it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

29.3.16

KELEDAI TUA DAN SUMUR TUA

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 28 Maret 2016, dihalman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

            Dikisahkan seekor keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sebuah sumur tua. Sementara si petani, sang pemilik keledai, memikirkan apa yang harus dilakukannya. Menyadari bahwa hewan itu sudah tua dan sumur tua itu pun perlu ditimbun karena berbahaya. Jadi ia berpikir tidak ada gunanya menolong si keledai. Kemudian ia mengajak tetangganya untuk membantunya menimbun sumur tua itu. Merekapun membawa sekop dan cangkul dan mulai menimbunkan tanah ke dalam sumur.
            Ketika keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia meronta-ronta. Namun kemudian ia menjadi mendadak diam. Si keledai berhasil melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya hingga tanah yang menimpa punggungnya jatuh lalu ia menginjak-injak tanah itu. Begitu seterusnya, hingga tanah timbunan itu hampir memehuhi sumur tua itu dan kemudian melompatah si keledai tua itu.
            Saya tidak tahu secara pasti dari mana asal kisah ini, tetapi saya pikir kisah ini sangat cocok dengan beberapa pertanyaan tentang bagaimana mengurus perusahaan yang sudah tua dan relatif tidak menguntungkan lagi.
            Banyak perusahaan yang dahulu jaya, kini menjadi kalah dalam persaingan sehingga terseok-seok untuk bisa bertahan.

MATI SEBELUM MATI
            Beberapa kasus yang saya temui selama perjalanan karir saya, adalah sikap manajemen yang merasa sudah tidak berdaya dan kalah bersaing sebelum mencobanya. Mereka kalah sebelum perang.
            Sikap ini selalu terjadi karena prasangka dan teknik mengira-ira oleh pihak manajemen yang tidak cukup dilengkapi dengan motivasi yang handal. Manajemen yang rapuh ini terjadi karena mereka salah menilai pesaing. Belum lagi ditambah rasa frustrasi atas kekurangan-kekurangan yang dialami atau terjadi di dalam internal perusahaannya.
            Jika kembali ke kisah keledai diatas, kita bisa simpulkan bahwa dalam hitungan diatas kertas, si keledai mestinya sudah mati. Sudah Tua dan tiada diharap lagi oleh pemiliknya. Bisa jadi si pemilik dan si keledai sama-sama sepakat bahwa sudah tiada lagi yang bisa diharapkan. Dan sikap inilah yang saya sebut dengan Mati sebelum Mati yang sebenarnya.

MAN BEHIND THE GUN
            Rahasia sukses dan gagalnya sebuah manajemen salah satunya yang paling penting adalah unsur manusianya. Membuat produk sangat mudah karena relatif hanya berhubungan dengan modal keuangan saja. Sebutlah membuat sebuah hotel. Dengan modal uang, dalam waktu singkat bisa berdiri. Tetapi begitu produk tercipta, untuk menjaga, mempertahankan dan meningkatkannya, hanya manusia yang bisa melakukannya.
            Termasuk dalam hal bersaing. Harus diingat, bahwa sarana fisik/produk fisik hanyalah salah satu unsur saja, selebihnya tergantung manusianya. Artinya, jika seseorang merasa takut karena fasilitas fisik pesaingnya lebih unggul, sejatinya itu bukan sikap yang positif.
            Yang harus diwaspadai adalah siapa, orang-orang yang akan mengelola sarana fisik tersebut. Kenalilah orang-orang yang menjadi pesaing kita. Kenali karakternya, karena semua strategi dikemudian hari akan muncul dari kepala mereka.
            Artinya, sikap positif adalah kunci sukses menghadapi semua krisis. Jangan pernah gagalkan diri sendiri dengan prasangka dan cara berfikir yang bisa menggerus rasa percaya diri.
            Teruslah bergerak. Karena diam dan statis akan mengubur diri sendiri. Pergerakan itu hanya terjadi ketika keyakinan dan harapan terus dikobarkan. Kobarannya sangat tergantung dari cara berfikir dan bersikap. Mati dan hidup itu urusan Tuhan, urusan kita hanyalah berusaha tanpa menyerah.


                                                           Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

23.3.16

Meraup Rezeki Pada Impian “Orang Gila”

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 21 Maret 2016, dihalaman 7. Diperbolehkn mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

            TULISAN ini saya dedikasikan kepada beberapa calon pebisnis yang masih ragu dalam menentukan bentuk bisnis apa yang harus mereka pilih.
            Pada akhir dari pesan ini adalah bahwa kita tidak harus meragukan janji Tuhan untuk menghidupi kita. Rezeki tidak tertukar. Kita hanya perlu merubah tahap ‘percaya' menjadi ‘yakin'.
            Jangan terlalu banyak berfikir hingga tidak segera bergerak mulai. Jangan terlalu terganggu dengan konsep ‘kerja mudah, murah tapi keutungan tinggi’. Karena konsep itu tiada pernah terjadi kepada pemula. Konsep itu hanya akan terjadi ketika anda sudah sampai tahap fast track, tahap ketika uang bekerja untuk anda, bukan seperti saat memulai bisnis, andalah yang harus bekerja untuk uang.
            Artinya, jangan terlalu membatasi kecepatan diri dengan terlalu lama memilih bentuk bisnis apa yang harus anda pilih, karena bisnis apapun sebenarnya baik dan berpotensi menguntungkan. Bahkan bisnis melayani impian ‘orang-orang gila’  pun tetap menguntungkan.

Indonesia Expedition
            Ini adalah nama sebuah perusahaan yang produk layanannya adalah membantu ‘orang-orang gila’ mencapai impiannya. Mereka adalah orang-orang yang ingin mencapai 7 puncak tertinggi di dunia. Puncak Karten di Papua, Indonesia; Kilimanjaro di tanzania, Afrika; Everest di Himalaya; Aconcagua di Argentina; McKinley, Denali; Vinson Massif di antartika yang beku; Elbrus di Rusia.
            Saya pikir, ini adalah satu-satunya perusahaan dengan layanan petualangan gunung tinggi di Indonesia saat ini yang dengan jeli membidik pangsa pasar yang sangat sedikit jumlahnya di banding dengan jumlah penduduk di Indonesia.
            Walau dibilang sedikit, jadwal perjalanan Inex (Indonesia Expedition) ini tidak perah kosong setiap bulannya sepanjang tahun. Konon menurut salah satu pendirinya, dari tahun ke tahun bahkan peminat dan pelanggannya bertambah pesat.

TIDAK DILIRIK
            Yang dikerjakan Inex adalah bisnis yang tidak dilirik oleh banyak pebisnis lainnya. Bukan sedikit operator petualangan alam liar yang ada di Indonesia, tetapi umumnya mereka hanya sampai ketinggian terbatas, mulai dari arung jeram, terjun payung, jungle trek, off orad, menyelam, dll.
            Inex dengan cerdas membidik pasar yang tidak dilirik orang lain. Memang, orang lain kurang berani meliriknya karena berbagai alasan, dan alasan yang terbesar adalah pemikiran bahwa pasarnya sangat terbatas dan kurang prospek. Dan itu adalah alasan yang terbukti kini salah.
           
SPESIALIS
            Konsekuensi logis dari pemilihan pasar yang terbatas adalah spesialisasi. Dalam hal ini, inex mengkususkan diri pada paket-paket perjalanan untuk para pendaki yang memiliki impian untuk mencapai puncak-puncak tertinggi di dunia.
            Dengan tingkat resiko dan tantangan yang tinggi, Inex diuntungkan karena para pendirinya sudah terlebih dahulu sukses mencapai ke-7 puncak tertinggi didunia tersebut. Lalu mereka memiliki akses dengan operator-operator lokal di masing-masing lokasi.
            Pengalaman yang berharga itu kini jadi senjata untuk memastikan rating tingkat sukses pencapaian puncak yang semakin tinggi.

TANTANGAN
            Pasarnya bukan pemula, cukup berdaya beli dan memiliki waktu —baik untuk persiapan hingga pelaksanaan pendakian—.
            Selain itu, operasionalnya relatif lebih berat dibanding kegiatan petualangan populer lainnya. Melibatkan banyak pihak dan kemampuan memotivasi peserta untuk sanggup berjuang demi impiannya.
            Dan pasar yang terbatas ini justru menjadi peluang bisnis bagi Inex. Dan menguntungkan. Segera jatuhkan pilihan, tak usah ditunda membuka bisnis. Bahkan untuk produk yang tidak dilirik oleh orang lain sekalipun
                                                                                   
                                                                                   
                                                                         Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com


Share:

15.3.16

MULTI BRAND ALA TANZANIA

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 14 Maret 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

            TERNYATA, ada 6000-an tour operator yang menangani perjalanan wisata safari di Tanzania. Bisa anda bayangkan, bagaimana hebohnya dunia pariwisata melihat hewan liar disana. tetapi ternyata, satu pemilik bisa memiliki 2 hingga 4 nama travel agent di dalamnya.
            Awalnya saya berfikir mengapa mesti seorang memiliki beberapa perusahaan yang bergerak di bidang pekerjaan yang sama. Anda bisa bayangkan, mengembangkan 1 usaha saja sudah repot apalagi memiliki banyak usaha.

MULTI MARKET
         Memiliki beberapa merek pada jenis produk yang sama adalah cara sederhana ketika mendekati jenis pasar yang berbeda-beda. Ini menjadi penting, karena pasar sekarang lebih  menyukai spesialisasi. Misalnya untuk pasar khusus para pensiunan, khusus para peneliti, khusus para pelajar, atau petualangan berkeluarga.
            Jadi, dengan memiliki banyak merek, mereka mengkhususkan masing-masing merek untuk jenis atau kelompok pasar tertentu. Bahkan, nama-nama yang dibuat disesuaikan dengan asal negara masing-masing pasar yang akan dituju. Dengan penamaan produk yang mendekati bahasa asal turis, mereka meyakini akan mendapat respons yang positif dan mudah.
            Dibawah nama-nama itu, mereka menjelaskan bahwa mereka spesialis menangani masing-masing segmen sesuai dengan targetnya.
           
MULTI PRICE
         Dengan memiliki beberapa nama produk yang berbeda-beda. Mereka meyakini bisa menciptakan paket-paket tour dengan harga yang berbeda-beda. Artinya, mereka sudah mendesain mana nama produk untuk yang harus berharga mahal dan mana yang bisa membantai habis harga jualnya.
            Perbedaan harga tersebut sangat mencolok, walau produknya relatif sama. Intinya mereka menjual pemandangan dan satwa liar yang tidak bisa dijanjikan. Para pemandu wisatanya, tidak ada satupun yang menjamin akan bisa melihat satwa apa saja hari ini, karena satwanya liar dan sering bermigrasi. Untung saja jumlah satwanya cukup banyak, jadi selalu saja ada peluang untuk melihat satwa-satwa liar disana.
            Yang membedakan hanya sedikit saja, mulai dari penginapan dalam bentuk tenda atau di hotel mewah. Selebihnya relatif sama. Artinya bisa saya pemilik usaha travel tersebut memiliki 3 travel dengan 3 potensi perbedaan harga jualnya. Saya jadi ingat, bahwa kita kitak pernah bertanya atau berkunjung ke kantor travel agent di kota yang kita kunjungi, selain hanya melihat halaman situs webnya.

MULTI EXCUSE
            Siapa yang benar-benar sanggup memuaskan perasaaan banyak orang tanpa cedera? saya rasa tidak ada. Ini fakta yang disadari para pengusaha perjalanan wisata di Tanzania. Sudah menjadi budaya pembeli, jika tak suka maka akan pindah ke pemberi layanan yang lain.
            Yang saya maksud dengan Multi Excuse (Alasan/maaf) adalah bahwa bisa saja seseorang tak suka dengan satu travel agent yang pernah dia pakai, dan dia akan pindah ke agent lain. Nah disinilah kecerdasan mereka. Mengantisipasi (atau karena pengalaman selama ini), jika ternyata harus pindah ke travel lain silahkan saja, tapi tetap saja pemiliknya sama saja.
            Jangan heran, ketika anda naik mobil safari yang stikernya masih terlihat baru dibanding mobilnya. atau stikernya telihat asal tempel, miring dan tidak rapih. Bisa jadi itu mobil yang bisa berganti-ganti mereknya.
            Tetapi, mau pakai perusahaan manapun, sepertinya usaha keras para pengusaha dan para pemandu wisatanya plus pemerintahnya benar-benar serius menangani pasarnya. Mereka sudah menjadikan wisata sebagai salah satu pendapatan utama bagi negara dan masyarakatnya. Jadi potensi keluhan tetap minimal.

                                                                     Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

11.3.16

PEMERKOSAAN DI DANAU TOBA

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 7 Maret 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

            “TUBUH mulus dan indah itu kini sudah mulai terluka. Keperawanannya terkoyak dengan kasar dan menyakitkan. Sungguh para pemerkosa itu tiada bernurani”, begitu kata seorang wisatawan dari Eropa yang berkomentar tentang Danau Toba suatu ketika dalam sebuah event kepariwisataan.
             Tindak pemerkosaan yang dia maksudkan adalah betapa semena-mena para pengusaha dan penduduknya yang asal saja membangun rumah, kedai dan hotel tanpa mempertimbangkan faktor ekologis dan lingkungannya.
            Kini, banyak sekali bangunan tembok yang tanpa pikir panjang begitu saja didirikan di seputaran Danau Toba tanpa pertimbangan estetika sama sekali. Bangunan beton itu berbentuk kubus, mendadak muncul secara mencolok mata diantara keindahan alam Danau Toba. Sangat tidak serasi dengan alam sekitarnya.
             Berlawanan dengan niat utama untuk menjual keindahan Danau Toba, bangunan-bangunan itu menohok penglihatan dan merusak tema alam disekitarnya.

MEMINDAHKAN KOTA KE TOBA
            Tulisan ini saya dedikasikan kepada para pengusaha dan masyarakat seputaran Danau Toba. Mereka pendiri bangunan yang hanya berfikir membuat kamar dan ruangan. Itu saja. Mereka dengan kasar memindahkan bangunan kota ke Toba yang natural keindahannya.
            Keindahan tata bangunan yang semestinya didesign dengan tema natural, sama sekali tidak dipertimbangkan. Tiada kesadaran bahwa turis datang ke lokasi yang menjual keindahan alam karena mereka sudah bosan dengan tembok. Tiap hari, dia tempat asal wisatawan ini, mereka dibatasi tembok sempit dan kaku mulai dari rumah, sekolah, kantor, ruang rapat, pusat latih kebugaran, rumah sakit, terminal, airport hingga pusat perbelanjaan yang sering dikunjunginya.  Semuanya tembok, kotak dan kaku.
            Apakah mereka akan datang lagi ke Toba jika mereka hanya menemukan tembok lain yang sedang ingin mereka hindari?

SELARAS
            Design tata bangunan yang selaras dengan alam sekitar mestinya menjadi pertimbangan dasar ketika akan membangun sarana akomodasi di Danau Toba.
            Yang sama maksud dengan keselarasan adalah dimulai dengan pemilihan tema yang tepat. Apakah bertema air atau gunung. Lalu buat rancang bangun yang menyesuaikan dengan kontur tanah yang ada, bukan dengan main asal rata dengan traktor. Bahkan sangat baik jika bangunan itu tiada menebang pohon yang ada. Dengan mempertahankan pepohonan itu, maka keindahannya justru akan semakin sempurna.
            Hotel di daerah resort tidak indah jika berbentuk rata seperti ruko berjajar. Kini banyak sekali arsitek yang sanggup melakukan perencanaan design resort yang indah dan selaras dengan lingkunganya.
            Begitu selarasnya, sehingga dari luar atau dari jauh, bangunan-bangunan itu telihat menyatu dengan alam sekitarnya, tidak merusak mata tetapi malah menciptakan keindahan baru.
            Ketika memasuki ruang-ruang didalamnya, pengunjung disajikan tata design interior yang alami dan segar. Tidak bergantung kepada mesin pendingin ruangan dan yang paling penting adalah perasaan bahwa tamu tidak diblok oleh tembok yang kaku dan tidak indah.
            Satu contoh, mandi di kamar mandi dengan tembok rapat mungkin sudah biasa, tetapi mandi di kamar mandi yang di design seperti di pancuran alam bebas pasti berkesan lain. Design cerdas ini memastikan terjaganya privasi yang mandi tetapi dari dalam bisa dengan bebas melihat luas alam disekitarnya.
            Saya sudah berkomentar deretan kedai-kedai yang menutup akses pemdangan ke arah air danau, Padahal orang datang mau melihat danau.
            Cobalah berikan Danau Toba yang sebenarnya, bukan pemaksaan bangunan yang merusak keindahannya.


                                                                            Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Blog Archive