it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

19.10.16

Ayo Segera Buka Cabang


             KETIKA penjualan outlet usaha anda sudah pada angka yang relatif sama sepanjang tahun dan mungkin terulang pada tahun-tahun berikutnya, itu sebuah tanda bahwa anda harus memikirkan strategi baru.
             Jikapun ada peningkatan penjualan yang terjadi karena kenaikan harga jual, itu bukan kabar baik untuk anda. Artinya volume penjualan outlet tersebut sudah pada titik puncak, jenuh dan tidak ada harapan meningkat drastis. Grafik penjualan sudah datar dan sulit naik.
            Pada posisi ini anda harus waspada, karena sebenarnya anda hanya membuang waktu. Benar anda tidak rugi, tetapi sejatinya anda tidak maju jika hari ini masih sama dengan hari yang lalu.
            Pilihan ideal untuk mendapatkan pendapatan lebih adalah membuka cabang baru. Karena dengan membuka cabang baru, anda akan mendapatkan tambahan pendapatan dengan kerja yang bervolume relatif sama.
             Pada suatu saat, cabang baru tersebut juga akan mencapai titik maksimalnya. Pada saat itu pun anda harus memikirkan pembukaan cabang baru. Nah, yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, kapan dan bagaimana caranya kita harus buka cabang baru.

PERGERAKAN MANUSIA
            Sekarang, coba anda ingat-ingat; dalam keseharian anda, kemana saja jalur perjalanan anda? Apakah seluruh jalur kota anda jalani? Apakah semua sudut kota anda kunjungi?
            Sebutlah dimana posisi anda tinggal kini, lalu, tanyakan kapan kali terakhir anda kunjungi sudut kota yang lain? Dengan pertanyaan yang sama, coba tanyakan kepada kawan-kawan anda.
            Saya yakin jawaban terbanyak adalah bahwa anda kenal/tahu nama dan situasi sudut-sudut kota anda, tetapi mungkin sudah berbulan atau bahkan bertahun sudut-sudut itu tidak anda kunjungi.
            Itu sangat manusiawi. Karena sejatinya, kita hanya bergerak pada garis edar yang rutin dan pasti. Pikiran kita tahu garis edar yang lain, tetapi faktanya kita tidak mengunjunginya secara rutin.
            Fakta tersebut adalah salah satu alasan, mengapa kita tidak perlu khawatir untuk membuat cabang lain di kota yang sama. karena manusia yang beredar di areal outlet pertama anda akan berbeda dengan manusia yang beredar pada lokasi outlet cabang yang lainnya.
            Artinya, pembukaan cabang baru sangat kecil pengaruhnya terhadap pengurangan pasar dari outlet lama. Jadi outlet baru sejatinya bukan saingan bagi outlet yang lama.
            Atas fakta itulah kini anda melihat banyak usaha waralaba yang bercabang sangat banyak, bahkan ada diantaranya yang dalam jarak posisi kurang dari 1 km.

WAKTU
            Ini menjadi penting, karena usia kita terus berjalan. Sangat boros waktu jika keputusan membuka cabang usaha hanya ketika outlet lama omzetnya sudah mendatar dan tidak bisa naik lagi.
            Terlepas dari sumberdaya yang anda miliki dalam hal modal, system pengawasan dan sumberdaya manusia, keputusan untuk segera membuka cabang sebanyak mungkin adalah langkah cerdas mengantisipasi faktor waktu.
            Jatah waktu anda hanya 24 jam dalam 1 hari, jika 24 jam ini hanya mengerjakan 1 outlet bisnis, pasti hasilnya akan berbeda jika pada waktu yang sama anda mengoperasikan 5 atau 10 cabang yang lain.
            Yang perlu anda pastikan adalah pembukaan outlet baru idealnya dilakukan ketika anda sudah berpengalaman menjalankan bisnis tersebut lebih dari 2 tahun. Saya tidak merekomendasikan bagi yang belum 2 tahun, karena anda memerlukan pengalaman yang sudah teruji.Buka cabang ketika bisnis anda belum sampai 2 tahun adalah tindakan yang terlalu maksa dan beresiko.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 17 Oktober 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.


Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

APA BISNIS ANDA?

                KLIEN coaching bisnis saya sering salah menyebut bisnisnya. Sebutlah bang Anto yang mengaku memiliki bisnis sebuah restoran. Pak Juned mengaku berbisnis pembuatan cangkul dan Ibu Elida pemilik bisnis penyewaan tratak.
              Dalam cara pandang itu, Bang Anto merasa produk catering untuk pesta dan makanan rantangan bukanlah bisnisnya. Sehingga ketika restorannya mencapai titik penjualan maksimum, ia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk mengoptimalkan pendapatannya.
              Sama ketika permintaan alat cangkul mulai menurun, Pak Juned merasa ide pembuatan pisau dan alat pertanian lain bukan merupakan solusi yang cemerlang.
               Demikian juga dengan Ibu Elida yang ketika merasa pendapatannya kurang bagus, ia tidak merasa terpanggil untuk menambah produknya dengan penyewaan kursi, meja, pelaminan, meja makan, piring dan gelas atau perlengkapan pesta lainnya.

URUSAN
                Dalam terminologi bahasa Ingris, secara sederhana kata Bisnis/Business bisa diartikan sebagai ‘urusan’.  Sehingga sering kita lihat dalam dialog berbahasa inggris, jika seseorang menolak sesuatu sering menyebutkan, “That is not my business” yang berarti, “Itu bukan urusan saya”.
                Oleh karenanya, saya menyebut bisnis sejatinya adalah urusan. Sebuah kegiatan yang kita lakukan untuk memenuhi kebutuhan konsumen atau membantu konsumen. Ada unsur pelayanan dalam urusan itu.  Sehingga saya mendeskripsikan bisnis adalah sebuah upaya untuk melayani konsumen dalam memenuhi kebutuhannya degan sebuah produk atau membantunya dalam sebuah jasa pelayanan.
                Jika tadi Bang Anto menyebutkan bahwa bisnisnya adalah mengelola restoran, maka dalam cara pandang ini, bisnisnya/urusannya adalah melayani konsumen dengan menyediakan serta melayani kebutuhan dalam hal makanan dan minuman.
                  Sehinga jelas bahwa restoran bukanlah urusan/bisnis, tetapi hanya salah satu produk dari urusan utamanya menyediakan serta melayani kebutuhan dalam hal makanan dan minuman.
                Jika tadi Pak Juned menyebutkan bahwa bisnisnya adalah membuat cangkul, maka sebenarnya; urusan/bisnisnya adalah melayani konsumen dalam hal pembuatan perkakas pertanian. Dalam hal ini, pembuatan cangkul hanyalah salah satu dari produk dari produk bisnis/urusannya.
                Kesalahan penyebutan bisnis dengan menyebutkan produknya akan mengakibatkan sempitnya cara pandang dan cara berfikir. Hal ini berakibat kepada keterbatasan ide serta kreatifitas ketika opsi mengganti atau mengembangkan binis harus dilakukan.
                  Jadi saat ini saya pikir anda sudah Paham bahwa bisnis anda bukanlah produk atau jasa bisnis yang anda miliki, tetapi urusan besar yang lebih luas dalam urusan anda. Dengan memandang bisnis anda dengan lebih luas, maka pikiran anda akan lebih luas dan potensi kreatifitas tidak akan terpagar oleh tembok-tembok karakter produk anda.
               
MELAYANI
                Saya tidak hendak latah asal menyebut pelayanan. Karena sejatinya kita memiliki urusan dengan konsumen. Apapun itu adalah upaya melayani, membantu dan memenuhi kebutuhannya melalui produk atau jasa yang kita tawarkan.
                Kata melayani tidak bisa ditinggalkan karena sejatinya bisnis/urusan kita adalah memang melayani. Artinya budaya memberikan pelayanan adalah pilihan yang tidak bisa kita hindari. Dan kata melayani adalah kata sakti yang memiliki bobot kemuliaan. Kata melayani adalah penggambaran bentuk tidakan yang mulia, terpuji dan bernilai.
                Oleh karenanya, siapapun kita harus memiliki kemuliaan jiwa untuk bisa menyelesaikan urusan/bisnis kita. Jiwa mulia ini harus ada karena melayani memaksa diri untuk tunduk merendah dibawah orang yang dilayani.
                Merendah bukanlah rendah. Merendah adalah tindakan nyata dari pernyataan bahwa kita sebenarnya tinggi dan mulia. Karena hanya mereka yang tinggi saja yang bisa merendah.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 10 Oktober 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

                                                                                Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

4.10.16

Tindakan Yang Menantang


        BANG Nardi, penjual bumbu pecel di salah satu pasar tradisional di Medan, akhirnya memberanikan diri membuka cabang di 5 pasar trasional lainnya. Iamerekrut 6 orang saudaranya untuk menjadi penjual di ke 6 pasar tradisional tersebut.
            Untuk mensuplay bahan dagangannya, Bang Nardi menambah pekerja bagian produksinya menjadi 4 orang. Bang Nardi menambah jumlah supplier dankapasitaspasokannya. Bang Nardimenambah 2 unit mesin untuk memenuhi kebutuhan produksinya.
      Untuk membiayai penambahan-penambahan tersebut, Bang Nardi memberanikan diri meminjamtambahan modal ke Bank.
            Apa yang dibuat Bang Nardi adalah sebuah rentetan tindakan yang menantang bagi dirinya karena itu hal baru dan tidak biasa ia lakukan. Keberanian dirinya memilih tindakan yang menantang itu karena ia baru saja membuat target yang memaksa.
           Sebelumnya, Bang Nardi hanya memproduksi bumbu pecel sendirian dengan sesekali dibantu istrinya. Ia juals endiri di pasar dan begitulah selama ini berlangsung terus menerus.
            Ketika Bang Nardi menyadari bahwa selama ini ia hanya berputar pada lingkaran produksi bisnis yang begitu-gitu saja, ia merasa hanya bertanding dengan waktu dan kalah karena ia hanya memiliki satu badan dengan dua tangan dan dua kaki, tidak lebih. Pada waktu Bang Nardi menghendaki pendapatan 6 kali lipat dari yang ia dapatkan sekarang, ia memutuskan untuk membuat salinan bisnis yang sama di 6 lokasi yang berbeda.           

Menantang
            Rentetan aksi-aksi logis oleh Bang Nardi adalah pilihan yang harus dilaksanakan setelah penetapan target yang memaksa.
             Tindakan menantang yang saya maksud adalah tindakan-tindakan yang diatas level biasa. Tindakan-tindakan yang serius dan sanggup mengimbangi target-target memaksa tersebut.
           Saya katakana menantang karena karakter dan criteria tindakannya adalah member efek tantangan kepada pelakunya. Tantangan ini umumnya berupa upaya-upaya yang tidak biasa, yang tidak umum dan tidak terfikirkan banyak orang.
            Tentu saja level pemaksa bagi masing-masing orang berbeda-beda adanya. Sebutlah bagi Bang Nardi adalah kelipatan 6, mungkin bagi anda harus kelipatan 100.
            Level paksaan itu tergantung dari keberanian dan kemerdekaan pikirannya. Bagi banyak orang, tindakan menantang bukanlah pilihan yang menyenangkan. Dan sebenarnya memang ‘agak’ kurang menyenangkan. Tetapi tindakan-tindakan yang menantang itulah kunci sukses peningkatan target yang memaksa.

Melampaui Batas
               Dahulu ada banyak filosofi penenang perasaaan seperti “Biar pelan asal selamat”. Dalam hal ini alas an seperti itu tidak bias diterima.
               Filosofi, “Kalau tak bias lari,  cukup jalan. Kalau tidak bias jalan, cukup merangkak” harus dirubah menjadi; “Kalau bias jalan, merangkak tidaklah cukup. Kalau bias lari, maka berjalan bukanlah pilihan”.
              Kita harus bisa dan membiasakan dir iuntuk selalu melakukan hal-hal yang diatas batas rata-rata. Kita harus membiasakan diri berprestasi diatas rata-rata.
            Dan ketika melakukannya, jelas terasa tidak nyaman dan sangat mungkin terasa menyakitkan. Tapi ingat, semua bentuk yang menyakitkan dan tidak membunuh, sesungguhnya membuats eseorang menjadi lebihkuat. Yang bias membuat kita tidak perlu khawatir terhadap apapun bentuk perasaan adalah bahwa sesungguhnya, tiadalahs atu pun perasaan yang abadi. Perasaan dating dan pergi bergantian, artinya rasa sakit dan susah itu tiadalah akan terjadi selamanya dan permanen.
          Membiasakan diri pada standard yang tinggi diatas batas rata-rata, akan menjadikan diri terbiasa dengan tekanan keras. Itu akan sangat bagus, karena ketika kita terbiasa keras terhadap diri sendiri, maka dunia akan terasa menjadi mudah danl unak.
           

                                                            Konsultasi & Coaching; tj@cahyopramono.com

Artikel ini sudah iterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 3 Oktober 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya
Share:

Blog Archive