it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

27.7.15

PASRAH WALAU TAK RELA

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 27 Juli 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

              PERTENGAHAN ramadhan ini saya merasakan kekecewaan atas pelayanan yang kurang baik dari sebuah toko perlengkapan rumah tangga. Singkat cerita, saya sebagai konsumen merasa hanya ditipu dan dibola-bola. Hati sakit dan memendam amarah.
          Ada niat untuk mengadukan kepada manajeman toko tersebut, ada juga niat menuliskannya dalam surat pembaca pada harian umum, kemudian ada kemauan untuk mengadukan kepada lembaga perlindungan konsumen sekaligus menuntutnya di pengadilan.
         Atas nama orang yang sedang berpuasa, akirnya saya mengurungkan semua niat itu. Bersabar dan tidak ingin mengorbankan ibadah puasa untuk hal yang seperti ini. Dalam hati saya, tercatat dengan tebal bahwa; pertama, Biarlah itu menjadi dosa si penipu itu. Yang kedua; Saya berniat untuk membiarkan saja dan berjanji tidak akan kembali lagi menjadi pelanggan toko itu. Yang ketiga; toko itu bukan satu-satunya penjual produk yang saya butuhkan.

Pasrah walau tak rela
            Pelanggan seperti saya yang hanya diam tanpa memberikan perlawanan atau laporan kepada atasan/manajemen toko tersebut ternyata jumlahnya banyak. Tanpa saya sengaja, saya mendengarkan beberapa rekan saya yang mengalami hal serupa. Mereka berprinsip seperti saya. Malas cakap. Lalu mereka berhenti menjadi pelanggan.
               Jika sekadar berhenti menjadi pelanggan, mungkin tidaklah begitu mengganggu bagi pihak pemilik toko, tetapi ketika orang-orang dalam barisan kecewa itu berbicara kepada orang lain, maka pihak-pihak lain tersebut mulai berfikir dua kali untuk berbelanja ke toko tersebut.
             Pelanggan yang malas cakap tersebut sangatlah berbahaya bagi pemasaran sebuah usaha/bisnis. Dipermukaan sepertinya tidak ada keluhan sama sekali. Terlihat tenang dan lancar-lancar saja. Lalu seolah-olah semua permasalahan dapat diselesaikan oleh pihak operasional dengan baik. Rapat manajemen penuh dengan senyum kepuasan. Tapi tanpa disadari, perlahan penjualan akan menurun dan pada akhirnya akan bangkrut tanpa bisa diketahui masalah apa yang sebenarnya terjadi.
               
Pindah Kelain Hati
                Sakit hati yang sedemikian dalam membuat pelanggan menghindari kita. sudah tidak lagi jamannya bangga diri dengan kelangkapan produk, harga yang bagus dan berbagai kelebihan lain. Sekali pelanggan sakit hati, ia akan pindah ke lain hati.
                Filosofinya sederhana, jika anda tidak mau melayani dengan baik, ada banyak orang yang lain yang bersedia melakukannya.
                Bagi penjual yang menjual barang masal, yang tidak khusus dan monopoli, kewaspadaan yang tinggi atas kepuasan pelanggan menjadi sangat penting dan harus diperhatikan.
               Coba lihat, jika saja saat ini ada perusahaan lain yang menyediakan energy listrik untuk rumah tangga dan industry, pasti banyak orang yang akan menjadi pelanggannya. Sudah terlalu banyak kekecewaan dialami pelanggan atas pelayanan perusahaan listrik yang memonopoli produk ini.
              Ketika jasa sambungan telepon dimonopoli oleh satu perusahaan, kekecewaan pelanggan tiada menjadi permasalahan. Dan pelanggan yang kecewa itu juga harus pasrah menerima walau tak rela. Lalu lihatlah kini, perusahaan yang memonopoli dulu kini terbuntang-buntang ditinggal banyak oleh pelanggannya. Sudah banyak yang pindah ke lain hati dan tak lagi rela untuk kembali kepadanya.

Mengurus Manusia
                Yang terakhir, sadarilah bahwa bisnis apapun, sebenarnya berporos kepada intinya; yaitu melayani dan mengurus pelanggan. Pelangganlah yang memberikan keuntungan. Hebatpun produk kita, jika pelanggan kecewa, maka tiadalah artinya kehebatan tersebut.
         Mengurus manusia memang benar tidaklah mudah, tetapi jika prinsip-prinsip dasar pelayanan diaplikasikan dengan baik, niscaya semuanya dapat dilayani dengan tingkat kepuasan yang tinggi.

                                                                                      Konsulatasi & Pelayanan; tj@cahyopramono.com
Share:

14.7.15

*SYARAT DAN KETENTUAN BERLAKU

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 13 Juli 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

                KETIKA materi promosi begitu bombastis --terkesan luar biasa mempesona-- biasanya akan diikuti dengan tanda penghubung khusus yang kemudian dibawah materi promosi itu akan terselip kalimat dengan huruf minimal, “Syarat dan ketentuan berlaku”.
                Sebutlah beli permen seharga ratusan rupiah, berhadiah milyaran rupiah atau berhadiah rumah dan atau berhadiah plesiran ke luar negeri –yang harganya jutaan rupiah— , lalu bisa juga disikon hingga diatas 70%. Atau iming-iming lain yang sangat menarik. Pertanyaannya adalah, bagaimana mungkin produk semurah itu bisa mendapatkan hadiah yang begitu mahalnya? Darimana sumber biaya hadiah itu? Apakah si penjual bisa mendapat untung? Atau, bisa jadi selama ini bisnis tersebut memberikan untung yang sangat besar?
               Pertanyaan yang sama untuk promosi dengan diskon lebih dari 50%. Ada apakah? Apakah selama ini konsumen membayarkan harga jual yang terlalu tinggi, sehingga diskon diatas 50% masih diberikan oleh pihak penjual. (setidaknya, kita berfikir bahwa, jika diskon 70% dan penjual masih beruntung, berarti selama ini si penjual mendapatkan untung yang sangat besar dong?).
               
Menohok Perhatian
              Ketika perhatian publik sudah semakin sulit dijerat karena media komunikasi umum sudah sangat banyak; sebutlah tv yang sangat banyak, radio yang tiada terhitung, Koran yang berjubel, spanduk dan billboard yang menjamur dimana-mana, hingga media sosial yang tiada membuat seseorang memperhatikan yang lain, ketika itulah para penjual harus kreatif membuat promosi agar mendapat perhatian.
Jika promosi tidak berakibat kepada perhatian calon konsumen, maka promosi itu hanya berstatus ‘sampah’. Dan ‘sampah’ selalu saja menjadi sesuatu yang dianggap kotor dan dibuang, bukan disimpan untuk dinikmati.
              Kreatifitas penjual untuk berpromosi kini berkembang luar biasa. Salah satu strategi yang sering digunakan adalah memberikan iming-iming menarik, seperti contoh diatas. Prinsip dasarnya adalah mendapat perhatian, selanjutnya harus kreatif juga untuk menjawab kelemahan-kelamahan promosi bombastis tersebut.

Kunci Rahasia
              Syarat pertama promosi dengan cara ini adalah harus jujur, yang sebenarnya dan tidak menipu. Karena, ketika pelanggan menemukan fakta bahwa promosi ini adalah tipuan, maka saat itu mosi tidak percaya dimulai. Ketidak percayaan itu akan mengusir pelanggan dan selanjutnya akan merugikan bisnis dalam jangka panjang.
              Syarat kedua, sampaikan dengan jelas. Jangan sampai ada hal-hal yang tersembunyi dan berkonotasi jebakan. Melawan syarat nomor 2 ini, sama saja melempar boomerang dan mengenai diri sendiri. Tidak jarang pengadilan digelar karena tuntutan konsumen dan berakhir kepada kekalahan pihak penjual.
Syarat ketiga; kalkulasi keuntungannya. jika ingin memberikan diskon yang besar, pastikan hanya untuk produk-produk yang memang margin profitnya besar. Tentu tidak berlaku untuk semua produk.
Untuk memberikan hadiah yang bombastis, pastikan potensi penjualan akan melampaui target keuntungan tertentu sehingga bisa menutup biaya hadiah itu. Hadiah yang diberikan selayaknya dinegosiasikan dengan pihak penjualnya, misal kepada travel agen untuk hadiah wisata, kepada pihak dealer jika berhadiah mobil. Travel dan dealer tersebut juga akan ikut terpromosikan, sehingga mereka juga harusnya ikut menanggung biaya promosi tersebut, setidaknya dengan mengurangi harga jualnya.
Syarat keempat; tuliskan semua persyaratan dan kondisi-kondisi yang menjelaskan batasan hak dan kewajiban pemenang. walau pemajangannya kecil/minimalis. Tapi hal ini wajib ada. Ingat, promosi ini bernilai legal dan berkonsekuensi hukum.
Yang terakhir; komunikasikan dengan baik kepada semua pihak yang berhubungan dengan proses transaksi dan pelayanan, merekalah yang akan melaksanakan ketentuan tersebut.

                                                                                  Konsulatasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

Share:

7.7.15

Rasa Takut, Peluang Binis dan Tantangannya

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 6 Juli 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebtkan sumbernya

NEGARA super power Amerika belum lama ini ‘tutup’ selama beberapa waktu. Kini Negeri tua dan besar dalam sejarah dunia –Yunani—sedang dalam tahap kebangkrutan yang nyata. Menyusul dibelakangnya, bebepara negara termasuk Indonesia. Sungguh itu menakutkan bagi kita.
Krisi yang menakutkan ini sangat beralasan, karena krisis yang sekarang ini berbeda dibanding krisis pada akhir tahun 90an. Dulu, yang bangkrut adalah pihak swastanya dan kini yang bangkrut adalah negara-nya. Sungguh mengkhawatirkan.

TAKUT.
Dalam pola yang lebih kecil, perilaku khawatir dan takut juga terjadi dalam psikologis pasar saat ini. Lihatlah pasar yang berebut sembako takut tidak lagi ada di pasaran. Lihatlah pasar yang khawatir berlebihan dengan meletusnya Gunung Sinabung sehingga mengancam pasokan sayuran dan harganya melangit.
Lihatlah simpanan mata uang asing terus meningkat walaupun sekarang diwajibkan bertransaksi dalam mata uang rupiah. Lihatlah banyak orang yang tidak cukup memiliki satu asuransi kematiannya. Lihatlah bagaimana calon pembeli sepeda motor galau memilih sebuah merek, ia sudah takut harga jual kembalinya akan jatuh padahal belum pun ia membeli sepeda motor pilihannya.

PELUANG
“Ancaman’ –apapun bentuknya—biasanya sangat penting untuk meningkatkan daya beli pasar. Contohnya adalah ketika anda membuat promosi dengan diskon bagus tetapi masa berlakunya sempit. Lihatlah pasar akan tergopoh-gopoh mengejar anda selama masa promosi berlangsung. Mereka akan lebih memaksa diri untuk segera membeli sebelum masa promosi berlalu. Kini ribuan orang ‘terpaksa’ berbelanja pada tengah malam demi mendapatkan harga bagus itu.
Bursa perdagangan property selalu memanfaatkan tekanan perasaan takut ini. Mereka dengan sengaja menyebutkan bahwa harga akan segera naik pada waktu tertentu dan tiada opsi sama sekali untuk turun.

Tantangan
Ingat, bahwa semua rasa tiada yang abadi. Termasuk didalamnya adalah rasa takut. Ia akan datang menguat, membebani dan nanti akan hilang sendiri. Begitulaah rasa bekerja, ia akan datang dan pergi seiring kemampuan kita mengendalikannya.
Ketika rasa khawatir dan takut tentang krisis ini semakin menjadi, saya selalu teringat obrolan dengan seorang Professor Sejarah dari universitas Diemen di Belanda tahun 2004 lalu. Ketika itu kami sedang dalam obrolan dengan beberapa rekan dari beberapa negara dunia ketiga yang mengkhawatirkan perokonomian dunia. Selama obrolan itu, si Proffesor tiada sedetikpun menunjukkan bahasa khawatir. Hingga seorang rekan dari Peru menanyakan sikap ‘dingin’nya itu.
Singkat cerita, si Proffesor meyakinkan kami bahwa semua krisis yang terjadi hari ini bukanlah krisis yang pertama kali dalam sejarah peradaban bumi. Sudah sejak ribuan tahun lalu, krisis semacam ini sudah terjadi bolak-balik dan dimana-mana.
Kata Proffesor, “Semua ada masa-nya”. “Dan secara alamiah semua penduduk bumi ini terlahir untuk mampu bertahan menghadapi krisis apapun”. Lalu, apakah kita termasuk kelompok yang selamat dari krisis tersebut?

PERNIAGAAN
                Saya teringat bahwa sejarah Nabi Mohammad SAW pernah mencatat krisis nasional yang sangat parah setelah proses hijrah besar-besaran dari Mekah ke Madinah. Sekian banyak pengungsi menganggur, tanpa pekerjaan dan pendapatan yang jelas.
                Pada puncak krisis itu, seorang sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, apakah solusi untuk menghadapi krisis ekonomi tersebut. Ketika itulah Beliau menjelaskan bahwa dari 10 pintu-pintu rezeki, 9 diantaranya adalah perniagaan. Sebuah pengingat yang sebaiknya kita indahkan untuk bisa selamat menghadapi krisis ini.

                                                                              Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

Share:

Blog Archive