uang itu dan ternyata masih cukup untuk membeli 3 mobil dan masih ada sisanya.
                Ketika pulang Pak Tua membawa 1 mobil yang dibelinya dan membiarkan 2 mobil yang lain teronggok di showroom lebih dari 1 tahun.


Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

25.11.15

2 TAHUN USIA KRITIS


Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 23 November 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.
             Ketika sebuah bisnis tercipta dan dilahirkan, ada posisi awal dalam proses pertumbuhannya yang dianggap sebagai masa kritis. Artinya, jika sebuah bisnis belum melewati masa tersebut, maka bisa dianggap bahwa bisnisnya belum melewati masa uji dasar. Masa itu adalah 2 tahun pertama semenjak bisnis dimulai.
                Sebuah bisnis yang belum terbukti mampu melewati masa kritis 2 tahun, bisa saja terjadi karena faktor kelihaian pengusahanya atau mungkin besar kemungkinan karena faktor “beginner luck” (keberuntungan si pemula). Dalam kaedah manajemen bisnis modern, kata keberutungan adalah hal baik yang tidak bisa dipakai untuk dijadikan standard penilaian.
               2 tahun pertama banyak digunakan oleh para penilai untuk memastikan kondisi sebuah bisnis. Pihak perbankan, lembaga studi, lembaga bantuan dan banyak lagi yang kadang mempersyaratkan sebuah usaha bisnis harus sudah melewati masa 2 tahun tersebut untuk bisa terjalinnya kerjasama dengan mereka.

MENGAPA 2 TAHUN?
             Tentu saja, jika sebuah usaha bisnis lebih dari 2 tahun, maka penilaiannya akan lebih bagus dan lebih tegas. Tetapi setidaknya, 2 tahun adalah masa dasar wajib yang harus dilewati seorang pebisnis dan usaha bisnisnya untuk bisa “dianggap”. Inilah alasannya;
             Pertama, setidaknya sudah melewati 2 kali masa tutup buku. Sudah 2 kali masa perputaran uang panjang. Itu berarti sudah 24 kali putaran bulanan dan 104 putaran mingguan. Sudah melewati 2 tahun proses pengeloaan uang. Mulai dari pembelian, pembayaran, penerimaan dan pemanfaatan uang bisnis. Dianggap sudah mulai menemukan pola yang cocok untuk manajemen keuangannya.
           Untuk pemula yang kurang pengalaman, biasanya akan kandas di tahun pertama. Atau terseok-seok pada tahun pertama dan akan jatuh terkapar pada tahun kedua. Itulah mengapa banyak pemodal yang lebih senang menanamkan modal kepada pengusaha bukan pemula.
Kedua; Sudah melewati 2 kali rentetan musim. Setiap hari memberikan fenomena bisnis yang berbeda-beda. Hari senin dan sabtu memberikan indikator bisnis yang berbeda. untuk usaha Resort, Hiburan dan Kuliner, akhir pekan adalah hari bisnis.
Putaran bisnis pada hari sabtu pada awal bulan akan berbeda dengan hari sabtu pada menjelang akhir bulan. Karena menjelang akhir bulan, daya beli pasar berkurang, karena pasar terbesar adalah pegawai dengan gaji bulanan.
Musim bulanan juga berbeda-beda. Januari hingga februari adalah masa bisnis umumnya melemah, karena semua orang baru saja terobsesi dengan liburan akhir tahun lalu masih malas memulai tahun yang baru. Untuk bisnis tertentu, akan menemui masalah pada bulan-bulan kenaikan kelas dan pendaftaran murid baru, karena daya beli pasar berkurang.
Ketiga; 2 tahun pertama adalah masa fondasi untuk penentuan gaya operasional. Pada masa ini aturan dan ketentuan operasional sudah mulai berbentuk dan bisa dijalankan dengan konsisten oleh para pekerja dan pihak manajemen. Pada masa 2 tahun awal ini, akan terjadi perputaran pegawai yang cukup tinggi. Pegawai datang dan pergi hingga akan tertinggal pegawai-pegawai yang cocok. Dan setelah 2 tahun, pegawai yang ada akan dianggap cukup handal dan cocok dengan karakter operasional usaha bisnis tersebut.
               Yang terakhir, bagi para pengusaha; 2 tahun awal adalah target pertama yang harus anda perjuangkan. Sesudahnya karakter usaha bisnis anda sedang terbentuk dan anda tinggal mempertahankan lalu mengembangkannya.
             Tentu anda akan menghadapi permasalahan lain sesudahnya, tetapi setidaknya anda sudah belajar dari 2 tahun awal sebelumnya.

                                                                                   Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

20.11.15

JATUH KE ATAS KASUR (Tips Pindah Quadrant)

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 16 November 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.

                JATUH ke tempat tanpa alas yang empuk pasti sangat menyakitkan. Bukan sekadar memar, tapi besar kemungkinan luka dan patah tulang. Apalagi jatuhnya dari posisi yang cukup tinggi.
                Tulisan ini saya dedikasikan kepada beberapa pengirim email yang begitu nekat tanpa persiapan dan ancang-ancang langsung lompat pindah quadrant (profesi - peran ekonomi) dan merasakan kejatuhan yang menyakitkan.
                Ada yang menuliskan kepada saya bahwa kini ia sudah keluar dari pekerjaannya. Lalu kini ia menganggur tanpa penghasilan. Tanpa persiapan Ia tinggalkan bergitu saja pekerjaan yang menjadi sumber keuangannya. Sepertinya ia begitu tidak nyaman menjadi pegawai dan dengan emosional ia tinggalkan begitu saja.
                Kini, setelah menganggur ia berfikir untuk memulai sebuah usaha. Ia tidak punya modal keuangan, tidak punya modal pengalaman, tidak punya modal dasar untuk berbisnis. Saya bilang ini  langkah yang sangat nekad.

NEKAT
                Benar bahwa berganti peran memerlukan keberanian. Tetapi berani jelas bukan sama sekali tak kenal takut. Pemberani yang bijak adalah orang yang memiliki rasa takut tetapi tidak terjebak dalam ketakutannya. Bukan nekat.
                Benar bahwa menjadi pekerja/pegawai nampaknya tidak seenak menjadi toke/boss pemilik sebuah bisnis. Tetapi rasa enak yang dimiliki oleh seorang pengusaha, juga diimbangi dengan ketidak-enakkan pada sisi yang lain. Untuk bisa memahani posisi ini, diperlukan pemikiran logis bukan perasaan yang emosional.
                Bagi anda yang sudah jengah dengan pekerjaan anda dan ingin segera menjadi pengusaha, cobalah berpikir berani, bukan sekadar nekat. Cobalah dengan pikiran jernih persiapkan semua hal untuk memulai hal baru. Bertahanlah sejenak dengan ketidaknyamanan sebagai orang bayaran.

JATUH KE ATAS KASUR
                Pastikan anda sudah mempersiapkan lokasi dan alas jatuhnya anda dari lompatan yang akan anda lakukan. Sebuah lompatan benar akan memberikan perubahan, tetapi lompatan yang baik akan menghasilkan kebaikan yang lain.
                Melompat tidak hanya membutuhkan ancang-ancang dengan mundur beberapa langkah agar jarak lompatan lebih jauh dan optimal.  Lompatan yang indah akan terasa tidak menyakitkan ketika mendarat pada bantalan yang empuk.
                Ada yang bertanya kepada saya, “Pak, saya sekarang sudah keluar dari pekerjaan saya, dan sekarang saya sedang berfikir untuk berbisnis, saya ingin membuka toko perlengkapan kantor dan sekaligus jasa fotokopi, tapi saya belum punya modal”.
                Ada juga yang sudah menganggur lalu ingin membuat bisnis jasa layanan laundry, tapi tidak tahu sama sekali tentang laundry. Ada yang ingin berbisnis design grafis, tetapi komputernya belum punya ditambah keterbatasan kemampuan mengoperasikan program design.
                Coba bayangkan, apakah tempat mendarat seperti ini yang anda kehendaki?
                Jadi, bukan saja mundur sekangkah, tetapi anda harus siap sedia mau mendarat di bantalan seperti apa.

PERSIAPAN
                Simpanlah energi untuk bersenang-senang menjadi pengusaha yang mandiri. Selama anda masih jadi pekerja, persiapkan diri untuk bisa melompat dan mendarat di bantalan yang anda kehendaki.
              Persiapan mengenal bisnis. Anda bisa belajar dari perusahaan tempat anda bekerja. Bagaimana perusahaan itu bisa menghasilkan laba, bagaimana mengelolanya dan bagaimana memasarkannya.
                 Pelajari bentuk bisnis yang akan anda kerjakan. Carilah referensi dan mentor. Setidaknya anda perhatikan bagaimana bentuk bisnis yang anda kehendaki.
               Persiapan modal. Sangat baik jika anda memulai usaha dengan memiliki modal keuangan. Tentu akan lebih mudah, daripada sekadar modal dengkul.
              Yang utama, hadirkan perhatian anda yang tinggi kepada bentuk bisnis yang anda kehendaki, sehingga anda akan menguasainya jauh hari sebelum anda menjalankannya.


                                                                       Konsulatasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

6.11.15

Gunung, Sawah, Jalan dan Matahari (Bukan untuk menjawab tantangan bisnis hari ini)

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 2 November 2015, dihalaman 7. Diperolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

                BERKALI-KALI saya mencoba meminta peserta latih saya dalam banyak Pelatihan yang saya bawakan untuk menggambar dengan waktu yang singkat. Hasilnya, lebih dari 80 % menggambar materi yang sama. Bentuknya adalah sekitar 2 buah gunung, lalu jalan di tengah yang berujung di gunung tersebut, petak-petak sawah di kanan kiri jalan, matahari di sudut gunung dan beberapa angka 3 tengkurap sebagai gambar burung yang sedang terbang di atas gunung.
                Peserta latih saya itu bukanlah anak usia TK atau SD, mereka sudah berumur, bahkan ada diantaranya yang sudah lama dapat title PHD dan Professor. Pertanyaannya adalah mengapa orang tua itu menggambar sesuatu yang sudah sangat lama kejadiannya?
Mengapa mereka menggambar sesuatu persis seperti mereka masih TK atau SD? Padahal mereka dalam proses hidupnya mengenal banyak objek yang mudah untuk digambarkan? Tinjauan secara psikologis, gambar spontan dan cepat itu ternyata adalah potret yang tersimpan di alam bawah sadar kebanyakan orang Indonesia.
Fakta itulah yang sebenarnya menjawab pertanyaan, mengapa manusia tidak mudah berubah. Bagaimana kemampuan masa lalu dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah hari ini apalagi tantangan masa depan.

BERUBAH
Tulisan ini adalah buah obrolan virtual saya dengan bang Dicky Zulkarnain yang sudah jatuh bangun menghadapi perubahan.
Ketika Raksasa Industri Telepon Selular Nokia resmi mundur dari panggung bersejarah, CEO Nokia Jorma Ollila harus melakukan konferensi pers. Saat itu ia harus  mengumumkan persetujuan akuisisi Microsoft atas Nokia. Kalimat terakhirnya; "Kami tidak melakukan sesuatu kesalahan, tapi saya tidak tahu mengapa kami kalah", diikuti puluhan eksekutif Nokia yang juga tidak tahan untuk menitikkan air mata.
Kami sepakat bahwa Nokia adalah perusahaan yang mengagumkan. Konon Nokia menguasai pangsa pasar terbesar di Seluruh Dunia.
Boleh dibilang Nokia tidak melakukan sesuatu yang salah, tapi dunia berubah terlalu cepat. Mereka terlena, kurang belajar, tidak respons terhadap perubahan, dan akhirnya kehilangan kesempatan. Nokia bukan saja melewatkan kesempatan untuk membuat uang, tetapi kesempatan untuk bertahan hidup.

TAKUT GAGAL
Saya melihat bahwa jatuhnya Nokia cenderung karena takut gagal. Antisipasi perkembangan Android begitu pesat sementara Symbian dan Microsoft mengganggu pengambilan keputusan mereka. Keraguan itulah yang membuat Nokia memasuki tahap galau inovasi. Mereka takut gagal.
Rasa takut itu tidak diantisipasi dengan tidak ‘menyatukan seluruh telur dalam satu keranjang’. Langkah antisipasi menjadi penting agar keberanian berubah diiringi dengan jaminan kemanan disisi yang lain.
Obrolan ini adalah pengingat bagi kita. Semua bisa jatuh tersungkur, bahkan raksasa sebesar Nokia sekalipun.
Jangan takut berubah, karena berubah itu harus. Keunggulan kemarin akan digantikan oleh tren/kecenderungan esok. Jangan gunakan teknologi dan cara masa lalu untuk menghadapi masa kini dan tantangan masa yang akan datang.
Hidup dalam kekhawatiran cenderung menghambat perubahan dan ujungnya akan mati pelan-pelan. Merubah diri sendiri namanya kelahiran kembali, dirubah oleh orang lain namanya tersingkir. Tidak mau menerima tren/perkembangan zaman, pasti akan tersingkir dari pasaran.
Berubah adalah Sunatullah. Sudah merupakan aturan yang diberikan Sang Pencipta. Di Dunia ini, tidak ada yang tidak berubah. Bahkan dalam pikiran saya, komitmen untuk berubah adalah peryataan yang berlawanan dengan aturan Tuhan itu sendiri.
… Perbaharuilah potret dalam pikiran kita, pasti ada gambar yang ‘terkini’ daripada Gunung, Sawah, Jalan dan Matahari.

                                           
                                                                          Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

28.10.15

SAYA PERNAH TUMPUR 5 KALI

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 26 Oktober 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya


                MENGAWALI bisnis pribadi, saya sudah 4 kali gagal dan bangkrut. Benar-benar palajaran yang tidak saya dapat di bangku kuliah. Tetapi itu sangat penting dan membawa kepada kesuksesan bisnis yang kini saya geluti.
             Minggu lalu saya sudah menuliskan beberapa penyebab ke gagalan bisnis saya. Diantaranya adalah kesalahan memilih partner, kesalahan memimpin pegawai dan kesalahan kaderisasi.

SALAH PATUNGAN
                Saya mengalami kesalahan membuat bisnis dengan patungan. Kesalahannya adalah ketika patungan tersebut tidak seimbang, dimana rekan saya menyetorkan modal dengan cara mencicil dimana kebutuhan modal sangat urgen sehingga proses produksi tersendat.
                Hambatan proses produksi berefek kepada gagal janji kepada pasar. Lalu penjualan tergangga dan seterusnya menghambat proses lainnya. Dan tidak sampai 2 tahun usaha patungan kami kandas.
                 Dalam hal ini, uang memancing uang, artinya kita harus sadar modal.

SALAH MEMILIH LOKASI
                Kesalahan ini terjadi karena alasan modal, sehingga kami membuat usaha kuliner yang lokasinya tidak cukup strategis. Awalnya kami pikir asal manakan enak, pasti orang akan datang. Ditambah manajemen promosi yang ala kadarnya, maka grafik penjualan menurun dan akhirnya usaha itu tiarap.
               Pada salah satu bisnis saya yang lain, saya terpaksa harus menutup salah satu toko kami, karena kami salah menilai pasar yang ada di daerah tersebut. Jumlah penduduk yang banyak bukan jaminan pasar yang pas untuk produk kita. Daya beli dan budaya belanja serta karakter produk kita harus dipertimbangkan ketika memilih lokasi. Untuk kasus ini, setahun saja kami buka toko di daerah tersebut.

SALAH KOMITMEN
                Yang saya maksud bukanlah komitment kepad pihak lain. Tetapi komitment kepada diri sendiri. Ketika kita lengah, ketika kita merasa capek, ketika kita merasa bosan dan ketika kita tidak sabar, disanalah mulai tumbuh penyakit berbahaya yang akan segera merobohkan bisnis kita.
               Bisnis bukan cerita uang, tetapi cerita komitmen dan dedikasi. Khususnya pada saat memulai sebuah bisnis.
                Komitmen kita sering tergoda oleh pikiran lain ketika kita berhadapan dengan masalah, mulailah kita berpikir bahwa kok bisa orang lain sukses. Lalu berprasangka bidang usaha lain mungkin akan lebih bagus dan lebih menguntungkan. Dan kita merasa bahwa jika kita tinggalkan bisnis yang ada saat ini, mungkin tingkat kerugian akan bisa dibatasi.
                Saya pernah mengalami kesalahan ini, saya lepaskan burung di tangan dan mengejar burung yang terbang di langit. Semuanya lepas dan tidak bisa di tangkap. Akhirnya gagal terkapar.

SALAH BERINVESTASI
                Dengan kegagalan yang berkali-kali,saya mencoba untuk hanya berinfestasi kepada orang lain. Lebih dari 5 kali saya juga pernah mengalami kegagalan investasi seperti ini.
                 Kesalahan saya adalah bahwa saya menginvestasikannya kepada para pemula. Mereka yang dengan semangat menggebu ingin segera mencapai suksesnya. Hitungan bisnisnya optimis, tapi karakter kewirausahaannya masih belia.
                Investasi saya yang lain gagal karena tidak tahu bahwa pelaksana bisnis itu ternyata terbelit hutang di bisnisnya yang lain. Tidak sampai 4 tahun, bisnis tersebut bangkrut.

BIDANG USAHA TIDAK SALAH
                 Hingga kini, saya meyakini bahwa tidak ada salah dengan pemilihan bidang usaha. Usaha apapun akan bagus. Bahkan untuk bidang usaha yang sedikit sekalipun pemainnya. Kesalahan terbesar yang saya temui adalah faktor etos kita sebagai pengusahanya.
                Pada akhirnya saya meyakini bahwa bisnis adalah perkara karakter. Hanya karakter pemenang yang akan bisa bertahan dan sukses.


Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

20.10.15

SAYA PERNAH TUMPUR BERKALI-KALI

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 19 Oktober 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

                  SAYA ingin kaya raya. Saya yakin anda juga begitu. Iya kan?
                Sayangnya tidak ada sekolah formal di Negeri ini yang memberikan pelajaran bagaimana caranya menjadi kaya. Akhirnya saya bekerja, menjadi pegawai, dan disitu jelas menjauhkan impian saya. 
Keringat pegawai harus dibagi kepihak-pihak lain. Yang pertama, Boss pemilik usaha dimana ia bekerja. Sudah pasti Boss akan mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar dari gaji pegawainya. Yang kedua, hasil keringat pekerja harus dibagi kepada pemerintah. Siapa di negeri ini yang bisa mengelak dari pajak? Yang ketiga; dibagikan kepada Bank. Tanpa kredit ke bank, sangat sulit bagi pegawai untuk bisa memiliki kendaraan, rumah dan sekolah anak-anaknya.
Seperti disebut Rasullullah, “Dari 10 pintu rejeki, 9 diantaranya adalah dari perniagaan” lalu saya membuat usaha bisnis dan mempekerjakan orang lain. Sebuah impian yang mulia dan menyenangkan. Berkali-kali saya mendirikan bisnis dan berkali-kail tumpur. Saya relakan itu sebagai pelajaran menuju sukses yang saya yakini.
Hari ini saya bagikan kepada anda, siapa tahu juga menjadi pembelajaran positif bagi anda.

SALAH MEMILIH PARTNER
                Berkongsi dalam bisnis adalah hal baik dan umum terjadi. Tetapi perkongsian yang saya pernah alami berjalan tidak seperti yang kami harapkan. Dalam waktu 1 tahun, bisnis kami tumbang dan musnah.
                Setelah saya pelajari, ternyata masalahnya adalah karena salah memilih partner.  Usaha patungan awal saya terdiri dari kawan-kawan nongkrong yang sangat cocok dengan saya. Kami satu tipe. Kami pandai berencana tapi tak satupun dari kami yang bisa mengerjakannya.
                Perkongsian saya berikutnya juga gagal. Ternyata karena potensi kami yang tidak seimbang dan tidak ada yang fokus mengerjakan bisnis kami. Bisnis terbengkalai dan habislah modal.
                Saran saya pada perkongsian ini; cari partner yang tidak satu tipe –karakternya-- dengan kita. cari partner yang juga memahami bisnis. Cari partner dengan porsi seimbang, sehingga mereka juga ikut menjaga bisnis kita. Tidak semua kawan yang enak diajak bicara, akan otomatis cocok untuk menjadi partner bisnis.

SALAH MEMIMPIN PEGAWAI
                Yang benar pada awalnya sumber kesalahan sebenarnya bukan dari si pegawai, tetapi dari si pemilik usaha. Lalu kesalahan memilih pegawai bisa kita jadikan alasan untuk memperingan rasa bersalah kita.
                Kegagalan saya adalah ketika mempercayakan penjualan kepada sebuah tim salesman dengan seorang manager tapi saya tidak mengawasinya dengan benar. Jadilah mereka penipu dan maling. Ketika pada akhirnya bisa ketahuan, mereka lari entah kemana. Barang dagangan beredar luas tanpa bisa ditarik, uang bertebar dan tidak tahu kemana ditagih. Lalu tak sampai 2 tahun bangkrut.
                Saran saya; silahkan pilih pegawai apapun tapi jangan pernah membiarkan mereka bekerja tanpa pengawasan. Intinya, untuk usaha kelas kecil bahkan menengah. Si pemilik harus ikut sejak awal. Penuh konsentrasi dan benar-benar mengawasinya.

SALAH KADERISASI
                Salah satu bisnis saya yang mandek, adalah karena hampir semuanya saya kerjakan sendiri. Saya tidak mendelegasikan kepada bawahan. Dan saya kesulitan mendidik kader yang bisa menggantikan saya. Karena bidang bisnis tersebut adalah memang menuntut kecakapan khusus yang sulit untuk mendapatkannya.
                Semestinya saya mempersiapkan pengganti saya agar bisnis saya bisa berjalan walapun tanpa ada saya. Saya terjebak dalam rutinitas dan produktifitas menurun hingga ketika saya bosan, bisnis pun berhenti sejenak.
                Kesalahan saya yang lain akan saya tulis dikolom berikutnya.

                                                                                      Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

15.10.15

PEDANGANG KECIL DISIKSA, PEDAGANG BESAR DIPUJA

 Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 12 Oktober 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya
MAK JANES
                MAK JANES sudah bangun dipertiga sisa malam. Bergegas dia ke pasar tempat ia jualan belasan tahun belakangan. Ketika semua orang sedang lelap dalam tidur, ia sudah harus segera sampai di hiruk- pikuk pedagang yang berebut sayuran dari Berastagi untuk dijadikan barang dagangan. Telatlah ia satu detik, payahlah ia bisa mendapatkan rejeki hari itu.
                Segera sesudah berebut barang dagangan, ia segera memperebutkan lapak tempat ia jualan. Ini perkara hidup dan mati. Hanya pemberani yang bisa memenangkan perebutan itu. Sesudahnya ia kemas barang dagangannya dalam ikatan-ikatan yang lebih kecil, sehingga ia bisa jual dengan harga yang lebih terjangkau.
                Begitu jamaah sahalat adzan subuh bergerak keluar masjid, mulailah ia sibuk memanggil calon pembeli untuk membeli dagangannya. Satu persatu pelanggan datang dan pergi. Jumlah yang datang tidak otomatis sesuai dengan jumlah yang membeli. Apalagi jika yang datang adalah kaum ibu sepertinya.
                Modal seikat kangkung adalah Rp. 2.300,-  ia tawarkan dengan harga Rp.3.000,- . Jangan anda bayangkan ia akan mendapat untung Rp.700,- karena yang terjadi adalah para pembeli itu akan menawarnya mati-matian. Mereka mulai menawar dengan harga Rp.1.500,- jauh dibawah harga modalnya. Setelah lelah bernegosiasi, terlepaslah seikat kangkung dengan harga Rp. 2.500,-. Artinya ia hanya untung Rp.200,- saja.
                Tak cukup menawar dengan gila-gilaan, para pembeli itu juga menambah permintaan diskon gila itu dengan berbagai umpatan dan ejekan. Ada yang bilang produknya sudah layu. Ada yang bilang produknya jelek. Ada yang bilang di tempat lain lebih murah. Ada yang marah menuduh bahwa Mak Janes menjual dengan amat mahal dan mencari untung dengan membabi buta.
                Di penghujung pagi, ia harus segera bersiap-siap membayar retribusi kebersihan, retribusi kemanaan, dan berbagai pungutan yang bahkan tak jelas entah pungutan apa saja.

BANG ALEX
                Setiap pagi Bang Alex sempat sarapan bersama anak dan istrinya. melepas anak sekolah diantar sopir. Lalu membaca Koran atau berolah-raga pagi sebelum berangkat ke toko-nya di sebuah Mall paling mentereng di tengah kota Medan.
                Jam 10.00 ia memulai membuka tokonya. Ia mulai dengan melilhat karyawannya bekerja membersihkan toko dan barang dagangannya. Lalu ia mulai telepon para supplier untuk mengantar barang dagangan pesanannya. Tak perlu ia berjuang secara fisik sedasyat Mak Janes.
                Semua dagangnya di patok dengan harga yang lumayan mahal dengan jumlah nol yang lebih dari 6 digit. Semua produk dagangnya di beri label harga dan tidak ada mengenal tawar-menawar. Kecuali ketika ia sedang sepi pembeli, barulah ia mengeluarkan diskon dengan alasan perayaan hari raya tertentu.
                Para pelanggan yang datang berdandan rapih dan santun. Mereka tidak memaksa dan mengejek produknya. Pilihannya cuma satu, tertarik dan cocok, lalu bayar. Mereka Paham ketika melihat label harga dan tidak akan menawar.

SIKAP
                Konon, para pembeli yang datang ke toko Bang Alex, ada juga yang menjadi pelanggan Mak Janes. Tetapi perilaku menekan Mak Janes tidak mereka lakukan di toko Bang Alex. Ada perasaan bangga ketika mereka sanggup menawar dengan harga miring ketika berbelanja ke pasar tradisional seperti ke Mak Janes.
                Kisah diatas bisa dijadikan pertimbangan, ketika anda ingin jadi pedagang. Mau yang besar atau yang kecil. Semuanya ada konsekuensinya.

                                                                  Konsulatasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

9.10.15

TAK MUDAH UNTUK LUPA

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 5 Oktober 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

KALANGAN LSM penggiat lingkungan di Amerika direpotkan oleh sekelompok masyarakat yang membenci keberadaan Serigala di daerah pedalaman Washington dan Idaho. Mereka menolak program pengembalian sekelompok Srigala ke areal tersebut setelah 100 tahun hewan ini punah dari dua daerah ini. Kelompok penentang ini sangat tidak setuju adanya Serigala diantara mereka. menurut para pembenci binatang ini, Srigala adalah binatang yang menjijikkan dan berbahaya, sehingga layak untuk dimusnahkan. Hingga akhinya presiden Barack Obama mengijinkan perburuan Srigala yang sebenarnya termasuk langka di daerah tersebut.
Menurut ahli lingkungan, keberadaan Srigala sebagai predator sangat penting dalam upaya alam mengendalikan populasi binatang yang bisa berkembang masal dengan cepat, seperti kijang, menjangan, kelinci, burung dan ikan salem.
Menurut mereka tidak perlu sangat dikhawatirkan, karena binatang yang bisa dimangsa bukanlah binatang yang sehat dan kuat, tetapi yang cenderung lemah dan tua. Artinya, keberadaan predator justru akan memperkuat kelompok binatang yang jadi mangsanya.

TANTANGAN RE-LAUNCHING
                Kisah diatas adalah salah satu bukti bahwa pola pikir manusia relatif sama dimanapun mereka berada. Bahkan di negara yang sudah dianggap sebagai negara maju. Mereka tidak mudah lupa untuk hal yang menurut mereka buruk dan tidak mudah menerima kembali sesuatu yang dahulunya pernah berakibat buruk bagi mereka.
               Saya pikir pasar dan pelanggan kita juga berpikir yang sama. Artinya, ketika sebuah produk pernah gagal karena dianggap tidak baik oleh pasar. Maka kemunculannya lagi juga tidak akan mudah di terima oleh pasar.
                Tentu saja saran yang bijaksana untuk anda yang ingin mengembalikan sebuah produk kepada masyarakat, pertimbangkan nama dan kesan pasar pada waktu dahulu. Jika negative, saya rasa lebih baik pemunculannya diganti dengan merek atau nama lain yang sama sekali tidak berhubungan dengan merek yang sudah rusak tersebut.

LOKASI BEKAS USAHA GAGAL
               Sama juga dengan pemilihan lokasi usaha dimana dahulunya pernah ada usaha yang pernah gagal. Saya sendiri belum menemukan solusi pendekatan pemikiran secara manajemen modern; mengapa sering kali usaha/binis akan menghadapi kegagalan ketika didirikan pada lokasi yang dahulunya adalah usaha yang pernah gagal.
              Saya mengamati beberapa lokasi yang sangat tersebut. Dalam kacamata bisnis manajemen modern, sebenarnya lokasi tersebut sangat strategis, dekat dengan pasar, mudah diakses, mencolok dan bergengsi. Belum lagi upaya pihak manajemen usaha baru yang melakukan strategi dan terobosan serius. Mulai dari renovasi menyeluruh, interior yang baru dan langkah promosi yang gencar. Tapi tetap saja usaha mereka tidak sukses.
                   Saya sementara ini berasumsi bahwa kegagalan itu terjadi karena faktor persepsi pasar terhadap lokasi tersebut. Ketika dahulu pernah terkesan jelek, maka tidak mudah pasar akan melupakannya. Walaupun berganti produk dan berganti kemasan, tetapi nuansa persepsi akan lokasi itu terlanjur negative dan sulit dilupakan oleh pasar/masyarakat.
               Jika ada lokasi yang bisa berubah dan sukses, biasanya lokasi yang berubah 100%, digusur habis dan didirikan bagunan baru yang lebih besar serta merubah persepsi masyarakat secara menyeluruh.
                 Ingatan masyarakat dan keenggannan pasar untuk melupakan masa lalu jelas sangat sulit terjadi. Mungkin bagi anda yang tinggal di Kota Medan, akan menyebutkan lokasi simpangan yang hingga kini masih terpelihara dalam pikiran masyarakat dan tidak juga berubah seiring perubahan jaman. Ada simpang Limun (yang pabrik minumnya entah dimana) dan simpang Majestik/Golden (yang sudah tidak ada lagi bagunannya).

                                                             Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

29.9.15

“Janda juga Ok tuh”

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 28 September 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

               YANG namanya perempuan itu memiliki pesona yang istimewa. Karena potensinya, perempuan bisa lebih menarik perhatian, apalagi jika ia adalah gadis muda yang  cantik, segar, seksi dan seterusnya.
                Oleh karenanya, dalam strategi penjualan dan pemasaran, yang namanya perempuan muda  dan cantik selalu menjadi pilihan utama.  Wajah dan tubuh mereka menjadi bintang-bintang iklan pilihan. Mereka menjadi wakil perusahaan sebagai tenaga penjualan, tenaga promosi dan yang berhubungan dengan pelangggan secara langsung.
                Sayangnya, dalam 25 tahun saya berkecimpung dalam dunia pemasaran, saya sering tidak nyaman dengan pekerja perempuan muda dan cantik. Mereka yang merasa cantik biasanya tidak cukup mengasah kecantikan otaknya. Mereka yang merasa cantik terjebak pada kosmetika fisiknya. Bisa jadi selama hidupnya –yang masih singkat itu—mereka selalu mendapat kemudahan dan prioritas gara-gara kecantikan fisiknya. Hal itulah yang membuat mereka terlalu bangga dan mengunggulkan potensi kecantikan fisiknya saja.
     Sayangnya, kebutuhan dunia usaha terhadap perempuan cantik tidak melulu untuk foto dan pajangan saja. Mereka dibutuhkan untuk mampu mempresentasikan produk, bernegosiasi dan berkomunikasi dengan cerdas terhadap pasar yang dituju perusahaan.
                Mereka yang merasa cantik secara fisik, kadang merepotkan anggota tim yang lain. Umumya mereka tidak perduli pada hal-hal lain selain mempercantik dirinya sendiri. Bukan hal yang mustahil siapapun pekerjanya --baik cantik maupun kurang cantik—ada kalanya harus bekerja sama secara fisik seperti membawa barang, membersihkan areal kerja dan mungkin terkena sinar matahari langsung. Hal-hal seperti itu sering ditinggalkan begitu saja oleh si cantik. Mereka lupa bahwa pribadi cantik akan terlihat jorok dan kotor ketika mereka berada di lingkungan yang kotor – karena mereka malas bersih-bersih—.

JANDA
                Inilah status yang sering dipandang miring. Dalam kesulitan hidupnya karena perceraian atau ditinggal mati oleh suaminya, mereka sering kurang beruntung dalam hal mencari pekerjaan. Mereka tidak muda lagi, tubuhnya relatif melebar dan jelas tidak segar lagi, sudah punya anak dan mengasuh anaknya sebagai orang tua tunggal.
                Fakta penampilan fisik janda tipe ini menghambatnya berkompetisi dengan gadis muda yang masih single, cantik, seksi dan menarik. Fakta lain bahwa janda ini memiliki tanggungan hidup membuatnya kadang bercabang pikiran bukan saja memikirkan pekerjaan tetapi juga memikirkan keluarganya.
                Saya kebetulan memiliki usaha yang salah satunya dioperasikan oleh gadis-gadis muda lalu cabang yang lain di operasikan oleh janda dengan kondisi diatas. Saya medapati fakta yang menarik (mungkin bermanfaat untuk anda).
              Pertama, si janda lebih memiliki loyalitas dan keseriusan kerja, karena sulit mencari lapanan kerja. Lalu pekerjaannya bukan saja untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk anak-anak yang ditanggungnya dengan penuh kasih sayang.
                Kedua, si janda lebih bertanggungjawab, mereka memiliki kemampuan dan kesadaran yang lebih baik tentang hal lain seperti kebersihan areal kerja, dan suasana kerja yang nyaman.
                 Ketiga, kunci penjualan adalah komunikasi, bukan sekadar cantik. Pada sisi ini si janda cukup unggul. Kedewasaannya mengarahkan kemampuan komunikasi yang lebih sabar, lebih santun dan mengutamakan pelanggan.
             Dan bukan mustahil ketika si janda sadar bahwa ia harus tampil positif di hadapan pelanggan, mereka akan mendandani dirinya dengan apik. Dan pengalaman saya membuktikan bahwa si janda berusaha tampil menarik dan bukan isapan jempol ketika penampilannya lebih menarik maka datanglah jodoh melamarnya.

                                                                          Konsulatasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Blog Archive