it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

23.2.16

KALAU DANAU TOBA ADA DI MEDAN

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 22 Februari 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

            JIKA saja Danau Toba ada di Medan. Dekat kepada konsumennya. Maka akan banyak pengunjungnya setiap hari. Tak akan sepi sepanjang minggu. Tak harus menunggu hari libur untuk menunggu wisatawan datang.
             Sayangnya bukan itu faktanya. Danau vulkanik terbesar di jagar raya ini terletak 172 KM dari Kota Medan, yang sayangnya masih memerlukan 5 jam perjalanan untuk mencapainya. Benar bahwa hingga kini masih saja ada wisatawan yang datang, tetapi apakah frequensinya cukup sering dan jumlahnya banyak? tentu tidak.
            Saya pernah membuat survey sederhana dengan responden sekitar 350 orang selama 6 bulan pada tahun 2003. Saya bertanya kepada orang Sumut yang datang kesana. Sungguh mengejutkan ketika fakta mayoritas responden menyebutkan kunjungan mereka terakhir adalah rata-rata 8 tahun sebelumnya.
            Responden rata-rata pernah berukunjung ke danau toba sebanyak 3 kali dan 63 % alasan kunjungannya lebih mengagetkan. Mereka berkunjung hanya karena menemani saudara atau tamunya saja, bukan karena memang ingin sengaja datang berlibur ke danau indah ini.
            Artinya, selain frequensinya yang rendah, alasan kedatangan hanya karena menjadi tuan rumah yang menghormati tamunya, bukan pilihannya berlibur.   
            Ketika dianalisa lebih lanjut, alasan kunjungan yang rendah itu, ternyata secara umum berupa infrastruktur dan fasilitas. benar ada beberapa alasan lain, tetapi kali ini mari kita fokus ke 2 poin ini saja. 

INFRASTRUKTUR DAN FASILITAS
            Dalam skala bisnis kecil, akses dan infrastruktur menjadi penting untuk dapat mengundang konsumen. Tanpa akses yang bagus dan mudah, bagaimana mungkin orang tertarik untuk datang?
            Hanya untuk produk yang sudah sangat terkenal saja konsumen mau datang ke gang sempit dan sulit parkir.  Ketika produk anda masih belum terkenal, jangan sok hebat dengan kualitas produk anda. ingat, bahwa mutiara dalam lumpur tetap saja telihat seperti lumpur. Kita sepakat untuk menyebut mutiara ketika sudah bertengger indah di telinga, leher atau jari perempuan.
            Selanjutnya fasilitas. Jangan harap orang mau berlama-lama duduk di lokasi bisnis kita, jika kursinya jelek, reot dan usang. Jangan harap orang mau betah, jika sampah berserakan. Jangan harap orang mau kembali jika tak bersih di kamar mandi. Lalu, jaman ini manusia sangat takut mati internet. Tak cuma takut mati listrik. Artinya, harus ada banyak lubang sumber arus listrik yang dekat dengan tempat duduk dan ada jaringan internet dengan kecepatan tinggi.
           
PANTAI PANDAWA
            Ini bisa menjadi inspirasi bagi kita. kini di Bali ada lokasi wisata baru. namanya PANTAI Pandawa. Pantai ini begitu indah di pesisir selatan dengan pasir putih menghampar. Awalnya pantai ini tidak terjangaku, ia berada di bawah tebing tinggi tanpa jalan. Hingga ketika masyawakat bersatu padu berswadaya membeli tanah tebing itu dan membongkarnya, lalu membuat jalan akses masuk menuju lokasi.
            Kini Pantai Pandawa menjadi pilihan wajib bagi para pelancong yang datang ke Bali. Jalan menuju lokasinya sudah nyaman, indah dan tertata rapih. Sampai tebing di sisi jalan pun di tata degan patung-patung keluarga Pandawa berukuran raksasa.
            Infrastruktur dan fasilitas yang memudahkan ini mengundang banyak pengunjung, hingga perekonomian masyarakat lokal melonjak naik. Lapangan pekerjaan bertambah dan Bali tidak lagi hanya Pantai Kuta.
            Pantai Pandawa menjawab pertanyaan, Siapa duluan, Telur atau Ayamnya?


                                                                                    Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

17.2.16

(TAK HARUS) SEPERTI BALI DAN JOGJA


Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal15 Februari 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

Contohlah Bali dan Jogja, orangnya ramah-ramah, santun, bicaranya lembut, melayani dengan sepenuh hati dan tidak kasar. Begitu yang sering saya dengar dari para pengamat kepariwisataan amatir yang baru sekali-dua kali berkunjung ke Bali atau Jogja dan membadingkannya dengan kepariwisataan Sumatera.
                Dalam kacamata kebanyakan pakar amatir itu, Bali dan Jogja adalah kiblat kesempurnaan destinasi Wisata. Saya tidak menyanggahnya. Insfrastruktur, kebijakan publik dan kesadaran masyarakat akan pentingnya wisatawan sebagai sumber penghasilan warga, kesemuanya tertata dengan baik dan relatif tiada cacat.
                Bali dan Jogja sudah menikmati proses travel (perjalanan) yang menstimulasi tumbuhnya trading (perdagagan) hingga mencipatakan investment (investasi). Dalam skala yang besar, industri pariwisata ini memberikan pendapatan yang baik kepada masyarakat secara langsung.
                Tetapi, mari kita analisa, apakah kita harus mengubah diri harus persis seperti orang Bali dan Jogja?

APA ADANYA
               Paris sebagai destinasi pariwisata yang tingkat kunjungan wisatanya menduduki kelompok peringkat tertinggi di dunia memiliki fakta-fakta menarik yang sepertinya berlawanan dengan konsep pelayanan yang banyak orang pikirkan.
            Di kota Paris, jumlah pencopet sangat banyak. Kasus pencopetan terhadap pelancong sangat tinggi. Hampir semua pemandu Wisata, selalu mengingatkan hal ini kepada rombongan tour yang dibawanya sebelum memasuki kota dan turun dari bus wisatanya. Konon bahkan pernah Karyawan Museum Louvre, Paris, sempat mogok kerja dan demo akibat ulah para pencopet yang sudah keterlaluan.
              Pencopetan dengan jumlah terbayak (CNN Indonesia) di destinasi Wisata juga terjadi di Barcelona, Roma, Praha, Madrid  dan Florence-italia. Dan fakta ini sudah menjadi rahasia umum. Tetapi orang-orang dari seluruh penjuru dunia masih saja tetap ingin berkunjung ke tempat-tempat indah itu.
               Johannesburg di Afrika Selatan termasuk daerah paling tinggi kriminalitasnya, tetapi orang-orang masih tetap mau mengunjunginya. Daerah Bronx di New York, hingga kini tidak pernah sepi dengan wisatawan yang ingin melihat sensasinya.
              Nepal yang serba kekurangan, masih juga hidup dari pariwisata. Bahkan di Asmat – Papua, tak sejengkal pun ada jalan aspal, tetap saja orang mau mengunjunginya.
             Artinya, kita jual saja Sumatera ini apa adanya. Tak harus malu dengan karakter daerah yang kita miliki. Biar saja kita bicara dengan keras dan nada tegas. Biar saja kita jadi diri sendiri. orang akan tetap menghormati kita apa adanya.
         Kalau orang-orang Seputar Danau Toba dan Sumatera dibuat persis Bali dan Jogja, artinya Sumatera hanya produk contekan, bukan asli. Pertanyaanya adalah, apa alasan orang harus datang ke tempat yang tidak asli? Kalau ada yang asli, mengapa harus datang ke tempat yang palsu?

BELAJAR
             Ada yang mungkin bisa kita contoh dari orang-orang Bali dan Jogja, yaitu sikapnya terhadap kepariwisataan. Mereka sudah bisa menemukan kesadaran bahwa pengunjung adalah tamu yang dari kantong mereka akan mengalir rejeki untuk masyarakat lokal. Karenanya mereka menghormati tamu dengan kelayakan seorang tuan rumah.
Yang kedua adalah kreatifitasnya. Mereka mencoba untuk tidak menjadi pengekor. Mereka dengan kreatf menciptakan berbagai variasi untuk menunjang bisnisnya. Mulai dari konsep akomodasi, interior dan exteriornya, makanan, souvenir, pertunjukan hingga tranportasinya.
Yang ketiga, secara kolektif masyarakat mampu mengarahkan pemerintah utuk lebih bersungguh mendukung infrastruktur dan kebijakan kepariwisataannya. Bukan saja pemerintah daerah, tetapi juga pemerintah pusat, hingga tidak heran jika banyak praktisi kepariwisataan Sumatera mengkritisi pemerintah pusat yang terkesan selalu Bali-centris.

                                                                     Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

12.2.16

Komentar tentang logo Sahabat Tour & Travel


Komentar tentang logo Sahabat Tour & Travel


Atas permintaan mba Dhila the spiritual traveler, berikut saya memberikan komentarnya.

  1. Nama
    Nama SAHABAT memang menawarkan persahabatan/persaudaraan tetapi nama tersebut sangat lokal. Nama tersebut hanya mudah disasarkan kepada pasar lokal yang mengenal bahasa tersebut.
    Artinya, suatu saat nama ini justru akan menjadi hambatan ketika akan mengglobal.
    Apalagi jika produk yang dipasarkan adalah produk umroh yang nota-bene akan banyak di mekah dan madinah dimana ada banyak perusahaan rekanan seperti agent lokal, transport, catering dan hotel yang bukan Cuma dioperasikan oleh orang Indonesia.
    Coba uji, apakah semua suku bangsa (global) mampu menyebutkan nama ini dengan benar? Karena jangan seperti kratingdaeng yang selalu gagal mengajari orang Indonesia untuk membaca merek mereka dengan benar.

    Kemudian, ini bukan nama generic yang membuat orang tahu bahwa ini adalah produk tour dan travel tanpa kata “tour & travel” dibelakangnya.
    Contoh Aqua, orang sudah tahu bahwa itu adalah air.

    Jumlah suku kata cukup baik karena masih dibawah 4 suku kata. Tetapi jika jika ditambah tour & travel, jumlahnya menjadi 7 suku kata, terlalu panjang.
    Entah, jika anda perkenalkan dengan hanya ‘SAHABAT TOUR” saja (4 suku kata).
    Ingat, merek2 besar jarang yang lebih dari 4 suku kata.

  2. Logo
    1. Jika memang berfokus kepada produk umroh dan haji, maka yang paling kena ilustrasinya adalah nomor 1, 9 dan 10. Disana ada lambing ka’bah yang membuat orang langsung tahu walau tanpa membaca detail.
      Ini yang disebut efektif illustration.
    2. Opsi logo no 2,3,4 dan 6 lebih berkarakter produk yang berbentuk seperti hotel dan resort. Khsusnya no 4, imaginasi pertama yang muncul adalah BALI, RESORT, TOUR.
    3. NO 5 agak memerlukan waktu untuk menikmatinya.
    4. No 8, bagus secara grafik, tetapi memerlukan kejelian untuk menangkap maknanya. Dan yg ini cukup repot dalam penerapannya.

  3. Perhitungkan media yang mungkin akan digunakan untuk penayangan logo tersebut, bukan sekadar kop surat dan anvelop. Pikirkan juga tampilan seperti di kartu nama, pin, banner, baligho. Apakah ukuran kecil dan besar tidak membedakan makna? Apakah cukup proporsional dan wajar pada ukuran kecil dan besar?
    Contoh lain, bayangkan anda mensponsori sebuah even lalu semua logo sponsor di cetak pada ukuran yang sama, pertanyaannya adalah, apakah logo anda akan terlihat?

  4. Perhitungkan juga dengan alat cetak yang akan dipakai dalam media tesebut. Misal sablom, offset, bordir, carfing dll. Apa mampu teknologi tersebut membuat kompleksitas warna dan komposisinya. Jangan Cuma indah di layar computer.

  5. Terlepas dari bahasa psikologi warna, saya mengkerucutkan pandangan ke pilihan no 4, 7 dan 10.

  6. Untuk pasar yang tidak khusus muslim dan umrah/haji, mungkin boleh no 4,khususnya pasar umum yang kita janjikan tentang perjalanan budaya asia. No 7, bisa untuk semua. Dan no 10 jika khusus untuk umrah dan haji.


    Semoga bermanfaat.
    Salam

Share:

11.2.16

bahagia tanpa syarat


Share:

2.2.16

Bisnis Dari Komunitas Hobby

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tangal 1 Februari 2016, dihalman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

“Mas, sepeda ini dipakai oleh Polisi pada Jaman Penjajahan Belanda”, begitu sahabat saya berkisah tetang sepeda onthel yang sedang kami pandang bersama dengan beberapa penghobi sepeda onthel. Sejenak saya larut dalam angan masa lalu tentang Polisi dan sepeda antik ini.
Menurut mereka, Ada tiga merek yang diproduksi khusus untuk polisi pada jaman itu, yang pertama sepeda dengan merek HIMA yang dipakai oleh Polisi sejak PD II hingga pertengahan tahun 1950 an, kemudian memasuki awal tahun 60 an sepeda yg dipakai untuk inventaris polisi sudah bukan merk hima lagi namun di tambah dengan sepeda merk TEHA buatan belanda  dan yg terakhir adalah sepeda Inggeris merk Phillips .
Salah satu ciri yg selalu ada pada sepeda-sepeda yg dipakai sebagai inventaris maupun dinas bagi anggota kepolisian adalah tulisan POLISI yang diketok khusus pada kerangka sepeda, hal ini agar pihak umum mengetahui dan tidak sembarangan memperjual-belikan sepeda dengan tanda tulisan semacam itu. Dan sudah pasti para penadah atau pembeli akan takut menerima atau membelinya.  Karena berpotensi dituduh mencuri atau jadi penadah aset negara. 
Tak terasa waktu berlalu dan kami masih asik mengobrolkan sepeda-sepeda antik ini. Saya benar-benar terbengong habis ketika mereka dengan fanatiknya menuntut orisinalitas sepeda yang mereka miliki, mulai dari kerangka utama hingga ke jari-jari rodanya. Mereka rela mengeluarkan dana dan waktu demi catatan dan romantisme masa lalu ini.

BUKAN CERITA UANG
Ternyata sangat banyak orang yang tidak menempatkan uang sebagai prioritas pertimbangan ketika ingin membeli sesuatu. Dalam contoh diatas, para pencinta sepeda tua itu membeli sebuah nilai yang menjadi semakin mahal karena faktor waktu.
Jika dilihat dari faktor teknologi, jelas sepeda onthel sangatlah tertinggal dibanding dengan sepeda-sepeda modern yang diciptakan akhir-akhir ini. Tetapi, atas nama nilai yang hanya bisa diapresiasi oleh perasaan, banyak orang yang rela membeli dan menggunakannya.
Dan ternyata, perilaku seperti ini dirasakan pada komunitas-komunitas lain. Bahkan untuk memudahkan dan melampiaskan ketertarikan tersebut, mereka rela berkumpul dan membuat asosiasi atas nama kecintaannya tersebut.
                Saya tuliskan ini untuk sekali lagi menegaskan bahwa diluar sana tetap ada peluang bisnis dengan pasar yang terbuka lebar serta gaya belanja yang tidak menilai sebuah produk karena bahan bakunya, tetapi karena alasan-alasan lain yang berhubungan dengan romantisme perasaan.

BANGUN KOMUNITAS
Bisnis dengan basis hobby biasanya berhubungan dengan mode yang naik dan turun oleh suasana dan waktu. Oleh karenanya untuk menjaga agar bisnis tetap naik dan berkelanjutan, maka perlu ada sebuah strategi untuk menjerat ketertarikan peminatnya secara terus menerus.
Langkah yang paling sederhana adalah membangun komunitasnya. Dengan adanya komunitas sehobby, maka kita akan mudah mengakses mereka. anggota komunitas adalah pasar kita.
Kunci sukses komunitas adalah kegiatan-kegiatan yang melibatkan anggotanya dengan aktif. Keaktifan anggota tidak akan terjadi hanya dengan himbauan. Buat saja kegiatan yang bervariasi dan berkelanjutan.  Kegiatan itu pada dasarnya akan memaksa anggota untuk terlibat aktif. Tanpa mereka sadari akan terjadi dinamisme kelompok.
Ketika kelompok menjadi dimanis, maka anggotanya akan senang beraktifitas dan mereka membutuhkan bisnis kita. disanalah kita akan Berjaya.
Ingat jangan terjebak dalam intrik-intrik perpolitikan kepengurusan, biarkan saja berjalan apa adanya. Yang anda perlu adalah demam hobby yang berkelanjutan. Karena itulah yang akan memberi peluang bisnis yang tiada henti.

                                                            Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

MENANG TAPI KALAH

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 25 Januari 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

                SUNGGUH sebenarnya kunci manajemen bisnis adalah perkara mengurus manusia. Tanpa mengecilkan faktor modal, dan semua aspek manajemen lain, manusia adalah faktor utama penggerak bisnis. Ada pelanggan, ada bawahan, ada supplier, ada orang bank, ada petugas pemberi ijin, dan masih banyak lagi.
                Manusia-manusia itulah yang menjadi sumberdaya untuk menjalankan bisnis, memelihara dan meningkatkan nilai bisnis kita. Siapapun kita pasti membutuhkan orang lain untuk membantu kita. Tak mungkin kita akan sukses ketika semuanya kita kerjakan sendiri.
                Di sisi lain, mereka adalah manusia yang memiliki perasaan dan pikiran seperti layaknya kita. Artinya, memenangkan pikiran dan perasaan mereka untuk dapat mendukung kita adalah strategi penting yang kita lakukan.
                Membangun sebuah fisik bangunan bisnis, misal toko atau kantor, relatif hanya butuh uang. Dalam waktu sekejap bisa berdiri dengan megah. Tetapi, menjalankan bisnis itu, jelas memerlukan manusia dan diperlukan seni dalam mengelola sumber daya manusia tersebut.

BERSELISIH
                Tulisan saya kali ini akan membahas penting dan tidaknya kita harus berselisih dengan orang lain. Yang harus dipahami bahwa perbedaan adalah hal yang wajar dan secara natural tejadi. Bahkan kita sebagai individu juga tercipta dengan perbedaan yang sangat besar. Tiada dari kita yang sama persis walaupun kita terlahir sebagai kembar.
                Artinya, beda pikiran, pendapat dan pandangan adalah hal yang wajar dan pasti terjadi. Oleh karenanya, potensi perbedaan menuju perselisihan akan selalu ada dan terbuka lebar. Sementara disisi yang lain, kita masing-masing memiliki ego yang kadang sulit kita kendalikan. Kita dengan ego kita, sering merasa bahwa kitalah pemilik atau pusat kebenaran universal. Artinya, kita selalu terpicu untuk merasa dan menggap serta berfikir bahwa kitalah yang paling benar.
                Ketika dua orang berselisih dan masing-masing merasa benar, kuncinya adalah keberanian bersikap atas perbedaan itu. Yang membuat situasi menjadi sulit adalah ketika masing-masing pihak memaksa pihak lain untuk mengakui dan tuntuk kepada kebenaran pihaknya.
                Perselisihan itu terjadi ketika ego dan harga diri merasa harus ditinggikan, dengan menurunkan atau merendahkan ego dan harga diri lawannya.

MENANG
Pernah seorang sahabat yang mengirimkan pesan ini ke saya;

                Kalau berselisih dengan pelanggan, walaupun kita menang, Pelanggan tetap akan lari.
Kalau berselisih dengan rekan sekerja, walaupun kita menang, Tiada lagi semangat bekerja dalam tim.
Kalau kita berselisih dengan boss, walaupun kita menang, Tiada lagi masa depan di tempat itu.
Kalau kita berselisih dengan keluarga, walaupun kita menang, Hubungan kekeluargaan akan renggang.
Kalau kita berselisih dengan guru, walaupun kita menang, keberkahan menuntut ilmu dan kemesraan itu akan hilang.
Kalau berselisih dengan teman, walaupun kita menang, yang pasti kita akan kekurangan teman.
Kalau berselisih dengan pasangan, walaupun kita menang, perasaan sayang pasti akan berkurang.

Jika kita relakan diri berhening merenung sejenak, sesunggunya ketika kita berselisih , Walaupun menang, sejatinya kita tetap kalah. Yang terasa menang, hanya ego diri sendiri. Yang terlihat tinggi dan naik hanyalah emosi.
                Pertanyaan yang harus selalu kita tanyakan ketika berselisih adalah, “Lebih penting apa; menang atau hubungan baik?” apalah arti menang dalam perselisihan jika kalah dalam hubungan baik?
Salah satu tipsnya, apabila menerima teguran, tidak usah terus melenting atau berkelit, bersyukurlah, masih ada yang mau menegur kesalahan kita. cara pandang awal inilah yang akan menyelamatkan pikiran kita berikutnya.


Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Blog Archive