it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

25.8.15

Menyewakan yang tidak terbeli

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 24 Agustus 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

            BERKEMAH dan berpetulang di alam liar adalah satu aktifitas yang mengasyikkan. Kita akan kembali menjadi segar bugar setelah sekian lama terikat oleh rutinitas kota yang membosankan. 
           Sayangnya, untuk bisa menikmati keindahan alam liar ini diperlukan peralatan yang menjamin kenyamanan dan standard keselamatan dan keamanan yang tinggi. Peralatan itu pasti tidak bisa dibilang murah dan sialnya lagi, alat-alat itu tidak kita pakai setiap hari. Bahkan bisa jadi hanya sekali dua kali setahun saja kita menikmatinya. Artinya, terasa sayang jika kita menginvestasikan barang-barang mahal dengan pemakaian yang rendah.
            Adalah seorang Syaiful yang cerdas mencermati situasi ini. Setahun belakangan, ia berinisiatif menyewakan alat-alat yang lumayan mahal itu dengan harga yang sangat terjangkau.
            Jika kita membeli tenda, matras, kantung tidur, carier, kompor masak kompak, sepatu gunung, sandal gunung, senter, jaket dll, setidaknya kita harus mengeluarkan kocek antara Rp. 2,5 hingga Rp. 5 juta. Tetapi saiful --yang membuka lapaknya di jalan setia budi no 449, Medan—hanya mengenakan sewa sekitar Rp.300.000,- hingga  Rp.500.000,-  saja untuk sekali perjalanan berkemah.

Murah
            Mengapa murah? Tentu saja karena yang pertama, Syaiful membeli peralatan itu sekaligus dalam jumlah banyak kepada pihak produsennya. Yang kedua, alat-alat untuk petualangan alam liar ini didisain dengan standard kekuatan yang tinggi, artinya dengan jumlah pemakaian yang wajar, alat-alat tersebut akan tetap mampu bertahan lama. (justru jika tidak dipakai, peralatan tersebut mudah rusak, terutama yang terbuat dari kulit dan kain).
            Dengan perawatan yang baik, peralatan tersebut akan bertahan lebih lama lagi. Pengalaman syaiful sebagai pencinta alam sejak jaman mahasiswa memberikan nilai tambah dalam perawatannya.
            Bagi konsumen, harga terjangkau itu jelas sangat memudahkan, apalagi untuk para pemula yang masih mencari format peralatan pribadi apa yang cocok untuk dirinya.

Mudah
         Ini yang menjadi daya tarik berikutnya. Ketika pulang dari berkemah, naik gunung atau berpetualang di alam liar, tentu kita merasa capek dan malas untuk mencuci dan membersihkan semua peralatan yang kita pakai. Syaiful mengambil alih tugas itu. Kita hanya perlu mengembalikan kepadanya dan selanjutnya saiful dan timnya –sohib camp-- akan mengembalikan kebersihan alat-alat yang kita pakai.
            Kemudahan lain adalah bahwa makin hari, jenis alat yang ia sewakan semakin beragam dan lengkap. Artinya, jika kita ingin berkemah, cukup lakukan pemesanan dan singgah sekejap untuk mengambil semua peralatan yang diperlukan lalu berangkat.

Konsep serupa
            Lihatlah betapa beberapa jenis hobby memerlukan peralatan yang tidak murah. Dari mulai olah raga air, olah raga bersepeda, olahraga bermotor hingga banyak hal lain yang berkarakter sama dengan berpetualang di alam liar. Perlatanannya mahal dan hanya di pakai sesekali.
            Pengalaman Syaiful sangat aplikatif untuk bidang-bidang yang lain. Sebutlah sepeda motor besar bermerek legendaris dari Amerika. Jika anda membeli sepeda motor tersebut, pasti harganya mahal dan anda hanya sesekali saja memakainya. Sementara itu, banyak orang diluar sana yang sangat ingin mengendarai sepeda motor tersebut.
            Alat selam yang lumayan mahal juga tidak dipakaui setiap hari. Mobil offroad yang mahal juga tidak terpakai setiap hari.
  Konsep menyewakan yang tak terbeli ini menjadi solusi dan sumber bisnis yang menarik. Kini pasarnya terbuka lebar dan menjanjikan ditambah jumlah pesaing yang masih sangat terbatas.
Berani mencoba?

                                                            Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com


Share:

11.8.15

BANYAK-SEDAP-MURAH


Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 10 Agustus 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

                 MINGGU lalu saya tulisakan teknik menjaring pasar yang pada dasarnya memiliki perilaku lapar mata. Sebuah rasa yang dimotori oleh indra pengelihatan.
             Saya menjanjikan untuk memberikan rahasia bagaimana cara membuat paket buka puasa dengan harga murah dan jumlah menu yang banyak.

HEMAT BIAYA
            Yang pertama; Orang Indonesia suka makan yang mengandung karbohidrat. Makanan seperti nasi putih, nasi goreng, mie goreng, bihun, kue tiaw, bakwan dan roti adalah makanan yang mengandung karbohidrat yang secara instan akan memberikan efek kenyang.
              Artinya; menu-menu lain hanya perlu dibuat dalam jumlah porsi yang lebih sedikit. Pasti lebih hemat biaya.
            Yang kedua; sajikan pilihan berbahan baku sejenis, bedakan saja cara memasaknya. Sebutlah nasi putih dan nasi goreng, sejatinya berbahan baku sama yaitu nasi. Jadi, pilihan akan terlihat banyak tetapi biayanya rendah. Lihatlah, lalap, pecal, gado-gado dan lotek yang berbahan baku sama. Ketika anda kombinasikan dengan lontong, anda punya lontong pecal. Ketika anda gabungkan dengan sate, anda punya pecal sate, lontong sate. Bayangkan anda tambahkan opor ayam. Anda punya lontong opor. Begitu seterusnya.
            Untuk perkara sederhana seperti kerupuk, jangan sajikan hanya satu jenis saja. Bukankah kita punya ratusan jenis kerupuk? Anda hanya perlu menggorengnya saja. Ada kerupuk merah putih, kerupuk ubi dan kerupuk apapun termasuk peyek kacang dll.
            Sambal juga bisa bermacam-macam, bahan bakunya sama, Cuma cabe! Bedakan cara masaknya saja, anda akan punya sambal terasi, sambal merah, sambal hijau dan berbagai sambal lainnya.
            Yang ketiga; jika ada 100 orang pemesan, bukan berarti semua pilihan makanan dibuat dalam jumlah 100, tetapi cukup masing-masing hanya setengah atau sepertiganya saja. Karena dengan banyak pilihan, mungkin saja konsumen akan mengambil sedikit-sedikit. Sebutlah untuk hidangan pembuka berupa sop. Anda bisa menyajikan bersamaan antara sop dan soto. Ingat bahwa bahan baku terbesar dari sop hanyalah air saja.

LEZAT.
            Untuk menjadikan lapar mata dan perasaan bebas memilih semakin menjadi. Teknik pajangan menjadi penting. Sebutlah anda membuat soto, sajikan dengan isi yang terpisah; kuah sendiri, potongan daging terpisah, bihun, sayuran dan bumbunya seperti kecap dan sambal secara terpisah.
            Sajikan kumpulan makanan tersebut dalam susunan meja yang panjang agar terkesan sangat banyak. Kombinasikan dengan wadah-wadahnya dan ganjal wadah dengan formasi tinggi-rendah, seperti gunung dan lembah. Gunakan kain penutup meja yang cerah dan berwarna dan sisipkan beberapa hiasan meja seperti patung dan bunga. Jangan lupa tata cahaya yang menampilkan makanan anda ini terlihat banyak, mewah dan memicu rasa lezat.

RAHASIA LAIN
            Yang penting, pastikan hanya ada 2 atau 3 menu saja yang harus dimasak pada menit-menit terakhir sebelum penyajian, pastikan yang lain sudah dipersiapkan sejak pagi atau beberapa hari sebelumnya sehingga tidak merepotkan. Sajian seperti kerupuk bahkan sudah bisa anda siapkan seminggu sebelumnya.
  Yang tidak banyak disadari oleh para juru masak adalah bahwa dengan banyaknya pilihan tersebut, anda tidak perlu khawatir jika salah satu makanan yang disajikan habis, karena pilihan lainnya masih banyak. Jadi anda tidak perlu tergopoh-gopoh memasaknya mendadak untuk menambah yang habis.
            Menempatkan makanan dalam meja-meja yang terpisah bisa dilakukan jika ruangan tidak memungkinkan. Penempatan meja yang berpencar-pencar juga membuat pelanggan tidak akan makan banyak, karena mereka malas atau enggan untuk berulang kali berdiri.

                                                                        Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

4.8.15

LAPAR MATA

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 3 Agustus 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbenya.

          RAMADHAN tahun ini sudah usai. Ada yang jelas tertinggal kenangan dari ibadah puasa ini. Sebuah fenomana dimana ketika seseorang berpuasa, ada rasa lapar dan haus yang sangat menggoda. Bukan karena rasa lapar dan haus yang sesungguhnya tetapi karena rasa yang muncul sebagai akibat karena kita melihat makanan dan minuman.
          Orang awam menyabutnya dengan istilah “lapar mata”. Satu rasa lapar yang muncul karena mata kita melihat. Rasanya kita ingin memakan semua yang kita lihat. Semua makanan yang terlihat akan terasa sangat lezat, lalu karenanya kita ingin membeli semua makanan tersebut untuk berbuka nantinya.
      Ketika kita berencana untuk ‘hanya’ membeli kurma untuk berbuka puasa, pada akhirnya kita pulang ke rumah dengan mambawa berbagai jenis makanan pembuka puasa seperti kolak, bubur, cendol, bakwan, tahu, roti dan banyak lagi yang lainnya.

Efek Lapar Mata.
        Realita tersebut diatas adalah sebuah tanda. Sebuah petunjuk untuk kita yang berfokus kepada pemasaran. Jelas bahwa perilaku lapar mata ini adalah perilaku mayoritas konsumen kita. saya sebutkan mayoritas, karena sebagian kecil dari mereka sanggup mengendalikan dirinya. Artinya, lapar mata adalah salah satu pintu untuk mengundang hasrat berbelanja bagi konsumen. Lagi dan lagi.
            Efek lapar mata bagi konsumen yang pertama adalah memberikan rasa takjub, rasa tertarik, rasa lapar dan bahkan rasa lezat.
          Tentu saja, timbulnya rasa tersebut bermula dari stimulasi indra pengelihatan—mata--. Artinya; semua tampilan produk secara tunggal maupun pemajangannya secara bersama-sama/berkelompok adalah kunci dasarnya. Bermainlah dengan bentuk, warna, pencahayaan dan material. Saya sudah menuliskan di kolom ini tentang efek warna dalam pemasaran (silahkan buka kembali www.cahyopramono.com ).
           
Banyak, Lezat dan Murah.
            Siapa yang tidak tertarik untuk mendapatkan produk yang banyak dan lezat tetapi murah? Kali ini akan saya contohkan tata kelola penjualan produk melalui konsep tampilan yang menghasilkan ketiga perasaan itu; banyak, lezat dan murah.
           Saya mencontohkan paket berbuka puasa berupa makanan buffet (prasmanan) dengan harga Rp.75.000,- dengan pilihan menu sebanyak 75 pilihan. Mengapa disebut murah? Karena harga rata-rata pilihan menu tersebut jika dibeli dengan terpisah (ala carte) harga masing-masingnya bisa mencapai Rp. 50.000,- -- coba bayangkan Rp. 50.000,- x 75 pilihan = Rp. 3.750.000,- mahal bukan?—
            Ini rahasianya. Bagi pembeli, hanya efek lapar saja yang dituju. Konsumen akan langsung merasakan kemewahan dan rasa murah yang sangat hanya ketika mereka melihat dafar menu yang panjang berderet yang tidak akan sanggup mereka baca dalam waktu 1 menit.
Selanjutnya, konsumen akan terpesona dengan tampilan sajian yang tersusun dengan indah, penuh warna, pilihan yang benar-benar banyak dan dibagi dalam beberapa meja yang panjang dan konsumen akan merasakan kebebasan untuk memilih sesukanya dan dalam hatinya,  mereka pikir akan sanggup menghabiskan semuanya.
Pihak penjual tidak perlu khawatir, karena, tidak mungkin seseorang akan sanggup memakan kesemua menu pilihan tersebut. Ketika anda sudah makan satu mangkok sop, lalu setengah porsi nasi dan sayur plus satu lauk, pasti anda sudah merasakan kenyang yang sesungguhnya. Apalagi ketika anda memulainnya dengan 3 butir kurma, minuman yang manis seperti cendol. Paling anda masih sanggup sejenak untuk menambah sedikit buah dan sebuah kue tambahan.
           Rahasia harga murah dan tampilan lainnya akan saya tulisakan dalam kolom minggu berikutnya.
                                                                    Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

Share:

Blog Archive