it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

28.4.15

Membajak Karya Milik Sendiri


Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 27 April 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

AKSI penjiplakan dan pembajakan karya cipta meresahkan para pencipta lagu, musik dan produsernya. Aksi ini benar-benar merugikan pemilik hak cipta tersebut. Realita pada sisi yang lain menunjukkan bahwa hukum negara dan perangkatnya sama sekali tidak bisa diharapkan.
Para pencipta mengorbankan banyak hal sementara para pembajak tidak mengeluarkan energy dan biaya apapun. Tidak perlu pusing menciptakan karya musik, tidak membayar penyanyi, tidak mengeluarkan biaya promosi, singkatnya tidak bermodal apapun.
Saya sisihkan dulu sudut pandang hukum dalam tulisan ini. Saya meyakini bahwa selama pasar masih lebih senang membeli barang murah dan tidak perduli dengan kualitas dan merasa tidak bersalah sudah membeli produk yang illegal, praktek pembajakan ini akan terus terjadi.
Ada seorang rekan yang melakukan trik jitu menghadapi delima itu. Saya berharap pengalaman rekan saya ini menjadi inspirasi bagi para pembaca dan berharap kebijaksanaan didalam memahaminya.
Namanya Edi, bertahun-tahun ia bergelut dalam produksi CD musik dan video musik. Ketika menyadari bahwa usahanya selalu kandas oleh para pembajak yang tidak bertanggungjawab, ia merasa tersudut, tak berdaya dan kalah. Hingga suatu ketika ia dengan cerdas mendapatkan ide untuk membajak karya aslinya sendiri.
Ketika Edi sudah selesai membuat album musik. Ia hanya membuat seri original-nya dalam jumlah terbatas – jumlah yang rata-rata mampu ia jual--. Lalu pada saat yang bersamaan, ia menggandakan album miliknya sendiri dalam versi dan kualitas bajakan dengan jumlah yang sangat besar – sesuai daya tampung pasar--. Edi membajak karyanya sendiri.
Tepat setelah 2 minggu ia mengedarkan seri originalnya, ia lalu mengedarkan versi ‘bajakan’nya tersebut. Sebuah trik yang manis. Edi mendapat keuntungan, dan pembeli merasa puas sudah mendapatkan harga murah.

Produk KW
         Yang dilakukan Edi, bisa saja terjadi dengan fenomena produk KW yang saat ini kegemaran pasar Indonesia. Artinya, bagi anda yang memiliki produk bagus dan mendapat respon positif dari pasar tetapi harga menjadi permasalahan lalu ada potensi pemalsuan yang akan menjadi pesaing. Lebih baik jika anda sendiri yang membuat produk KW tersebut. Anda memalsukan sendiri produk anda sendiri.
         Pemalsuan sengaja ini sepertinya masih harus dilakukan karena pasar memang menghendaki hal ini. Anda tinggal mendesign kelas kualitasnya sesuai daya beli pasar. Anda bisa mengklasifikannya dengan kelas KW Super, Replika, KW1, KW2 dan seterusnya.
Sekilas mungkin tiada beda antara produk original yang anda buat dengan produk ‘palsu’ anda sendiri, tetapi karena anda sendiri yang membuatnya, maka anda bisa menciptakan perbedaan-perbedaan mendasar yang hanya bisa diidentifikasikan jika diperhatikan dengan teliti.

Pesaing bayangan
              Pola lain untuk mengindari persaingan adalah dengan menciptakan produk sejenis dengan merek dan kualitas yang berbeda. kita memiliki pilihan harga sesuai dengan kemampuan beli pasar. Ketika kita memiliki sebutlah 3 sampai 5 merek yang berbeda, kita akan memenuhi pasar dengan produk kita. Dengan beredarnya merek yang banyak untuk produk yang sejenis, para calon pesaing akan berfikir 2 kali jika ingin bermain pada jenis produk yang sama. bisa jadi calon pesaing merasa sudah terlalu ramai persaingan itu.
           Tidak heran jika perusahaan-perusahaan besar kadang kala sengaja mengeluarkan produk yang didesign untuk tidak bertahan lama. Hanya untuk mengacaukan pasar. Karena ketika pasar kacau, kita akan mudah mengendalikannya.

                                                                           Konsultasi & Pelatihan ; tj@cahyopramono.com

Share:

21.4.15

Karena, Cinta Tak Perlu Alasan


Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 20 April 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.     
       
      PADA pintu toilet di Bandara Singapura saya melihat tulisan tangan dengan spidol tipis. Sepertinya saya kenal dengan penulis dengan model huruf-hurufnya. “By The Name of Love it’s Not Too far” (atas nama cinta, --jarak—ini tidaklah sangat jauh) .  Ya! Saya kenal dengan orang ini, karena dibawah tulisan itu ada tandatangan dan inisial namanya.

      Turun dari pesawat di bandara Schiphol setelah 12 jam perjalanan, rasanya tempat pertama yang harus dituju adalah toilet. Lagi-lagi ada tulisan dari tangan, “Another step to you” (selangkah lagi –mendekat-- kepadamu), dengan paraf dan inisial yang sama. Saya rasa pasti si penulis sedang berjalan jauh melintasi 3 benua untuk menemui kekasihnya. Sebagai kawan, saya merasa geli, lucu dan memiliki alasan untuk menggoda dia ketika suatu saat nanti kami bertemu. Sungguh mencolok tulisan itu karena jelas itu cuma satu-satunya tulisan yang ada dari sekian banyak toilet yang tersedia. Terbayang jika dia tertangkap, maka denda hukumannya pasti lumayan berat.
         Dua hari berikutnya, lagi-lagi saya menemukan tulisan yang sama, kali ini dipintu toilet kereta api jurusan Paris dari Deh Haag. Kalimatnya dalam bahasa perancis, “Tu vois, je t'aime comme ├ža” (lihatlah aku mencintaimu sampai begini). Sungguh gila kawan satu ini.
Sampai di Paris hampir semua stasiun radio memutar lagu yang dengan kalimat seperti tulisan kawan saya tersebut. Singkat cerita, saya akhirnya menonton pertunjukkan itu. Sungguh sebuah show yang indah dan saya tidak akan pernah lupa ketika lagu yang berjudul Je T’aime (Aku mencintaimu) itu dinyanyikan. Lara Febian –si penyanyi-- terdiam sejenak setelah intro musik dimulai, karena suara penonton sangat ribut, berteriak dalam bahasa yang saya sendiri kurang paham. Lalu dari monitor layar lebar terlihat jelas Lara Febian terkaget karena tanpa komando semua penonton menyanyikan lagu itu dengan serempak. Tak ayal pemain piano dari atas panggung ikut mengiringi lagu itu. Hampir utuh satu lagu itu tidak dinyanyikan oleh si penyanyi. Justru penontonlah yang dengan syahdu menyanyikannya.
Sekira 3 orang di depan saya berdirilah teman yang menuliskan semua perasaannya di semua toilet diatas. Dia memeluk pacarnya yang setahu saya selama ini tinggal di Norwegia guna menyelesaikan studinya.

Bisnis dan Cinta
Karena cinta, teman saya sudah mengeluarkan biaya yang lumayan besar untuk tiket pesawat, tiket kereta api, taksi dan penginapan. Belum lagi biaya visa, biaya makan dan sejumlah transaksi yang lain. Berbeda dengan transaksi di rumah sakit, semua pengeluaran ketika seseorang jatuh cinta sungguh tiada dirasa berat.
Menyasar pasar anak muda yang umumnya sedang jatuh cinta bukanlah pilihan yang jelek. Walau daya beli mereka realitif terbatas, tetapi mereka tiada memikirkannya. Jumlah anak muda sangat banyak, artinya pasarnya terbuka lebar. Selain harga, bisa jadi mereka juga tiada mempermasalahkan kualitas produk pelayanan kita, karena hatinya memang sedang berbunga.
Makanya tidak heran jika keindahan cinta sering menjadi tema promosi produk, diterjemahkan dalam tata interior, kemasan, nama produk bahkan menu makanan. Tantangannya adalah kreatifitas mengemas nuansa romantic menjadi penarik produk.
Dalam percakapan sesudah pertunjukkan diatas, teman saya mengaku bahwa dia baru saja melamar pacarnya dan dengan sengaja dilakukan dalam pertunjukkan itu, karena pacarnya senang dengan lagu je t’aime.
                       
                                            Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

14.4.15

Sambil Menyelam Minum Air, Makan Ikan dan Dapat Mutiara (optimalisasi petensi pendapatan usaha)

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 13 April 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya


Ketika persaingan usaha semakin tajam. Ketika biaya semakin tinggi. Ketika harga jual produk semakin menipiskan keuntungan. Kreatifitas untuk mendapatkan keuntungan dari pontensi apapun bersatus wajib dilakukan.
Tulisan saya kali ini adalah satu contoh bagaimana cara meningkatkan pendapatan usaha. Saya memberikan contoh berupa usaha supermarket.
Kini, supermarket tidak hanya mendapat keuntungan dari margin produk yang dijual. Ada 28 jenis potensi pendapatan tambahan yang bisa diperoleh sebuah usaha retail supermarket.

Listing fee
Ini adalah biaya untuk mendaftarkan nama produk ke dalam sistem kasir. Satu barang satu daftar. Biayanya bisa sampai ratusan ribu rupiah per nama dan ukuran/jenis barang. Jika anda memasok 5 jenis kerupuk dengan 5 jenis ukuran/rasa yang beda, anda harus membayar 5 fee pendaftaran tersebut.
Coba anda bayangkan, berapa ribu jenis barang yang dijual di outlet tersebut. Dan, sekarang ini dengan sistem pemindaibarcode di kasirada biaya tambahan lagi bagi pemasok yang produknya tidak dilengkapi dengan barcode.
Listing fee ini bisa hanya berlaku untuk satu outlet supermarket atau untuk keseluruhan outlet dalam satu regional atau berlaku secara nasional. (berlaku pada usaha supermarket berjaringan nasional). Listing fee akan semakin besar harus dibayarkan oleh pemasok kepada supermarket ketika daftar produk itu diberlakukan dengan jumlah outlet yang lebih banyak.

Sewa Lokasi Pajangan
         Sumber lain adalah biaya lokasi pemajangan produk. Produk akan berpotensi lebih laku, jika dipajangkan pada lokasi yang strategis dan mudah terlihat. Untuk meminta dipajang pada lokasi di depan yang mudah telihat, pihak supermarket akan memberikan biaya sewa. Makin strategis satu lokasi, makin mahal biaya sewanya.
       Masih tentang lokasi, posisi pajangan yang setara dengan mata akan lebih mahal jika posisi pajangan yang jauh diatas kepala sehingga pelanggan harus mendogak atau posisi di bawah yang memaksa pelanggan untuk jongkok demi melihatnya.
       Ketika lokasi sudah dipilih, ada biaya lain tergantung berapa lebar ruang pajang dipakai. Untuk memajang satu produk berderet kesamping sebanyak beberapa produk akan dikenakan biaya khusus karena otomatis penggunaan rak pajang akan tersita, sehingga produk lain ‘terpaksa’ diabaikan. Pengenaan biaya khusus ini penting, karena semua pemililik produk yakin, bahwa jika satu produk dipajang dengan jumlah yang sedikit, pasti tidak akan mendapat perhatian dari calon pembeli.

Sewa Lokasi Promosi
       Topik tentang lokasi, tidak saja berupa sewa untuk pemajangan barang, tetapi juga untuk material promosi. Mulai dari pemasangan spanduk, standing banner, dan material promosi apapun. Pemilik supermarket bisa menyewakan areal-areal terbukanya untuk ditempel material promosi. Bisa di gerbang masuk, menjelang meja kasir, di lift, di escalator, di lorong ruang pajang, bahkan di lantai gedung tersebut. Tinggal menghitung berapa areal yang akan dimanfaatkan.

Optimalisasi Biaya
           Pihak supermarket biasanya akan berpromosi. Ketika berpromosi, pihak supermarket akan mengajak pihak pemasok. Masing-masing pemasok ‘dipaksa’ untuk ikut berpromosi bersama. Pemasok biasanya diminta untuk mengurangi harga dengan alasan promosi dan dukungan pembiayaan pembuatan sarana promosi berupa iklan di Koran ataupun pencetakan material promosi yang lain seperti spanduk, selebaran dll.
        Pihak supermarket akan mengarahkan agar pihak pemasok menempatkan tenaga promosinya –SPG—di outletnya. Ini akan meningkatkan penjualan produk tersebut dan menghemat biaya pagawai bagi pihak supermarket.
         Saya berharap tulisan ini bisa memicu ide kreatif untuk usaha anda.


                                                                       Konsultasi & Pelatihan, tj@cahyopramono.com

Share:

7.4.15

Nama Yang Berharga (Urgensi Label Merek)

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 6 April 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

SEPATU  olah raga yang bertanda seperti tanda centang, dipasaran berharga jutaan rupiah. Pemilik Merek Sepatu ini tidak memiliki satu pun pabrik sepatu di seluruh dunia ini. Mereka hanya memiliki merek saja. Di Indonesia, produk yang dibuat di sekitar Ibu kota Negara kita. Konon nilai rupiah yang diterima oleh pihak pabrik kurang dari tiga ratus ribu rupiah untuk setiap pasangnya. Betapa jauh angka yang diterima pihak pembuat dan pihak yang memiliki merek.
Cerita yang sama ketika para petani membeli cangkul dengan merek bergambar binatang reptile raksasa. Yang dibayarkan oleh petani kepada pemilik merek bernilai jauh lebih besar dibanding yang diterima oleh para pengrajin tradisional yang lelah dan berpotensi budeg dalam membuat cangkul tersebut.
Kini, jika merek minuman cola yang terkenal itu dijual, mungkin harga mereknya jauh lebih mahal daripada nilai seluruh pabriknya di seluruh dunia.

Label merek
              Saya masih sering menemukan produk-produk bangsa kita yang tidak juga memiliki label merek. Padahal kualitasnya sangat bagus. Ketika saya tanya kepada pemiliknya, alasannya hampir selalu sama. pertama, karena merasa tidak penting untuk menempelkan label merek. Yang kedua karena tidak tahu manfaat memberikan label merek. Yang ketiga karena merasa repot mengurus merek. Yang keempat karena tidak tahu dimana bisa ditempelkan label merek mereka di produk yang mereka punya. Yang kelima karena permintaan dari pemesan. Yang keenam karena merasa terbeban dengan tambahan biaya pembuatan label merek. Yang ketuju karena tidak yakin produknya bisa bertahan lama.
             Semua alasan itu boleh saja diterima dengan konsekuensi logis bahwa yang dijual hanyalah produk itu saja. Tidak ada investasi nilai merek dimasa yang akan datang dan tidak ada kesadaran bahwa suatu saat harga produk mereka bisa sangat tinggi dan memberikan keuntungan besar hanya karena merek yang sukses diterima pasar.
           Sebutlah roti terkenal dari Pematang Siantar—Ganda-- dan Bika Ambon Zulaika, merek merekalah yang menjadi jaminan lakunya produk ini dibanding pesaingnya. Apakah anda tidak ingin seperti ini?

Semua bisa diberi Label
                Bagi mereka yang merasa sulit menempatkan label merek, ini beberapa contoh sebagai inspirasi. Telur asin yang bisa dibuat dimanapun masih bisa diberi label merek. Sebutlah telur asin dari Brebes, di cangkangnya diberi stempel kecil tetapi jelas menyebutkan merek produsennya.
                Para pengrajin furniture, lihatlah beberapa produk buatan pabrik selalu ditempel merek dagangnya di produk mereka. mereka memilih sudut-sudut tertentu dengan design yang manis dan apik. Artinya bukan tidak mungkin anda menempelkan label usaha anda pada produk yang anda produksi.
                Buah dan sayur organik juga sangat mungkin diberi label merek, buat saja bungkus yang berfungsi sebagai pengikat dan pengemas yang memungkinkan didalamnya diberikan label merek.
              Yang pasti, semua tergantung dari kesadaran anda tentang manfaat memiliki merek dagang yang bagus. Benar membesarkan merek memerlukan upaya yang tidak sederhana, memakan biaya tambahan tetapi itu akan terbayar ketika suatu saat merek anda terkenal dan dikejar masyarakat. Ingat, semua produk bisa dikemas dan semua kemasan bisa diberi label.
                Sekadar mengingatkan manfaat memberi label merek dagang; ingatlah satu merek air putih dalam kemasan. Harga air kemasan ini bahkan pernah lebih mahal dari pada harga BBM.
               
Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

Share:

Blog Archive