it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

29.5.17

Manajer Yang Lupa

                “Saya sudah bekerja dengan maksimal, tapi boss saya selalu merasa tidak cukup!’ keluh seorang manager dalam sebuah sesi coaching yang saya pimpin. Kemudian si manager menjelaskan bahwa ia melakukan semua hal, dari masuk kerja pagi, hingga pulang kerja paling malam.
                Saya bertanya, memang apa saja keluhan boss anda? si manager menjawab, “Ya… omzet! Itu saja yang selalu ditanyakan”. Dalam keterangan selanjutnya si manager menyalahkan si pemiliki usaha mengapa tidak menambah modal dan pegawai untuk bisa meningkatkan performa usahanya. Sementara dalam pengamatan saya, terlalu banyak sumberdaya yang disia-siakan. Pegawai lengkap, bahkan manajer tingkat atas lengkap, dari manajer operasional hingga manajer keuangan.
                Dalam beberapa sesi terbukti bahwa si pemilik enggan untuk menambah modal karena untuk urusan yang dianggap lebih kecil saja manajer ini gagal. Tugasnya adalah menggunakan semua sumber daya yang ada untuk bisa bertahan hidup. Hanya bertahan hidup, artinya tidak harus banyak untung. Bagi saya ini adalah laksana sebuah ujian yang menarik.

Mentalitas
                Kemudian hari saya menemukan permasalahan diatas dari sisi mentalitas. Ada yang aneh dengan sikap dan gaya si manajer. Setelah lebih lanjut saya amati, ternyata si manajer ini lupa. Benar-benar lupa bahwa posisi yang dipegang saat ini tidak lagi sama dengan ketika sekedar menjadi pegawai dahulu.
                Ia merasa dan begitu terbiasa dalam pola hidupnya bahwa ada ‘orang lain’ yang memberinya kesibukan. Ada ‘orang lain’ yang memberinya pekerjaan untuk diselesaikan. Dan tanpa ia ketahui, dengan tanpa merasa bersalah adalah bahwa pada akhir bulan ia harus menerima gaji.
                Si manajer tidak pernah dengan sungguh-sungguh menyadari bahwa gaji yang ia terima dari perusahaan adalah sebuah hasil dari buah pekerjaan. Bukan sekedar kesibukan keseharian, tetapi pekerjaan yang mendatangkan uang, sehingga manajer dan seluruh pegawai bisa menerima gaji untuk hidup dirinya dan keluarganya. Tiap bulan sepanjang tahun.
                Si manajer juga lupa bahwa ‘kesibukan’ kerja yang dilakukannya hanya sekedar ‘mengisi waktu’ atau membuang-waktu, bukan kesibukan untuk menghasilkan uang. Ia pikir asal sibuk, sudah cukup.
                Konsep asal sibuk itu membuat dia mengerjakan hal-hal yang sangat tidak penting dan sangat tidak mendesak. Begitu naïf sehingga ketika ada permasalah cashflow di perusahaan ia begitu terkaget, terbodoh dan sangat heran mengapa bisa begitu.
                Si manajer kini menghadapi permasalahan serius. Menggaji dirinya sendiri saja tidak sanggup. Apalagi memberikan keuntungan kepada pihak pemilik usaha.

Lupa
                Dengan berfikiran positif, saya anggap manajer ini lupa. Lupa bahwa dia kini bukan lagi pegawai yang hanya tahu datang pagi dan pulang sore, tunggu perintah atau petunjuk pimpinan. Si manajer lupa bahwa kini dia adalah pemimpin yang memberikan perintah dan petunjuk.
                Yang lebih berbahaya adalah bahwa si manajer merasa sudah sering memerintah dan memberikan petunjuk kepada bawahannya, bahkan ia merasa sering berteriak atau memaki bawahannya.
                Sang manajer lupa, bahwa ia kini adalah orang yang harus memimpin perusahaan. Semua perusahaan didirikan untuk mencari keuntungan. Jadi mengapa ia tidak bisa menciptakan keuntungan? Bahkan menggaji dirinya sendiripun kewalahan.
                Sang manajer lupa bahwa dirinya adalah tangan kanan pengusaha yang harus memiliki wawasan dan jiwa kewirausahaan. Yang bisa melihat semua hal seperti mata seorang pengusaha. Mestinya tidak ada yang membedakan dirinya dengan si pengusaha selain modal.
Artikel ini sudah diterbitkan dii Harian Medan Bisnis pada tanggal 29 May 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.


               

Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

26.5.17

TIDAK BERUBAH = MELAWAN HUKUM TUHAN


                ZONA nyaman adalah suatu keadaan dimana seseorang menikmati kenyamanan dan ‘merasa’ pada posisi yang paling ideal. Tidak ada ancaman bahaya. diluar zona itu dianggap berbahaya dan tidak nyaman. Alhasil, seseorang akan cenderung memilih untuk tetap pada zona itu dan tidak ingin keluar darinya.
                Jebakan zona nyaman yang pertama adalah mengenai ‘perasaan’, kenyamanan itu relatif hanya sebuah perasaan, bukan fakta yang sebenarnya. Menilai zona tidak nyaman juga relatif berdasar perasaan juga.
                Kedua, zona nyaman yang menjebak itu, bisa jadi hanya sebuah cara proteksi diri atas kekhawatiran yang berlebihan, sehingga jiwa dan pikiran seseorang me-nyaman-nyaman-kan diri atas semua ketidaknyamanan yang dialaminya. Pikiran yang Timbul adalah bahwa benar dizona sekarang ada tidak nyamannya, tetapi bisa jadi diluar sana akan jauh lebih banyak lagi ketidaknyamannyan.
                Siapapun Anda. Mau anda pengusaha atau pekerja, bawahan maupun atasan; Terlalu lama dan terjebak dalam zona nyaman akan mengakibatkan ketidaknyamanan serius. Sangat berbahaya. Jika terus anda lanjutkan dalam zona tersebut, maka anda akan menjadi mayat hidup. Tiada berarti.  

INDIKATOR
                Secara sederana, inilah Indikator bahwa Anda sudah tekena penyakit di zona nyaman yang mulai memasuki tahap bahaya;
Pertama; Anda tak bahagia tapi tak tahu sebabnya. Mungkin segala kebutuhan anda sudah terpenuhi, tapi anda tetap saja tak merasa bahagia. Lalu anda menyadari bahwa Anda tidak lagi menemukan alasan mengapa anda bisa tak bahagia.
Kedua; Kehilangan Kreatifitas. Otak Anda merasa tumpul, tidak lagi bisa menciptakan ide-ide baru, sementara kompetisi hidup memerlukan strategi yang kreatif. Bahkan anda lupa kapan terakhir kali anda melakukan hal-hal baru.
Ketiga; Anda mulai ragu-ragu, diposisi mana anda saat ini. seberapa baik atau seberapa mampu?. Keraguan itu membawa anda menjadi sering berfikir negative.
Keempat; Anda merasa berada di suatu kondisi yang beku dan stagnan. Anda merasa tidak bisa belajar dan bertumbuh dengan baik.  
Kelima; penambahan jumlah teman anda semakin hari semakin melambat. Jumlah kontak di HP anda tidak juga bertambah pesat. Anda tidak menemukan saluran ekspresi diri.
                Keenam; anda menolak melakukan perubahan atau hal baru yang tidak nyaman. Semua hal baru terlihat beresiko dan terlihat negatif. Anda lebih suka mendelegasikan pekerjaan atau hal beresiko itu kepada orang lain. Atau anda lebih sering merespon segala sesuatu dengan kata “sepertinya sulit”, “Tidak bisa” atau “tidak mungkin”
                Ketujuh; Anda suka menunda. Baik karena malas atau anda merasa harus menunggu segala sesuatunya sempurna.

TIDAK BERIMAN
                Menjebakkan diri dalam zona nyaman berpotensi menciptakan diri tidak beriman. Karena tidak ada yang tidak berubah di dunia ini. semua lahir, besar, lalu kemudian sakit /rusah dan mati. Jika anda tidak mau berubah, anda melawan aturan Tuhan.
                Penting keluar dari zona nyaman karena tidak ada hasil yang berbeda untuk cara yang sama. cara masa lalu tidak bisa digunakan untuk menangani masa depan.
                Tantangan keluar dari zona nyaman hanyalah perjuangan melawan diri atas perasaan khawatir dan kecemasan. Ketika anda melakukan hal atau pola pikir yang baru, otak anda akan membentuk sambungan antar sel yang baru. Jika dilanjutkan, maka sambungan itu semakin komplek dan kuat. Dari situ anda memiliki kebiasaan baru.    
                Anda tidak harus menyukai perubahan, anda hanya harus melakukannya.
Artikel ini sudah diterbitkan diharian Medan Bisnis pada tanggal 15 Mei 2017 dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.



Coaching & Training; tj@cahyopramono.com
Share:

Bersaing Di Ranah Tanpa Persaingan (Strategi Lautan Biru)

        SAYA ingin menjawab pertanyaan tentang bagaimana memilih segmen pasar dan bagaimana cara memenangkan persaingan.
        Secara sederhana anda boleh memilih bermain di zona yang penuh dengan pesaing atau bermain di zona bebas yang tidak atau belum dikuasai oleh pesaing lainnya.
        Bermain di zona pasar yang ada bersama pesaing lainnya adalah permainan dengan strategi Laut Merah – bisa berdarah-darah--. Sebutlah anda membuka toko bunga disekitar toko bunga lainnya. Atau anda membuka bengkel di jalur jalan yang sudah penuh dengan bengkel. Benar bahwa dalam hal promosi akan lebih mudah, karena pasar akan mengunjungi zona bisnis anda dengan sedikit nyaman karena ada perasaan terjamin pasti menemukan bengkel yang cocok.
        Disamping kemudahan promosi itu, anda terpakasa harus menghadapi pesaing dengan secara langsung. Orang medan menyebutnya “laga kambing”, kepala beremu kepala. Dalam kondisi ini, anda terpaksa harus menjalankan strategi perang harga dan mencari perbedaan yang pasti sulit karena dari luar, anda dan pesaing terlihat seperti sama.
        Anda berebut pasar yang sudah ada. Anda bergantung kepada pasar yang mungkin kesasar atau kasihan kepada anda atau jika anda memiliki kelebihan yang sangat khas dan berbeda.
       
LAUTAN BIRU
        Ini alat manajemen bisnis yang ditemukan oleh W. Chan Kim dan Renee Mauborgne. Alat bantu manajemen ini menggambarkan bahwa ketika persaingan sudah sampai titik jenuh, sebelum saling membunuh dan saling kalah, ada baiknya pengusaha melirik pasar lain yang tidak atau belum ditangkap oleh pesaing lainnya.
        Blue Ocean Strategy Stretegi Lautan Biruadalah alternatif dengan membuka peluang pasar baru tanpa pesaing dan menjadikan persaingan tak relevan sebagai cara untuk mencapai pertumbuhan dan prospek laba yang superior. Kata kunci dari strategi ini adalah bahwa persaingan menjadi tidak relevan, tidak nyambung dan tidak berlaku, karena memang disana hampir tidak ada persaingan.
Strategi Lautan Biru menuntut kejelian untuk melihat peluang pada sesuatu atau situasi yang diabaikan oleh pesaing. Pada praktiknya, bisa saja berupa produk yang berbeda dan baru, fitur produk yang inovatif dan radikal, atau pengelolaan pasar yang tidak dijamah oleh pesaing.
Mungkin kita bisa menggunakan contoh perusahaan Go-Jek yang mendadak muncul membesar dan mengagetkan semua orang. Go-Jek hadir dizona yang diabaikan semua orang. Konsepnya baru, pasarnya baru, produknya baru dengan pendekatan baru, semuanya baru. Karena baru itulah maka pesaing kelabakan.
Belakangan para pesaing menjadi tersadar dan terbata-bata ketika bisnisnya terhimpit habis. Bahkan demonstrasi dengan kekuatan kekerasan pun tidak membuat pasar berpaling. Pasar menyukai dan tetap menggunakannya. Disini pasar yang memutuskan.

SASARAN & PENEMPATAN
Kunci lain dalam strategi Laut Biru ini adalah membidik pasar secara tepat –targeting--.  Tentukan segmen-segmen pasar yang potensial, tepat dan yang pasti adalah yang diabaikan oleh pesaing lainnya.
Selain targeting, juga perlu melakukan positioning/Penempatan, yang menurut Kotler; tindakan merancang tawaran dan citra perusahaan sehingga menempati posisi yang khas (dibandingkan dengan para kompetitor) di dalam benak pasar.
Tujuan penempatan ini adalah mengendalikan pikiran konsumen. Sebut saja, ketika anda haus dan ingin minum air putih, anda ingin beli apa? Brand yang ada dipikiran anda adalah indicator keberhasilan positioning merek tersebut.
Positioning brand yang benar, akan mengklarifikasi esensi merek, tujuan dan menuntun perilaku pasar atas merek yang diperkenalkan.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 8 mei 2017, diperbolehkan mengcopy dan menyebarkannya dengan selalu menyebutkan sumbernya.


                 Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Pejual Telur Tak Harus Bertelur

                MAAF, mungkin judul diatas kurang pantas. Tetapi kalimat ini sangat mudah diingat dan mengena dengan topic bahasan hari ini. kalimat tersebut saya dengar dari seorang penjual rokok yang tidak merokok beberapa tahun lalu.
                Kalimat ini terngiang sekali lagi ketika saya bertemu dengan sahabat yang sedang belajar cara merangkai bunga hingga sampai ke luar negeri demi untuk membuka sebuah toko bunga. Di kasus lain, ada seorang kawan yang belajar membuat nasi goreng sebagai persiapan untuk mengujudkan mimpinya membuat restoran yang besar.
                Saya ingin menjelaskan bahwa bisnis toko bunga itu tidak hanya membutuhkan ketrampilan merangkai bunga. Seperti bisnis membuka restoran juga bukan sekadar perkara pandai membuat nasi gorang. Merangkai bunga dan membuat nasi goreng adalah bagian kecil dari bisnis itu sendiri. merangkai bunga dan membuat nasi goreng hanya secuil dari kemampuan bisnis yang seyogyanya dimiliki oleh seorang pemilik toko bunga atau restoran.


Tak Harus Bertelur
                Penjual telur tak harus bisa bertelur. Sama juga dengan bisnis yang lain. Tak harus pemiliknya memiliki kemampuan khusus dalam proses produksi atau memproduksinya. Memang lebih baik jika seseorang menguasai proses dasar produksi yang dijadikan bisnisnya, tetapi tak harus ia masuk level ahli untuk bisa mengelola bisnis tersebut.
                Pelaksana, pembuat rangkaian bunga, pembuat nasi goreng adalah pekerjaan teknis yang harus dikuasai oleh tim produksi. Mereka biasanya spesialis, karena bidang khusus yang dikerjakan memerlukan keseriusan dan kedalaman ilmu serta pengalaman yang tinggi.
                Pada sisi lain, pengusaha atau pemilik bisnis diharuskan menguasai banyak hal yang sifatnya generalis (umum) bukan spesialis (khusus). Pemilik bisnis diharuskan memiliki kemampuan luas lagi. Ia harus memiliki kemampuan mengelola sumber bahan baku, pembelian, proses produksi, sumber daya manusia, modal, bidang keuangan, bidang perijinan, bidang penjualan, Pemasaran, dan banyak lagi yang lain.
                Disinilah kunci perbedaannya. Pekerja harus mampu menjadi spesialis dibidangnya dan pemilik bisnis harus menguasai banyak hal yang nantinya akan didelegasikan kepada para spesialis dibawahnya.
                Dalam beberapa kasus, banyak spesialis yang gagal menjadi pebisnis. Banyak juru masak handal yang gagal membuat restoran. Banyak fotographer dan videographer hebat tetapi gagal membuat rumah produksi. Banyak ahli tentang binatang ternak tetapi gagal ketika membuat peternakan komersial.

Business Road Map
                Posisi generalis yang diemban oleh pemilik bisnis mengharuskan pemilik bisnis memiliki pengetahuan dan kemampuan merangkai semua proses dari awal hingga akhir atas apapun yang berhubungan dengan bisnis itu sendiri.
                Sebagian pebisnis menggunakan beberapa alat bantu. Salah satunya adalah peta jalan bisnis. Peta ini berisi tentang deskripsi produk yang dimiliki, sasaran pasar, kompetisi, hal-hal yang mendukung, hal-hal yang menantang,

hal-hal yang perlu dikembangkan, konsep pembiayaan, konsep penghematan,  dan langkah-langkah promosi serta banyak lagi.
                Pengusaha atau pemilik bisnis harus memegang panduan tersebut sebagai rambu-rambu dan catatan untuk menuju titik sukses yang dikehendakinya. Ia harus merangkai semua hal menjadi sederhana, lalu mengajak seluruh pasukan bisnisnya untuk mendukung cita-citanya.
                Pemilik bisnis yang terjebak dalam operasional harian bahkan menjadi kunci proses produksi, sebenarnya tidak bisa disebut sebagai pemilik bisnis. Ia lebih cocok disebut sebagai operator bisnis. Ia tidak bisa bergerak meninggalkan proses produksi. Ia selalu terlibat langsung. Ia adalah budak atas bisnisnya sendiri dan sulit mengembangkan bisnisnya karena ia terikat didalamnya.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 3 April 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarluaskan dengan selalu menyebutkan sumbernya.


                                                                   Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Tersesat Oleh Target Kerja Yang Kabur


Jika seorang pekerja level pelaksana membuat rencana kerja migguan seperti ini ;
  1.     Mengunjungi 5 klien
  2.     Memberikan Pelatihan kepada tim sales junior
  3.     Promosi Produk Baru
  4. Dll

Sangat bisa saya pastikan bahwa potensi penyelesaian rencana kerja itu hanya 1% bahkan bisa 0% saja. Dan sangat banyak pekerja atau pebisnis yang sudah satu langkah maju bisa membuat rencana/target kerja lalu bisa menuliskannya tetapi tetap saja belum sanggup menyelesaikan target itu dengan baik.
                Dalam kacamata pembagian waktu, target tersebut diatas bukanlan masalah. Artinya, sangat cukup waktu untuk mengerjakannya. Sekilas, target kerja tersebut sangat sederhana dan mudah, tetapi banyak orang yang tetap tidak mampu melaksanakannya. Akhirnya, minggu depan masih akan membuat rencana kerja yang sama dengan beda kalimat saja. Lalu lagi-lagi tidak bisa 100% terkerjakan dengan tuntas.
               
JELAS
                Target kerja yang mudah dikerjakan adalah target yang jelas, spesifik dan tunggal. Dalam kasus contoh diatas, mengunjungi 5 klien, terlihat jelas, tetapi tidak spesifik dan tunggal. Kata 5 klien membuka pintu bias yang sangat luas. Siapa sebenarnya 5 klien tersebut?apakah A, B, C, D dan E atau F, G, H atau yang lainnya? Selama anda tidak menyebutkan dengan jelas nama-nama klien tersebut, maka anda sedang dalam keadaan tidak pasti.
                Ketidakpastian ini akan membuat anda tidak segera bekerja. Anda masih harus memikirkan siapa ke-5 klien tersebut. Untuk sebagian orang, memikirkannya saja memerlukan waktu yang tidak sebentar dan anda sudah kehilangan waktu sia-sia.
Ketidakpastian itu akan membuat anda menunda untuk segera mengeksekusi rencana target tersebut. Dan jika dilanjutkan, ketidakpastian itu akan dieksekusi dengan mengunjungi 5 klien yang paling mudah, sehingga anda hanya memenuhi target berkunjung saja, bukan untuk mendapatkan keuntungan maksimal dari kunjungan tersebut. Dalam hal ini anda sudah kalah.
Dalam kasus target kerja mingguan bagian ke-2 -- Memberikan Pelatihan kepada tim sales junior—ini jauh lebih kabur lagi. Ada lebih dari 670 topik Pelatihan untuk tim sales. Topik yang mana yang akan anda bawakan? Kekaburan ini membuat anda terhenti sejenak ketika akan melakukannya.
Disini anda akan membuang waktu lagi untuk memikirkan topik apa yang akan anda berikan. Disisi lain, memberikan training tidaklah seperti ngobrol sambil ngopi, anda harus memiliki training plan. Anda harus mempersiapkan modulnya, semua referesnsi dan alat bantu peraga dan lainnya. Jika pun anda terpaksa melaksanakannya, sudah pasti anda tidak akan melaksanakannya degan serius dan benar. Anda hanya akan memenuhi target, bukan berorientasi kepada hasil apa yang dicapai dengan training tersebut. Disini anda sudah kalah.
Sama dengan contoh target kerja yang ke-3; Promosi Produk Baru. Target kerja itu sangat bias dan merepotkan renspon otak anda. ketika membaca rencana ini, anda bahkan tidak tahu apa yang harus anda kerjakan.
Pertanyaanya adalah, produk yang mana? Promosi yang bagaimana? Sasarannya siapa? Menggunakan media apa? Apakah materinya sudah ada? Bentuk promosinya apa? Rencana anggarannya apa sudah ada? Siapa-mengerjakan apa? Dan masih banyak pertanyaan lainnya.
Yang terakhir, kata “dll” adalah kata yang pasti tak akan terkesekusi. Itu kata bingung dan aplikasinya adalah kebingungan. Anda justru akan mengerjakan hal-hal lain yang tidak anda rencanakan. Anda tidak dapat mengelola apapun yang tidak bisa Anda ukur.
               

Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 22 Mei 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkannya dengan selalu menyebutkan sumbernya.
Share:

20.5.17

ambillah keputusan - kalau salah bisa diperbaiki

ambillah keputusan
kalau salah bisa diperbaiki

menjadi bijaksana itu harus dengan aksi.
kesalahan pengambilan keputusan yang berkali-kali akan mengantarkanmu kepada pemahaman sejadi.

karena hidup adalah seni keberanian mengambil resiko

cahyo pramono


Share:

REZEKI MASIH SERET? (Tanya Keluarga Anda)

                ANAK saya pernah menyampaikan keluhan kepada kami orang tuanya. Kala itu, ia harus memilih mau kuliah dimana. Ia memilih universitas ternama di Jogjakarta tetapi ibu-nya lebih menyarankan agar ia memilih Universitas Negeri di Medan agar tidak jauh dari keluarga.
                Masing-masing dari mereka memiliki alasan-alasan positif dan mulia. Sambil waktu berjalan, mereka mengadukan harapan dan perbedaan pendapat itu kepada Tuhannya. Mereka menyebut perkara ini dalam doa-doa masing-masing.  Yang lebih dasyat, istri saya lebih bersungguh dengan doa-doanya, ia tambah dengan puasa dan ibadah-ibadah lainnya demi didengar oleh Tuhan semua permintaannya. Merasa kurang yakin bahwa Tuhan mendengar semua bisikan doanya, istri saya melakukan aksi yang lebih maju, ia meminta bantuan kawan-kawan dalam group pengajiannya agar ikut dalam petisi doa kepada Tuhan agar pilihan istri sayalah yang terwujud.
                Beberapa bulan itu, sudah terjadi perang doa di rumah kami.  Anda bisa bayangkan, harmonisasi dalam keseharian kami terganggu dengan perang terselubung. Kami dikumpulkan di rumah yang sama, keseharian yang sama. Bahkan ketika istri saya mengantar anak saya mendaftar ke Universitas pilihannya di Jogjakarta, perang doa itu tidak berhenti.
                Ketika pada akhirnya anak saya lulus di Unversitas pilihan ibunya, si ibu merayakan keberhasilannya dengan senang yang tiada tara. Ia menghubungi semua pasukan doa-nya dan mengucapkan terimakasih.
                Perayaan itu direspon dengan penerimaan pasrah oleh anak saya. Kala itu anak saya mengatakan kepada kami –orangtuanya--, “Bagaimana saya akan menuju cita-cita saya, ketika kita dalam satu keluarga saja tidak sepakat dalam tataran doa?”
                Sebuah pertanyaan sederhana yang mengiatkan saya bahwa tujuan bersama dan tujuan individu dalam keluarga mestinya bisa dikompromikan dan disepakati bersama. Bagaimana mungkin terjadi perjuangan yang mudah untuk mencapai sesuatu jika dalam tataran doa saja kita sudah bertengkar dan perperang? Tuhan saja sudah kita buat bingung dengan keinginan yang tidak sepakat.

Rezeki dan Keluarga
Manajemen bisnis modern mengantarkan kita kepada banyak teori tentang sukses dan cara mencapainya. Tulisan saya sekarang ini adalah salah satu teori tradisional yang layak anda pertimbangkan, setelah semua teori manajemen modern sudah anda laksanakan.
                Dalam konsep manajemen bisnis modern. Anda adalah kunci sukses atas diri anda sendiri. Semua orang bertanggungjawan untuk urusannya masing-masing. Yang terpenting lagi adalah "kualitas pribadi".  Kombinasi antara karakter dan kemampuan diri. Kita dituntut untuk  jujur, profesional, ramah, hormat terhadap orang lain, santun berbicara, memegang kepercayaan dan berikan kontribusi yang besar terhadap orang lain, sehingga kita menjadi pantas untuk mendapatkan imbalan atas perilaku baik tersebut.
                Jika kapasitas diri dalam upaya mencari rezeki Tuhan sudah kita lakukan, dan masih juga belum berhasil, harta yang sulit terkumpul, peluang bisnis yang sering gagal, bisnis sulit berkembang, keuntungan yang hanya cukup untuk berputar, kesilaan yang berkesinambungan dan hilangya rasa bahagia. Coba luangkan waktu untuk menganalisa kualitas hubungan kita dengan orang-orang yang terikat dengan kita dalam keluarga. Mereka adalah pasangan kita, anak-anak kita dan mungkin orang tua kita.
                Apakah ada perang doa dalam keluarga kita? Apakah ada sabotase impian dari pasangan kita?
Semestinya Doa pasangan dan keluarga harusnya saling menguatkan. Mestinya energy pasangan dan keluarga terfokus dan rezeki juga terpasangkan. Hanya Anda dan anggota keluarga yang mengetahuinya.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 6 Februari 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

                                                                   Coaching & Pelatihan: tj@cahyopramono.com
Share:

19.5.17

kelas motivasi kewirausahaan untuk "falimi"di aftercare sumut...



merasa terhormat mengenal para pejuang muda yang ingin terbebas dari jeratan narkoba di Aftercare Sumut.


makan siang bersama.... sedaap...


semangat belajar mandiri melalui kewirausahaan

ini yang namanya kelas kece

Share:

YANG TERSELUBUNG DALAM TEAM WORK

            BAGI anda yang masih belum mendapatkan manfaat maksimal dari tim kerja yang anda miliki. Atau yang sering merasa gagal atas target-target kerja yang sudah disepakati bersama. Andaipun ada pencapaian prestasi, biasanya tidak bertahan lama. Atau kerjakeras bersama tidak juga menghasilkan keuntungan yang optimal. Atau seringnya muncul permasalahan-permasalahan yang tidak penting. Cobalah petimbangkan faktor yang tidak terlihat dalam kerjasama tim kerja.
Walaupun tim kerja terkumpul dalam satu organisasi, satu bangunan, satu kantor, bahkan kadang satu ruangan kerja, tetapi bisa saja semuanya terasa hambar, kering dan panas. Acapkali ada hal-hal terselubung yang tidak kasat mata yang berpotensi menjadi hambatan besar didalamnya.

PERANG IMPIAN
            Tim kerja yang beranggotakan banyak orang, masing-masing memiliki impian personal. Tetapi bukan berarti tidak ada kesepakatan menuju impian bersama. Impian bersama menjadi sangat penting, karena sangat mungkin impian-impian pribadi itu terjadi atau terwujud jika impian bersama bisa juga terwujud.
            Perang impian terjadi ketika masing-masing individu tidak memiliki impian bersama. Atau impian bersama tidak disadari dan diyakini oleh masing-masing individu.
            Perang impian terjadi ketika masing-masing individu –sesuai fitrahnya—menjadi egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri. Indikator dari menguatnya impian individu dan melupakan impian bersama adalah ketika banyak individu yang berhitungatas kontribusinya kepada terwujudnya impian bersama.  Mereka menghitung jam lembur dengan hitungan kerugian yang besar. Berusaha menghindar untuk bekerja lebih dan mereka hanya memilih bekerja untuk bagiannya saja dan jika mungkin agar orang lain saja yang bekerja untuk dirinya sendiri.
            Perang ini terjadi ketika individu bekerja seadanya saja, sekadar terlihat bekerja. Tentang kualitas dan hasil kerja, itu tidak menjadi penting. Perang ini semakin membesar ketika para individu saling curiga dan cemburu atas rezeki dan fasilitas yang didapat pihak lain tanpa berfikir kintribusi apa yang diberikannya.
            Perang impian semakin berbahaya ketika para individu hanya saling menilai pekerjaan orang lain tetapi tidak melihat pekerjaannya sendiri.
            Perang impian ini saling menyabot. Saling menjegal dan saling membunuh. Perang ini datang dari batin-batin yang miskin. Batin-batin yang kelaparan. Mereka adalah orang-orang yang sedang sakit. Mereka meminum racun tetapi berharap orang lain yang mati.

PERANG DOA
            Dalam tataran doa yang paling sederhana saja, para individu yang sedang berperang tadi, bahkan hanya berdoa untuk dirinya sendiri. mereka tidak pernah terfikir bahwa berdoa untuk kepentingan bersama juga penting. Bukankah saling mendoa-kan adalah perilaku mulia yang akan membawa kepada kedamaian dan kemajuan bersama.
Berdoa meminta dukungan dari Yang Maha Kuasa adalah refleksi batin dan pikiran manusia. Bahkan orang-orang bijak percaya, apapun kata-kata dalam batin dan yang tersuarakan dari mulut adalah doa.
            Perang doa terjadi ketika tidak ada kesepemahaman antar individu. Masing-masing hanya sibuk dengan permintaannya masing-masing. Perang doa lebih berbahaya, ketika ada rasa sakit hati dan berharap agar Yang Maha Kuasa membalaskan untuk dirinya.
            Mestinya, semua pihak dalam tim harus saling menguatkan dan bekerjasama dimulai dari tataran doa. Mestinya doa-doa yang terpanjatkan adalah doa-doa yang saling menguatkan.
            Doa-doa yang terpasangkan dan doa-doa yang saling menguatkan akan menghasilkan energy besar. Energy terselubung yang sangat penting untuk kemajuan, kedamaian, keselamatan dan tercapainya tujuan bersama. Silahkan buktikan.
Artikel ni sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 13 Februari 2017 dihalaman 7. Diperbolehkan megcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

                                                                   Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Call 49 dinyatakan ditutup-selesai


CALL 49 dinyatakan DITUTUP

Bapak ibu-sahabat yang baik;
Call 49 untuk membuat rumah sederhanan untuk kakek ahmad dan ke 4 cucu-nya di pangkalan susu, langkat, sumut dengan ini dinyatakan DITUTUP mulai Hari Jumat, 10 Feb 2017 pukul 12.00 WIB.

KEBUTUHAN DANA UNTUK CALL 49 SUDAH TERPENUHI

Pekerjaan yang akan selesai minggu depan hanya;
1.     Pengiriman seluruh barang kebutuhan isi rumah.
2.     Pelatihan penggunaan dan perawatan alat-alat rumah tangga.
3.     Penandatanganan dokumentasi hibah dll.

Atas nama kakek ahmad, cucu-cucunya; Pebi, Farel, Pasya dan Intan serta seluruh relawan Yayasan Tangan Kanan - The Right Hand Foundation kami mengucapkan banyak terimakasih.

Atas ijin Bapak – ibu – sahabat yang baik, insyaallah besok, sabtu 11 Feb 2017, kami akan memulai project call 52 dan 53, berupa penggantian atap untuk 2 keluarga pra sejahtera yang memprihatinkan di daerah Pangkalan Susu juga.

Salam Tangan Kanan
Cahyo Pramono
Relawan
Yayasan Tangan Kanan-The Right Hand Foundation

Share:

hikes to the top of mountain

If You are seeking creativity ideas, mindfulness, wisdom and spiritual touch, go out walking of the mountain. angels wishper to a man when he hikes to the top of it.

foto by Alin I. Chan

Share:

Blog Archive