it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

23.12.15

PROPOSAL HIDUP (pengantar renungan akhir tahun 1)

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 21 Desember 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

            MENGADAKAN pesta malam tahun baru saja pihak panitia membuat proposal kegiatan. Bahkan perlombaan 17 agustusan di tingkat lingkungan saja ada proposal kegiatanya. Pertanyaannya, apakah anda sudah membuat proposal untuk hidup anda?
Sungguh aneh ketika hidup yang berharga ini dilalui begitu saja tanpa proposal yang tersusun dengan baik. Hidup yang mengalir begitu saja tentu tidak akan menjadi berwarna dan indah. Hidup yang mengalir tanpa kendali bagi saya adalah laksana buah kelapa kering yang jatuh keatas sungai, ia terombang ambing dibawa arus. Tak jelas mau kemana dan apa yang harus dilakukan.
Saya menuliskan artikel ini sebagai peringatan bagi kita semua bahwa jika kita tidak merencanakan hidup kita, maka kita akan lebih banyak membuang kesia-siaan belaka.
Saya pernah mengenal ‘rencana karir’ dan saya benar-benar menjalankannya. Dalam hitungan kurang dari 8 tahun, dari posisi paling rendah, saya sudah bisa menembus posisi puncak karir manajemen. Saya mencapai jabatan General Manajer di sebuah perusahaan dalam hitungan relative singkat.
Lalu saya pindah lagi ke perusahaan lain dengan posisi puncak juga. hingga akhirnya saya menghadapi kegalauan profesi. Saya menemukan kesalahan saya. Ketika itu, saya hanya merencanakan dan memimpikan posisi puncak saja. Tidak labih.
Saya hanya berencana menduduki posisi puncak, hingga akhirnya saya tidak tahu apa yang harus saya kejar untuk posisi berikutnya. Saya kehilangan orientasi. Ini terjadi karena saya tidak memiliki proposal hidup. Saya hanya memiliki proposal karir. Itupun hanya sampai posisi manajemen puncak. Tidak lebih.
Kegalauan saya berputar hingga menghabiskan belasan tahun dengan posisi karir yang datar. Benar bahwa saya memerlukan perenungan dan pendewasaan batin pada masa itu, tetapi lagi-lagi perjuangan saya terasa seperti tiada berujung.
Ini adalah pengalaman saya yang patut dijadikan catatan bagi anda yang belum memiliki rencana hidup.

Proposal Hidup
            Proposal Hidup adalah cita-cita. Proposal Hidup adalah doa. Dan ketika kita tidak punya Proposal Hidup, kita sebenarnya tidak memliki doa yang spesifik dan layak dipanjatkan kepada Sang Khalik. Ketika itu terjadi, kita hidup dalam posisi terbawa arus. Kita bukan pemimpin yang memberi warna, kita hanya pengikut yang diwarnai oleh pihak lain. Sungguh memprihatinkan.
            Seorang Jamil Azzaini adalah orang yang menggugah saya untuk menyadari bahwa hidup begitu mulia untuk dilewatkan begitu saja. Hidup adalah sesuatu yang harus diperjuangkan. Hidup adalah sebuah ikhtiar menuju Ridha Tuhan untuk bisa memasuki alam keabadian dengan kebahagiaan sejati.
          Proposal hidup tidak saja berisi rencana karir, rencana usaha, rencana pernikahan dan rencana rumah tangga, tetapi berisi rencana yang lebih holistic, menyeluruh dan pada akhirnya menjadi acuan dalam berdoa dan bekerja.

Tulisakan
Konon, satu penelitian yang dilakukan di Universitas Harvard menyatakan bahwa 3% orang yang diteliti membuat proposal hidupnya secara tertulis, 13% memiliki proposal hidup tetapi tidak ditulis, 84% tidak mempunyai proposal hidup atau dengan kata lain membiarkan hidupnya mengalir.
Beberapa tahun kemudian diteliti kembali bahwa 13% orang tersebut memiliki penghasilan dua kali lipat dibanding 84% orang yang tak memiliki proposal hidup serta 3% orang yang membuat proposal hidupnya secara tertulis memiliki penghasilan sepuluh kali lipat dibanding 97% orang lainnya.
           Mimpi-mimpi harus diubah menjadi cita-cita. Cara sederhana untuk memulai mengubahnya adalah dengan menuliskannya. Tuliskan apa yang anda kehendaki dalam hidup ini. Menjadi apa pada akhir hidup anda nanti. Prestasi apa yang dicapai. dan sebagai apa anda ingin dikenal oleh orang banyak.

                                                                Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

17.12.15

ETIK

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 14 Desember 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

BUKAN Cuma DPR, dalam dunia bisnis juga ada Mahkamah Kehormatan yang setiap saat membuka Sidang Etik atas bisnis kita. Siapapun yang duduk di kursi pesakitan dalam sidang itu (maka kemungkinan besar), bisnisnya akan terganggu, bahkan bisa tutup.
Mereka adalah konsumen kita, para pendukung bisnis (supplier dan semua pihak yang terlibat) serta otoritas pemerintahan yang melakukan kontrol.
Mereka akan menilai dan menghakimi kita tanpa kenal ampun. Walau dunia bisnis kian modern, tetapi mereka –para hakim itu—akan bisa menilai diri dan nurani kita yang terselubung dalam karakter bisnis kita.
Dalam berbisnis, prinsip-prinsip etika adalah pilar utama dalam membangun kredibilitas bisnis. Reputasi masih tetap menjadi kunci pengakuan publik yang berujung pada sukses sebuah bisnis.
Inilah etika bisnis yang harusnya dijaga;

JUJUR
          Bisa saja kita menipu dan menutupi kekurangan dan kesalahan kita, tapi tunggulah ketika tipuan itu terbongkar, kita akan terjun jatuh kedasar jurang yang amat dalam.
          Semakin terbuka dan jujur atas kekurangan produk atau jasa kita, maka potensi tingkat kepercayaan akan semakin naik. Jika ada yang rusak, ada yang cacat, lebih bagus disampaikan diawal transaksi. Bahkan ketika kita tidak mampu mememuhi permintaan konsumen, jujurlah.
          Membuka isi kandungan nutrisi dan bahan baku makanan kepada konsumen adalah langkah berani yang pasti akan mendapat respon positif.

KONSEKUEN
Memenuhi janji atau komitmen adalah kunci untuk dapat dipercaya. Sekali janji diucap, sampai liang lahat pun orang akan mengejarnya. Bisa berupa Janji kualitas, janji waktu pengiriman, janji harga dan semua janji apapun. Pastikan tidak cedera. Penuhilah janji itu.
Oleh karenanya, jika tidak perlu, jangan sembarangan membuat janji.

IKUT ATURAN
Aturan dalam berbisnis ada yang tertulis dalam bentuk undang-undang ataupun aturan tak tertulis dalam bentuk norma masyarakat. Ikutilah aturan main itu. Mengikuti aturan akan menghindarkan diri dari pencemaran nama baik suatu saat jika terjadi krisis.
Pada semua bentuk kesepakatan bisnis, akan selalu menyantumkan aturan pelaksanaannya, ikutilah. Jika tidak, anda akan mendapaat label sebagai pelawan aturan. Dan tukang melawan biasanya tidak pantas untuk duduk sejajar.

PEDULI
Mementingkan diri sendiri adalah cara yang paling efektif untuk mengasingkan bisnis kita dari pusaran pasar. Perduli kepada pihak lain adalah tanggungjawab moral yang akan menuai simpati semua pihak. Rasa simpati itu adalah asset yang bernilai untuk meningkatkan kredibilitas bisnis.
         
MENGHARGAI
Menempatkan pihak lain pada posisinya, tidak mengecilkan, dan tidak mendiskriminasi adalah sikap etik yang unggul. Termasuk terhadap pesaing.
Tak harus merendahkan pihak lain untuk meninggikan bisnis. Tak harus menjilat untuk mendapat perhatian dan tak harus berlaku seperti binatang untuk bisa menguasai pasar.
Berilah pihak lain (pegawai, pembeli, pemasok dan pesaing) untuk menjaga wajah mereka, niscaya mereka akan lebih menghargai anda.
Yang terakhir, kemampuan Pebisnis membangun dan menjaga nama baik perusahaan beserta seluruh hal yang berada di dalamnya adalah rahasia medekatnya konsumen dan semua pendukung kepadanya.
Pasar bekerja karena sentimen, karena perasaannya! Dan mereka akan berani mengadili kesalahan kita yang tidak menjaga persepsi dan perasaanya. Mereka mengadili kita dalam Mahkamah Etik Sosial.
Ketika pebisnis sukses menjaga etik bisnisnya. Maka citra yang positiflah yang akan terbentuk. Citra itulah yang akan mendatangkan pembeli, memudahkan urusan perijinan dan keamanan, urusan permodalan, dukungan pegawai yang tiada henti dll.

                             Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

10.12.15

MANAJEMEN MUSIMAN

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 7 Desember 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

KOPI di sore akhir pekan lalu saya nikmati sendirian sembari menunggu seorang sahabat di sebuah cafe. Dalam kesendirian itu sempatlah saya memperhatikan sekitar. Kini dekorasi ruangan berubah dengan berbagai hiasan yang bertema Natal. Musik yang diputar adalah lagu-lagu natal dalam versi jazz. Tersadarlah saya bahwa ini sudah Bulan Desember, bulan perayaan Natal sudah tiba.
Seperti biasanya, menjelang natal, suasana menjadi romantis, sedikit melo dan syahdu. Ini adalah musim menjelang liburan akhir tahun. Musim dimana semua orang ingin segera libur dan berkumpul bersama keluarga.
Sesudah natal, suasana akan berubah menuju musim pesta besar pergantian tahun masehi. Perubahan suasana itu adalah musim yang direspon dengan cara dan suasana khusus pula.
Ketika sudah datang sahabat saya, mulailah kami ngobrol sana-sini hingga berputar pada topik tentang bisnis dan gaya manajemen pemiliknya.

GAYA MUSIMAN
              Kami sepakat bahwa pada skala bisnis mikro, kecil hingga sebagian kecil skala menengah, peran pemiliknya sangat sentral dan penting. Pada tataran ini keterlibatan pemilikya sangat besar. Pemilik mengendalikan semua hal. Mulai dari A sampai Z.
           Pada skala bisnis ini biasanya pemilik tidak mempraktekkan sistem delegasi yang baik. Apalagi ketika pemiliknya memulai dari Nol dan lupa bahwa semestinya ia harus mengembangkan sebuah cara agar pundaknya tidak penuh beban.
            Benar bahwa tidak mudah mempercayai orang lain. Benar bahwa tidak mudah mendapatkan pekerja yang loyal dan mau berkorban demi usaha kita. Benar bahwa mentalitas pekerja kita sangat memperihatinkan. Tetapi itu bukan alasan untuk memenjarakan diri dalam pusaran rutinitas yang menjebak dan tidak membuat keleluasaan bagi pemilik untuk mengembangkan usahanya.
            Konsekuensi logis dari situasi diatas adalah pada akhirnya suasana batin dan pikiran si pemilik usaha menjadi warna yang mencolok pada budaya manajemen usahanya. Secara sederhana; mood pemilik usaha sama dengan kinerja usahanya. Ketika pemilik senang dan semangat, maka kinerja perusahaannya akan mengikutinya maju dan dinamis. Tetapi ketika si pemilik sedang tidak bersemangat, maka otomatis semua pihak dan ritme kerja perusahaan juga melemah.
               
ANTI ANGIN-ANGINAN
Gaya manajemen yang angin-anginan ini sangat berbahaya bagi kinerja perusahaan dan jaminan kelangsungan bisnisnya. Sangat manusiawi dan memang wajar jika terjadi. Tetapi Ketika si pemilik usaha masih belum sukses mengembangkan sistem yang baik, maka sebaiknya dibangun sebuah cara agar komitmennya dalam menjalankan roda bisnis agar tidak angin-anginan.
Ada 2 cara sederhana, bagi anda yang keterlibatannya sangat dominan dan belum ada solusi manajemen yang lebih baik.
Yang pertama adalah usahakan untuk mengurangi rutinitas. Pilah-pilah pekerjaan yang bisa anda delegasikan. Delegasikan dan delegasikan lagi. Semakin banyak hal rutin yang anda bisa delegasikan, semakin bagus. karena mengurangi beban anda dan memberi peluang bagi anda untuk mengevaluasi, mencari solusi dan berfikir kreatif.
Pekerjaan rutin, tak perlu dikhawatirkan untuk didelegasikan, karena rutin dan standardnya pasti berulang.
Yang kedua, bangun teknik memotivasi diri. Misalnya dengan berkumpul dengan sesama pengusaha. Tidak penting apapun usaha kawan-kawan anda, karena dengan berkumpul dengan sesama pengusaha, anda akan termotivasi untuk terus maju dan berkembang seperti pengusaha-pengusaha lain itu. Sesekali saja boleh bergabung dengan orang-orang dari profesi lain untuk penyeimbang.
         Yang ketiga, luangkan waktu untuk melihat usaha lain agar menambah ide-inspirasi dan Intiplah pesaing anda. Jika mungkin ikutlah seminar-kursus untuk Pengembangan diri.


Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

1.12.15

“Mahal Kali Bah!”

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 30 November 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dengan selalu menyebutkan sumbernya.

                TAK perduli produk apapun yang anda jual, dengan harga seberapapun, mulai dari harga jual Seribuan Rupiah hingga Ratusan Juta Rupiah, biasanya reaksi pertama para pembeli akan sama. Hampir semuanya langsung latah dan mengatakan bahwa harganya mahal.
                Reaksi latah itu sepertinya sudah menular dan menurun. Sehingga bentuk reaksi tersebut mestinya tidak usah dijadikan beban untuk menjual apapun pada harga seberapapun.
                Benar bahwa faktor harga menjadi salah satu komponen suksesnya proses penjualan. Tetapi harus juga diingat bahwa ‘mahal’ adalah sebuah relatifitas.
                Artinya, kata mahal bagi seseorang sangat relatif. Tetapi, biasanya nilai/value produk tersebut menjadi lebih penting dibanding nilai harganya. Untuk menjamin sebuah kenyamanan berkendara, produk mobil import dari Eropa biasanya lebih nyaman dan teruji keamanannya. Dan harga mobil itu cenderung mahal. Biarpun mahal, orang masih saja mau membelinya. 
                Jangan heran ketika ada pembeli yang sengaja membeli segala sesuatu dengan memilih produk yang mahal. karena keyakinannya bahwa mahal adalah jaminan kualitas.
               
BUKA SAJA
                Ini saran saya. Buka saja harga anda. Berapapun itu. Tak usah segan atau khawatir. Karena jika ada respon mahal, itu hanyalah sebuah kelatahan yang kadang tak perlu kita khawatirkan.
                Anda akan segera tahu apakah memang si calon pembeli adalah target anda. Jika memang mereka bukan target anda, maka mereka akan segera pergi, dan anda tidak semestinya membuang energi mengurus yang bukan target pasar anda.
                Tentu anda mematok harga jual dengan berbagai pertimbangan diluar keuntungan. Misalnya karena keyakinan nilai produk dan kualitasnya. Artinya, anda sangat boleh menjual kualitas, bukan sekadar harga murah.

BERSAING
                Ketika anda menjual produk yang bersifat masal. Anda tentu memiliki banyak pesaing. Situasi ini memaksa anda harus jeli menentukan harga jual. jika terlalu mahal anda akan kalah bersaing dan jika terlalu murah, anda akan mendapat keuntungan yang tipis.
                Disini anda dituntut untuk berani bersikap. Tentukan harga jual anda setelah melalui proses studi lapangan dan pertimbangan lainnya. Ketika anda memutuskan harga yang berbeda-bedda tergantung masing-masing konsumen, anda akan terombang-ambing dalam keragu-raguan.
                Jika produk anda bukanlan produk masal. Mestinya anda akan lebih berani menentukan harga jual. buatlah harga pas yang tidak perlu ada negosiasi. Jika perlu sesekali buat promo harga murah.

SALAH NILAI
Bijaksanalah, Jangan melihat seseorang dari penampilannya semata. Karena pernah datang seorang paruh baya yang bergaya udik dan membawa tas lecek yang terlihat penuh barang sepele ke sebuah show room mobil dan bertanya berapa harga sebuah mobil. Ketika itu petugas yang bekerja merasa bahwa Pak Tua ini bukanlah target mereka, lalu menjawab dengan tidak menyebut harga, tetapi mengatakan, “Mobil ini mahal sekali Pak” dengan menunjukkan raut wajah yang masam. Pak Tua merasa tersinggung, lalu ia membuka tas dan menumpahkan semua isinya ke atas meja dihadapan si petugas. Ternyata isi tas itu adalah uang tunai dengan jumlah sangat banyak. Pak tua bilang, “Coba kamu hitung, dapat berapa mobil itu dengan uang ini”. Dengan tergagap si petugas menghitun uang itu dan ternyata masih cukup untuk membeli 3 mobil dan masih ada sisanya.
                Ketika pulang Pak Tua membawa 1 mobil yang dibelinya dan membiarkan 2 mobil yang lain teronggok di showroom lebih dari 1 tahun.


Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Blog Archive