it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

31.3.15

Anak Cucu Kopi Tubruk (Inovasi Produk)

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 30 Maret 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

Bagi penggemar kopi kata Espresso adalah asal muasal kopi racikan. Dari Espresso inilah muncul racikan lain berupa Cappuccino, Macchiato, Americano dan latte. Secara sederhana kita mengenal kopi hitam, kopi susu dan berikutnya muncul sebutan Kopi Sanger dan Kopi Pancung.
Perubahan bentuk kopi dari kopi dasar itu terjadi karena kreatifitas para barista (peracik kopi). Dengan menambahkan susu seberapa persen terjadilah Kopi Latte. Dengan menambahkan susu dan krimmer jadilah Cappuccino.
Kisah anak beranak dari produk induk terjadi juga pada Nasi goreng. Kini, jika anda memesan nasi goreng di sebuah gerai makanan, biasanya akan ditanya, “Nasi goreng apa?”. Lalu petugas pramusaji akan menerangkan bahwa mereka memiliki nasi goreng ikan asin, nasi goreng kampung, nasi goreng cabai hijau dan entah apa lagi varisasi nasi goreng tersebut.
Kini, dodol yang beredar dipasaran sudah memiliki berbagai rasa, mulai dari dodol rasa durian, dodol rasa pandan, dodol keju, hingga dodol rasa bawang. Sama dengan bika ambon yang memiliki rasa baru berupa keju, pandan, dll.

Selera berbeda
           Berinovasi menciptakan produk turunan yang baru adalah teknik dasar untuk bisa melayani selera pasar yang terus bergerak dan berbeda-beda. Semua orang memiliki preferensi masing-masing. Tak bisa semua disamakan.
         Tuntutan perbedaan selera tersebut harus dilayani agar pasar tidak berpaling ke pesaing yang setiap waktu mengintip kekurangan kita dan segera merebut pasar kita.
      Kadang, perubahan-perubahan itu hanya perlu sentuhan sederhana saja. Tidak perlu perubahan besar. Seperti kopi yang hanya ditambahkan dengan susu dan krimmer. Seperti nasi goreng yang ditambah dengan rasa dan unsur lain. Seperti dodol yang hanya dicampurkan bahan perasa tertentu saja.
        Sekarang, coba pelajari produk yang anda jual, apakah sudah cukup menjawab tuntutan selera pasar? Apakah diperlukan penambahan variasi kecil? Apakah ada permintaan-permintaan dengan sedikit perbedaan dari produk yang anda jual?

Nilai jual
         Dengan menambahkan sedikit dan merubah sedikit, anda memiliki alasan untuk memberikan harga yang lebih mahal, karena anda sudah menciptakan perbedaan dari produk awal. Tentu saja, nilai jual produk anda semakin tinggi.
           Pasar akan merespon perubahan-perubahan produk itu sebagai nilai tambah. Nilai tambah adalah alasan yang baik untuk menjual lebih dan menjual lebih mahal.
       Perubahan dan variasi yang dilakukan juga sebagai cara untuk mendapatkan kentunan optimal. Bisa jadi, produk dasar yang perlu dirubah ini memiliki usia yang pendek. Sebutlah roti tawar, usianya hanya beberapa hari, tetapi ketika roti tawar ini dirubah menjadi roti kering, bukan saja terjadi perubahan produk, tetapi juga terjadi perubahan usia produk. Roti kering ini bisa bertahan hingga sebulan lamanya.

Penahan Persaingan
          Inovasi baru dari produk dasar bisa sekali menjadi alat untuk menahan persaingan. Persaingan pasar yang sedemikian kuat, perlu dihambat dengan penciptaan produk-produk turunan dan yang berfariasi.
          Lihatlah, banyak produsen rokok yang tidak bergantung kepada satu produk. Mereka menciptakan produk-produk lain dengan kelas kemasan dan bentuk yang berbeda-beda. Sebutlah pabrik Sampeorna. Mereka memiliki produk unggulan berupa rokok Dji Sam Soe, lalu memunculkan A-mild, lalu magnum, lalu Avolution dan sebagainya.
           Dengan memunculkan produk-produk turunan ke pasaran, pesaing akan berfikir ulang jika mereka akan mengeluarkan produk sejenis. Pesaing harus benar-benar nekat dan berani untuk memasuki pasar yang sudah dipagari dengan produk-produk yang berfariasi tersebut.

                                                                   Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com, @tj_cahyo


Share:

24.3.15

KEKUATAN KISAH

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 23 Maret 2015 dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya 

      Pada Salah satu Penginapan, ada sebuah kamar yang harga sewanya jauh lebih mahal dari pada kamar yang lain. Bentuk kamarnya sangat sederhana, perabotannya sudah tua dan cenderung usang. Tetapi walau mahal, kamar itu tetap laku. Ternyata kamar itu adalah kamar yang pernah ditinggali oleh Presiden Soekarno. Beliau tinggal di kamar itu karena dalam proses pengasingan oleh Penjajah Belanda.
      Perbedaan harga kamar juga diberlakukan oleh manajemen sebuah hotel di Belanda yang salah satu kamarnya pernah dipakai untuk protes sosial oleh John Lenon dan Yoko Ono.
        Pada sebuah lelang mobil tua, ada satu mobil yang berharga sangat mahal hanya karena mobil itu pernah dipakai oleh seorang artis legendaris.
       Pembaca yang budiman, saya ingin ajak anda untuk sejenak memperhatikan betapa kekuatan kisah sangat besar dalam upaya menaikkan nilai sebuah produk.

KISAH
          Yang namanya cerita --apalagi jika disampaikan dari mulut ke mulut— selalu saja akan terjadi perubahan besar dari asal muasal kejadiannya hingga sampai kepada penerima akhir dari kisah itu. Selalu ada penambahan dan pengurangan disana-sini.
               Ketika kisah itu menyangkut tokoh, tempat, kejadian dan sejarah besar, maka efek kisah itu akan lebih dramatis dan bombastis. Lalu, efek bombastis itu sendiri akan memberikan nilai tambah.
  Konon, demam batu akik atau batu mulia untuk dijadikan cincin menjadi menguat, ketika Presiden SBY menghadiahkan sebuah cincin berbatu akik dari Indonesia kepada Presiden Barack Obama.
                Ketika kisah itu ber-setting masa lalu. Semakin mudah untuk dikreasikan ulang. Karena orang-orang yang mendengar kisah itu dan lalu menceritakannya lagi, akan merasa ringan hati jika mereka menceritakannya dengan sedikit bumbu-bumbu disana-sini. Karena sangat sulit untuk dipastikan kebenarannya.
             Kondisi yang sama jika kisah itu beraroma mitos. Kisah mitos ini mudah dipercaya oleh khalayak ramai. Jika didalam kisah mitos ini banyak versi, itu tidak mengapa, sejauh poin utamanya sama.

KREASI
       Fakta diatas mengantarkan kita untuk memahami nilai sebuah produk akan bisa naik dan jauh diatas nilai kebendaannya, jika ada kisah yang ‘menjual’ dibaliknya.
       Kisah-kisah ini sangat mungkin dikreasikan, diciptakan dan selanjutnya disebarkan dengan teknik tertentu yang cukup meyakinkan sehingga publik merasa itu adalah kisah yang sebenarnya. Mohon dibaca dengan bijaksana, bahwa saya tidak sedang mengajak anda untuk menipu.
    Yang perlu diperhatikan ketika menciptakan kisah adalah kesan originalitas. Harus dikisahkan bahwa produk kisah tersebut seperti asli. Setidaknya terjadi kemiripan yang signifikan. Jika perlu disebutkan saksi atau bukti-bukti lain yang mendukung akurasi kisah tersebut.
      Salah satu contoh kreasi kisah-kisah ini adalah pada praktek jual-beli batu cincin. Ketika batu cincin dengan batu berkadar biasa tetapi memiliki tanda-tanda khusus, seperti goresan yang mirip tulisan “Allah”. Kisah yang dikreasikan bisa berupa cerita asal ditemukannya batu. Proses mimpi dan kejadian-kejadian aneh sebelum ditemukan batu tersebut. Proses sulitnya pembuatan cincin, hingga pernah dimiliki oleh tokoh spiritual dan seterusnya.
    Anda hanya perlu mendramatisir kisah tersebut. Jika perlu, minta seorang tokoh spiritual untuk memakainya beberapa waktu. Foto dan jadikan itu bukti untuk memperkuat kisah yang hendak anda sampaikan. Niscaya batu cincin itu akan laku dijual dengan harga mahal. akan lebih meyakinkan lagi, jika ada beberapa tokoh lain yang juga yang memakai cincin itu. Yang penting, anda jangan menipu.

                                                                              Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

17.3.15

Kopi Dari Biji Salak (Difersifikasi Produk)

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 16 Maret 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.

HITAM seperti kopi, pahit serasa kopi, sedap seperti kopi, tetapi seratus persen bukan kopi. Kopi antik ini diproduksi oleh Gulma Mendrofa, yang tinggal di Tapanuli Selatan. Mendrofa menjualnya di gerai kecil sekitar 30 menit perjalanan dari Padang Sidempuan menuju Sibolga.
Kopi aneh ini benar-benar laris. Saya berbagi kemasan kopi terakhir yang tersedia dengan seorang pembeli asal Kota Medan. Bagi beberapa konsumen yang sempat saya wawancarai, mereka ketagihan meminum kopi ini. Kata mereka, kopi ini tidak terasa asam, ramah di lambung dan tidak membuat tekanan darah naik.
Sebuah karya cipta kreatif dari seorang pengusaha yang hidup di lingkungan penghasil Salak. Selama ini salak hanya dijual dalam bentuk buah. Dan jika panen berlimpah, maka harga akan jatuh dan potensi busuk selalu menjadi ancaman.
Mendrofa berhasil menciptakan 11 jenis produk yang benar-benar berbeda dari produk aslinya. Buah salak di tangan Mendrofa bisa berubah bentuk menjadi sirup, dodol, kecap, keripik, kurma palsu, bahkan jadi minuman anggur yang tidak kalah dengan wine asal Australia atau Perancis Selatan.
Sederet penghargaan dari kementrian dan banyak pihak lain diterima Mendrofa. Dan perlahan tetapi pasti, pasar produknya semakin membesar. Mendrofa sudah menciptakan nilai tambah dari produk buah salak yang selama ini menjadi raja di Sidimpuan ini.

Produk Turunan
      Dalam tulisan saya minggu lalu, saya membahas variasi produk dari bentuk dasar yang sama dan kemudian dikemas dalam tampilan yang berbeda dan nama yang berbeda. Karya Gulma Mendrofa dengan produk turunan dari Buah Salak diatas adalah salah satu contoh penciptaan produk turunan dari bahan dasar yang sama dan menghasilkan produk yang benar-benar baru dan berbeda.
       Menciptakan produk turunan sangat penting ketika produk induk yang tunggal mencapai titik jenuh. Pasar terus berkembang, selera pasar juga ikut berkembang. Tidak semua ceruk pangsa pasar memiliki minat dan selera yang sama dengan produk tunggal yang kita jual. karena itulah, menciptakan produk turunan menjadi penting.
          Tantangan terberat dari penciptaan produk turunan adalah kreatifitas. Tantangannya adalah bagaimana menghasilkan produk baru yang benar-benar berbeda dengan produk induknya.
    Kata kunci dari kreatifitas ini adalah, tiada yang tak mungkin. Seperti Mendrofa, ia menghabiskan waktu yang tidak sedikit untuk melakukan uji coba dan riset. Benar bahwa energy dari penciptaan ini sangat besar. Tetapi untuk menjadi pemimpin yang menemukan produk eklusif, riset adalah keharusan.
      Etika Mendrofa sudah mendaftarkan paten hasil ciptaannya, dia sedang menabung harta karun yang besar dimasa yang akan datang. Ketika produk ciptaannya popular dan mendapat tanggapan positif dari pasar.

Memimpin
                Menjadi market leader/pemimpin pasar, sangat mudah dilakukan jika kita adalah penemu sebuah produk dan kita yang pertama kali memasarkannya. Jika nanti akan ada pengiku, mereka adalah pengekor. Menjadi pihak yang pertama adalah kunci dasar agar pasar mengenal kita.
                 Menjadi terkenal dan menguasai pikiran pasar sangat mudah jika kita yang pertama melakukannya. Karena manusia biasanya tidak mengingat yang kedua. Semua dari kita pasti ingat siapa yang pertama kali menemukan Benua Amerika, yang pertama berjalan di Bulan dan Gunung tertinggi di dunia. Tapi kita tidak ingat, siapa orang yang kedua yang melakukannya.
                   Dan sore ini, saya meminum kopi Buah Salak yang pertama ditemukan oleh Gulma Mendrofa.
  
                                                                Konsultasi & Pelatihan tj@cahyopramono.com , @tj_cahyo

Share:

13.3.15

Satu Produk, Beda Warna, Beda Nama, Beda Harga

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 9 Maret 2015, di halaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

SABTU sore di sebuah bengkel, terlihat beberapa pekerjanya sedang bersiap-siap hendak pulang. Saya mendapati dua orang pekerja yang memiliki sepeda motor dengan merek dan jenis yang sama sedang mencopot tangki BBMnya. Saya Tanya, mengapa dicopot?, mereka jawab, “Mau gantian Pak”. Saya pikir ada yang rusak sehingga mereka menukar tangkinya. “Gak ada yang rusak kok Pak, hanya ingin variasi saja!” jawab mereka.
Saya semakin penasaran, mengapa mereka harus bergantian tangki BBMnya jika hanya untuk tampil bervarisi. Mereka akhirnya menunjukkan rahasianya. “Nih Pak, kan beda lis warna dan coraknya!” aku mereka sambil menunjukkan pola garis yeng berbeda dan warna yang berbeda. Ya Tuhan… sebegitunya anak-anak muda ini ingin tampil.
Benar bahwa sekilas memang tidak kentara perbedaan kedua sepeda motor tersebut, tetapi setelah diperhatikan, perbedaan garis dan warna itu sangat mencolok. Mereka masing-masing merasa menaiki kendaraan yang baru. Malam minggu ini mereka akan tampil beda, tampil baru.

Satu dan banyak
          Membuat cetakan mesin sepeda motor tidak seperti membuat cetakan kue yang bisa setiap hari diganti. Tentu biayanya sangat mahal. Jadi pabrik motor akan mencetak dengan jumlah ideal sesuai dengan perhitungan potensi keuntungannya. Tentu tidak langsung laku habis di tahun yang sama. lalu pabrik itu mencoba memberikan modifikasi pada bagian-bagian luar yang bisa membedakan tahun pemasaranya.
Coba amati sepeda motor terlaris di negeri kita ini. Merek tunggal itu memiliki sekian banyak varian. Pada produk mesin berkapasitas 110 cc saja tidak kurang dari 6 model yang diluncurkan. Masing-masing menggunakan nama yang berbeda-beda. Padahal mesinnya sama. di produksi dengan cetakan yang sama dan pada tahun yang sama. Dengan membedakan warna, sedikit sentuhan dan nama sebutan yang beda, jadilah produk yang terkesan berbeda.
           Hanya teknik kemasan dan teknik pemasaran saja yang membuat orang awam melihatnya sebagai produk yang berbeda. Pada gilirannya akan ada banyak pelanggan yang dengan fanatik memilih salah satu dari varian itu. Lalu gossip satu persatu beredar. Diantara gossip itu menyebutkan bahwa salah produk dengan warna dan kemasan tertentu itu sangat bagus dan berkualitas. Pasar benar-benar terbutakan oleh realita bahwa sebenarnya mereka hanya terhipnotis oleh kemasan saja.

Harga dan Persaingan
                Penciptaan variasi produk bukan saja karena tuntutan selera pasar yang cepat bosan. Variasi produk penting untuk bisa melayani semua pangsa pasar dengan daya beli yang berbeda. Hal ini penting agar pasar benar-benar terkuasai dan tidak berpaling kepada merek pesaing.
              Komponen biaya bisa dipertimbangkan dengan memilih komponen produksi yang tepat. Sebutlah rem tromol dan rem cakram berbeda dalam hal harga. Maka, untuk sepeda motor yang murah, cukup diberi rem tromol. Sedang yang akan dujual dengan harga sedikit mahal diberi rem cakram. Tentu saja pada sepeda motor dengan jenis dan cc yang sama.
                Belum lagi, masalah psikologi warna. Untuk warna hitam, bisa jadi harga jualnya akan lebih mahal. karena, warna hitam lebih banyak peminatnya.
              Variasi produk yang banyak bisa membuat pesaing berfikir ulang jika ingin mengeluarkan produk baru, karena mereka akan melihat realita bahwa produk yang mereka ciptakan sudah ada beredar dipasaran.
  Menciptakan produk yang bervariasi menjadi wajib hukumnya untuk pasar asia, terutama Indonesia. Karena kita cepat merasa bosan.

                                                                      Konsultasi & Pelatihan tj@cahyopramono.com , @tj_cahyo
Share:

12.3.15

“Jangan Bodoh, Apapun Bisa Dijual”


Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 9 Februari 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

           Mestinya anda minta orang-orang menampar pipi anda dengan keras dan berulang, jika hingga saat membaca tulisan ini anda masih memikirkan dan ragu-ragu mau berbisnis apa!
            Tamparan itu penting untuk membangkitkan anda dari mimpi-mimpi tiada berujung. Dengan tulisan ini saya ingin meyakinkan anda bahwa apapun bisa dijual. Yang anda perlukan segera pilih salah satu dan segera laksanakan.
Saya jamin anda akan mengalami kegagalan, mungkin rugi hingga bangkrut. Kekalahan itu hal biasa. Yang luar biasa adalah ketika dengan dengan semangat, anda segera bankit dan mulai berdiri lagi. Hingga ilmu kewirausahaan mengalir dalam darah anda.
Ingat, bahwa kewirausahaan adalah jiwa yang perlu dialami, bukan di hafal melalui buku-buku yang anda baca.

Tidak ada kunci pas
                Saya ingin menegaskan bahwa tiada kunci pas apalagi cara cepat untuk menjadi pebisnis sukses. Jika ada seminar atau buku yang menyampaikan cara singkat dan cara pasti sukses bisnis, saya jamin itu adalah isapan jempol petualang-petualang yang biasanya juga tidak pernah sukses menjalankan bisnis itu sendiri. Jika ada sukses yang bisa mereka banggakan, itu adalah kesuksesan menjual isapan jempol mereka sendiri. Dan anda adalah korbannya.
                Kunci dan perkakas pertukangan tiadalah Cuma satu. Jumlah dan variasinya sangat banyak. Bahkan yang alat kerja yang disebut kunci pas itu sendiri jumlahnya lebih dari 20 buah. Tidak tunggal. Artinya, anda memerlukan banyak alat dan ketrampilan untuk bisa sukses. Ingat, jika anda hanya punya palu, semuanya akan terlihat seperti paku.
                Yang menjadi penting adalah bahwa anda tidak perlu harus memiliki lengkap semua kunci itu kemudia baru anda memulai bisnis. Jika anda asyik mengumpulkan semua perkakas itu, anda sudah tua renta dan miskin ketika anda mampu mengumpulkan setengah dari jumlah perkakas itu. Kerjakan sekarang!

Ada manusia ada uang
             Secara sederhana, selama ada manusia, selalu ada potensi bisnis yang menghasilkan uang. Syaratnya adalah, fokus dan usaha tiada putus asa walaupun memakan waktu. Semua yang besar berangkat dari yang kecil. Semua yang kaya mulai dari kemiskinan.              
             Ketika Aqua hadir, air minum bukanlah barang yang dianggap penting untuk dijual. Air putih itu gratis. Ketika kita datang ke restoran, langsung saja pelayan juga menghidangkan air putih tanpa diminta. Kala itu minum air putih bukanlah gengsi, bahkan tuan rumah marasa rendah diri ketika tamu hanya minta air putih, bukannya teh, kopi atau sirup. Harga jual Aqua bahkan pernah lebih mahal dari harga bensin. Lihatlah kini Aqua atau minuman sejenis menjadi ‘bernilai’, di cari orang dan bahkan di asosiasikan dengan kesehatan.
        Ketika semua yang berhubungan dengan orang meninggal dunia adalah amal bersama, semuanya gratis. Ketika itu semuanya adalah kewajiban sosial semua masyarakat terhadap almarhum.  Lihatlah kini, kuburan sudah disewakan atau dijual kaplingan. Proses pananganan jenazah sudah ditangani oleh perusahaan jasa yang professional, hingga semua upacaranya juga tidak terkecuali. Bahkan orang mati sekalipun adalah salah satu sumber pendapatan, sumber bisnis dan laku dijual.
              Mencuci helm, memperbaiki tas dan koper, mecuci karpet, membersihkan sofa, mebersihkan pesawat telepon, mencuci mobil dan membersihkan dalam mobil kesemuanya adalah contoh yang dahulunya tidak terjadi. Dahulu kesemuanya adalah pekerjaan personal setidaknya pekerjaan pembantu rumah tangga. Kini ada mengerjakannya untuk kita.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Batu Cincin dan Inul Daratista (Produk Musiman)


 
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 26 Januari 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

HARI baik? Itu pertanyaan banyak orang ketika mencari peruntungan. Lalu yang ditanya akan membuka kamus kehidupan dalam bentuk buku primbon atau Kitab Ramalan. Ada yang mengunakan dasar arah angin, dasar anasir bumi, dasar kalkulasi angka, dasar garis tangan, dasar model wajah, kartu tarot, media sampah teh, jeroan ayam sesajen hingga posisi bintang dan bumi.
Seorang sahabat menyadarkan saya, bahwa semua kamus itu sejatinya adalah produk yang dihasilkan dari sebuah proses pengamatan bertahun-tahun. Sebutlah garis tangan, ilmu ini tidak datang begitu saja, tetapi melalui sebuah pengamatan bertahhun-tahun dan berbagai case-sample. Sebutlah garis yang membelah tengah telapak tangan bisa diartikan sesuatu, sebenarnya itu karena faktor statistik. Sebutlah dari 100 orang yang bergaris tengah tersebut berkarakter tertentu, lalu akhirnya dapat disimpulkan bahwa garis tengah tersebut bermakna tertentu.
Saya tidak ingin membawa anda kepada pembahasan klenik ini, tetapi saya ingin menegaskan bahwa trend/mode itu akan selalu berulang. Artinya yang terjadi saat ini sebenarnya sudah pernah terjadi pada masa lalu.

MUSIMAN
                Mode/gaya/trend yang berulang itu memiliki karakter yang sama. Trend itu akan datang, menguat, popular dan kemudian hilang. Cepat atau lambatnya usia trend tersebut tergantung proses kemunculannya. Jika muncul dengan cepat, biasanya akan lenyap dengan cepat. Usia trend tersebut juga menyangkut kualitas, kedalaman dan mutu trend itu sendiri. Untuk produk-produk yang masal, relatif murah dan tidak sangat mendalam, biasanya akan segera punah.
                Masih segar dalam ingatan kita trend ikan lohan. Semua rumah punya aquarium berisi adalah ikan lohan. Dari awalnya berharga jutaan hingga ketika populasi ikan ini sangat banyak, harganya jatuh nyaris gratis.
Sebutlah kini kegilaan tentang batu mulia sedang jadi topik, semua orang terutama yang laki-laki sedang terpesona oleh batu-catu cincin yang diasah indah. Batu-batu yang tadinya hanya bernilai belasan ribu rupiah, kini bisa melonjak hingga jutaan rupiah.
Laki-laki kini saling pamer cincin batu-nya. Dengan bangga mereka mulai menyebutkan asal batu dan harganya. Bahkan sudah mulai banyak alhi yang mendadak muncul yang mampu menjelaskan karakteristik batu, pola, warna, asal dan bahkan fungsi-fungsi magis dari batu-batu trsebut.
Tentu saja semua yang musiman akan ada ukuran waktunya. Seperti dulu ramai orang naik sepeda. Semua orang beli sepeda. Kini tinggal beberapa saja yang masih tersisa.

CEPAT  
Namanya juga musiman, artinya; ada masa keemasan dan kemudian layu dan gugur. Semuanya berhubunngan dengan waktu. Untuk itu, strategi pemasaran produk musiman harus menggunakan ‘sistem gas’. Jika perlu buka jualan 24 jam sehari. Karena sebentar lagi pasti akan hilang popularitasnya. Promosikan ke semua potensi yang ada secepatnya. Kunci utamanya satu kata; ‘cepat’, hanya itu.
Sekadar referensi adalah artis dangdut Inul daratista. Lihatlah usia populernya sangat sebentar.  Tidak bertahan bertahun-tahun. Hanya sekejap. Inul dan manajernya paham, bahwa karakter lagu yang dibawakannya sangat popular, liriknya tidak mendalam dan bukan karya masterpiece; sangat musiman. Karena pemahaman itu, mereka menggenjot habis semua potensi bisnis selama memungkinkan. Inul bisa melakukan perjalanan show hingga sehari sebanyak 3 kali di 3 kota yang berbeda. Tiada hari libur.
Ketika popularitasnya sudah pudar, inul sudah punya investasi dalam bentuk lain yang tidak harus berharap popularitasnya berada di posisi puncak.

                                                                                                   Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Pijat Rp. 50.000,- - Massage Rp. 250.000,- (Jual Gengsi)


 
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 19 Januari 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya


                BUKAN lagi jadi rahasia, kelemahan terdasar dari manusia adalah rasa gengsi. Perkara gengsi ini akan menjadi lebih serius jika ditermahkan sebagai marwah dan harga diri. Konon banyak orang yang rela mati jika tersangkut masalah ini.
                Bagi kita para pebisnis, fakor gengsi justru menjadi peluang yang menguntungkan. Asal kita tahu cara mendagangkan rasa yang menggelikan ini.
                Contoh diatas adalah bukti bahwa kemasan yang mencitrakan gengsi kadang efektif untuk menaikkan harga jual sebuah produk. Pijat, urut, kusuk  dan massage itu sejatinya sama saja. Tetapi, ketika produk itu disebut dalam bahasa asing yang menjanjikan kelas gengsi, harga jualnya lebih mahal.
                Contoh lain misalnya, oukup (mandi uap tradisional) dibandrol dengan harga Rp.50.000,- dan Sauna (mandi uap modern) dijual dengan harga Rp.300.000,-. Produk lain, roti panggang harganya Rp.5.000,- dan toast (roti bakar juga) berharga Rp. 25.000,-, Kopi tubruk Rp. 3.000,- tetapi Americano Black Coffee berharga Rp. 45.000,-

Bukan lokal
                Konon, dukun hebat biasanya lebih dikenal diluar kampungnya. Karena orang dikampung tersebut sejak awal mengenal si dukun, sehingga tahu masa-masa awal keetika si dukun belum hebat. Warga kampung disana merasa bahwa si dukun biasa saja seperti kebanyakan orang lain disana.
                Kata “pusat” (centre atau centra) dikalangan kita tekesan sebagai pusat, lebih hebat dan tiada yang menandingi dan itu bukan di kampung kita. sebutlah ketika ada berita bahwa ada pejabat dari “pusat” datang, maka semua orang tergopoh-gopoh menyambutnya. Padahal untuk kalangan orang pusat itu sendiri, mereka merasa biasa-biasa saja.
                Saking gila-nya orang-orang kita atas produk atau segala sesuatu yang berasal dari luar daerahnya. Mereka benar-benar buta dan sangat mudah ditipu. Sebutlah yang dialami oleh teman saya Haji Cucu, ketika hendak kembali dari Mekah, ia memborong puluhan kopiah/lobe. Niatnya untuk oleh-oleh bagi sanak keluarganya di Medan. betapa kecewanya Ia, ketika beberapa orang tetangganya yang mencibir ketika menerima hadiah itu. Usut punya usut, ternyata label yang lengket di lobe tersebut bertuliskan, “Made in Indonesia”.
                Jadi, ada produsen sepeda yang sengaja mendaftarkan produksi sepedanya di luar negeri dan seolah-olah menyebutkan bahwa itu produk inpor. Dan terbukti laku keras.
                Latah yang amat sangat itu menginspirasi para pengusaha untuk member nama produknya dengan kata-kata berbau asing. Sebutlah produk fashion, dari baju hingga sepatu, mereka menggunakan merek yang berbau bahasa Italia. Untuk produk elektronik mereka menyadur kata-kata yang berbau bahasa Jepang.  Dan hasilnya luar biasa.

Percuma ajak cinta produk lokal
                Bukan saya tidak cinta bangsa sendiri, tetapi pasar sudah terbentuk dan punya persepsi sendiri tentang buatan dalam negeri. Yang pasti, saat ini tak perlu meminta masyarakat untuk mencintai produk dalam negeri.
                Kuncinya bukan meminta mereka untuk mencintai produk bangsa sendiri, tetapi promosikan saja produk-produk kita dengan maksimal. Biar saja konsumen mengira bahwa produknya adalah produk asing. Biar saja mereka merasa bergengsi dengan label itu. Sampai suatu saat mereka menyadari bahwa produk bergengsi tersebut sebenarnya adalah produk dalam negeri.
                Artinya, biarlah gengsi dinikmati oleh mereka yang memerlukanya. Hingga mereka sendiri yang menemukan realita sebenarnya.
Ingat, yang kita jual adalah rasa gengsi, bukan kita yang menjadi korban rasa gengsi itu sendiri. Yakinlah, ketika kita sudah kaya raya, otomatis kita akan menjadi bergengsi. Ya, otomatis…


Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Numpang Ngetop (Memilih Lokasi Usaha)


Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 12 Januari 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

               Semoga pengalaman memilih lokasi bisnis saya bisa bermanfaat bagi anda. Salah satu bisnis saya adalah toko retail dengan pasar dari kalangan tertentu. Mereka adalah dari golongan terdidik, menyadari manfaat kesehatan dan memiliki daya beli menengah.
Saya memulai toko yang pertama di lokasi sentra kuliner Kota Medan yang kebetulan dekat dengan salah satu kampus ternama di kota ini. Lokasi tersebut adalah tempat kalangan menengah nongkrong dan kebetulan juga merupakan jalur utama menuju salah satu komplek perumahan mahal di kota ini. Alhamdulillah toko tersebut berjalan sukses hingga kini.
 Cabang yang ke-dua saya pilih lokasi yang merupakan jalur menuju komplek-komplek perumahan yang lumayan besar. Kebetulan, ada lokasi persis disampin sebuah bank swasta nasional yang sangat terkenal. Jumlah nasabahnya sangat banyak. Saking banyaknya, banyak nasabah bank ini yang numpang parkir di depan toko kami. Al hasil, kami mendapatkan promosi gratis dan Alhamdulillah Toko ke-dua ini melaju dengan cepat dan menguntungkan.
Toko ke-tiga saya buka berdekatan dengan salah satu rumah sakit swasta yang pasiennya lumayan banyak. Kebetulan produk kami sangat cocok sebagai suplemen dan obat bagi para pasien. Kami mendapat keuntungan promosi dari para pasien dan keluarga pasien yang datang ke rumah sakit tersebut.
Toko ke-empat saya buka di jalur para pekerja yang daerah itu penduduknya sangat banyak. Lokasinya berada dalam lingkup swalayan besar. Sayangnya, toko ke-empat ini tidak berumur panjang, karena ternyata daya beli masyarakat di daerah itu relative kurang tinggi dan swalayan tempat kami numpang itu juga tidak cukup mendapat perhatian public.
Toko ke-lima saya buka di kota satelit seputaran kota ibu kota propinsi ini. Kota ini lumayan sepi pada siang hari tetapi menjadi penuh di malam hari. Saya mendapat lokasi berdampingan dengan sebuah café terkenal dengan jumlah tamu yang lumayan banyak dan berada disamping kantor pemerintahan dengan jumlah pegawai ratusan orang. Alhamdulillah toko ini berjalan dengan baik dan memberikan sumbangan keuntungan yang positif.

Numpang Ngetop
Semua bentuk bisnis yang sudah berjalan, pasti sudah punya pelanggannya sendiri. Kelas sosial pelanggannya tergantun dari produk yang mereka jual. dan sudah pasti, pelanggan mereka adalah juga calon potensial untuk menjadi pelanggan bisnis kita.
            Dalam kasus toko yang saya buka. Kesemuanya sangat pasti mendapat keuntungan dari bisnis yang sudah ada sebelumnya. Sebutlah eksistensi zona kuliner yang ramai pengunjung, keberadaan bank swasta yang terkenal, rumah sakit dan café yang terkenal. Kesemua bisnis tersebut sudah memiliki pasar yang jelas dan lumayan terkenal. Dalam situasi ini, saya tinggal memanfaatkan keberadaan mereka dan saya numpang ikut promosi dari pengunjung atau pelanggan dari usaha yang sudah ada didekat toko saya.
           Benar saya melakukan beberapa langkah promosi, tetapi sangat sedikit dan secara pasti saya menyadari betapa saya diuntungkan dengan berdekatan kepada bisnis lain yang sudah terlebih dahulu terkenal.
          Benar untuk mendapatkan lokasi tersebut, saya memerlukan waktu untuk mempelajari karakter calon konsumen yang berada didaerah yang saya tuju dan berburu lokasi dengan sabar.
                Yang menarik adalah, bahwa bisnis-bisnis yang saya domplengi itu tidak asal memilih lokasi. Mereka sudah melakukan studi yang serius bahkan membayar tenaga professional yang mahal untuk menentukan kelayakan pembukaan lokasi usahanya. Artinya, dengan mendekat kepada mereka, kita juga ikut menikmati hasil studi yang mahal tersebut.

                                                                Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

               

Share:

Belajar dari Pesta Malam Tahun Baru

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 5 Januari 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

KITA --para pelaku bisnis-- sebenarnya sangat bergantung kepada konsumen. Tetapi kita harus tahu cara memutarbalikkan fakta sehingga membuat para konsumen merasa memerlukan dan bergantung kepada Kita. Kita harus tahu bagaimana menguras kantong para konsumen dan sesudahnya mereka mengucapkan terimakasih kepada Kita.
Tanpa kita sadari, sebenarnya kita sudah dan sedang bersekonkol dengan seluruh jaringan bisnis di jagad raya ini. Secara bersama-sama kita berusaha mengepung konsumen dan mempengaruhi pikiran serta perilakukanya agar terus menjadi konsumen kita.
Contohnya; Setiap akhir tahun, sudah menjadi kewajiban yang tidak tertulis agar semua orang merayakannya dengan berbagai cara. Mulai dari ngumpul keluarga, pesta taman, hingga pesta di hotel-hotel besar. Bahkan merayakannya dengan cara gila seperti naik gunung atau menyelam pada malam pergantian tahun.
Sebenarnya itu bukan kewajiban yang diperintahkan oleh agama manapun atau oleh hukum negara manapun. Perayaan itu sudah menjadi budaya yang sebenarnya dibangun dan dikuatkan oleh orang-orang seperti kita.
Kita sangat berkempentingan atas perayaan itu, karena perayaan itu adalah pintu rupiah kita. Mulai dari makanan, sewa lokasi, peralatan pesta, salon, sound sistem, pakaian, sarana transportasi, hotel, hingga kembang api dan artis yang bernilai milyaran rupiah.
Karena nilai bisnis yang sangat besar, kita akan pengaruhi konsumen dengan memulai perayaan Tahun Baru itu sejak akhir November dan akan memperpanjangnya hingga awal Januari. Kita menghias toko kita dengan hal-hal yang mewakili pesona tahun baru. Kita sangat tahu warna dan gambar yang bisa mempesona para konsumen dengan menggunakan media massa, mulai dari koran, radio, TV, majalah, berbagai sarana promosi dari brosur, poster, hingga baligho.
Tak cukup dengan media promosi, kita juga akan mengarahkan banyak tokoh-tokoh publik untuk menjadi contoh dan menegaskan bahwa saran dan pesan kita. Orang-orang Kita –terutama yang bervolume besar—akan menampilkan gambar-gambar mimpi kebanyakan orang. Mereka atur fotografer hebat dan redaktur yang lihai mengatur kata-kata.
Pada akhirnya konsumen akan, berbusana, makan, minum, bersekolah dan hampir semua aspek hidupnya menuruti ‘perintah’ kita. Bahkan ada yang hanya mau melakukan perjalanan ibadah jika bersama kita.
Kita adalah pejuang pencari uang. Kita saling bersaing tetapi kita sejatinya bersekongkol dalam mengarahkan pikiran dan perasaan konsumen. Pesan kita sama; “Ayok Belanja, Belanja dan Belanja”.
Bagi yang tidak mengikuti saran kita, mereka akan merasa ketinggalan jaman, udik, gak gaul dan (maaf) kampungan. Perasaan “bersalah” itu akan mereka bayar dengan menjadi pelanggan kita dikemudian hari.

KEMASAN
                Kita --yang mengais uang dari perayaan malam tahun baru itu--, akan menjual tema-tema yang menarik, tata dekorasi yang menghipnotis, sajian panggung yang gemerlap serta pengisi acara yang membuat mata melotot hampir copot dari tempatnya.   Para konsumen akan bergembira, bangga dengan pakaian yang dibeli dari kita, dengan kendaraan yang dibeli dari kita dan semua hal yang dibeli dari Kita. Mereka akan bertepuk tangan, tertawa hingga mabuk kepayang lalu akhirnya mereka akan berterimakasih kepada Kita. Kita adalah pahlawan bagi mereka.
                Yang terakhir, benar bahwa serangan kita tidak akan mempan untuk semua orang. Ada 20 % penduduk bumi ini yang sangat bijaksana dan mampu mengendalikan dirinya. Tapi kita tidak perlu khawatir, masih ada 80% yang lain yang mudah untuk dikendalikan. Dan Itu bukan jumlah yang sedikit.


Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

11.3.15

Kumpulkan Pesaingmu, Engkau Akan Cepat Bertumbuh (Penggenjot Kreatifitas)

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 29 Desember 2014,di halaman 7. Di perbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya


                SAYA belajar dari pohon karet. Dalam beberapa tahun saya sering melewati perkebunan karet yang cukup besar di Provinsi Sumatera Utara. Saya melihat betapa pertumbuhan pohon ini sangat cepat. Dalam waktu yang segera pohon-pohon itu menanjak mencuat tinggi. Dan tidak lama berikutnya pohon industri ini sudah bisa dipanen hasilnya.
                Penasaran dengan proses tersebut, saya sempat bertemu dengan salah seorang pekerja yang mengurusi tanaman ini. Ternyata kini mereka mampu menubuhkan lebih capat 2 tahun dari proses pertumbuhan yang biasa terjadi. Sebuah langkah hebat yang bisa menghemat waktu, biaya, tenaga dan pikiran. 2 tahun untuk sebuah pohon keras adalah waktu yang sangat berharga.
          Salah satu rahasia pertumbuhan cepat tersebut adalah upaya yang sengaja agar terjadi persaingan pertumbuhan antar pohon. Sejak kecambah, mereka disandingkan dengan jarak yang sangat dekat satu dengan yang lainnya. Lalu secara bertahap jaraknya diperlebar seiring volume perkembangannya. Pohon-pohon ini bertumbuh dengan bersaing. Semakin rapat jarak antar mereka, semakin cepat mereka menjulang menjangkau matahari. Hingga pada ukuran tinggi tertentu, jarak mereka ditetapkan tanpa diubah lagi.

Contoh Kasus Dodol Pasar Bengkel
                Konsep yang sama terjadi di pasar bengkel di daerah Serdang Bedagai. Antar penjual dodol yang berkumpul dalam lokasi yang sama, terjadi persaingan yang ketat. Produk mereka yang sama dan pangsa pasar yang sama, memaksa mereka untuk berusaha tampi lebih menonjol. Mereka yang tidak bisa mengikuti persaingan maka kemudian akan menuai kejatuhan bisnis.
             Di Pasar Bengkel itu, awalnya hanya ada satu jenis dodol saja. Kemudian tercipta dodol dengan berbagai rasa tambahan seperti rasa durian, rasa pandan dan beberapa rasa yang lainnya. Dimulai oleh salah satu pedagang dan kemudian ditiru oleh semua pedangang dodol yang lainnya.
              Ketika salah saru dari mereka membuat tata tempat toko dengan membuka ruang pamer yang lebih lebar dan lebih terlihat, maka ramailah toko tersebut. Dan konsep itupun lalu ditiru oleh toko-toko yang lainnya. Ketika persaingan semakin ketat, salah satu toko membuka akses bagi pengunjungnya untuk melihat proses pembuatan dodolnya. Sebuah atraksi menarik dan meningkatkan tingkat kepercayaan konsumen meningkat. Konsumen bisa melihat secara langsung bahan baku yang berkualitas, proses produksi yang sehat dan higienis. Dan kini ada beberapa toko yang melakukan hal yang sama.
Kini saya sedang menunggu, konsep apa lagi yang akan mereka lakukan.

Bersaing menghasilkan kreatifitas
              Setelah kita memahami manfaat bagi konsumen atas berkumpulnya binsis sejenis (lihat tulisan saya terdahulu), kini kita lihat betapa berkumpul dengan para pesaing dalam satu zona, adalah salah satu langkah positif untuk memancing daya cipta kreatif yang positif. Kita terpaksa untuk memeras otak dan itu berakibat kepada tumbunya kreatifitas yang positif.
                 Bagi mereka yang tiada bersaing, maka pertumbuhannya akan lambat dan bisa terkaget jika mendadak ada pesaing datang medekat. Persaingan sejatinya adalah cara paling alami untuk maju dan berkembang pesat. Persaingan adalah jiwa dasar manusia bahkan sebelum menjadi janin sekalipun.
         Untuk bisa bertahan dalam persaingan, diperlukan kekuatan yang tidak sederhana. Harus lebih baik dan lebih cepat. Tentu saja kreatifitas dan kemampuan manajemen ditantang secara terbuka dan keras untuk bisa menang dalam persaingan tersebut.
     Artinya, tiap dari kita terlahir untuk bersaing dan mereka yang kalah bersaing akan musnah.
               

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

11-12 (Kemasan dan Harga Jual)

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 8 Desember 2014,di halaman 7. Di perbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

            ISTRI sahabat saya bermimpi bisa tidur di tempat tidur buatan Amerika yang namanya seperti nama Raja. Katanya enak dan produknya tahan lama. Konon bisa bertahan sampai 20 tahun. Wow… Saya jadi penasaran, karena saya pakai kasur buatan lokal yang ternyata sudah bertahan selama 17 tahun dan belum rusak.
          Lalu saya hubungi teman saya yang memproduksi kasur berpegas ini. Saya Tanya, apakah benar perbedaan kualitas itu? Jawab teman saya, “Bisa ya, bisa tidak”. Karena produk lokal memiliki banyak pilihan berdasar level kualitasnya. Artinya untuk produk lokal dengan kualitas per terbaik, bisa jadi kualitasnya lebih baik dari pada produk Amerika tersebut.
          Lalu saya Tanya mengapa harganya bisa beda jauh? Jawabnya adalah mereka ‘jual merek’. Merek yang dari Luar itu sudah lama dikenal baik oleh pasar walau sebenarnya kasur impor itu diproduksi di Indonesia. Hanya namanya saja dari Luar. Artinya semua bahan baku sudah ada tersedia di Indonesia dengan beberapa komponen yang merupakan produk import.
             Lalu saya Tanya lagi, apa benda merek lokal “A” dengan merek lokal “B” (maaf saya enggan menyebutkan merek tersebut). Kawan saya bilang, “Sebelas - Duabelas Pak”. Saya belum paham artinya, ternyata itu ungkapan untuk menyebutkan pernyataan bahwa bedanya sangat tipis.

Beda Tipis
       Berangkat dari produk kasur lokal, ternyata banyak yang beredar dengan kualitas yang ralatif sama. Bahkan ada beberapa produk yang di produksi oleh pabrik yang sama. Kesamaan mereka adalah penggunaan nama-nama berbau asing dan kalimat-kalimat berbahasa inggris, sehingga terkesan itu buatan asing.
         Ditambah lagi dengan gambar-gambar dan propaganda dari ahli-ahli tulang plus piagam-piagam penghargaan yang dianugerahkan kepada mereka tersebut, membuat kita bisa pusing untuk memilih mana yang lebih baik.
        Bagi kita yang anti produk lokal dan gandrung dengan kualitas produk asing, semua tampilan itu mengganggu dan berakibat kepada pemilihan produk yang terlihat seperti buatan asing.

Beda Tebal
      Kita, sebagai konsumen, tentu mendapat kesan tertentu atas semua tampilan dan bungkusan produk kasur tersebut. Tak mungkin kita bedah kasur yang sudah rapih itu sekadar ingin tahu jenis per yang dipasang dan jenis busa serta benang yang dipakai.
      Secara fisik, kelihatannya beda tipis saja, tapi harga-harganya beda tebal. Perbedaannya bisa jutaan rupiah. Kita sebagai konsumen pada umumnya akan lebih percaya kepada produk yang dijual dengan harga lebih mahal, apalagi dipajang di Mall besar. Karena ada filosofi harga tidak menipu. Lalu kita membeli produk lokal dengan harga asing.

Melawan 11-12
         Pengalaman sebagai konsumen atas produk kasur tersebut diatas semestinya menjadi pelajaran bagus bagi kita yang memproduksi dan memasarkan produk apapun. Pengalaman itu mengajari cara untuk mencipkatan kesan.
         Ternyata mahal itu sangat relatif. Mahal bukan tidak laku. Semuanya hanya masalah kecocokan dan kecocokan adalah perkara persepsi. Hanya masalah kesan. Artinya, membuat kemasan dan tampilan yang memberikan kesan berkualitas ditambah keberanian memberikan garansi adalah cara paling effektif untuk mempengaruhi kesan konsumen.
       Bisa saja orang bilang beda tipis 11-12, tapi dengan kemasan dan cara menyampaikan kepada public yang bijaksana, kita bisa menjual produk lokal dengan harga dan keuntungan seperti produk import. Tidak percaya? Lihat saja kini banyak diskon penjualan kasur hingga 70%. Apa mungkin mereka mau rugi? Untuk menghalalkan diskon itu, muncullah alasan,”Cuci Gudang”.


Konsultasi & Pelatihan tj@cahyopramono.com
Share:

Hari ini Harga Bensin hanya Rp. 4.000,- (Takaran Produk)


Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 24 November 2014, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

           JOKOWI terpaksa menimang buah simalakama. Dengan segala keterpaksaan Ia harus memutuskan menaikkan harga BBM. Di makan Ibu mati jika tidak dimakan Ayah mati. Sebuah keputusan pahit dan pasti direspon dengan negatif.
                Rentetan kenaikan harga itu akan berbuntut biaya produksi yang meningkat, hingga pada ujungnya adalah harga jual yang naik. Artinya, pil pahit itu tidak saja ditelan oleh Jokowi, tetapi dialami semua oleh produsen yang terhubung secara lansung dan tidak langsung dengan kenaikan harga BBM. Sudah daya beli menurun, biaya produksi juga naik. Jika itu menjadi masalah. Cobalah trik berikut ini.

Takaran
             Daya beli konsumen adalah pertimbangan penting ketika membuat takaran kemasan. Apalagi ketika kualitas produk sudah diterima pasar tetapi maslah harga menjadi sensitif bagi konsumen.
Kita sangat memahami bahwa harga jual sebenarnya terkoneksi dengan takaran produknya. Pasar secara umum menyadari bahwa membeli dalam jumlah banyak mestinya akan lebih murah dibanding dengan membeli dengan jumlah yang sedikit.
Jika ada variasi takaran produk, maka konsumen merasa mendapatkan kebebasan untuk memilih ukuran takaran sesuai kebutuhan dan kemampuan kantongnya.
Jika tidak sanggup beli 1 liter, beli saja ½ nya. Jika tidak ada uang Rp.8.000,- bayar saja yang ukuran Rp.4.000,- Mudah kan?
        Jadi, tidak salah untuk membuat banyak variasi ukuran takaran kemasan. Karena daya beli konsumen tidak sama. Lagian, tidak semua orang akan menggunakan atau mengkonsumsi produk kita langsung dalam takaran yang besar.
               
Biaya kemasan
               Berapapun isi kemasan, tetap saja ada biaya kemasan. Konsekuensi logisnya, biaya kemasan akan membesar dibanding isi kemasan itu sendiri. Hukum dasarnya tetap sama, makin banyak yang dibeli, makin murah hitungannya.
           Jika menggunakan shampoo sebagai contoh, membeli  ukuran 1 liter akan menjadi lebih murah dan lebih menguntungkan dalam bentuk takaran dibandin ukuran sachet. Konsumen sering merasa sudah sangat beruntung dengan kemasan sachet itu. Mereka pikir sudah berhemat dengan hanya mengeluarkan Rp.500,- saja.  Padahal mereka harus menanggung beban yang lebih besar. Lagi-lagi konsumen lebih mudah dipengaruhi oleh bentuk kemasan daripada yang sebenarnya.
            Variasi kemasan berhubungan langsung dengan penambahan biaya. Mulai dari biaya kemasan itu sendiri hingga biaya paking box untuk distribusi. Belum lagi pertimbangan ukuran kendaraan distribusi dan ukuran gudang penyimpanan.

Upsale
                Bagi pihak penjual, Upsale adalah istilah untuk menaikkan volume jual. Karena semakin banyak yang terjual, semakin besar potensi keuntungan kita. Nah, ketika kita memiliki beberapa ukuran takaran produk, maka sangat bagus untuk merangsang terjadinya pembelian dalam volume takaran yang lebih besar.
                Jika harga sebuah produk ukuran 1 liter bernilai sebutlah Rp.10.000,- maka jangan serta merta memberikan harga Rp.5.000,- untuk ukuran takaran ½ liter. Terlepas dari faktor modal dan biaya produksi, cobalah pertimbangan faktor psikologis harganya. Juallah dengan harga yang lebih mahal dari nilai ½ tadi. Misalnya menjadi Rp.6.500,- atau Rp.7.000,- karena itu menstimulasi konsumen untuk merasa rugi jika hanya membeli kemasan yang hanya setengah. Mereka akan merasa lebih beruntung dan berhemat jika membeli untuk ukuran yang 1 liter.
                 Yang terakhir, ada intermeso tentang cara orang Medan mengantisipasi buah Simalakama. Kuncinya, tak usah ditelan, tak usah dibiarkan. Pilihannya adalah dijual saja. Ibu selamat, Bapak selamat dan kita dapat uang. Asyik kan?
               
Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

10.3.15

Cok, Kau Apakan Apanya Itu (Hukum Sosial dan Produk)


Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 17 Novwmber 2014 dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

   INI kisah nyata di Kota Medan. Seorang boss datang masuk ke kantor sekretasinya, sambil mendekat dia bertanya, “Eh, Siapa itu kemana ya?”. Lalu si sekretaris dengan cepat menjawab, “Ke Jakarta Pak”, dan lalu si Boss menjawab sambil lalu, “Oh.. Ok lah”.
            Aneh tetapi nyata, antara si Boss dan si Sekretaris sepertinya terkoneksi dengan koneksitas non verbal dan mereka paham bahwa yang di maksud “Siapa” tadi adalah orang yang sama dalam pemahaman mereka.
                Si Boss berlalu dan melewati staffnya yang sedang rapat, ia berkata, “Cok, Kau apakan apanya itu” sambil staffnya yang dekat dengan posisi gelas. Kebetulan gelas tersebut berdiri di pinggir meja dan hampir jatuh. Tanpa banyak pikir, si peserta rapat tadi segera memindahkan posisi gelas tersebut sambil berkata, “Baik Pak”. si Boss pun berlalu tanpa komentar apapun.
               Sekali lagi ada komunikasi yang sangat tidak jelas tapi jelas tersampaikan. Si Boss sama sekali tidak menyebut topik atau benda apa pun dalam kalimatnya (dalam hal ini adalah gelas) dan si Boss pun tidak menyebutkan dengan eksplisit perintah yang jelas untuk dikerjakan (dalam hal ini adalah agar gelasnya digeser karena berpotensi jatuh) dan si Boss juga tidak menunjuk objek pelaku yang dia perintahkan.

Hukum tak tertulis dan Produk.
                Kisah nyata diatas adalah satu bentuk realita yang sudah menjadi kesepakatan bersama dalam pertumbuhan kultural di seputaran Kota Medan dan Sumatera Utara khususnya. Dan itu adalah sebuah fakta yang harus disikapi dengan bijak ketika memasuki strategi pemasaran atas produk yang kita miliki. Ini yang sering saya sebut bahwa kita boleh sepintar Proffesor, tetapi untuk sukses sebuah komunikasi berbicaralah dengan bahasa yang dituju. Kita boleh go international tapi tetap memahami kultur lokal.
              Gaya komunikasi sebuah kelompok masyarakat adalah Hukum bersama yang tidak tertulis dalam suatu daerah biasanya sangat kuat dan kadang tidak mematuhi hal-hal yang dikehendaki oleh pemilik merek produk. Sebutlah rokok Gudang Garam Filter, di Sumatera Utara hampir tidak ada orang yang menyebutkannya lengkap persis seperti merek tersebut, mereka penyebutnya dengan nama “GP”.
               Gaya komunikasi terbangun menjadi budaya ketika gaya tersebut menjadi kesepakatan bersama dan digunakan secara berulang. Tidak ada rumusan baku yang eksak, tetapi ada kondisi-kondisi umum yang bisa dijadikan acuan.
   Misalnya dalam tataran pernyataan warna, sebagian orang menidentifikasikan warna merah dengan orang Tiong Hoa, warna hijau dengan kelompok Muslim, warna kuning untuk kelompok Budhis dan seterusnya.
               Dalam tataran atribut, rumah makan yang memajang kaligrafi huruf arab dianggap dan disepakati sebagai rumah makan yang halal. Dalam tataran asal, masyarakat kita cenderung lebih menghargai produk yang berasal dari luar daerah atau luar negeri.
   Dalam tataran kualitas dan harga, masyarakat percaya bahwa barang bermerek terkenal memiliki kualitas yang lebih baik dan mahal. Makanya istilah KW menjadi trend, untuk menyebut barang palsu dari sebuah produk bermutu yang harganya mahal.
                Dalam tataran lokasi, konon masyarakat meyakini harga-harga di Mall besar lebih mahal daripada di pasar tradisional. Harga di toko yang pakai AC lebih mahal dari pada toko yang tidak berAC.
                Yang terakhir, kenalilah gaya daerah pasar anda dan berkomunikasilah dengan bijak untuk kemenangan anda.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Blog Archive