it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

28.10.15

SAYA PERNAH TUMPUR 5 KALI

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 26 Oktober 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya


                MENGAWALI bisnis pribadi, saya sudah 4 kali gagal dan bangkrut. Benar-benar palajaran yang tidak saya dapat di bangku kuliah. Tetapi itu sangat penting dan membawa kepada kesuksesan bisnis yang kini saya geluti.
             Minggu lalu saya sudah menuliskan beberapa penyebab ke gagalan bisnis saya. Diantaranya adalah kesalahan memilih partner, kesalahan memimpin pegawai dan kesalahan kaderisasi.

SALAH PATUNGAN
                Saya mengalami kesalahan membuat bisnis dengan patungan. Kesalahannya adalah ketika patungan tersebut tidak seimbang, dimana rekan saya menyetorkan modal dengan cara mencicil dimana kebutuhan modal sangat urgen sehingga proses produksi tersendat.
                Hambatan proses produksi berefek kepada gagal janji kepada pasar. Lalu penjualan tergangga dan seterusnya menghambat proses lainnya. Dan tidak sampai 2 tahun usaha patungan kami kandas.
                 Dalam hal ini, uang memancing uang, artinya kita harus sadar modal.

SALAH MEMILIH LOKASI
                Kesalahan ini terjadi karena alasan modal, sehingga kami membuat usaha kuliner yang lokasinya tidak cukup strategis. Awalnya kami pikir asal manakan enak, pasti orang akan datang. Ditambah manajemen promosi yang ala kadarnya, maka grafik penjualan menurun dan akhirnya usaha itu tiarap.
               Pada salah satu bisnis saya yang lain, saya terpaksa harus menutup salah satu toko kami, karena kami salah menilai pasar yang ada di daerah tersebut. Jumlah penduduk yang banyak bukan jaminan pasar yang pas untuk produk kita. Daya beli dan budaya belanja serta karakter produk kita harus dipertimbangkan ketika memilih lokasi. Untuk kasus ini, setahun saja kami buka toko di daerah tersebut.

SALAH KOMITMEN
                Yang saya maksud bukanlah komitment kepad pihak lain. Tetapi komitment kepada diri sendiri. Ketika kita lengah, ketika kita merasa capek, ketika kita merasa bosan dan ketika kita tidak sabar, disanalah mulai tumbuh penyakit berbahaya yang akan segera merobohkan bisnis kita.
               Bisnis bukan cerita uang, tetapi cerita komitmen dan dedikasi. Khususnya pada saat memulai sebuah bisnis.
                Komitmen kita sering tergoda oleh pikiran lain ketika kita berhadapan dengan masalah, mulailah kita berpikir bahwa kok bisa orang lain sukses. Lalu berprasangka bidang usaha lain mungkin akan lebih bagus dan lebih menguntungkan. Dan kita merasa bahwa jika kita tinggalkan bisnis yang ada saat ini, mungkin tingkat kerugian akan bisa dibatasi.
                Saya pernah mengalami kesalahan ini, saya lepaskan burung di tangan dan mengejar burung yang terbang di langit. Semuanya lepas dan tidak bisa di tangkap. Akhirnya gagal terkapar.

SALAH BERINVESTASI
                Dengan kegagalan yang berkali-kali,saya mencoba untuk hanya berinfestasi kepada orang lain. Lebih dari 5 kali saya juga pernah mengalami kegagalan investasi seperti ini.
                 Kesalahan saya adalah bahwa saya menginvestasikannya kepada para pemula. Mereka yang dengan semangat menggebu ingin segera mencapai suksesnya. Hitungan bisnisnya optimis, tapi karakter kewirausahaannya masih belia.
                Investasi saya yang lain gagal karena tidak tahu bahwa pelaksana bisnis itu ternyata terbelit hutang di bisnisnya yang lain. Tidak sampai 4 tahun, bisnis tersebut bangkrut.

BIDANG USAHA TIDAK SALAH
                 Hingga kini, saya meyakini bahwa tidak ada salah dengan pemilihan bidang usaha. Usaha apapun akan bagus. Bahkan untuk bidang usaha yang sedikit sekalipun pemainnya. Kesalahan terbesar yang saya temui adalah faktor etos kita sebagai pengusahanya.
                Pada akhirnya saya meyakini bahwa bisnis adalah perkara karakter. Hanya karakter pemenang yang akan bisa bertahan dan sukses.


Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

20.10.15

SAYA PERNAH TUMPUR BERKALI-KALI

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 19 Oktober 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

                  SAYA ingin kaya raya. Saya yakin anda juga begitu. Iya kan?
                Sayangnya tidak ada sekolah formal di Negeri ini yang memberikan pelajaran bagaimana caranya menjadi kaya. Akhirnya saya bekerja, menjadi pegawai, dan disitu jelas menjauhkan impian saya. 
Keringat pegawai harus dibagi kepihak-pihak lain. Yang pertama, Boss pemilik usaha dimana ia bekerja. Sudah pasti Boss akan mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar dari gaji pegawainya. Yang kedua, hasil keringat pekerja harus dibagi kepada pemerintah. Siapa di negeri ini yang bisa mengelak dari pajak? Yang ketiga; dibagikan kepada Bank. Tanpa kredit ke bank, sangat sulit bagi pegawai untuk bisa memiliki kendaraan, rumah dan sekolah anak-anaknya.
Seperti disebut Rasullullah, “Dari 10 pintu rejeki, 9 diantaranya adalah dari perniagaan” lalu saya membuat usaha bisnis dan mempekerjakan orang lain. Sebuah impian yang mulia dan menyenangkan. Berkali-kali saya mendirikan bisnis dan berkali-kail tumpur. Saya relakan itu sebagai pelajaran menuju sukses yang saya yakini.
Hari ini saya bagikan kepada anda, siapa tahu juga menjadi pembelajaran positif bagi anda.

SALAH MEMILIH PARTNER
                Berkongsi dalam bisnis adalah hal baik dan umum terjadi. Tetapi perkongsian yang saya pernah alami berjalan tidak seperti yang kami harapkan. Dalam waktu 1 tahun, bisnis kami tumbang dan musnah.
                Setelah saya pelajari, ternyata masalahnya adalah karena salah memilih partner.  Usaha patungan awal saya terdiri dari kawan-kawan nongkrong yang sangat cocok dengan saya. Kami satu tipe. Kami pandai berencana tapi tak satupun dari kami yang bisa mengerjakannya.
                Perkongsian saya berikutnya juga gagal. Ternyata karena potensi kami yang tidak seimbang dan tidak ada yang fokus mengerjakan bisnis kami. Bisnis terbengkalai dan habislah modal.
                Saran saya pada perkongsian ini; cari partner yang tidak satu tipe –karakternya-- dengan kita. cari partner yang juga memahami bisnis. Cari partner dengan porsi seimbang, sehingga mereka juga ikut menjaga bisnis kita. Tidak semua kawan yang enak diajak bicara, akan otomatis cocok untuk menjadi partner bisnis.

SALAH MEMIMPIN PEGAWAI
                Yang benar pada awalnya sumber kesalahan sebenarnya bukan dari si pegawai, tetapi dari si pemilik usaha. Lalu kesalahan memilih pegawai bisa kita jadikan alasan untuk memperingan rasa bersalah kita.
                Kegagalan saya adalah ketika mempercayakan penjualan kepada sebuah tim salesman dengan seorang manager tapi saya tidak mengawasinya dengan benar. Jadilah mereka penipu dan maling. Ketika pada akhirnya bisa ketahuan, mereka lari entah kemana. Barang dagangan beredar luas tanpa bisa ditarik, uang bertebar dan tidak tahu kemana ditagih. Lalu tak sampai 2 tahun bangkrut.
                Saran saya; silahkan pilih pegawai apapun tapi jangan pernah membiarkan mereka bekerja tanpa pengawasan. Intinya, untuk usaha kelas kecil bahkan menengah. Si pemilik harus ikut sejak awal. Penuh konsentrasi dan benar-benar mengawasinya.

SALAH KADERISASI
                Salah satu bisnis saya yang mandek, adalah karena hampir semuanya saya kerjakan sendiri. Saya tidak mendelegasikan kepada bawahan. Dan saya kesulitan mendidik kader yang bisa menggantikan saya. Karena bidang bisnis tersebut adalah memang menuntut kecakapan khusus yang sulit untuk mendapatkannya.
                Semestinya saya mempersiapkan pengganti saya agar bisnis saya bisa berjalan walapun tanpa ada saya. Saya terjebak dalam rutinitas dan produktifitas menurun hingga ketika saya bosan, bisnis pun berhenti sejenak.
                Kesalahan saya yang lain akan saya tulis dikolom berikutnya.

                                                                                      Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

15.10.15

PEDANGANG KECIL DISIKSA, PEDAGANG BESAR DIPUJA

 Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 12 Oktober 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya
MAK JANES
                MAK JANES sudah bangun dipertiga sisa malam. Bergegas dia ke pasar tempat ia jualan belasan tahun belakangan. Ketika semua orang sedang lelap dalam tidur, ia sudah harus segera sampai di hiruk- pikuk pedagang yang berebut sayuran dari Berastagi untuk dijadikan barang dagangan. Telatlah ia satu detik, payahlah ia bisa mendapatkan rejeki hari itu.
                Segera sesudah berebut barang dagangan, ia segera memperebutkan lapak tempat ia jualan. Ini perkara hidup dan mati. Hanya pemberani yang bisa memenangkan perebutan itu. Sesudahnya ia kemas barang dagangannya dalam ikatan-ikatan yang lebih kecil, sehingga ia bisa jual dengan harga yang lebih terjangkau.
                Begitu jamaah sahalat adzan subuh bergerak keluar masjid, mulailah ia sibuk memanggil calon pembeli untuk membeli dagangannya. Satu persatu pelanggan datang dan pergi. Jumlah yang datang tidak otomatis sesuai dengan jumlah yang membeli. Apalagi jika yang datang adalah kaum ibu sepertinya.
                Modal seikat kangkung adalah Rp. 2.300,-  ia tawarkan dengan harga Rp.3.000,- . Jangan anda bayangkan ia akan mendapat untung Rp.700,- karena yang terjadi adalah para pembeli itu akan menawarnya mati-matian. Mereka mulai menawar dengan harga Rp.1.500,- jauh dibawah harga modalnya. Setelah lelah bernegosiasi, terlepaslah seikat kangkung dengan harga Rp. 2.500,-. Artinya ia hanya untung Rp.200,- saja.
                Tak cukup menawar dengan gila-gilaan, para pembeli itu juga menambah permintaan diskon gila itu dengan berbagai umpatan dan ejekan. Ada yang bilang produknya sudah layu. Ada yang bilang produknya jelek. Ada yang bilang di tempat lain lebih murah. Ada yang marah menuduh bahwa Mak Janes menjual dengan amat mahal dan mencari untung dengan membabi buta.
                Di penghujung pagi, ia harus segera bersiap-siap membayar retribusi kebersihan, retribusi kemanaan, dan berbagai pungutan yang bahkan tak jelas entah pungutan apa saja.

BANG ALEX
                Setiap pagi Bang Alex sempat sarapan bersama anak dan istrinya. melepas anak sekolah diantar sopir. Lalu membaca Koran atau berolah-raga pagi sebelum berangkat ke toko-nya di sebuah Mall paling mentereng di tengah kota Medan.
                Jam 10.00 ia memulai membuka tokonya. Ia mulai dengan melilhat karyawannya bekerja membersihkan toko dan barang dagangannya. Lalu ia mulai telepon para supplier untuk mengantar barang dagangan pesanannya. Tak perlu ia berjuang secara fisik sedasyat Mak Janes.
                Semua dagangnya di patok dengan harga yang lumayan mahal dengan jumlah nol yang lebih dari 6 digit. Semua produk dagangnya di beri label harga dan tidak ada mengenal tawar-menawar. Kecuali ketika ia sedang sepi pembeli, barulah ia mengeluarkan diskon dengan alasan perayaan hari raya tertentu.
                Para pelanggan yang datang berdandan rapih dan santun. Mereka tidak memaksa dan mengejek produknya. Pilihannya cuma satu, tertarik dan cocok, lalu bayar. Mereka Paham ketika melihat label harga dan tidak akan menawar.

SIKAP
                Konon, para pembeli yang datang ke toko Bang Alex, ada juga yang menjadi pelanggan Mak Janes. Tetapi perilaku menekan Mak Janes tidak mereka lakukan di toko Bang Alex. Ada perasaan bangga ketika mereka sanggup menawar dengan harga miring ketika berbelanja ke pasar tradisional seperti ke Mak Janes.
                Kisah diatas bisa dijadikan pertimbangan, ketika anda ingin jadi pedagang. Mau yang besar atau yang kecil. Semuanya ada konsekuensinya.

                                                                  Konsulatasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

9.10.15

TAK MUDAH UNTUK LUPA

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 5 Oktober 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

KALANGAN LSM penggiat lingkungan di Amerika direpotkan oleh sekelompok masyarakat yang membenci keberadaan Serigala di daerah pedalaman Washington dan Idaho. Mereka menolak program pengembalian sekelompok Srigala ke areal tersebut setelah 100 tahun hewan ini punah dari dua daerah ini. Kelompok penentang ini sangat tidak setuju adanya Serigala diantara mereka. menurut para pembenci binatang ini, Srigala adalah binatang yang menjijikkan dan berbahaya, sehingga layak untuk dimusnahkan. Hingga akhinya presiden Barack Obama mengijinkan perburuan Srigala yang sebenarnya termasuk langka di daerah tersebut.
Menurut ahli lingkungan, keberadaan Srigala sebagai predator sangat penting dalam upaya alam mengendalikan populasi binatang yang bisa berkembang masal dengan cepat, seperti kijang, menjangan, kelinci, burung dan ikan salem.
Menurut mereka tidak perlu sangat dikhawatirkan, karena binatang yang bisa dimangsa bukanlah binatang yang sehat dan kuat, tetapi yang cenderung lemah dan tua. Artinya, keberadaan predator justru akan memperkuat kelompok binatang yang jadi mangsanya.

TANTANGAN RE-LAUNCHING
                Kisah diatas adalah salah satu bukti bahwa pola pikir manusia relatif sama dimanapun mereka berada. Bahkan di negara yang sudah dianggap sebagai negara maju. Mereka tidak mudah lupa untuk hal yang menurut mereka buruk dan tidak mudah menerima kembali sesuatu yang dahulunya pernah berakibat buruk bagi mereka.
               Saya pikir pasar dan pelanggan kita juga berpikir yang sama. Artinya, ketika sebuah produk pernah gagal karena dianggap tidak baik oleh pasar. Maka kemunculannya lagi juga tidak akan mudah di terima oleh pasar.
                Tentu saja saran yang bijaksana untuk anda yang ingin mengembalikan sebuah produk kepada masyarakat, pertimbangkan nama dan kesan pasar pada waktu dahulu. Jika negative, saya rasa lebih baik pemunculannya diganti dengan merek atau nama lain yang sama sekali tidak berhubungan dengan merek yang sudah rusak tersebut.

LOKASI BEKAS USAHA GAGAL
               Sama juga dengan pemilihan lokasi usaha dimana dahulunya pernah ada usaha yang pernah gagal. Saya sendiri belum menemukan solusi pendekatan pemikiran secara manajemen modern; mengapa sering kali usaha/binis akan menghadapi kegagalan ketika didirikan pada lokasi yang dahulunya adalah usaha yang pernah gagal.
              Saya mengamati beberapa lokasi yang sangat tersebut. Dalam kacamata bisnis manajemen modern, sebenarnya lokasi tersebut sangat strategis, dekat dengan pasar, mudah diakses, mencolok dan bergengsi. Belum lagi upaya pihak manajemen usaha baru yang melakukan strategi dan terobosan serius. Mulai dari renovasi menyeluruh, interior yang baru dan langkah promosi yang gencar. Tapi tetap saja usaha mereka tidak sukses.
                   Saya sementara ini berasumsi bahwa kegagalan itu terjadi karena faktor persepsi pasar terhadap lokasi tersebut. Ketika dahulu pernah terkesan jelek, maka tidak mudah pasar akan melupakannya. Walaupun berganti produk dan berganti kemasan, tetapi nuansa persepsi akan lokasi itu terlanjur negative dan sulit dilupakan oleh pasar/masyarakat.
               Jika ada lokasi yang bisa berubah dan sukses, biasanya lokasi yang berubah 100%, digusur habis dan didirikan bagunan baru yang lebih besar serta merubah persepsi masyarakat secara menyeluruh.
                 Ingatan masyarakat dan keenggannan pasar untuk melupakan masa lalu jelas sangat sulit terjadi. Mungkin bagi anda yang tinggal di Kota Medan, akan menyebutkan lokasi simpangan yang hingga kini masih terpelihara dalam pikiran masyarakat dan tidak juga berubah seiring perubahan jaman. Ada simpang Limun (yang pabrik minumnya entah dimana) dan simpang Majestik/Golden (yang sudah tidak ada lagi bagunannya).

                                                             Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Blog Archive