it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

21.12.17

MENGELOLA PERUSAHAAN KELUARGA


            DI perusahaan saya ada beberapa kerabat yang bekerja didalamnya. Pertimbangannya sederhana; saya perlu pegawai dan kerabat saya mau bekerja. Hingga sekali waktu salah seorang diantaranya mengindikasikan ketidakbaikan untuk proses manajemen perusahaan saya.
            Kerabat saya ini datang suka-suka, tidak mau serius bekerja dan tidak menjadi bagian dari tim kerja yang baik. Dalam pikirannya dia merasa sedang bertamu di rumah saudaranya sendiri. dia merasa bahwa sebagai saudara mestinya dia mendapat keistimewaan.
          Akhirnya saya minta kepada manajer untuk menegur dan mengingatkan pegawai yang juga kerabat saya itu. Saya ingin dia Paham bahwa sebagai kerabat, apapun akan dilakukan untuk membantunya. Tetapi sebagai pekerja semestinya bekerja sesuai aturannya.
            Kerabat saya itu tidak paham bahwa semestinya menjadi pekerja yang juga kerabat harus bekerja lebih baik karena menyadari bahwa ia sedang bekerja di perusahaan kerabatnya, bukan malah merusak sistem yang harus berjalan.
            Saya berikan alternatif untuk keluar dari menjadi pegawai dan tetap menjadi kerabat. Dan sebagai kerabat saya tetap akan membantu sekuat saya.

MENUNTUT

Dalam perusahaan keluarga hampir semua keputusan dan urusan terkait emosi dan hubunga kekerabatan, jadi aplikasi konsep bisnis professional harus ditambah pendekatan khusus supaya tidak terjadi keributan dalam keluarga.
Kita dipaksa memilih antara keuntungan atau keutuhan keluarga, sebuah pilihan yang sulit. Belum lagi ketika manajemen direpotkan oleh sikap-sikap anggota keluarga yang bekerja dengan suka-suka.
Kadang mereka benar-benar tidak bisa membedakan peran antara keluarga dan bisnis. Sebuah sikap yang pada akhirnya akan merugikan dirinya sendiri.
Sangat bijak jika diberikan pemahaman kepada pekerja yang juga anggota keluarga bahwa bisnis itu adalah sarana untuk saling membantu. Membantu keluarga dan membantu dirinya sendiri.
Harus dengan jelas dan terang dipahami oleh seluruh anggota keluarga yang terlibat untuk bersikap professional dan tidak cengeng yang hanya menuntut untuk diperlakukan dengan baik, diberi prioritas dan kerja yang sesuka hatinya.
Pemahaman ini akan terbentuk lebih baik, jika perusahaan dikendalikan dengan sistem yang baik. Jangan biarkan rasa segan membuat kita tidak menciptakan aturan. Ketika sistem dan aturan dilaksanakan dengan baik, maka semua perselisihan dan permasalahan akan dapat diselesaikan dengan baik.
Jangan lupa, sistem yang baik ini harus dikomunikasikan dan mendapat persetujuan dari semua tim kerja termasuk anggota keluarga yang bergabung dalam tim tersebut.

MEMILIH TIM
Perusahaan pada umumnya, memiliki keleluasaan memilih tim kerja dari mana saja tanpa hambatan. Selama cocok dan tepat maka kita bisa merekrut siapa saja, kapan saja. Perusahaan keluarga umumnya hanya memiliki pilihan tunggal; hanya anggota keluarga.
Karena sumber pilihannya sempit, maka kadang dengan terpaksa kita mengangkat mereka dengan apa adanya yang kadang kurang sesuai dengan prasyarat yang harus terpenuhi untuk menjadi seorang pekerja atau manajer yang baik.
Disini kita terkena kewajiban untuk membuat Program Pengembangan Kemampuan untuk anggota keluarga. harus sudah ada langkah kongkret dari mereka kecil. Harus dilihat potensinya, diarahkan preferensinya, dipersiapkan pendidikannya dan dibangun kesepakatan ke depannya,
Jika perlu dicarikan mentor khusus untuk pengembangannya. Sangat direkomendasikan agar sebelum seorang generasi penerus diajak bergabung dengan perusahaan keluarga, sebaiknya dia disuruh bekerja dulu di perusahaan lain untuk belajar. Biarkan mengalami menjadi bawahan dan mengalami naturalnya sebuah perusahaan berjalan.
Jika kinerjanya sudah baik dan matang, panggilah kembali untuk mengurus perusahaan.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 18 Desember 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.


                         Business Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

20.12.17

Perusahaan Keluarga, Mengapa Tidak?

            SETELAH mendengar keluhan sahabat saya atas krisis dalam perusahaan keluarga yang dipimpinnya dan perebutan kekuasaan dan saling jegal diantara pengurusnya yang sebenarnya bersaudara, sahabat saya tersebut juga merasa prihatin, karena dibalik itu dia sedang merasakan keretakan hubungan kekeluargaan yang sebenarnya.
          Saya meyakini bahwa tidak semua perusahaan keluarga jelek dan tidak bisa berkembang. Di negeri ini sudah banyak terbukti bahwa perusahaan keluaga bisa berkembang dan bertahan lama. Jika pun banyak  yang gagal saya yakin faktor keluarga bukan satu-satunya penyebab dalam proses seleksi alam yang wajar terjadi.
       Adalah Fakta bahwa banyak keluarga (suami istri) yang memilih berbisnis untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kita menemukan hal ini di sekitar kita. ada yang membuat toko, ada yang membuat pabrik, ada yang membuat restoran dan lainnya.
         Sayangnya, bisnis keluarga yang dimulai oleh suami istri ini jarang yang bisa berkembang besar dan bertahan lama. Kebanyakan hanya bertahan sekadar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
        Saya mencatat ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan untuk menjalankan bisnis keluarga.

SATU NAHKODA
            Benar bahwa suami istri atau saudara berniat membangun bisnis untuk bersama dan dilakukan bersama-sama, tetapi harus ada kesepakatan yang jelas dan harus dipatuhi bahwa pimpinan hanya ada 1 orang.
            Kesepakatan itu harus dihormati dengan sungguh-sungguh. Jika ada kekurangan yang dimiliki oleh pemimpin yang ditunjukk, semestinya ada formula yang bijaksana untuk saling mengingatkan dan saling menguatkan. Wewenang harus dibagi dengan jelas dan tegas dengan aplikasi yang luwes. Ingat, tidak ada pembagian wewenang yang sama rata. Pemimpin hanya boleh 1 orang. Kalau wewenang dibagi rata, maka akan tercipta pertengkaran. Hal yang biasa terjadi antar saudara dan antara suami dan istri.
            Tantangan paling besar dalam pembagian wewenang adalah rasa hormat dan bersungguh yang kadang terabaikan karena merasa bahwa pihak lain toh saudara/keluarga yang pantasnya memaklumi jika seseorang saudara/keluarga yang lain membuat kesalahan.
            Sering terjadi dalam kepemimpinan yang di jabat oleh suami istri menghasilkan perintah-perintah yang saling bertentangan. Suami perintah A dan si istri perintah B. si suami berorientasi kepada peningkatan omset dan si istri lebih berorientasi kepada penekanan biaya.    Dan ketika si suami berusaha mati-matian menggenjot penjualan, si istri menahan penambahan pegawai penjualan atau berusaha menahan kenaikan gaji pegawai.

KAPASITAS
            Mengelola perusahaan dituntut kapasitas kemapuannya, bukan sekedar kepercayaan. Artinya, harus dipilih orang-orang yang kompeten, memiliki kemampuan yang mumpuni untuk menjalankan bisnis tersebut.
            Jika pun terpaksa memilih anggota keluarga untuk menjalankan salah satu tanggungjawab dala perusahaan keluarga, pastikan mereka mendapatkan bekal Pendidikan, pelatikan dan coaching agar mereka bergerak maju dan bukan menjadi penghambat laju perusahaan.
            Carilah guru, coach atau mentor professional untuk membimbing anggota keluarga mencapai level kapasitas yang baik. Jika memiliki waktu yang cukup anggota kelurga yang akan bergabung, selayaknya ‘disekolahkan’ dahulu ke perusahaan-perusaan lain untuk mendapat pengalaman.
            Biasakan untuk menggunakan pendekatan bisnis yang professional didalam mengambil keputusan. Banyak business tools yang tidak dikuasai tetapi tidak dipelajari. Hindari sikap karena sekadar senang, atau faktor keengganan kepada saudara / keluarga yang lain.
            Sikap anggota keluarga mestinya berposisi sebagai pembela keluarga dengan bekerja lebih serius dari pada yang bukan keluarga, bukan sebaliknya. Perilaku manja dan tidak ingin bekerja dengan maksimal selalu menjadi penyebab kehancuran bisnis keluarga.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 11 Desember 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.
           

                                        Business Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

6.12.17

Bisnis Keluarga Yang Sekarat

           SUATU sore di bulan November mempertemukan saya dengan seorang pengusaha yang memimpin bisnis keluarga warisan dari orang tuanya. Sore yang mendung itu mengantarkan kami pada sebuah rasa pedih batin sahabat saya itu karena dirundung pertengkaran dengan adik-adiknya yang sangat membutuhkan madu tetapi lebih senang menghancurkan sarang lebahnya.
            Kejayaan kerajaan bisnis yang dikibarkan pendirinya mulai pudar seiring meninggalnya si perintis. Kini kerajaan bisnis yang hampir karam itu dikelola dalam perang membara antar para pewarisnya.
            Dalam hening saya mendengarkan secara runtun kisah pilu itu. Tanpa komentar saya terus mendengarkannya. Menjelang magrib saya memberikan dukungan moral dengan memberikan beberapa masukkan.
            Kali ini saya tidak hendak menceritakan saran-saran yang saya sampaikan kepada sang abang. Tetapi saya ingin membagi kepada anda hal-hal yang menjadi penyebab keruntuhan sebuah bisnis karena faktor internalnya sendiri.

PERANG DOA
Ketika tidak ada ridho antar pengurus perusahaan, tidak akan ada kedamaian dan keindahan didalamnya. Dalam tataran doa saja masing-masing pihak sudah bertikai. Masing-masing memaksakan kehendaknya kepada Tuhannya.
Tidak terlihat secara jelas, tetapi terasakan aura yang negatif, gelap dan kasar. Suasana gersang penuh kecurigaan dan kecurangan terselubung.
Saudara tidak menjadi alasan yang baik untuk membuat teciptanya kerukunan. Kecemburuan dan ketamakkan menjadi makanan sehari-hari.
Ketika ridho tidak hadir, yang ada hanyalah perlombaan untuk saling membalas dan saling menjatuhkan. Memperebutkan dengan tidak baik sesuatu yang semestinya menciptakan kebaikan.

TANPA KONTROL
            Sibuknya para pengurus bisnis itu untuk saling menyerang dan menjatuhkan, menjadikan bisnis itu berjalan tanpa kontrol. Energi pengurus habis untuk mengintai kesalahan pengurus yang lain –yang sebenarnya saudara sendiri--.
            Dalam konsep auto pilot business, benar bahwa perusahaan bisa dibuat untuk bisa berjalan sendiri, tetapi tidak ada faktor kesengajaan meninggalkan tanpa pengawasan dan campur tangan pada level tertentu.
            Perusahaan dijalankan oleh pengurus yang tidak efisien dan efektif. Tidak ada rasa perduli terhadap proses yang bisa menghasilkan out put yang bisa membesarkan usahanya.
            Tidak ada langkah-langkah antisipatif atas perkembangan jaman dan tuntutan pasar yang terus berkembang. Dulu, benar usaha itu menjadi raja, tapi pertikaian itu menjadikannya perusahaan yang usang, lunglai dan mendekati ajalnya.
            Dalam situasi itu, pesaing tidaklah harus mengeluarkan energi besar untuk menjatuhkan perusahaan ini. tunggu saja sejenak, perusahaan yang sedang konflik internal ini akan karam dengan sendirinya. Akan ditinggalkan pasar dan dilupakan.
Pengurus hanya sibuk mendahulukan kepentingannya sendiri dan mengabaikan proses manajemen yang baik dan benar, laksana melepaskan setir mobil yang sedang melaju kencang. Tinggal tunggu tabarakan dan hancur.

BUTA
            Rupanya tak cuma cinta yang buta. Tapi kebencian justru lebih membutakan. Pengurus perusahaan yang hidup dipenuhi oleh prasangka dan merasa selalu terancam, kadang tidak sempat berhening diri mencari kesejatian.
            Memelihara dendam dan sakit hati laksana meminum air laut. Semakin banyak minum, semakin terserang dahaga.
            Sembari menuliskan artikel ini, saya berdoa untuk kebaikan si abang dan adik-adiknya. Berharap sekejap mereka tersadarkan oleh ridho Tuhan yang akan mengucur deras jika ridho diantara mereka tercipta.
            Ribuan pegawai dan jutaan orang --yang secara langsung dan tidak langsung akan mendapat efek dari perang saudara itu-- semestinya menjadi pertimbangan untuk menyisihkan ego pribadi yang tidak dewasa.
            Semoga kisah pilu ini tidak terjadi pada anda.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 4 Desember 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.



                                                Business Coahing & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

JANGAN PERNAH MERUBAH (MENURUNKAN) TARGET

                BEBERAPA waktu ini, kita melihat langsung maupun melalui media publik pesta perkawinan puteri presiden dalam dua budaya, Jawa dan Mandailing. Saya pikir semua prosesi adat yang dilaksanakan memiliki makna-makna positif seperti semua upacara perkawinan adat dari seluruh Negeri. Ada banyak pesan tersirat yang mengingatkan hal-hal baik dalam kehidupan.
                Kita yang lahir dan besar dalam adat budaya Indonesia dengan kekayaan adat istiadatnya, meyakini bahwa doa-doa baik adalah sebuah harapan dan target positif untuk kebaikan kita sebagai manusia. target-target inilah yang mestinya menjadi acuan yang harus kita sasar dalam kehidupan kita.
                Dalam aplikasi bisnis, target adalah sebuah keniscayaan yang harus dimiliki semua pelakunya. Bagi mereka yang berbisnis tanpa target, mereka sebenarnya hanyalah sebutir kelapa kering yang jatuh ke sungai, terhanyut dan terbawa arus kemanapun tanpa kepastian.
                 Target sudah semestinya dipatok pada posisi paling ideal, paling tinggi, paling besar, paling utama. Ketika target itu terlihat seperti mimpi, tak mengapa, karena kemudian kita dipaksa harus menterjemahkan mimpi-mimpi itu kepada cita-cita. Penterjemahan kepada cita-cita akan semakin tergambar, terukur, terjangkau dan logis. Penterjemahan itu akan mengantarkan kita kepada urutan-urutan capaian yang mudah dan  menyenangkan.

HAMBATAN
               Hidup bukan panggung sulap yang serta merta bisa dibalik atau dirubah segala sesuatu menjadi seperti apa yang kita mau tanpa proses logis. Hambatan dan proses perjalanan mencapai cita-cita adalah hal yang logis dan wajar untuk dilalui menuju capaian yang kita tuju.
                Disini proses seleksi alam bermain. Bagi siapa yang kuat bertahan, yang bisa melalui cobaan, yang bisa mengatasi rintangan, yang mampu menyelesaikan masalah, yang membuka rahasia ilmunya, yang tabah dan tekun terhadap ketidaknyamanan, maka keberhasilan adalah piala yang akan menjadi miliknya.
                Proses alamiah ini akan memilih siapa yang menang dan siapa yang kalah. Proses ini tidak serta merta membuat yang kalah mati. Tetapi karena tidak langsung mati secara fisik, banyak dari kita yang ketika gagal dan tidak mati, lalu merangkai berbagai alasan untuk menenangkan perasaan diri bahwa kita belum gagal.
              Upaya menenangkan diri kadang keterlaluan sehingga membuat kita tidak lagi termotivasi untuk berjuang lebih serius, tetapi memaklumi kelemahan diri dan tidak segera memperbaikinya.
              Salah satu teknik yang paling tidak terpuji –bagi saya—adalah ketika menurunkan target karena ketidakmampuan kita.

HARAM
                Sekali kita menurunkan nilai target yang sudah kita patok, lalu kita merasa baik-baik saja, disaat itulah kita sedang menjadi penghianat atas cita-cita luhur kita. Sekali kita menjadi tidak terganggu dengan praktek pengkhianatan  ini, maka kita akan melakukan lagi, lagi dan lagi. Dari sini, lama-lama kita tidak akan mencapai puncak keberhasilan, tetapi kita hanya menuruni lembah kehancuran tanpa kita sadari.
                Menurunkan standard target hanya karena kita terhambat, bukanlah sikap mulia. Itu sikap si kalah, si pecundang.
                Sejenak berhenti, sejenak membelok, sejenak mundur mestinya tidak masalah, tetapi tetap tidak pernah merubah target. Kita diberikan kebebasan untuk merubah strategi. Sangat boleh merubah teknik. Sangat boleh Merubah alat. Sangat bisa Merubah pasukan asal sekali lagi, jangan pernah merubah dan menurunkan target.
                Hambatan bukan alasan untuk berhenti. Hambatan adalah hal yang harus dihadapi. Disanalah kita dipaksa untuk lebih pandai, lebih mampu dan lebih habit. Jika tidak bisa dilewati, kita bisa melaluinya. Cobalah.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 27 November 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan menyebutan sumbernya

                                                         Business Coaching & Training; tj@cahyopramono.com
Share:

23.11.17

Ketika Manager Tidak Tahu Mau Kerja Apa

         SUNGGUH aneh ketika seorang manager masuk kantor dan dia tidak tahu apa yang akan dia kerjakan hari itu. Sepertinya tidak mungkin, tetapi sesungguhnya ini banyak terjadi. Banyak sekali pimpinan atau manager yang memulai hari dengan bengong dan tidak tahu mau mengerjakan apa.
        Sialnya, ketika seorang manajer tidak memiliki daftar kerja, mereka akan mencari-cari pekerjaan dengan cara-cara yang tidak positif. Salah satunya, mereka lebih memilih untuk mencari-cari kesalahan bawahan sebagai bentuk upaya menunjukkan bahwa mereka bekerja.
Saya tidak berkomentar tentang kompetensi mereka untuk menjadi seorang manager, tetapi saya yakin mereka sudah mencapai level rutinitas yang memperbodoh diri mereka sendiri. Mereka terjebak dalam kebiasaan yang merugikan.

JEBAKAN KONTROL
          Kontrol dan pengawasan adalah hal wajib yang harus selalu ada. Tetapi kontrol yang salah akan menjadi bumerang yang berpotensi memperlambat proses bisnis dan akhirnya melembatkan perkembangan bisnis itu sendiri, bahkan bisa membuat bisnis sama sekali tidak berkembang.
         Saya meyakini bahwa Ketika fungsi kontrol dipegang langsung dan tunggal oleh atasan, maka bawahan akan serta merta menyerahkan semua tanggungjawabnya kepada atasan tersebut.
         Atasan memonopoli fungsi kontrol sering terjadi karena si atasan tersebut tidak tahu mau kerja apa. Sehingga satu-satunya pekerjaan yang bisa dia lakukan adalah dengan mengontrol dan mencari-cari kesalahan bawahannya.
        Saya meyakini, dalam sebuah proses bisnis yang benar, mestinya fungsi kontrol harusnya dilakukan oleh masing-masing pihak di masing-masing tahapan proses. Pekerja harus memiliki standard, baik dan buruknya pekerjaan yang dikerjakannya, sehingga setiap pekerja tidak menyerahkan atau menstranfer hasil kerja yang cacat kepada pihak lain.
           Nah, ketika fungsi kontrol hanya dilakukan oleh pemimpin, lama-lama bawahan akan malas dan bekerja tanpa mempertimbangkan kualitas, efiensi dan efektifitasnya, karena mereka meyakini bahwa nanti pasti akan ada teguran dan kontrol dari atasannya.
        Dalam situasi ini, si atasan merasa senang karena selalu merasa hebat dengan ketrampilannya melihat cacat dan kesalahan pekerjaan bawahannya. Sayangnya kedua belah pihak sama-sama tidak menyadari bahwa mereka sedang bersepakat memperbodoh diri sendiri.
      Dalam situasi ini, terjadilah kisah seorang manajer yang membayar bawahan agar si bawahan menyuruh-nyuruh si manajer untuk mengontrol dan mengoreksi pekerjaan bawahannya setiap hari. Padahal, semestinya si manajer membayar bawahan untuk memudahkan pekerjaan si manajer.

DAFTAR PEKERJAAN 
        Jika situasi diatas tidak ingin terus terjadi, bagi manajer, segeralah memperbaiki diri dengan membuat daftar pekerjaannya. Berlatihlah membuat rencana kerjaan mingguan sebanyak 40 pekerjaan. Sehinga bila dibagi 6 hari kerja, maka setiap hari setidaknya akan ada 7 buah pekerjaan yang harus diselesaikan.
        Jika sudah bisa, tandai daftar pekerjaan itu, mana saja yang bisa didelegasikan. Intinya adalah bahwa, semua pekerjaan rutin pasti bisa didelegasikan. Kemudian, buatlah skala prioritas. Mana yang harus didahulukan. Gantilah daftar pekerjaan yang bisa didelegasikan dengan daftar yang baru.
           Pada tahap itu, manajer akan terpaksa melatih membuat rencana. Lalu si manajer akan belajar delegasi dan kemudian ia akan belajar dan terpaksa untuk mengerjakan hal-hal baru sebagai bentuk terobosan-terobosan bisnis untuk kemajuan bisnisnya.
       Bersamaan dengan itu, pastikan bawahan mengerjakan yang didelegasikan dengan panduan dan standard. Pastikan mereka sendiri tahu standard yang benar dan yang salah. Pastikan mereka patuh terhadap standard yang ditetapkan. Sehingga tak harus si manajer terlibat jauh mencampuri pekerjaan bawahan.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 20 November 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

       

                        Business Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

17.11.17

OTOMATISASI, MENGAPA TIDAK?

           KAMI membuat kompetisi antar beberapa captain/head waiter rumah makan minang. Bentuk kompetisinya adalah menghitung dan membuat tagihan dengan cepat serta tepat.
   Banyak yang sanggup mencatat dan menghitung dalam waktu kurang dari 4 menit. Tetapi hanya 3 persen yang menghitung dengan tepat. Kemudian, kami bekali mereka dengan kalkulator. Yang terjadi lebih menyenangkan, hampir seluruhnya bisa menghitung dalam waktu kurang dari 2 menit dan tepat.
           Pada kesempatan terpisah, kami bertamu di restoran yang pelayannya menggunakan teknologi tanpa kabel, dimana pesanan-pesanan kami langsung dimasukkan dalam mesin di tangannya yang hanya sebesar telepon pintar. Ketika kami minta dibuatkan tahigan, kami mencatat rata-rata mereka menyelesaikan penghitungan dan pencatatan lengkap dalam waktu kurang dari 1 menit.
           Memang, jika sekilas dilihat, untuk satu transaksi jikapun lebih dari 3 menit, pelanggan masih maklum. Tetapi jika sudah banyak transaksi, tidak jarang untuk membayar saja, pelanggan memerlukan waktu yang panjang dan membuat mereka mengeluh.
        Pada kasus rumah makan minang, keluhan jarang terjadi karena memang harga-harga tidak tercantum dalam buku menu yang terlihat langsung oleh pelanggan, sehingga potensi salah hitung oleh petugas tetap tidak direspon dengan keluhan pelanggan.
          Tetapi kesalahan hitung itu pasti merugikan semua pihak. Jika kurang dari harga, rumah makan akan rugi, jika kelebihan hitung, pelanggan rugi.

OTOMATISASI
        Kalkulator diatas membuktikan ketepatan dan kecepatan pekerjaan. Alat bantu kerja yang otomatis pasti akan meringankan pekerjaan dan pasti akan meningkatkan produktifitas. Alasan lain mengapa otomatisasi dalam operasional perusahaan menjadi penting adalah;
        Akibat efisiensi prosedur kerja, maka besaran output per jam kerja meningkat. Pada skala tertentu, perusahaan tidak terpaksa harus mempekerjakan banyak orang karena tingginya biaya tenaga kerja. Pada sisi lain, ketika produktifitas tinggi, biaya produksi bisa ditekan dan harga jual akan lebih bersaing.
Kini tenaga kerja dengan kemampuan tertentu semakin sulit didapat dan harganya mahal. pekerja kini lebih senang berada di industri pelayanan, sehingga semakin sulit mendapatkan tenaga kerja dengan skill tertentu.
Karena otomatisasi menggunakan alat, maka proses kerja akan lebih aman dan sehat. Unsure kelalaian kerja bisa ditekan. Artinya kecelakaan kerja bisa lebih ditekan.
Otomatisasi menghasilan out put yang tepat dan ajeg. Artinya, sekali standard baku mutu di tetapkan, maka begitu terjadi seterusnya. Pada ujungnya kualitas produk tetap terjaga yang dengan kecepatan dan kapasitas yang lebih besar. konsekuensi logisnya adalah waktu jeda dalam proses produksi bisa lebih diperpendek bahkan bisa dihilangkan.

TAK CUMA KALKULATOR
                Mengakhiri tulisan ini, saya ingat operasi binis sahabat saya yang harus melakukan proses angkat barang dari lantai 1 hingga lantai 3 tiap hari dengan hitungan hingga 45 kali, dan itu dilakukan dengan manual, digotong. Dan itu berjalan bertahun. Anda bisa bayangkan pekerja seperti apa yang harus dia sediakan. Berapa waktu yang terbuang, biaya yang bisa di hemat dan waktu proses kerja yang sia-sia.
                Ada juga bisnis sahabat lain yang memproduksi batu bata. Bertahun ia menggunakan 4 pasang kaki pegawainya untuk menginjak dan mengolah tanah liat sebelum dicetak. Proses berjam-jam dan berbiaya tinggi. Padahal ada mesin olah tanah yang sederhana dengan kemampuan produksi sama dengan 30 pasang kaki pegawai dengan waktu yang lebih singkat.
                Alat bantu kerja sangat banyak, cobalah.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 13 November 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya


Business Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

10.11.17

SISTEM YANG MEMBUAT PENGUSAHA BISA SERING LIBURAN

      BANYAK sekali perusahaan bisa berkelas dunia. Cabangnya ribuan diberbagai negara. Pekerjanya jutaan orang. Distribusinya menjangkau seluruh pelosok bumi. Kapitalnya hampir tak terhitung dan pemiliknya seperti tak pernah lagi urusan-urusan kecil. Mereka lebih banyak terlihat berlibur dan bersenang kesana kemari. Bagaimana dengan anda?
          Hampir semua pengusaha pada skala kecil dan menengah yang terheran dengan tampilan pengusaha kaya raya kelas dunia tersebut. Mereka begitu takjub, bagaimana bisa satu orang mengendalikan jutaan orang diberbagai tempat yang tersebar jauh.
          Pelaku usaha kecil menengah merasa bahwa sehari saja meninggalkan bisnisnya, semua menjadi berantakan dan merugi. Bagaimana kalau sering pergi-pergi? Apa yang membedakan mereka dengan kita?
          Jawabnya adalah sistem.
          Jangan berkecil hati, ketika anda tidak memiliki sistem yang tertulis, bukan berarti anda tidak memiliki sistem. Hanya saja, sistem mereka lebih baik, lebih mandiri dan auto pilot, sehingga sistemlah yang bekerja untuk mereka. mereka sudah tidak lagi menjadi operator bisnis, tetapi menjadi pemilik bisnis.
          Tantangan anda saat ini, adalah membangun sistem yang benar dan tepat.

SISTEM
Sistem bisnis adalah sebuah kelompok komponen atau elemen yang disatukan dalam sebuah proses yang satu kesatuan untuk mencapai suatu tujuan bisnis.
Proses tersebut menentukan input, efienci dan efektifitas proses hingga output dalam menjalankan sebuah bisnis. Sistem yang benar dengan sendirinya akan menjadikan perusahaan memiliki siklus bisnis yang benar dan tepat.
Siklus bisnis yang benar dan tepat akan mengantarkan keberhasilan pencapaian target-target yang sudah disusun.
Artinya, sistem yang benar dan tepat adalah kunci utamanya. Dan pastikan sistem yang anda buat sebagai pemimpin, tidak menjadikan anda sebagai pusat dan kunci utama kontrol. Karena ketika anda memegang pusat kontrol, maka semua pegawai akan melepaskan tanggungjawabnya kepada anda.

MANFAAT SISTEM
Proses yang terintegrasi dengan benar dan berulang, akan menjadi kabiasaan bagi semua pihak. Kebiasaan inilah yang akang menghasilkan budaya.
Budaya perusahaan yang disiplin, tidak mentolerir kesalahan dan tetap waktu, tidak terjadi begitu saja. Tetapi dibangun dan dibentuk dengan sengaja.
Budaya yang terbangun dari sistem yang baik, akan menjadikan anda layaknya hanya sebagai konsultan, bukan mandor yang terikat di dalam proses bisnis anda. jika anda masih belum bisa mematikan HP anda selama 1 minggu tanpa kerusakan di perusahaan anda, maka anda masih menjadi budak dari sistem yang salah.
Sistem yang benar dan tepat akan menghasilkan produk yang semakin lebih baik. Karena sistem tersebut memastikan semua perencanaan terlaksana dengan benar, lalu proses produksi terjalankan dengan benar dan mengontrol dengan benar.
Sistem yang benar dan tepat, akan mengantarkan perjalanan bisnis untuk sanggup menghadapi persaingan dalam jangka panjang. Karena sistem yang benar memasukkan unsur kewaspadaan terhadap persaingan, kewaspadaan kebutuhan pasar serta kewaspadaan untuk terus berkembang tanpa henti.
Sistem yang benar dan tepat akan menghasilan tim yang loyal. Sistem  tersebut akan memperhatikan kemudahan dan kelancaran kerja, mengurangi potensi konflik dan membangun pembelajaran yang positif. Sistem tersebut juga akan menjadi alat seleksi tim yang cocok dan loyal.
Manfaat-manfaat tersebut diatas hanya bisa dicapai jika anda membuat sistem yang benar dan tepat. Tantangan terbesar ketika anda membangun sistem adalah karena perhatian anda bisa bercabang-cabang dan peran anda tercampur antara peran sebagai pemiliki usaha dan sebagai operator bisnis.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 6 November 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

                                                                
                                                       Coachin & Pelatihan ; tj@cahyopramono.com
Share:

OTOMATISASI UNTUK PENINGKATAN VOLUME USAHA

        JIKA pilihan anda adalah meningkatkan volume bisnis dan meningkatkan kinerja perusahaan yang berujung kepada peningkatan keuntungan, maka otomatisasi sangat penting untuk dilakukan. Segala proses yang mengandalkan keterlibatan manusia secara dominan, sudah semestinya dikurangi. Ide tulisan ini sungguh bukan bermaksud mengurangi asupan jumlah tenaga kerja. Tetapi otomatisasi menjadi perlu karena banyak faktor yang medesaknya.
Pertama; mengurangi kesalahan yang disebabkan unsur kelemahan manusia. Manusia bekerja sangat lues dan fleksibel, tetapi tetap memiliki potensi kesalahan yang cukup tinggi. Contoh sederhana adalah kemampuan menghitung. Kemampuan kalkulator terbukti lebih cepat, lebih mudah dengan akurasi tinggi ditambah fakta bahwa kalkulator tidak memiliki rasa bosan dan lelah seperti yang dialami oleh manusia.
Kedua; otomatisasi terbukti membuat pekerjaan rutin yang berulang menjadi mudah dan cepat. Misalnya alat siram tanamam yang bekera secara otomatis pada jam tertentu setiap hari. Sama dengan alat penghidup lampu litrik otomatis berdasar waktu atau tingkat kegelapan cahaya matahari. Jika pekerjaan itu diberikan kepada manusia, maka potensi lalai dan malas akan mewarnai pelaksanaannya. Dan rasa itu akan menjadi penyebab konflik internal yang berbahaya untuk kestabilan kerja.
Ketiga; otomatisasi memudahkan pekerjaan data yang banyak menjadi mudah dibaca. Semua transaksi, semua statistik penjualan dan operasional menjadi mudah dipahami dengan sistem kerja komputer. Dengan bantuan komputer pekerjaan analisa menjadi mudah, data bisa ditampilkan dalam grafik dan bisa diperbandingkan dengan cara cepat.
Keempat; otomatisasi menjadikan pekerjaan multi entry secara manual menjadi single entry yang bisa terintegrasi. Sebutlah pada sebuah rumah sakit, akan terjadi banyak sekali pengulangan penulisan nama pasien. Misal dari pasien datang ditulis oleh petugas reception (1), lalu diisi ke bagian kartu pasian (2), jika masuk ke bagian rawat darurat, maka nama pasien akan ditulis pada bagian tersebut (3), lalu ditulis lagi di bagian dokter yang ditunjuk (4), jika perlu obat akan ditulis di bagian apotek (5), jika perlu foto Rontgen ditulis lagi dibagian radiologi (6), nama pasien ditulis pada bagian tata graham yang mengurus kamar pasien (7), kemudian pada bagian kasir (8), lalu pada bagian akuntasi (9) dan masih banyak lagi bagian yang lain.
 Penulisan nama pasien secara manual pada setidaknya 9 bagian yang berbeda sangat rentan terjadi kesalahan. Bisa kesalahan berupa salah huruf atau tidak terbaca dengan jelas. Disini otomatisasi akan memperpendek pekerjaan, memudahkan dan menjadikan data entry semakin sederhana serta tidak perlu membuang waktu dengan menulis berulang-ulang untuk hal yang seharunya bisa dikerjakan sekali saja.
Kelima; otomatisasi mempercepat proses. Lihat saja dari contoh-contoh diatas, betapa banyak waktu yang bisa dihemat dengan mengaplikasikan otomatisasi. Ketika proses kerja berjalan dengan mudah dan cepat, maka kapasitas produksi akan meningkat. Pada akhirnya, peningkatan produksi menjanjikan kemampuan pasok yang tinggi dan potensi penjualan yang juga akan meningkat tinggi.

MANUSIA
                Benar bahwa keterlibatan manusia akan tetap diperlukan. Akan ada banyak hal lain yang tidak bisa digantikan oleh mesin-mesin. Operator semua perangkat otomatisasi adalah manusia.
                Tantangan otomatisasi adalah kesiapan pegawai yang ada dengan perubahan gaya bekerja dari yang manual menjadi otomatis. Biasanya perubahan-perubahan itu mendapatkan penolakan dari pihak-pihak yang terkait.
                Apapun tantangan yang anda hadapi, otomatisasi adalah jawaban penting untuk peningkatan kapasitas usaha anda.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 21 Agustus 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkkan sumbernya


Coaching & Training; tj@cahyopramono.com
Share:

3.11.17

“Call 56” (project yang ke 56)

“Salam tangan kanan”
Bapak – Ibu –sahabat;
Ada panggilan baru yang harus kita jawab. Kita sebut dengan “Call 56” (project yang ke 56).
Namanya Misno 37 Th. Tukang Batu, Tukang Pijat & Guru Ngaji keliling kampung dengan biaya sendiri .
Tinggal di sebidang kamar kost di Desa Kretek, Kec Rowokele, Kab. Kebumen, Jawa Tengah.
Misno TunaNetra mulai th 2009 karena ledakan batu cadas di tempat kerjanya.
Th 2011 istri meninggalkannya dan anak tunggalnya dipelihara nenek dari pihak istri. Ibu kandungnya menumpang hidup kepada tetangga. Saat itu dalah titik balik Misno atas kesadaran berTuhan.
Untuk Ibu & anaknya, minggu ini Misno bekerja di proyek pembangunan sekolah untuk yatim-piatu.
Pengurus Yayasan berkenan memberikan sebidang tanah untuk dibuat rumah sederhana bagi Misno dan nantinya akan diberi kerja di Sekolah Itu setelah berdiri.
Atas dukungan Bapak-ibu-sahabat semuanya, insyaallah panggilan ini terlaksana dengan membuatkan rumah sederhana untuk Misno.
Rekening an. Yayasan Tangan Kanan
Mandiri : 105 0095 85 75 65
BCA      : 8280 25 95 95
B S M    : 7707 47 57 67
berita “call 56”
Terimakasih banyak dan Salam Tangan Kanan
Cahyo Pramono
Relawan
Yayasan Tangan Kanan / The Right Hand Foundation
















Share:

NIAT


niat mau cari uang atau mau mendapat ridho Tuhan, proses teknisnya sama.

untuk yang di kantor, berangkat dari rumah, kerja di kantor dan pulang...
untuk yang berdagang, berangkat dari rumah, buka toko, jual, beli, layani pelanggan, pulang...
untuk yang sekolah, berangkat dari rumah, belajar/mengajar, pulang...
untuk yang kerja bangunan, berangkat dari rumah, kerja di lapangan, pulang...

yang membedakan cuma niatnya...

dan itu mengakibatkan NILAI yang berbeda..

silahkan buktikan...!
Share:

Share:

27.10.17

Berhenti Ketika Merasa Sudah Tahu

                SAYA beberapa kali menolak permintaan untuk memberikan Pelatihan di beberapa perusahaan. Penolakan itu terjadi karena setelah saya observasi, saya menemukan fakta bahwa si Pimpinan terlibat dalam pusaran permasalahan di dalam perusahaan tersebut tetapi  si pimpinan menolak untuk ikut dalam Pelatihan yang dibuat.
                Alasan penolakkannya adalah merasa sudah tahu apa yang akan saya berikan dalam Pelatihan tersebut. Saya menolak karena yakin tidak akan menyelesaikan masalah jika si pimpinan sebagai pusat pusaran permasalah tidak ikut dalam forum Pelatihan saya. Saya merasa pesimis Pelatihan itu akan berjalan dan menghasilkan sesuatu yang berarti.
                Saya selaku pelatih hanya bertemu dalam hitungan jam dengan para peserta Pelatihan, tetapi si pimpinan yang menolak itu sebenarnya hidup berkelanjutan dengan bawahannya.  Dalam Pelatihan itu, mestinya si pimpinan bisa melihat dan mengamati permasalahan dari sudut pandang lain. Tetapi karena si pimpinan menolak, maka saya pun memilih untuk mundur.

BERHENTI
SEBUAH kesalahan kebanyakan dari kita—pekerja dan pemilik bisnis—adalah berhenti ketika merasa sudah tahu. Ingat “merasa” itu bukan benar-benar tahu.
Dalam proses operasional perusahaan, saya masih bertemu dengan banyak manajer yang merasa tahu, lalu menggampangkan proses kerja dan akhirnya semuanya berantakan. Gagal dan merugi.
Yang sering saya sesalkan adalah proses “berhenti “ karena marasa sudah tahu ini bisa terjadi secara beregu, mulai dari manajer hingga petugas pelaksana dibawah. Anda bisa bayangkan ketika sikap menggampangkan ini dianut oleh seluruh personil dalam perusahaan. Kehancuran ada di depan mata.

MASTER
                Sebenarnya, posisi “tahu” itu baru akar sebuah proses. Belum apa-apa. Sekadar tahu, belum bisa dikategorikan master.  Proses tahu selanjutnya adalah “pemahaman”. Paham bukan berarti “bisa”. Kemudian, “bisa” belum sampai tahap mahir. Mahir pada level tertentu baru mencapai kelas master. Anda bisa bayangkan, jika seseorang hanya berhenti pada tahap tahu.
                Saya pernah berada dalam sebuah acara yang dihadiri banyak orang. Banyak tamu penting hadir dalam acara tersebut. Acara terpaksa tertunda hingga hampir 1 jam hanya gara-gara projector. Lucu dan menyedihkan. Semua orang merasa tahu bagaimana cara kerja projector itu. Sayangnya pengetahuannya hanya sekedar tahu, tidak memahami bahkan menguasai dan mahir dalam operasional projector.  Belasan  panitia berkumpul di depan panggung tanpa menghasilkan solusi yang jelas. Masing-masing mencoba-coba dan mengatakan “setahu saya….”.
                Semua orang di ruangan itu merasa projector hal sepele dan mudah. Semua orang berfikir asal pencet, maka bekerjalah alat elektronik itu. Itu bukti bahwa sekadar tahu tidaklah cukup.

PENGHAMBAT
                Orang-orang yang membudayakan berhenti ketika merasa sudah tahu saya yakin lebih cenderung menjadi penghambat kemajuan dari pada menjadi pendukung atau pelaku perubahan untuk kemajuan.
                Saya masih ingat kisah telur Colombus yang fenomenal. Colombus menantang orang-orang untuk mendirikan telur matang, semuanya gagal. Dan ketika Columbus menghentakkan ujung telur ke meja, maka bagian yang retak/pecah menjadi datar dan akhirnya bisa berdiri.
                Atas sikap Columbus itu, semua orang mengatakan, “kalau begitu semua orang pun tahu”. Benar aksi Columbus sangat mudah. Tetapi pertanyaan selanjutnya adalah, setelah tahu, siapa yang melakukannya?.
                Tokoh-tokoh terkenal menjadi hebat bukan karena konsep yang sulit . mereka menjalankan hal-hal sederhana yang diketahuinya. Mereka tidak berhenti.
Banyak manajer merasa tahu bagaimana cara menaikkan omzet, tetapi sayang berhenti  sampai disitu.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 23 Oktober 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.

                                                         
                                                                      Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Blog Archive