it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

22.4.16

IKAN SALE BORU REGAR

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 18 April 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.

            ADALAH dua orang lelaki bermarga Harahap. Lelaki pertama adalah Harahap original asli lahir di Gunung Tua, ia menikahi seorang perempuan jawa yang kemudian diberi marga Siregar. Lelaki yang kedua adalah keturunan Jawa yang memperistri Boru Siregar dari Sipirok hingga ia diberi marga Harahap.
            Mereka berdua bersahabat dan pada sebuah obrolan mereka bercerita tentang bisnis mereka, kuliner khas dari kampungnya. Ia menjual Ikan Sale. Makanan khas Tapanuli Selatan.
            Ide bisnis ini terbuka ketika mendapati fakta bahwa di Kota Medan dengan jumlah penduduk asal Tapsel yang cukup banyak tetapi yang menjual makanan khas Tapsel sangat sedikit. Sudah begitu, harga jualnya cukup mahal, Padahal harga modalnya cukup terjangkau.
            Si Harahap Original punya jaringan bagus terhadap para pemasok ikan keras khas Tapsel ini. Ia juga paham bagaimana orang Tapsel mengolahnya. Istri si Harahap KW yang asli Siregar ini sangat paham cara membuat masakan khas tapsel yang bisa menjadi pelengkap untuk menyantaop ikan sale tersebut. Lalu terjadilah kolaborasi antar Harahap dan Siregar ini.

BORU REGAR
            Singkat cerita, jadilah gerai makanan khas Tapsel ini dengan nama Ikan Sale Boru Regar. Pemilihan nama tersebut, bukan saja karena istri mereka bermarga Siregar, tetapi karena nama tersebut memberikan penjelasan asal makanan tersebut.
            Jika kemudian ada penjelasan dibawah merek itu sederet kata “Asli Gunung Tua”, itu karena si Harahap original memang berasal dari sana. Dan diyakini, nama Boru Regar dan Gunung Tua memiliki nilai magis yang sanggup meyakinkan pembeli untuk datang dan menyantap produk mereka.

TAKE OUT
            Konsep bisnis yang dikembangkan oleh kedua Harahap adalah tidak menggunakan ruko atau dalam bentuk restoran, tetapi menggunakan gerobak dan dibuka di areal kaki lima. Tulisan merek dibuat dengan kombinasi warna yang mencolok dan dengan ilustrasi gambar yang mengundang cita rasa lezat.
            Sengaja mereka membatasi jumlah kursi dan meja sehingga membuat pembeli lebih memilih untuk dibungkus dan dibawa pulang. Dengan cara bungkus ini, mereka menghemat biaya dan tenaga pencucian piring. Mereka juga menghemat jumlah pelayan. Karena rata-rata pembeli hanya bertahan selama proses pembungkusan saja.
            Dalam perhitungan mereka, menjual dengan dibungkus lebih efisien dan harga jual bisa dibuat lebih murah lagi. Dengan harga yang murah, pembeli jadi lebih banyak.

CABANG
            Mereka menyadari bahwa, jumlah penduduk medan sangat banyak dan tersebar luas. Oleh karenanya mereka membuka di 4 lokasi yang berbeda. Dalam perhitungan mereka, satu gerai sanggup memberikan keuntungan sebanyak Rp.40 juta per bulan, sehingga dengan 4 gerai mereka bisa mendapatkan Rp. 160 juta bersih setiap bulannya. Itu sama dengan Rp.1,920 milyard bersih setiap tahunnya. Sebuah angka yang fantastis.
            Harahap KW menyebutkan bahwa mereka tiap tahun ingin pergi umroh. Saya jadi merasa iri.

BERANI
            Terpana saya mendengar cerita mereka. Lengkap, detail dan penuh optimisme. Tapi saya menjadi terkejut ketika saya bertanya, dimana saya bisa membeli makanan itu. Jawaban mereka, “Ini masih rencana bang”. Lalu saya bertanya, Sudah berapa lama direncanakan, Jawab mereka, “Itulah bang, sudah lama sih”, sambil saling pandang seperti saling menyalahkan.
            Semoga kedua Harahap ini segera berani memulai impiannya. Betapa impian indah tak akan menjadi kenyataan jika tidak segera dilakoni. Dan banyak orang yang seperti mereka.


                                                                        Kosultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

17.4.16

bisnis yang baik


Share:

13.4.16

KREATIF MEMANFAATKAN FACEBOOK

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 11 April 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

            “BAPAK ke Belanda kok gak kasih kabar? kapan singgah ke Leiden? Kami tunggu”.
            “Mas, Singgah ke Den Haag ya, saya tunggu".
            “Mas, kita mungkin satu pesawat nih, kok gak jumpa ya?, saya baru keluar dari Schiphol,            kabari jika sempat ngopi sama di Amsterdam”.
            “Bro, ketemu dong, saya tunggu di Scheveningen, saya masih tinggal di flat dekat kampus          Bro dulu”.
            “Broer, jangan lupa oleh-olehnya ya. bawakan DelfBlau dong, ukuran kecil saja”.
            “Mas-bro, kawan-kawan di Hilversum tinggal 5 orang saja, yang lain sudah pergi, singgah            ya, kami sudah rindu lama tak bertemu”.
            “Tj, kita akan ada Surabayan Party at Zoetermeer next week, please joint us”.

            Begitulah beberapa respons dari kawan-kawan saya ketika saya dengan iseng membuat status lokasi saya di Facebook dengan menyebutkan lokasi saya sedang di Bandara Internasional Schiphol Belanda. Padahal saya sedang berada di Kota Medan.
            Saya menyesal sudah membuat status lokasi palsu. Melalui tulisan ini saya memohon maaf bagi mereka yang ‘tertipu’. Saya terpaksa kerepotan memberikan penjelasan melalui kotak pesan personal kepada kawan-kawan di Belanda satu per satu, agar mereka tidak kecewa karena saya tidak bisa mengunjungi mereka.
            Mungkin karena saya hampir tidak pernah membuat status yang menyebutkan lokasi yang saya kunjungi, sehingga sekali muncul, reaksi yang saya dapat sedemikian besar dengan keyakinan bahwa saya benar-benar sedang berada di Belanda.

CELAH
            Dari pengalaman iseng saya, ternyata ada manfaatnya. Sistem di Facebook hingga tulisan ini saya turunkan, masih belum berubah. Sistem itu memungkinkan kita membuat status check-in dimanapun kita mau tanpa harus berada lagsung di lokasi tersebut.
            Lalu saya mencoba meminta beberapa kawan untuk memanfaatkanya demi kepentingan promosi bagi usahanya. Tekniknya sangat sederhana. Mereka meminta kawan-kawan dalam jaringan perkawanannya di Facebook untuk membuat status check-in di lokasi usahanya.
            Permohonan itu harus dengan penjelasan agar tidak menimbulkan permasalahan. Lalu di gilir dalam satu hari cukup 10 hingga 20 orang saja yang up-date status check-in. Artinya, dalam satu bulan akan ada 300 hingga 600 orang yang menyebutkan lokasi usaha kita. Sebuah promosi yang menarik.

PESAN BERANTAI
            Celah lain yang bisa dilakukan adalah meminta tolong kepada jaringan pertemanan untuk mengunggah foto atau materi promosi ke halaman mereka masing-masing. Sebutlah anda sudah punya brosur digital atau foto mengenai produk anda, selain anda unggah di halaman/dinding facebook sendiri, anda bisa meminta tolong kawan-kawan anda untuk melakukan hal yang sama. bukan cuma share, tetapi kirimkan materi/foto promosi anda ke kotak pesan pribadi dan meminta mereka mengunggahnya di halaman/dinding mereka sendiri.
            Jika anda memiliki 1000 teman, berarti anda sudah mengirimkan pesan kepada 1000 orang tersebut. Lalu jika anda meminta tolong kepada 10 orang yang masing-masing memiliki 1000 orang, artinya anda sudah mengirimkan pesan kepada 10.000 orang. jumlah yang fantastis.

ETIS
            Pertama, jika anda hanya promosi terus menerus, maka orang lain akan bosan dan tak tertarik membaca status-status anda.
            Yang kedua, pastikan teman yang anda minta membuat status check-in benar-benar pernah atau tahu lokasi usaha anda, sehingga mereka bisa menjawab dengan benar apapun pertanyaan yang datang kepada mereka.
            Selamat mencoba.


                                                                   Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

7.4.16

ROMANSA BUNGA TROTOAR DI DEPAN KAMPUS USU (Kompetisi dalam kelompok)

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 4 April 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

            JALAN Dr. Mansur di depan kampus Universitas Sumatera Utara adalah salah satu titik pusat transaksi jalanan yang terlihat sederhana tetapi seru. Jika pihak pemelihara ketertiban umum sedang tidak rajin melakukan razia, maka berkumpulah para “Bunga Trotoar”. Mereka adalah para penjual Batagor, Es Durian, Stiker Potong dan Pulsa internet.
            Pulsa internet apapun ada dijual di sana. Ada produk dari si Merah, si Kuning, si Ungu dan banyak lagi. Mereka berjualan dalam mobil. Dulu, ketika pertama mulai, saya lihat mobil yang mangkal benar-benar mobil yang menarik perhatian dan mewah dan mahal. Kini, mobil butut yang sudah malas hidup pun tetap dipakai.
            Toko berjalan berikutnya juga menggunakan roda tetapi tidak menggunakan tenaga mesin. Mereka menggunakan gerobak dengan sepeda untuk menggerakkannya. Mereka adalah para penjual Batagor dan Es Durian.
           Toko berjalan berikutnya adalah pedagang stiker tempel. Mereka menggunakan sepeda motor yang lebih lincah dan menggunakan tali-tali antar pohon untuk memajang dagangannya. Kelompok ini termasuk kelompok terlama dan berkumpul di zona yang sama sejak lama.
           
Berkelompok
            Tanpa bermaksud menggalang kekuatan kolektif, para ‘bunga trotoar’ ini datang satu per satu dan akhirnya terlihat seperti sebuah kelompok besar. Efek kelompok besar ini adalah pemahaman publik bahwa disanalah ada produk-produk tersebut.
            Jika masyarakat ingin batagor, es durian, stiker potong dan pula internet, mereka akan pergi ke Jalan Dr. Mansur tersebut. Para pembeli bahkan tidak perlu repot cari parkir atau bahkan turun dari kendaraannya. Cukup mendekat, panggil penjual dan tunggu lalu bayar. Sederhana sekali.
            Tanpa mereka sadari, berjualan berkelompok adalah salah satu cara strategi pemsaran jitu ‘yang tak disengaja’. Pembeli tahu kemana mereka harus pergi dan pembeli tidak khawatir jika yang mereka inginkan tidak tersedia di salah satu penjual, karena masih banyak lagi penjual yang lain. Pembeli bebas memilih dengan jaminan akan terpenuhi kebutuhannya.

SERAGAM VS KOMPETISI
            Dalam kondisi tertentu, seragam akan menghasilkan keindahan. Tetapi keindahan bukan satu-satunya komponen penting dalam pemasaran. Keseragaman yang dibuat para pedagang ini sepertinya sudah menjadi bumerang.
            Sebutlah pedagang Es Durian dan Batagor. Mereka menggunakan spanduk merek yang relatif sama, baik ukuran, warna dan jenis hurufnya. Anda bisa keliru memesan es durian kepada penjual batagor.
            Keseragaman ini menuai curiga. Apakah ini milik satu orang keseluruhannya? atau pedagang ini hanya menjualkan saja produk milik satu orang? atau para pedagang ini benar-benar tidak kreatif, sehingga semua spanduknya sama.
            Tanda tanya itu akan mengantarkan rasa tidak percara dalam pikiran pembeli. Dan rasa tidak percaya itu sangat berbahaya.

OVER MESAGE
            Produk yang dijual oleh pedagang pulsa jumlahnya sangat banyak. Paket-paket promosinya juga tidak tunggal. Akhirnya mereka menuliskan semua harga dan paket tersebut. Karena medianya terbatas, terpaksa mereka menuliskannya dengan huruf kecil.
            Apakah huruf kecil akan mengundang orang yang lalu untuk singgah? Tentu tidak, akhirnya, orang singgah hanya karena faktor arus lalu lintas. Jika mungkin mereka baru singgah.
            Pesan yang terlalu banyak dan tidak fokus, tidak akan mengundang orang. Tetapi pesan yang tidak tertulis seperti para pedagang stiker juga menyulitkan pembeli. Mereka mengandalkan tanya jawab dan pembeli takut jika terjebak dalam harga yang terlalu mahal dan merasa tertipu.


                                                            Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Blog Archive