it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

25.11.15

2 TAHUN USIA KRITIS


Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 23 November 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.
             Ketika sebuah bisnis tercipta dan dilahirkan, ada posisi awal dalam proses pertumbuhannya yang dianggap sebagai masa kritis. Artinya, jika sebuah bisnis belum melewati masa tersebut, maka bisa dianggap bahwa bisnisnya belum melewati masa uji dasar. Masa itu adalah 2 tahun pertama semenjak bisnis dimulai.
                Sebuah bisnis yang belum terbukti mampu melewati masa kritis 2 tahun, bisa saja terjadi karena faktor kelihaian pengusahanya atau mungkin besar kemungkinan karena faktor “beginner luck” (keberuntungan si pemula). Dalam kaedah manajemen bisnis modern, kata keberutungan adalah hal baik yang tidak bisa dipakai untuk dijadikan standard penilaian.
               2 tahun pertama banyak digunakan oleh para penilai untuk memastikan kondisi sebuah bisnis. Pihak perbankan, lembaga studi, lembaga bantuan dan banyak lagi yang kadang mempersyaratkan sebuah usaha bisnis harus sudah melewati masa 2 tahun tersebut untuk bisa terjalinnya kerjasama dengan mereka.

MENGAPA 2 TAHUN?
             Tentu saja, jika sebuah usaha bisnis lebih dari 2 tahun, maka penilaiannya akan lebih bagus dan lebih tegas. Tetapi setidaknya, 2 tahun adalah masa dasar wajib yang harus dilewati seorang pebisnis dan usaha bisnisnya untuk bisa “dianggap”. Inilah alasannya;
             Pertama, setidaknya sudah melewati 2 kali masa tutup buku. Sudah 2 kali masa perputaran uang panjang. Itu berarti sudah 24 kali putaran bulanan dan 104 putaran mingguan. Sudah melewati 2 tahun proses pengeloaan uang. Mulai dari pembelian, pembayaran, penerimaan dan pemanfaatan uang bisnis. Dianggap sudah mulai menemukan pola yang cocok untuk manajemen keuangannya.
           Untuk pemula yang kurang pengalaman, biasanya akan kandas di tahun pertama. Atau terseok-seok pada tahun pertama dan akan jatuh terkapar pada tahun kedua. Itulah mengapa banyak pemodal yang lebih senang menanamkan modal kepada pengusaha bukan pemula.
Kedua; Sudah melewati 2 kali rentetan musim. Setiap hari memberikan fenomena bisnis yang berbeda-beda. Hari senin dan sabtu memberikan indikator bisnis yang berbeda. untuk usaha Resort, Hiburan dan Kuliner, akhir pekan adalah hari bisnis.
Putaran bisnis pada hari sabtu pada awal bulan akan berbeda dengan hari sabtu pada menjelang akhir bulan. Karena menjelang akhir bulan, daya beli pasar berkurang, karena pasar terbesar adalah pegawai dengan gaji bulanan.
Musim bulanan juga berbeda-beda. Januari hingga februari adalah masa bisnis umumnya melemah, karena semua orang baru saja terobsesi dengan liburan akhir tahun lalu masih malas memulai tahun yang baru. Untuk bisnis tertentu, akan menemui masalah pada bulan-bulan kenaikan kelas dan pendaftaran murid baru, karena daya beli pasar berkurang.
Ketiga; 2 tahun pertama adalah masa fondasi untuk penentuan gaya operasional. Pada masa ini aturan dan ketentuan operasional sudah mulai berbentuk dan bisa dijalankan dengan konsisten oleh para pekerja dan pihak manajemen. Pada masa 2 tahun awal ini, akan terjadi perputaran pegawai yang cukup tinggi. Pegawai datang dan pergi hingga akan tertinggal pegawai-pegawai yang cocok. Dan setelah 2 tahun, pegawai yang ada akan dianggap cukup handal dan cocok dengan karakter operasional usaha bisnis tersebut.
               Yang terakhir, bagi para pengusaha; 2 tahun awal adalah target pertama yang harus anda perjuangkan. Sesudahnya karakter usaha bisnis anda sedang terbentuk dan anda tinggal mempertahankan lalu mengembangkannya.
             Tentu anda akan menghadapi permasalahan lain sesudahnya, tetapi setidaknya anda sudah belajar dari 2 tahun awal sebelumnya.

                                                                                   Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

20.11.15

JATUH KE ATAS KASUR (Tips Pindah Quadrant)

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 16 November 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.

                JATUH ke tempat tanpa alas yang empuk pasti sangat menyakitkan. Bukan sekadar memar, tapi besar kemungkinan luka dan patah tulang. Apalagi jatuhnya dari posisi yang cukup tinggi.
                Tulisan ini saya dedikasikan kepada beberapa pengirim email yang begitu nekat tanpa persiapan dan ancang-ancang langsung lompat pindah quadrant (profesi - peran ekonomi) dan merasakan kejatuhan yang menyakitkan.
                Ada yang menuliskan kepada saya bahwa kini ia sudah keluar dari pekerjaannya. Lalu kini ia menganggur tanpa penghasilan. Tanpa persiapan Ia tinggalkan bergitu saja pekerjaan yang menjadi sumber keuangannya. Sepertinya ia begitu tidak nyaman menjadi pegawai dan dengan emosional ia tinggalkan begitu saja.
                Kini, setelah menganggur ia berfikir untuk memulai sebuah usaha. Ia tidak punya modal keuangan, tidak punya modal pengalaman, tidak punya modal dasar untuk berbisnis. Saya bilang ini  langkah yang sangat nekad.

NEKAT
                Benar bahwa berganti peran memerlukan keberanian. Tetapi berani jelas bukan sama sekali tak kenal takut. Pemberani yang bijak adalah orang yang memiliki rasa takut tetapi tidak terjebak dalam ketakutannya. Bukan nekat.
                Benar bahwa menjadi pekerja/pegawai nampaknya tidak seenak menjadi toke/boss pemilik sebuah bisnis. Tetapi rasa enak yang dimiliki oleh seorang pengusaha, juga diimbangi dengan ketidak-enakkan pada sisi yang lain. Untuk bisa memahani posisi ini, diperlukan pemikiran logis bukan perasaan yang emosional.
                Bagi anda yang sudah jengah dengan pekerjaan anda dan ingin segera menjadi pengusaha, cobalah berpikir berani, bukan sekadar nekat. Cobalah dengan pikiran jernih persiapkan semua hal untuk memulai hal baru. Bertahanlah sejenak dengan ketidaknyamanan sebagai orang bayaran.

JATUH KE ATAS KASUR
                Pastikan anda sudah mempersiapkan lokasi dan alas jatuhnya anda dari lompatan yang akan anda lakukan. Sebuah lompatan benar akan memberikan perubahan, tetapi lompatan yang baik akan menghasilkan kebaikan yang lain.
                Melompat tidak hanya membutuhkan ancang-ancang dengan mundur beberapa langkah agar jarak lompatan lebih jauh dan optimal.  Lompatan yang indah akan terasa tidak menyakitkan ketika mendarat pada bantalan yang empuk.
                Ada yang bertanya kepada saya, “Pak, saya sekarang sudah keluar dari pekerjaan saya, dan sekarang saya sedang berfikir untuk berbisnis, saya ingin membuka toko perlengkapan kantor dan sekaligus jasa fotokopi, tapi saya belum punya modal”.
                Ada juga yang sudah menganggur lalu ingin membuat bisnis jasa layanan laundry, tapi tidak tahu sama sekali tentang laundry. Ada yang ingin berbisnis design grafis, tetapi komputernya belum punya ditambah keterbatasan kemampuan mengoperasikan program design.
                Coba bayangkan, apakah tempat mendarat seperti ini yang anda kehendaki?
                Jadi, bukan saja mundur sekangkah, tetapi anda harus siap sedia mau mendarat di bantalan seperti apa.

PERSIAPAN
                Simpanlah energi untuk bersenang-senang menjadi pengusaha yang mandiri. Selama anda masih jadi pekerja, persiapkan diri untuk bisa melompat dan mendarat di bantalan yang anda kehendaki.
              Persiapan mengenal bisnis. Anda bisa belajar dari perusahaan tempat anda bekerja. Bagaimana perusahaan itu bisa menghasilkan laba, bagaimana mengelolanya dan bagaimana memasarkannya.
                 Pelajari bentuk bisnis yang akan anda kerjakan. Carilah referensi dan mentor. Setidaknya anda perhatikan bagaimana bentuk bisnis yang anda kehendaki.
               Persiapan modal. Sangat baik jika anda memulai usaha dengan memiliki modal keuangan. Tentu akan lebih mudah, daripada sekadar modal dengkul.
              Yang utama, hadirkan perhatian anda yang tinggi kepada bentuk bisnis yang anda kehendaki, sehingga anda akan menguasainya jauh hari sebelum anda menjalankannya.


                                                                       Konsulatasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

6.11.15

Gunung, Sawah, Jalan dan Matahari (Bukan untuk menjawab tantangan bisnis hari ini)

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 2 November 2015, dihalaman 7. Diperolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

                BERKALI-KALI saya mencoba meminta peserta latih saya dalam banyak Pelatihan yang saya bawakan untuk menggambar dengan waktu yang singkat. Hasilnya, lebih dari 80 % menggambar materi yang sama. Bentuknya adalah sekitar 2 buah gunung, lalu jalan di tengah yang berujung di gunung tersebut, petak-petak sawah di kanan kiri jalan, matahari di sudut gunung dan beberapa angka 3 tengkurap sebagai gambar burung yang sedang terbang di atas gunung.
                Peserta latih saya itu bukanlah anak usia TK atau SD, mereka sudah berumur, bahkan ada diantaranya yang sudah lama dapat title PHD dan Professor. Pertanyaannya adalah mengapa orang tua itu menggambar sesuatu yang sudah sangat lama kejadiannya?
Mengapa mereka menggambar sesuatu persis seperti mereka masih TK atau SD? Padahal mereka dalam proses hidupnya mengenal banyak objek yang mudah untuk digambarkan? Tinjauan secara psikologis, gambar spontan dan cepat itu ternyata adalah potret yang tersimpan di alam bawah sadar kebanyakan orang Indonesia.
Fakta itulah yang sebenarnya menjawab pertanyaan, mengapa manusia tidak mudah berubah. Bagaimana kemampuan masa lalu dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah hari ini apalagi tantangan masa depan.

BERUBAH
Tulisan ini adalah buah obrolan virtual saya dengan bang Dicky Zulkarnain yang sudah jatuh bangun menghadapi perubahan.
Ketika Raksasa Industri Telepon Selular Nokia resmi mundur dari panggung bersejarah, CEO Nokia Jorma Ollila harus melakukan konferensi pers. Saat itu ia harus  mengumumkan persetujuan akuisisi Microsoft atas Nokia. Kalimat terakhirnya; "Kami tidak melakukan sesuatu kesalahan, tapi saya tidak tahu mengapa kami kalah", diikuti puluhan eksekutif Nokia yang juga tidak tahan untuk menitikkan air mata.
Kami sepakat bahwa Nokia adalah perusahaan yang mengagumkan. Konon Nokia menguasai pangsa pasar terbesar di Seluruh Dunia.
Boleh dibilang Nokia tidak melakukan sesuatu yang salah, tapi dunia berubah terlalu cepat. Mereka terlena, kurang belajar, tidak respons terhadap perubahan, dan akhirnya kehilangan kesempatan. Nokia bukan saja melewatkan kesempatan untuk membuat uang, tetapi kesempatan untuk bertahan hidup.

TAKUT GAGAL
Saya melihat bahwa jatuhnya Nokia cenderung karena takut gagal. Antisipasi perkembangan Android begitu pesat sementara Symbian dan Microsoft mengganggu pengambilan keputusan mereka. Keraguan itulah yang membuat Nokia memasuki tahap galau inovasi. Mereka takut gagal.
Rasa takut itu tidak diantisipasi dengan tidak ‘menyatukan seluruh telur dalam satu keranjang’. Langkah antisipasi menjadi penting agar keberanian berubah diiringi dengan jaminan kemanan disisi yang lain.
Obrolan ini adalah pengingat bagi kita. Semua bisa jatuh tersungkur, bahkan raksasa sebesar Nokia sekalipun.
Jangan takut berubah, karena berubah itu harus. Keunggulan kemarin akan digantikan oleh tren/kecenderungan esok. Jangan gunakan teknologi dan cara masa lalu untuk menghadapi masa kini dan tantangan masa yang akan datang.
Hidup dalam kekhawatiran cenderung menghambat perubahan dan ujungnya akan mati pelan-pelan. Merubah diri sendiri namanya kelahiran kembali, dirubah oleh orang lain namanya tersingkir. Tidak mau menerima tren/perkembangan zaman, pasti akan tersingkir dari pasaran.
Berubah adalah Sunatullah. Sudah merupakan aturan yang diberikan Sang Pencipta. Di Dunia ini, tidak ada yang tidak berubah. Bahkan dalam pikiran saya, komitmen untuk berubah adalah peryataan yang berlawanan dengan aturan Tuhan itu sendiri.
… Perbaharuilah potret dalam pikiran kita, pasti ada gambar yang ‘terkini’ daripada Gunung, Sawah, Jalan dan Matahari.

                                           
                                                                          Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Blog Archive