it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

27.5.15

JUALAN SOLUSI

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Binis pada tanggl 25 Mei 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.

Sebelum saya memulai tulisan ini, saya ingin menyampaikan permohonan maaf kepada para pembaca yang sudah menyampaikan pertanyaan melalui email saya tj@cahyopramono.com khususnya yang jawabannya diluar topik seputar produk, baik dari kemasan, penamaan dan pemilihan produk. Saya ingin menuliskan artikel mingguan ini secara bertahap dan beruntun mulai dari bahasan produkhingga saatnya nanti akan sampai pada topik strategi-stragi bisnis seperti konsep pemasaran, promosi, penjualan, kepegawaian, tata kelola keuangan, dan strategi bisnis lainnya.

       KALI ini saya tuliskan pengalaman seorang kenalan baru di kota Binjai. Ia sudah menjalankan bisnis dengan model ini bertahun-tahun dan hingga kini masih bertahan bahkan cenderung membesar.
           Yang ia jual adalah pelayanan pemberian solusi kepada para pedagang yang berada dikota-nya. Ternyata pedagang di pasar-pasar tradisional adalah pasar yang nyentrik. Mereka berdagang untuk mencari keuntungan dengan konsentrasi yang luar biasa, sehingga kadang mereka tidak punya waktu untuk mencari dan berbelanja untuk kebutuhannya sendiri.
Para pedagang ini juga memiliki daya beli yang cukup potensial asal tidak membayar dengan tunai, karena mereka memerlukan dana untuk perputaran bisnisnya. Para pedagang yang sudah kerepotan mengurus bisnisnya, sungguh sangat membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan masalah pemenuhan kebutuhannya.

MENJUAL SEMUA PRODUK
Kenalan baru ini melayani pembelian apapun dari para pelanggannya. Pelanggannya hanya perlu menyebutkan kebutuhannya dan ia akan membelikan serta mengantarkannya ke rumah pelanggan tersebut.
Dari produk eleltronik kebutuhan rumah tangga seharga ratusan ribu hingga alat komunikasi canggih berharga jutaan rupiah. Dari kursi tamu hingga perlengkapan dapur. Pembelian itu tidak terbatas hingga pengantaran ke rumah saja tetapi juga pemasangan hingga penanganan reparasi jika ada yang bermasalah dikemudian hari.
Bahkan ketika anak si pelanggan memerlukan reparasi sepeda motornya, ia akan menghubungi pihak bengkel dan semuanya akan beres ia tangani.

MEMUDAHKAN PEMBAYARAN
             Karena pedagang yang menjadi pasar tersebut juga memerlukan dana tunai untuk perputaran bisnisnya, maka kenalan saya tersebut memudahkan pembayarannya dengan sistem kredit.
         Sistem kredit ini sangat membantu pelanggan dan memberikan ikatan jangka panjang yang semakin dalam dan akrab.
            Tentu saja kenalan saya tersebut memperhitungkan nilai keuntungan dan beban nilai uangnya pada saat kesepakatan harga dibuatnya. Mereka bersepakat menentukan nilai cicilan dan jangka waktunya.
          Semua pelayanan itu bernilai rupiah yang tidak dikeluhkan oleh pelanggannya. Mulai dari biaya pengiriman, pemasangan hingga perbaikan-perbaikan uang diperlukan sesudahnya.
              Kenalan saya hanya perlu menagihnya setiap hari sesuai dengan kesepakatan. Dan yang menarik adalah bahwa para pelanggannya bahkan ada yang sengaja ‘menabung’ kepadanya setiap hari ketika cicilannya sudah lunas. Mereka menabung hingga memutuskan untuk membeli barang kebutuhannya.

KEPERCAYAAN
Ternyata, lagi-lagi kunci sukses ini juga sama seperti bisnis pelayanan yang lainnya yaitu kepercayaan. Sangat sulit untuk memulai dan menumbuhkan rasa percaya. Harus dirintis secara bertahap dan dibuktikan dalam aksi-aksi nyata setiap waktu.
Mulai dari ketepatan waktu yang dijanjikan, ketepatan produk yang dipilih dan yang penting adalah proses transaksi ini dilakukan dengan etik dan memberikan rasa nyaman kepada semua pihak.
Kepercayaan itu terus bertumbuh seiring pemberian solusi yang semakin memudahkan para pelanggan. Tidak heran, ketika para pelanggan ini bahkan mempercayakan pembelian hewan kurban tahun depan kepada kenalan saya ini dan seperti biasa, kenalan saya ini juga yang akan mengatur penyembelihan hingga pembagian dagingnya.
Saya meyakini, bahwa memberikan solusi adalah kasta tertinggi dari teknis menjual yang ada. Pemberi solusi terhidar dari merendahkan diri memohon seseorang untuk membeli produknya.

                                         Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com


Share:

19.5.15

Mengemis dapat 200ribu, jual Koran dapat 50ribu

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 18 Mei 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

               BUKAN lagi sebuah rahasia jika sebenarnya lebih cepat dapat uang dengan mengemis dijalanan dibanding dengan menjual produk asongan di jalanan.
                Ilustrasi bagi pengemis di jalanan adalah bahwa dengan mendapatkan 100 penyumbang dengan pecahan Rp.2.000,- maka ia akan mendapatkan Rp.200.000,- bersih. 100 peyumbang bukanlah jumlah yang banyak. Rata-rata dalam sekali lampu merah di persimpangan jalan, pengemis bisa mendapat sedikitnya 5 mobil yang menyumbang. Maka, ia hanya perlu 20 kali nyala lampu merah. Jika masing-masing berjarak 3 menit, maka si pengemis hanya memerlukan 60 menit saja. Artinya dalam sehari ia bisa dapat jauh diatas nilai tersebut.
              Pengemis tidak memerlukan atribut dan perlengkapan yang berbiaya mahal. mereka hanya memerlukan perlengkapan yang cenderung sederhana dan tidak bernilai karena mereka menjual rasa iba. Tidak heran ketika ada fakta-fakta pemberitaan yang menyebutkan seorang pengemis bisa memiliki tabungan puluhan juta rupiah.
                Lain lagi kisah penjual asongan di jalanan. Sebutlah penjual Koran. Jika dibuat rata-rata, pengecer Koran maksimal mendapat Rp.500,- tiap eksemplarnya. Maka, untuk mendapatkan angka Rp.50.000,- penjual Koran harus menjual kepada 100 pembeli. Dan faktanya adalah bahwa membaca bukanlah gaya kita (orang Indonesia), hingga mengumpulkan 100 pembeli bisa jadi memerlukan lebih waktu dari 3 hingga 4 jam.
                Belum lagi ketika ada pemikiran bahwa kita secara umum kita tidak begitu merasa iba kepada mereka-mereka yang berdaya. Kita bisa memberikan pecahan Rp.2.000,- kepada pengemis dengan suka rela, tetapi kita masih bisa tega menunggu penjual Koran mengembalikan Rp.500,- kepada kita.
                Sebuah pertanyaan mendasar, apakah kita lebih memilih dengan menjadi pengemis atau kita memilih untuk menjadi pengusaha yang mendapat rejeki dari keringat yang bermartabat.

Martabat
                Saya tidak hendak mengatakan bahwa pengemis tidak bermartabat, tetapi saya ingin mengatakan bahwa rejeki yang halal dan bermartabat itu datang dengan keringat, dengan kepala tegak dan tidak meletakan tangan dibawah.
             Sungguh bahwa nilai uang yang didapat dari keringat itu jauh lebih berkah dan memberikan kebaikan. Saya mendukung siapapun yang masih berada dalam tahap usaha bisnis pemula dan kelas mikro. Saya ingin mengingatkan bahwa rejeki kita tidak selalu berupa angka. Karena dengan tabah untuk mendapatkan angka yang relative kecil dibanding dengan mengemis, kita sebenarnya sedang ditempa oleh Tuhan untuk menjadi pribadi-pribadi yang kuat dan tangguh.
                  Kita sedang diajari untuk memahami betapa uang yang terpuji tidak mudah didapatkan. Saya berkeyakinan bahwa uang yang susah kita dapatkan itu akan memberi manfaat yang jauh lebih hebat untuk keluarga dari pada dari uang mudah yang tidak bermartabat dalam proses untuk mendapatkannya.
               
Pilihan
              Benar bahwa hidup adalah tentang memilih. Kita diberi kebebasan oleh Tuhan untuk memilih apapun dengan konsekuensi logisnya sendiri. Ada yang tangguh memegang keyakinan dan martabat dirinya, ada juga yang menyerah kalah.
Diantara kita justru lebih senang menjadi pengemis pemaksa, dalam skala kecil menipu dengan menggunakan surat edaran palsu yang mengatasnamakan lembaga sosial.
Dalam skala yang terlihat lebih elegan, sebagian diantara kita lebih senang mengemis kepada pemerintah untuk mendapatkan proyek-proyek yang relative dapat dikerjakan dengan mudah. Dengan menggunakan kekuasaan agar lebih mudah, lebih cepat dan lebih banyak untung, tanpa memperdulikan kritikan hati kecil yang selalu mengingatkan kita betapa cara-cara pengemis ini tidaklah terpuji.

                                                                              Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

12.5.15

SAMPAH DAN KEKAYAAN

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 11 Mei 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

     ADA tiga orang kenalan saya yang sering dianggap sebagai pekerja kelas bawah, kotor dan hina, tetapi sebenarnya mereka adalah pengusaha yang lumayan berduit. Mereka berbisnis pembuangan sampah.
    Saya sengaja menuliskan pengalaman mereka ini untuk menunjukkan bahwa ketika sampah-sampah itu menghasilkan uang, ke-hinaan itu tiada lagi terasa menyakitkan. Sebuah inspirasi kewirausahaan.

Johan
              Adalah pengusaha yang mengkontrak pembuangan sampah dari hotel-hotel dan restoran/cafĂ© di kota Medan. Dengan merendah, mereka mengaku hanya membantu menyelesaikan masalah sampah yang bau dan kotor bagi manajemen hotel/restoran tersebut.
            Benar, dalam prakteknya Johan dan pegawainya tiap hari—malam dan pagi—membersihkan tempat sampah langganannya lalu mengangkutnya ke mobil truk dan membuang jauh-jauh dari hotel/restoran tersebut. Pihak hotel/restoran rela membayar demi terbebas dari sampah yang kotor dan bau tersebut.
                Johan tidaklah membuang sampah yang diambilnya setiap hari begitu saja. Sebelum sampai lokasi pembuangan sampah terakhir milik pemerintah, johan terlebih dahulu mensortir sampah-sampah tersebut. Dari proses itu Johan bisa beruntung mendapatkan sampah makanan yang akan didaur ulang untuk makanan ternak. Ada juga sampah kertas, logam dan plastik yang juga laku dijual kiloan.
                Artinya, Johan mendapatkan bahan baku untuk dijual kembali nyaris tanpa modal. Ia mendapatkan ongkos pembuangan sampah dari pemilik sampah. Lalu ia juga mendapatkan hasil penjualan dari sampah itu sendiri.

Ramlan
             Pria paruh baya ini juga bekerja mengumpulkan sampah dan membantu membuangnya jauh-jauh dari orang-orang yang terganggu dari sampah ini. Ramlan dengan pegawainya adalah spesialis pembuang sampah bongkaran bangunan rumah.
             Ketika ada renovasi bangunan, maka akan ada banyak sampah bangunan berupa reruntuhan tembok bata, semen, kayu-kayu bekas, dan semua unsur bangunan yang tidak terpakai lagi termasuk perabotannya.
           Konsumen Ramlan tidak saja pemborong yang akan membuang sampahnya, tetapi juga pemborong bangunan yang hendak menimbun tanah untuk bangunan barunya.
            Dalam prose situ, Ramlan akan mensortir sampah yang dikumpulkannya tersebut kedalam berbagai kategori layak jual sebelum sampai ke tempat penimbunan tadi. Ramlan bisa menjual besi bekas, kusen-kusen bekas, dan bisa jadi potongan-potongan granit dan marmer yang masih bisa dimodifikasi untuk dijual kembali dengan harga bagus.

Tedjo
             Pria berbadan gelap ini adalah pegawai outsource di sebuah dinas kota yang menangani pengumpulan sampah-sampah masyarakat. Ia dengan truk sampah berwarna kuning setiap hari bekerja dalam tim sebanyak 4 orang. Konsep kerjanya hampir sama dengan yang dilakuan Johan serta Ramlan.
           Tedjo bekerja jauh lebih cepat. Proses sortir langsung dilakukan sejak pertama pengambilan sampah dari rumah-rumah Warga. Ada 2 orang diatas truk dengan beberapa wadah sortir. Setiap ada sampah dilempar keatas truk dari 2 orang yang bekerja di bawah, langsung saja proses sortir dilakukan. Dipilah plastik, kaca, logam, kertas dan sampah makanan.
         Singkat cerita, begitu proses pengumpulan selesai. Sampah yang ‘tidak laku’lah yang terbuang ke Tempat Penampungan Akhir. Selebihnya Tedjo dan kawan-kawan sudah mengantongi sortiran sampah yang laku dijual kembali.
               
Gengsi
          Lawan terberat yang dihadapi oleh Johan, Ramlan dan Tedjo adalah rasa gengsi. Dan mungkin juga yang anda rasakan, sehingga orang-orang seperti mereka sedikit jumlahnya.
Memakai kata-kata Ramlan, “Gengsi tak pernah bisa membayar uang sekolah anak, gengsi tidak akan bisa membeli rumah dan mobil, tetapi setelah kita berduit, kita otomatis menjadi bergengsi”

                                                                               Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

5.5.15

PERANGKAP UNTUK SI SERAKAH

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 4 Mei 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

               PASTI anda setuju, jika saya sebutkan bahwa Serakah, Rakus dan Tak Mudah Puas adalah sifat dasar manusiadan sifat itu menguasai manusia hingga seringkali mengalahkan logika jernihnya. yang menarik adalah bahwa sifat itu dimiliki oleh mayoritas penduduk bumi ini.
             Dari persentase yang sedemikian besar, tentu menjadi peluang yang baik untuk kita jadikan sasaran bisnis kita. Mereka ada dimana-mana. Mereka memiliki uang yang dengan kerakusannya akan diberikan kepada kita secara sukarela jika cara kita benar.
               
Rasa Puas
             Si rakus dan si serakah selalu berorientasi kepada rasa puas yang seolah-olah tiada batasnya. Bahkan ketika secara logika mereka tidak lagi sanggup menampung apapun yang mereka inginkan. Lihatlah contoh-contoh berikut ini;
                 Pertama; Ukuran perut manusia tiadalah tak terbatas. Untuk sampai tahap kenyang pasti bisa diperkirakan jumlahnya. Karenanya, banyak hotel dan restoran menawarkan paket makan sepuasnya dengan harga tertentu. Mereka menata makanan dalam susunan yang menarik selera di meja yang panjang dengan jumlah variasi makanan yang banyak. Dengan tidak mempertimbangkan harga paket, pembeli merasa sangat beruntung bisa diperbolehkan memilih sesuka hati makanan yang ada. Pembeli merasa bebas dan beruntung bisa makan sekenyang-kenyangnya.
           Dalam prakteknya, penjualan dengan sistem prasmanan akan lebih menarik daripada penjualan dengan sistem porsi yang terbatas. Dan dengan tata kelola pemilihan makanan yang tertentu, tingkat keuntungan akan jauh lebih tinggi sedang biaya pegawai lebih murah.
              Yang kedua; penjualan di toko swalayan akan lebih tinggi dibanding toko tradisional yang dilayani oleh penjual. Si pembeli merasakan kebebasan memilih daripada dipilihkan oleh penjual. Dalam sebuah studi, terbukti ada 41,7% transaksi di swalayan terjadi tanpa direncanakan oleh pembeli sebelumnya. Mereka dengan sifat yang rakus terjebak oleh tampilan kemasan dan pemajangan serta iklan-iklan diskon yang menggiurkan. Tak heran, jika ada orang yang hanya berniat membeli susu untuk anak di swalayan, tetapi pulang dengan menenteng belanjaan yang lebih banyak.
               Dalam prakteknya, menjual dengan sistem swalayan lebih menghemat biaya pegawai dan kecepatan pelayanan yang lebih tinggi.
             Yang ketiga; konsep menjual produk pertanian dengan memetik sendiri terbukti lebih menguntungkan daripada penjualan melalui sistem distribusi tradisional. Pembeli merasakan kepuasan yang luar biasa dengan memetik sendiri sayuran dan buah-buahan dari pohonnya.
           Sifat rakus yang tiada terpuaskan membuat mereka memetik buah dan sayuran jauh lebih banyak daripada yang diperlukannya. Lalu mereka menenangkan diri dengan beralasan akan dijadikan oleh-oleh untuk saudara dan tetangganya.
            Yang keempat; dalam transaksi modern untuk pembelian tiket pesawat terbang dan voucher hotel, kini penjualan langsung melalui internet melejit sangat tinggi. Itu terjadi karena rasa puas pembeli yang bisa memilih sendiri rute penerbangan dan hotel yang disukainya.
             Jangan heran ketika kini banyak orang sudah membeli tiket pesawat dan hotel setahun hingga dua tahun sebelum keberangkatan. Mereka merasa beruntung karena promosi harga murah yang disebut dalam iklan internet tersebut.

Bisnis anda
            Contoh-contoh diatas, membuktikan bahwa melayani kerakusan dan keserakahan konsumen adalah pintu-pintu keuntungan yang menarik.
            Hanya perlu memahami bagaimana cara melayani/menjual yang memberikan rasa kemerdekaan untuk pemuasan kebutuhan konsumen.
             Tetapi ingat, kata ‘konsumen rakus/serakah’ hanya dipakai antar kita saja sebagai pedagang. Kepada konsumen, harus diganti dengan kata-kata yang lebih santun dan seolah-olah pro kepada mereka.

                                                                                     Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Blog Archive