it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

21.6.16

BEDA LUKISAN DI DINDING RUMAH SI KAYA DAN SI MISKIN

Artikel ini sudah diterbitan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 20 Juni 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

            LIHATLAH, bahwa banyak tema lukisan yang menjadi hiasan dinding di rumah-rumah mewah milik orang kaya adalah gambaran potret tentang kemiskinan, kesederhanaan dan cederung tradisinonal dan urban.
            Pada tema itu terpotret kehidupan kampung nelayan sangat sederhana, petani, penari tradisional atau pasar tradisional. Lukisan itu terlihat artistik karena lumrah, original, tanpa basa-basi dan tradisional.
            Lukisan gambar yang sederhana itu menjadi indah karena berada di gedung mewah dan bisakah anda bayangkan, jika lukisan yang serupa itu ditempatkan dibangunan kumuh atau sederhana seperti yang terlihat dalam lukisan itu.
            Pengalaman saya mengunjungi masyarakat urban dan sub urban justru kebalikannya. Mereka sebagai orang yang menjalani kehidupan nyata seperti dalam lukisan di dinding gedung mewah itu justru tidak memasang lukisan yang demikian, mereka memasang lukisan atau foto-foto yang menggambarkan kesempurnaan hidup yang tiada mereka miliki.
            Mereka memasang gambar mobil-mobil modern, mahal dan mewah. Mereka memasang foto-foto artis-artis ganteng dan cantik. Mereka memasang gambar atau foto yang menjadi impiannya.
            Kedua jenis lukisan diatas adalah refleksi rindu akan kehidupan impian dari si miskin dan pembanding bagi si kaya. Masing-masing terobsesi dengan pendekatan yang berbeda. Si miskin berharap agar segera menjadi kaya dan si kaya lebih menonjolkan kekayaannya ketika melihat fakta-fakta bahwa mereka lebih beruntung daripada yang didalam lukisan itu.

PANGSA PASAR
            Dalam dunia bisnis, ilustrasi lukisan diatas bisa menjadi pertimbangan ketika akan menentukan pola dan tampilan produk yang akan dipasarkan. Siapa pangsa pasar yang ingin anda tuju? Apakah si benar-benar kaya atau yang daya belinya relatif lebih kecil.
            Sebutlah anda akan berbisnis yang lokasi bisnis anda harus dikunjungi oleh pembeli, sebutlah restoran, toko dan lainnya. Jika pasar anda adalah dari kalangan menengah kebawah, cobalah tampil dengan mengujudkan impian mereka. Mulailah dengan setting lokasi dan interior yang menggambarkan kehidupan yang layak dan sempurna, modern dan mapan. Jadikan lokasi usaha anda menjadi hiburan dan bentuk realisasi atas impian-impian pasar anda.
            Demikian juga untuk lokasi dan sasaran dari kalangan menengah keatas, bayangkan bahwa pasar anda ini sudah hidup dengan mapan. Artinya, kita harus set anti kemapanan. Bentuknya bisa jadi dengan penggunaan unsur daur ulang. Bahan daur ulang di gedung mahal akan terkesan antik dan nyeni.
Yang jadi kebalikannya adalah ketika orang membuat café di pinggiran kota dengan tampilan yang merefleksikan kesederhanaan, mulai dari bahan dan perkakas yang dibuat dari bahan daur ulang dan atap rumbia, sangat tidak pas.

APLIKASI
            Semua pola tentang kaya dan miskin ini harus diterapkan dalam berbagai bentuk aplikasi, mulai dari nama produk, jenis produk, hingga tokoh yang digunakan.
            Untuk pasar menengah kebawah, pilihlah nama-nama produk yang terkesan asing, berkelas dan mahal, lalu jenis produk yang melambangkan kemapanan dan jika menggunakan tokoh untuk iklan, gunakanlah artis yang melambangkan kemampanan itu sendiri.
            Untuk pasar menengah keatas, pilihan produk klasik, berkelas karena kualitas dan lambang-lambang kemapanan. Mereka sudah sangat mengerti merek-merek kelas dunia yang sudah terkenal lama. Tokoh-tokoh yang digunakan adalah mereka yang menggambarkan keadaan yang diatas kebiasaan, misalnya petualang alam liar, ekspedisi khusus, tokoh pemenang penghargaan tinggi seperti pemenang nobel dll.
            Apapun pasar anda, pasti mereka memiliki impian-impian, penuhi saja impiannya maka produk anda akan mudah diterima.

Konsultai & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

15.6.16

Bernegosiasi Dengan Bantuan Tuhan

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 13 Mei 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkannya dengan selalu menyebutkan sumbernya

BERKALI-kali saya menggunakan jasa taksi di kota yang tidak saya kuasai jalur lalulintasnya. Tiap naik taksi, saya kadang merasa seperti pengalaman banyak orang, dimana kadang-kadang ada perilaku sopir taksi yang kurang terpuji. Demi mendapatkan lebih banyak uang, mereka sengaja memilih jalur jauh untuk menambah putaran meteran, sehingga penumpang membayarnya lebih banyak dari yang semestinya. Belum lagi supir taksi yang menukangi meterannya sehingga putarannya lebih kencang dan lebih banyak.
            Jika berhubungan dengan sopir taksi di kota yang tidak kita kuasai, jelas posisi tawar kita sangat rendah, artinya; kita tidak tahu si sopir berlaku jujur atau tidak (untung sekarang ada alat GPS di smartphone).
            Sama seperti ketika bernegosiasi dengan tukang, supplier atau bidang bisnis yang tidak kita kuasai. Kita dalam posisi yang tidak bisa begitu saja mengetahui apakah kita sedang ditipu atau tidak.
            Kita hanya tahu setelah terjadi, setelah membayar dan pada kesempatan lain kita menemukan fakta-fakta bahwa layanan atau produk yang kita beli benar dan berkualitas dengan harga yang pantas atau kebalikannya.
            Jika sudah demikian, andaipun kita kecewa dengan layanan atu produk yang kita beli, posisinya sudah terlambat. Bahkan marah besar sekalipun tidak lagi bisa menolong kesialan kita. Kita dalam posisi sangat lemah dan itu sangat menyakitkan.

TAKUT
            Bagi para penipu, posisi ketidaktahuan dan ketidakberdayaan kita adalah sasaran yang empuk. Kita adalah binatang buruan yang sangat mudah dimangsa. Mereka tidak takut kepada kita, karena posisi kita lemah.
            Tapi ingat, bahwa ada lagi yang Maha Kuasa yang tidak bisa ditipu, Dialah Tuhan Yang Maha Tahu. KepadaNyalah kita bisa minta pertolongan dalam kondisi kelemahan dan ketidakberdayaan kita.
            Sebagai upaya terakhir saya jika terpojok dalam posisi tidak nyaman itu, saya menggunakan konsep ini.
            Dalam hal sopir taksi, biasanya sopir taksi akan bertanya tujuan kita dan mau lewat mana. Ketika kita jawab tujuan kita dan kita mengatakan tidak tahu lewat mana, disaat itulah titik lemah kita terbuka lebar. Jika si sopir tadi berniat jahat, pada saat itulah ia mulai beraksi, dengan menyebutkan bahwa rute ini macet dan banyak alasan lainnya.
            Pada saat itu biasanya saya akan mengakatan bahwa, silahkan saja memilih jalan manapun yang paling efisien dan cepat. Lalu saya sebutkan bahwa saya percaya kepada sopir tersebut diiringi pertanyaan, “Anda bisa dipercaya kan?”.
            Biasanya si sopir akan menjawab dengan kata “iya, bisa”, nah jawaban itulah yang akan menjadi senjata saya. Saya akan mengatakan, “Saat ini saya dan anda saling percaya dan baik-baik saja, dan jika nanti abang berbuat sesuatu yang berlawanan dengan janji anda, itu sudah bukan urusan saya, itu urusan anda dengan Tuhan anda”.
            Saya akan menyampaikan hal yang sama kepada tukang, janji supplier dan lawan negosiasi. Dan biasanya saya akan merasa nyaman karena pertama saya sudah menyerahkan urusan kami dalam kuasa Tuhan dan kedua, lawan negosiasi saya biasanya takut kepada Tuhannya.
  
IKHLAS
Dan jika sudah meminta pertolongan dari Tuhan agar kita tidak tertipu, lalu kita masih juga tertipu, itu artinya ada kehendak lain yang kita harus terima dengan ikhas dan rasa iman yang tinggi. Karena, dibaliknya pasti aka nada kebaikan-kebaikan lain untuk kita.
            Dan biarlah urusan dosa si penipu menjadi urusannya dengan Tuhannya.


                                                                          Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

7.6.16

Lebih Cepat 1 detik, Lebih Maju 1 Jengkal

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 6 Juni 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya
                LOMBA lari cepat dan balap renang selalu mengasyikkan untuk ditonton. Sederet peserta memacu kecepatan maksimal mereka. fokus kepada satu titik dan bergerak dengan sungguh. Lalu pada titik akhir akan ada seorang pemenangnya.
                Coba lihat, hampir semua perlombaan itu menunjukkan kesamaan. Pemenang pertama dan pemenang berikutnya selalu dalam posisi yang hampir sama. mereka hanya berbeda sekitar 1 detik atau lebih maju di depan hanya sekitar 1 jengkal.
                Perbedaan sekejap dan sedempet itu sajalah yang membedakan antara pemenang dan yang kalah. Perbedaan yang tiada mencolok, tidak jauh, bahkan kadang tidak kentara. Dan bagi mereka yang berusaha untuk selalu berbeda sedikit dari yang lain, maka mereka akan selalu manjadi pemenang.

PEMENANG
                Kaidah bisnis sejatinya hanya seperti perlombaan itu. Para pebisnis akan selalu menciptakan perbedaan itu dan mereka layak berdiri di panggung kehormatan, mendapatkan piala dan hadiah.
                Bisnis dalam tataran yang paling sederhana hingga yang komplek sekalipun sejatinya hanya perihal keberanian seorang pebisnis bekerja lebih awal dan lebih cepat dari orang kebanyakan. Itu saja.
                Ketika orang kebanyakan sedang tertidur lelap, ada segilintir orang terjaga membeli sayuran di pusat pasar, berebut dengan pembeli yang lain untuk mendapatkan harga yang lebih murah dan kualitas sayur yang lebih baik. Mereka lebih cepat dan lebih dahulu dari kebanyakan orang. Mereka mandapatkan uang dan keuntungan dari kebanyakan orang yang kala itu masih terlelap dalam tidurnya.
                Ketika orang kebanyakan ingin mudah dan tidak repot untuk makan sarapan pada pagi hari, ada beberapa orang saja yang terjaga semalam sebelumnya memasak lontong dan makanan sarapan lainnya. Mereka mendapat uang dan keuntungan dari mereka yang tak mau repot dan susah.
                Ketika orang kebanyakan malas berjalan jauh ke pasar, ada segelintir orang yang bersusah payah kulakan ke pasar lalu menyediakan di kedai yang dekat kepada para pemalas itu. Si pedang berjalan lebih didepan untuk mendapatkan uang dan keuntungan dari mereka yang sedikit mala situ.
                Ketika banyak orang membutuhkan transportasi, ada segelintir orang yang berpacu berhemat untuk mendapatkan kendaraan untuk disewakan kepada masyarakat yang membutuhkan transportasi tersebut. Segelintir orang itu akan mendapatkan uang dan keutungan dari masyarakat kebanyakan.

TIPIS
                Batas antara yang segelintir dengan yang kebanyakan sebenarnya sangat tipis. Orang kebanyakan seperti kita sebenarnya tahu rahasia kemenangan si segelintir orang itu. Tapi tak serta merta si kebanyakan bisa otomatis bisa di depan dan memang seperti yang segelintir itu.
                Orang kebanyakan itu malah kadang mencibir dan menggampangkan pekerjaan si segelintir orang itu. Mereka yang kebanyakan suka menganggap remeh pekerjaan yang segelintir itu. Hingga ketika melihat orang yang segelintir itu naik ke panggung kemakmuran, barulah si kebanyakan akan menganalisa dan berkomentar bahwa mereka pun bisa jika hanya melakukan hal sederhana seperti yang dilakukan oleh si segelintir.
                Si kebanyakan menciptakan berbagai macam alasan yang hanya untuk menenangkan perasaan mereka bahwa mereka tidak kalah, tetapi sesungguhnya mereka benar tidak menang.

PUASA
                Persis seperti Puasa Ramadhan. Hanya yang puasa dan Tuhan yang tahu siapa yang jujur atau menipu. Demikian juga dengan pemilihan diri untuk menjadi pemenang atau yang kalah.
                Selamat menjalankan Ibadah Puasa Ramdhan. Insyaallah kita akan menjadi pemenang yang sebenarnya.

                                                                           Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

1.6.16

PENGGEMBIRA UNJUK RASA

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 30 Mei 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya
           TIAP pagi saya melewati Kantor DPRD. Pada waktu-waktu tertentu, saya mendapati banyak pedagang kaget yang berjualan di depan kantor ini setiap ada unjuk rasa. Saya menjadi tahu, setiap ada mereka, berarti bakal ada keramaian semacam unjuk rasa.
              Ketika banyak orang merasa terganggu dengan aksi unjuk rasa, ternyata ada beberapa pengusaha kecil yang selalu bersyukur jika ada keramaian seperti unjuk rasa. Yang selalu menjadi pertanyaan dalam pikiran saya, adalah bagaimana mereka bisa tahu sebelumnya. Rasa penasaran itu membawa saya untuk mendekat dan bertanya.
   “Habis bang?” Tanya saya kepada seorang penjual bakso. “Habis mas, maaf”, jawabnya. Gerobak mie ayam disebelahnya sudah mulai dibersihkan oleh penjualnya. Nampaknya juga habis. Tinggal penjual tahu isi yang masih ada barang dagangannya, itupun ternyata sudah putaran yang ketiga. Sudah dua kali istri si penjual tahu isi mengantarkan tambahan barang dagangannya. Sambil menjawab pertanyaan saya, si penjual tahu isi berkata, “Alhamdulillah pak, hari ini yang demo banyak”.
               
KEKUATAN INFORMASI
               Saya selalu penasaran, bagaimana mereka yang selama ini entah berjualan dimana, tetapi setiap ada demonstrasi di Gedung DPRD, mereka seperti sudah tahu duluan. Para pedagang kaget ini sudah buka lapak pagi-pagi bahkan sebelum tim kepolisian datang mengamankan lokasi.
            Artinya, mereka sudah mendapat informasi jauh hari sebelumnya. Sementara sebagian besar anggota DPRD sendiri tidak semua tahu jika hari itu bakal ada rombongan demonstrasi.
 Informasi yang akurat ini menjadi bekal utama konsep bisnis ini. Konon sampai tahu berapa jumlah peserta demo, rute objek demo dan durasi demo juga bisa mereka tahu. Saya sangat heran ketika mereka mengaku tahu berapa tim pengamanan dari kepolisian yang akan datang. Atas inforasi tersebut, mereka tahu berapa stok barang dagangan yang harus mereka siapkan.
Informasi lain yang tidak kalah penting adalah karakter pendemo. Apakah tipe rusuh yang berpotensi makan tetapi tidak bayar atau tipe gaduh yang berpotensi menciptakan huru-hara dan membahayakan dagangan. Informasi tersebut berguna untuk menetukan posisi lapak, memilih yang strategis dan aman.

MARKETING INTELEGENT
                Saya mencoba bersabar mengorek informasi. Saya mendapati jawaban yang membuat saya terkagum dengan cara mereka. Ternyata mereka punya jaringan ‘orang dalam’ yang hebat. Mereka punya kawan-kawan di kantor DPRD tersebut. Jelas bukan pimpinan dewan, tetapi sepertinya mereka yang memiliki akses informasi dan sudah mereka ajak berkawan sejak lama.
               Bukan hanya di kantor DPRD, mereka juga punya jaringan di Kantor Walikota bahkan Kantor Gubernur. Bahkan konon ada juga informan mereka di kantor polisi. Luar biasa…
                Sekali waktu ada seorang ibu anggota DPRD yang menerima peserta unjuk rasa, karena merasa iba, si ibu meminta ke penjual makanan itu untuk memberi makan beberapa pengunjuk rasa. Yang terjadi kemudian adalah semua pengunjuk rasa menyerbu dagangan. Dalam hitungan menit ludes. Dengan kekuatan jaringannya, si pedagang bisa memiliki akses untuk mengetahui kemana ia menagih pembayarannya. Antas bantuan informan-informannya, si pedagang menemukan dengan mudah si ibu tadi sedang dimana dan jam berapa hingga si ibu tak bisa lari kemanapun.
                Bisnis pola ini tidak saja mengandalkan kekuatan rasa produk makanannya, tetapi lebih kepada keandalan informasi. Terjadi dengan pola jaringan yang rapih, terselubung dan berkesinambungan. Betapa dicelah sesempit apapun selalu ada kesempatan bagi mereka yang bersungguh.


                                                                    Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Blog Archive