it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

26.8.16

Mengawetkan Kenangan Dalam Kaleng



Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 22 Agustus 2016 dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

          JOGJAKARTA, kota keci ini sungguh tiada pernah berhenti dan menjadi poin kenangan indah bagi jutaan orang yang pernah berkunjung atau tinggal disana.  Semua sudut kota ini bercerita dengan gaya yang khas, natural dan bergaya ‘Jogja’.
            Setiap pergi meninggalkan kota ini, selalu saja ada alasan yang kuat untuk berjanji akan kembali lagi.
            Dengan berbagai cara orang membawa kenangan tentang Jogjakarta, ada yang melukisnya dalam lagu dan musik, ada yang membawa produk kerajinan dan kesenian, ada juga yang terpaut dengan makanannya.
           
GUDEG
           Gudeg dan Jogja adalah dua sisi mata uang yang tiada terpisah. Tak ada yang tidak pernah mencicipi gudeg bagi yang pernah tinggal disana. Buah nangka yang dimasak manis dan gurih ini lengket dengan ciri khas jogja. Dan orang-orang merindukannya, hingga terfikir untuk bisa membawa pulang ke kota masing-masing ketika berkunjung ke Jogja.
            Masalahnya, gudeg jogja adalah makanan tanpa pengawet yang tidak bisa bertahan lebih dari 24 jam tanpa disimpan di kulkas. Untuk dibawa atau jadi oleh-oleh, kemasan tradisionalnya terbuat dari kotak anyaman bambu yang disebut besek –tidak layak untuk penyimpanan lama dan kurang nyaman dibawa naik pesawat terbang--.
           
KENANGAN DALAM KALENG
            Adalah seorang Chandra Setiawan Kusuma --generasi ke-2 dari keluarga ibu Lies yang menekuni usaha Gudeg Wijilan di Jogjakarta—yang merasa gemas, tentang kenangan tentang Jogja dan gudegnya, agar bisa dibawa pergi jauh dan lama tanpa masalah.
            Impiannya sangat sederhana, gudeg sebagai poin kenangan tentang Jogjakarta mestinya bisa dikirim kemanapun, kapanpun dan dengan rasa yang tidak berubah. ia ingin Jogjakarta tetap menjadi kenangan indah dan bisa dinikmati dimanapun. Ia ingin menjawab kerinduan jutaaan orang yang kini tinggal jauh dari Jogjakarta.
Sekembali dari perantauannya, Chandra membuat serangkaian ujicoba kelayakan mengemas gudeg jogja dalam kemasan kaleng. Ia terinspirasi dengan berbagai makanan kaleng dari luar negeri yang tetap enak walaupun disimpan lama.
            Tahun 2011 ia yakin dengan hasil uji cobanya mengalengkan gudeg jogja. Tahun 2012 ia mulai memproduksi dengan kelengkapan perijinan dan sertifikasi standard kelayakan produk dan usahanya.
            Kini, produksi gudeg kalengan --yang ia klaim sebagai kenangan tentang Jogjakarta dalam kaleng--, sudah mulai dikenal banyak orang dan produksinya terus naik dan berkembang. Bahkan ia memiliki berbagai varian produk dari rasa manis hingga rasa pedas menderas seperti ledakan mercon.

DUTA BESAR DAN BERKUASA PENUH.
Satu sore di jalan Margo Utomo kawasan Tugu Jogjakarta, saya bertemu dengan Mas Candra si tokoh yang saya ceritakan tadi. Sebuah percakapan bermutu menjadi obrolan kami.
Dalam keyakinannya, ia harus menjadi Duta Besar dan berkuasa penuh atas produk gudeg kalengan yang ia rintis. Produk yang unggul dan praktis ini perlu disosialisasikan. Oleh karenanya ia mengangkat dirinya sebagai Duta Besar bagi produknya tersebut.
Chandra menjadikan dirinya sebagai billboard berjalan. Di pakaiannya ada logo yang selalu menjadi topik obrolan bagi siapapun yang baru saja mengenalnya. Jangan heran ia bawa kartu nama dan brosur kemana-mana.
Ia senang berorganisasi dan mengumpulkan kekuatan kolektif antar para pebisnis yang sejenis dalam sebuah asosiasi. Ia senang bertemu orang-orang baru. Strateginya yang keren adalah ketika ia berusaha memberikan sample untuk dicicipi secara langsung atau melalui pihak hotel dan restoran.


                                                          Konsultasi&Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

18.8.16

Kata Siapa?

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 15 Agustus 2016 dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya
AKHIR minggu lalu, saya meng-coach seorang pekerja karir yang ingin berinvestasi. Ia ingin sekali mendapatkan hasil investasi yang besar dengan bentuk investasi yang sesederhana mungkin.
Dalam pikirannya ia memiliki 2 alternatif investasi yaitu membeli tanah yang luas di kampung atau membuat rumah dipinggiran kota dengan tanah yang lumayan luas. Tetapi ia ragu-ragu. Jika memilih membeli tanah di kampung, bisa saja status legalitas tanahnya bermasalah, karena kebetulan salah satu temannya sudah bertahun sedang menjalani proses hukum karena tanah yang dibelinya ternyata memiliki surat ganda, sehingga kepemilikannya bertumpuk.
Lalu, jika ia pilihannya adalah membuat rumah di pinggiran kota, ia ingin rumahnya ia desian sendiri. Ia ingin rumah itu menjadi rumah tinggal yang nyaman bagi diri dan keluarganya.

PERTANYAAN
            Saya membantunya dengan beberapa pertanyaan; misalnya apakah ada di dunia ini yang sedikit modal dan menghasilkan banyak keuntungan? Setelah bebarapa waktu hening, ia menjawab, hasil besar harus dengan usaha besar. Hasil besar berbanding lurus dengan pengorbanan yang dilakukan.
            Lalu saya bertanya lagi; apakah hanya 2 bentuk investasi itu saja yang dia ketahui? Apakah tidak ada yang lain? Sejenak dia berfikir dan menjawab, “mungkin ada ya…”.
           Saya bertanya lagi;  jika harus memilih berinvestasi di tanah, apakah semua tanah bermasalah? Apakah semua tanah berstatus bermasalah dalam legalitasnya? Apakah ada sumber informasi lain tentang pertanahan selain satu-satunya kawan yang sedang bermasalah dipengadilan itu? Apakah mungkin dia cari sumber-sumber informasi itu , agar lebih melengkapi datanya.
          Semua pertanyaan itu ia jawab satu persatu dengan ‘aha…!’, sebuah klik dimana ia menemukan bagian-bagian yang terlewat dari cara berfikirnya karena kurangnya data yang valid.
            Ketika terfikir untuk berinvestasi dalam bentuk rumah di pinggiran kota, saya bertanya, apa beda nilai modal yang harus dikeluarkan antara membangun rumah untuk investasi dan rumah untuk memuaskan selera diri sendiri?
            Jelas rumah sesuai selera akan mengambil modal yang jauh lebih besar daripada rumah untuk investasi dan dijual. Karena ini menyangkut selera dan selera mengenai rumah sangat sulit dikendalikan.
            Pertanyaan lanjutannya adalah, apakah selera dirinya atas sebuah desain rumah akan sesuai dengan selera pasar jika suatu saat nanti ia jual?
            Pertanyaan lainnya adalah; apakah ada bangunan rumah yang relatif tidak ada maintenance? Sehingga nilai modal tidak tergerus tiap tahun hanya untuk perawatannya.

 KATA SIAPA?
Semua dari kita selalu bisa bersikap dan mengambil keputusan masing-masing. Permasalahannya adalah, bagaimana kesimpulan itu diambil? Atas dasar apa? Apakah data pertimbangannya cukup lengkap?
Kata-kata; ‘saya pikir’ dan  ‘saya rasa’, memang bagus, tetapi dasar pikiran dan perasaaan itulah yang sering terbukti kurang cukup, sehingga mengakibatkan pikiran dan perasaan yang dangkal serta kurang bijaksana.
Perlu sumber-sumber data yang kredibel, falid dan layak dipercaya. Perlu upaya memperkaya data sehingga cara pandang yang lebih luas dan bijaksana.
Yang kita perlukan hanyalah keluar dari tempurung yang mengurung diri kita dan bertanya. Ya, cuma bertanya. Bahkan mencari dan menilai kredibilatas narasumber juga bisa dilakukan dengan bertanya.
Ketika kita bertanya, kita akan mendapatkan banyak data. Ada yang pro dengan pikiran anda dan ada yang kebalikannya. Teruslah bertanya.
Pada akhirnya, kesempurnaan kelengkapan data harus diakhiri dengan keberanian pengambilan keputusan. Terlalu banyak data tanpa keberanian, hanya membuat kita menjadi penakut yang tidak mengambil langkah apapun.


            Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

4.8.16

ANTI GRAND OPENING

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 1 Agustus 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu mennyebutkan sumbernya

                ANAK saya sedang berlajar berbisnis. Dia dan sepupunya membuat sebuah gerai kuliner di Medan. Saya menyarankan agar tidak usah repot-repot membuat peresmian besar pada awal usahanya dimulai. Mereka terheran tetapi akhirnya tetap menjalankan saran saya.
               Gerai kuliner mereka dimulai dengan merambat pelan pada awalnya. Promosi yang Mereka lakukan sangat sederhana, hanya mengandalkan perkawanan dari jaringan media sosial dan orang-orang yang lalu lalang di depan gerainya saja.
              Jumlah pelanggan yang datang bergerak naik dengan pelan, tidak seperti gerai yang lain yang mendadak ramai-heboh sejak awal pembukaan tetapi lalu drop menghilang pada bulan ke empat dan seterusnya.

GRAND OPENING
 Khusus untuk jasa kuliner, biasanya konsumen yang datang pada masa 3 bulan pertama adalah mereka-mereka yang sedang ‘mencoba’ saja. Ketika anda tidak benar-benar siap menyambut mereka yang datang dalam jumlah sekaligus besar, anda sedang menggali kuburan anda sendiri. Begitu keluhan demi keluhan terjadi, secara beruntun pada kesan pertama, selanjutnya bisnis anda akan di coret dari daftar pilihan pelanggan itu.
            Benar bahwa “jika diberi waktu, tak akan ada satupun pekerjaan yang selesai”, tetapi memulai hal yang serba baru dan tampil sempurna memerlukan persiapan yang tidak main-main. Sialnya, untuk benar-benar sempurna, anda memerlukan waktu dan sumber daya yang tiada sedikit.
Jika ingin membuat perayaan grand opening untuk usaha anda, pastikan posisi usaha anda sudah benar-benar siap, baik tempat usaha, produk, tim pelaksana, sarana promosi, dan semuanya. Karena begitu anda mulai, anda masuk dalam arus janji yang tiada celah untuk minta time-out / rehat sejenak.`

HENING
Begitu dibilang anak saya. Usaha mereka dibuka dalam ‘keheningan’ tanpa riuh undangan, iklan di Koran, iklan di radio, papan bunga, hingga baligho atau poster.
Keheningan yang sengaja dibuat ini menjadi pilihan karena; Pertama, bagi para pemilik dan pengelolanya ini adalah bisnis serius pertama yang sedang mereka coba pelajari sambil jalan. Mereka belum memiliki kapasitas dan pengalaman yang cukup untuk semua hal, mulai dari pengalaman mengelola pegawai, mengelola operasional, mengelola keuangan, mengelola Pemasaran dan yang lainnya. Mereka hanya punya semangat. Ya itu saja.
Kedua, pegawai yang mereka rekrut hanya satu-dua orang saja yang benar berpengalaman dalam pekerjaannya, sedang selebihnya mereka adalah pemula yang tak pernah ada pengalaman sama sekali.
Ketiga, produk yang mereka tawarkan memerlukan proses uji respon pembeli, memerlukan perbaikan dan penyempurnaan.

TUMBUH BERSAMA
             Ada proses natural yang bertumbuh bersama-sama dalam proses hening ini. Produk, pegawai hingga tamu-tamu yang datang terlibat dalam pertumbuhannya.
              Tamu-tamu yang datang dilibatkan dalam proses bisnis ini, terjadi percakapan dan akhirnya mereka memberikan masukan dan saran. Ketika kunjungan berikutnya mendapati saran dan masukkannya dilakasanakan, para tamu merasa senang dan menjadikan tempat kuliner itu menjadi rumah bagi mereka.
                Produk dan pegawai bertumbuh dengan natural. Pegawai-pegawai yang bekerja terseleksi dengan lumrah. Ada yang tidak cocok bekerja dalam hitungan hari, ada yang cocok bertahan hingga tulisan ini saya buat. Ada proses terkoneksinya aura antara para pekerja dan pengelola. Hanya yang cocok yang bisa bertahan.
               Pertumbuhan yang terkesan ‘lambat’ tetapi terkonstruksi dengan baik ibarat pohon yang ditanam dari biji, pelan tapi memiliki akar yang kokoh menghujam dan mengikat bumi. Karena bisnis bukan cuma untuk semusim saja.


                                                               Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Blog Archive