it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

27.10.17

Berhenti Ketika Merasa Sudah Tahu

                SAYA beberapa kali menolak permintaan untuk memberikan Pelatihan di beberapa perusahaan. Penolakan itu terjadi karena setelah saya observasi, saya menemukan fakta bahwa si Pimpinan terlibat dalam pusaran permasalahan di dalam perusahaan tersebut tetapi  si pimpinan menolak untuk ikut dalam Pelatihan yang dibuat.
                Alasan penolakkannya adalah merasa sudah tahu apa yang akan saya berikan dalam Pelatihan tersebut. Saya menolak karena yakin tidak akan menyelesaikan masalah jika si pimpinan sebagai pusat pusaran permasalah tidak ikut dalam forum Pelatihan saya. Saya merasa pesimis Pelatihan itu akan berjalan dan menghasilkan sesuatu yang berarti.
                Saya selaku pelatih hanya bertemu dalam hitungan jam dengan para peserta Pelatihan, tetapi si pimpinan yang menolak itu sebenarnya hidup berkelanjutan dengan bawahannya.  Dalam Pelatihan itu, mestinya si pimpinan bisa melihat dan mengamati permasalahan dari sudut pandang lain. Tetapi karena si pimpinan menolak, maka saya pun memilih untuk mundur.

BERHENTI
SEBUAH kesalahan kebanyakan dari kita—pekerja dan pemilik bisnis—adalah berhenti ketika merasa sudah tahu. Ingat “merasa” itu bukan benar-benar tahu.
Dalam proses operasional perusahaan, saya masih bertemu dengan banyak manajer yang merasa tahu, lalu menggampangkan proses kerja dan akhirnya semuanya berantakan. Gagal dan merugi.
Yang sering saya sesalkan adalah proses “berhenti “ karena marasa sudah tahu ini bisa terjadi secara beregu, mulai dari manajer hingga petugas pelaksana dibawah. Anda bisa bayangkan ketika sikap menggampangkan ini dianut oleh seluruh personil dalam perusahaan. Kehancuran ada di depan mata.

MASTER
                Sebenarnya, posisi “tahu” itu baru akar sebuah proses. Belum apa-apa. Sekadar tahu, belum bisa dikategorikan master.  Proses tahu selanjutnya adalah “pemahaman”. Paham bukan berarti “bisa”. Kemudian, “bisa” belum sampai tahap mahir. Mahir pada level tertentu baru mencapai kelas master. Anda bisa bayangkan, jika seseorang hanya berhenti pada tahap tahu.
                Saya pernah berada dalam sebuah acara yang dihadiri banyak orang. Banyak tamu penting hadir dalam acara tersebut. Acara terpaksa tertunda hingga hampir 1 jam hanya gara-gara projector. Lucu dan menyedihkan. Semua orang merasa tahu bagaimana cara kerja projector itu. Sayangnya pengetahuannya hanya sekedar tahu, tidak memahami bahkan menguasai dan mahir dalam operasional projector.  Belasan  panitia berkumpul di depan panggung tanpa menghasilkan solusi yang jelas. Masing-masing mencoba-coba dan mengatakan “setahu saya….”.
                Semua orang di ruangan itu merasa projector hal sepele dan mudah. Semua orang berfikir asal pencet, maka bekerjalah alat elektronik itu. Itu bukti bahwa sekadar tahu tidaklah cukup.

PENGHAMBAT
                Orang-orang yang membudayakan berhenti ketika merasa sudah tahu saya yakin lebih cenderung menjadi penghambat kemajuan dari pada menjadi pendukung atau pelaku perubahan untuk kemajuan.
                Saya masih ingat kisah telur Colombus yang fenomenal. Colombus menantang orang-orang untuk mendirikan telur matang, semuanya gagal. Dan ketika Columbus menghentakkan ujung telur ke meja, maka bagian yang retak/pecah menjadi datar dan akhirnya bisa berdiri.
                Atas sikap Columbus itu, semua orang mengatakan, “kalau begitu semua orang pun tahu”. Benar aksi Columbus sangat mudah. Tetapi pertanyaan selanjutnya adalah, setelah tahu, siapa yang melakukannya?.
                Tokoh-tokoh terkenal menjadi hebat bukan karena konsep yang sulit . mereka menjalankan hal-hal sederhana yang diketahuinya. Mereka tidak berhenti.
Banyak manajer merasa tahu bagaimana cara menaikkan omzet, tetapi sayang berhenti  sampai disitu.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 23 Oktober 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.

                                                         
                                                                      Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

12.10.17

HANYA PENTING GOAL AKHIR?

BANYAK pengusaha, manajer hingga pelaksana yang dengan sombong mengatakan bahwa yang penting tercapainya target final sambil meminta agar tidak ikut campur atas prosesnya.  Pada skala tertentu, berfilosofi hanya perduli dengan tercapainya tujuan / goal / target akhir sebenarnya seperti mengundi nasib pada anak panah. Seperti berjudi tanpa kepastian.
Ketika pelaksana bisnis kita adalah manusia, yang selalu menyertainya adalah khilaf, lupa, tidak sengaja dan banyak alasan yang dicari-cari untuk menutupi kesalahan karena faktor manusia.
Mari kita buat ilustrasi, misal target final anda adalah mengirim makanan ke Istana Presiden di Jakarta, sementara anda berada jauh diluar Pulau Jawa. Jika anda hanya perduli dengan target akhir itu, anda bisa merasa sangat sial yang tidak bisa anda kendalikan lagi.
Pekerjaan pengiriman makanan itu melewati banyak proses mulai dari pembelian bahan baku, proses persiapan masak, proses memasak, proses uji kelayakan, proses packing, proses pengiriman ke airport kota anda, proses di terminal udara, proses di pesawat terbang, proses di terminal udara di Jakarta, proses transportasi dari terminal udara Jakarta hingga ke Istana Presiden, Proses masuk ke Dapur Istana, Selesai.
Jika anda hanya mau tahu bahwa makanan yang anda kirim sampai ke dapur Istana Presiden tetapi ada masalah pada proses no 4, maka proses 5 hingga 11 pasti serba salah dan sia-sia. Jika anda memiliki alat bantu kontrol pada setiap prosesnya, anda akan terselamatkan lebih dini dan tidak banyak kerugian lanjutan yang sia-sia. Jika Presiden yang anda kirimi makanan tersebut adalah diktator yang kebal hukum, anda akan di hukum penggal.

IKUT CAMPUR VS PERDULI
Yang sering dianggap penyakit olah bawahan adalah pimpinan yang terlalu ikut campur dalam semua tahapan proses. Yang dianggap penyakit oleh atasan adalah ketika bawahan tidak cukup serius bertanggungjawab dan cakap menjalankan setiap prosesnya.
Benar bahwa setiap lini tanggungjawab harus dilaksanakan dengan baik dan sempurna. Artinya memerlukan kecakapan dan kemampuan kerja yang unggul setidaknya untuk urusan proses pada bagiannya masing-masing. Jika ada bagian yang pincang, maka mata rantai proses akan hancur mulai dari pihak yang menyalah itu.
Harus ada sebuah cara agar keperdulian pimpinan tidak berkesan ikut campur dan serba mengatur. Yang pertama, harus ada kesepakatan goal apa yang mau dituju pada setiap lini. Ini adalah langkah menterjemahkan secara taktik dan operasional atas tujuan besar/strategis yang sudah ditetapkan pimpinan.
Kedua, terjemahan goal besar itu akan berubah bahasa ketika melewati banyak level tanggungjawab. Manajer mentejemahkan target tahunan menjadi target bulanan, supervisor menterjemahkan target bulanan menjadi target mingguan, lalu pekerja menterjemahkan terge mingguan menjadi target harian.
Ketiga; pihak yang sudah membuat goal yang jelas tersebut mengerjakan dan membuat sistem laporan serta analisa atas tanggungjawabnya.
Keempat, ada standard yang ditetapkan untuk menandai pekerjaannya sudah layak atau belum pada setiap bagian. Standard ini termasuk didalamnya prosedur, teknik, waktu, pelaksana dan semua hal yang berhubungan dengan pengerjaan tugas di bidangnya.
Yang terakhir, mengamati semua proses dan mengkoreksinya menjadi sederhana dan mudah adalah langkah cerdas. Jika standard dan target sudah di set pada semua lini terlaksana dan dievaluasi dengan baik maka anda sedang dalam proses menuju pengelolaan bisnis yang Auto Pilot. Selamat.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 9 Oktober 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.

Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

3.10.17

Bergerak dan Gesekannya

                SETELAH bertahun Mas Supardi – pengusaha Mie Sop Pematang-- memberikan air putih gratis di gerai makanannya, sekali waktu terpikir untuk meningkatkan penjualan dengan menjual air mineral. Kemudian tidak serta merta air putih disajikan lalu setiap permintaan air putih selalu dijawab dengan penawaran air mineral. Apa yang terjadi selanjutnya, banyak pelanggannya yang mengeluh dan marah.
                Pada kesempatan lain, Mas Supardi ingin mempercepat pelayanan dengan melakukan dua perubahan lain. Yang pertama, tidak lagi menyediakan mangkuk cuci tangan, tetapi menyediakan beberapa wastafel, yang terjadi juga keluhan dari pelanggannya. Yang kedua, untuk mempercepat pelayanan, Mas Supardi meminta pelanggan untuk membayar langsung ke kasir. Upaya itu juga membuahkan keluhan yang baru.
                Lain kisah, Bang Jaya –Pengusaha Biro Perjalanan—mendapat keluhan dari beberapa pelanggannya ketika tidak lagi memberikan tiket pesawat dalam bentuk cetakan, tetapi hanya mengirimnya dalam bentuk file melalui internet.
                Pengalaman yang sama juga dialami oleh Bang Andry –Pengelola Hotel—yang merubah harga jual kamarnya tidak lagi termasuk sarapan pagi. Pelanggan mengeluh.

MENGGANGGU KENYAMANAN
                Zona nyaman yang biasa dinikmati oleh pelanggan sungguh sulit disentuh apalagi dirubah. Tetapi pada sisi lain, kadang zona nyaman itu berakibat pemborosan biaya dan energy yang berakibat kepada berkurangnya keuntungan.
                Pada level kemampuan layanan tidak lagi bisa dipertahankan karena alasan biaya yang semakin membebani dan harga jual yang tidak bisa lagi didongkrak, maka pilihan mengganggu kenyamanan pelanggan tidak lagi bisa ditunda. Sebuah pilihan yang sulit tetapi tidak bisa lagi dihindari.
                Perlu keberanian untuk memutuskan melepaskan diri dari beban biaya yang semakin berat. Tentu saja keputusan itu akan menciptakan gesekan yang bisa jadi berbahaya terhadap kelangsungan bisnis itu sendiri. Tetapi jika pilihan itu tidak ditempuh, bisa jadi malah bisnis itu tutup lebih cepat.

MEREDAM PERCIKAN
                Gesekan yang tercipta menciptakan percikan yang tidak bisa dihindari. Besaran percikan biasanya tergantung dari berasan kenyamanan yang tergesek. Pada skala tertentu gesekan itu seperti buah simalakama.
                Ada konsep minta dan beri. Dimana ketika pengurangan fasilitas dilakukan, kadang perlu diberikan semacam penghibur dengan memberikan sesuatu yang lain. Jika anda dalam posisi ini, coba temukan sesuatu yang bisa menjadi penghibur kekecewaan yang timbul, tentu dengan nilai yang lebih kecil dibanding fasilitas yang dihapuskan.
                Mengkomunikasikan dengan cara yang baik kepada pelanggan sebenarnya menjadi penentu keberhasilan penerapan perubahan ini. Jika anda bisa mencari alasan yang lebih logis maka potensi penolakan lebih rendah. Jika strategi komunikasi apapun sudah tidak mungkin, maka yang terakhir anda harus menggunakan cara meminta tolong dan meminta kemakluman. Tapi ingat ini harus yang terakhir.

ZONA NYAMAN BARU
                Kenyamanan yang sedang kita khawatirkan pada dasarnya hanyalah faktor kebiasaan. Bayangkan beberapa rumah makan capat saji dan kedai kopi dari luar Negeri yang membiasakan sejak awal sebuah gaya swalayan, antri, membayar diawal dan hal lain yang tidak biasa terjadi dibudaya pelayanan di Negeri ini. Gaya itu tidak terlalu banyak mendapat perlawanan, karena sejak awal ditentukan gaya layanannya.
                Tentu setelah perubahan-perubahan dilakukan dan terjadi pembiasaan, maka keluhan-keluhan akan segera menghilang dan pelanggan memaklumi kebiasaan baru yang kemudian menjadi zona nyaman baru untuk mereka.
                Semua gerakan akan mengakibatkan gesekkan dan saya ingatkan bahwa tak semua gesekkan perlu di khawatirkan. Selamat mencoba.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 11 September 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.


Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Keributan Untuk Kebangkitan (Catatan Untuk Pelukis Hebat Sofyan Wiyadi)

                LUKISAN berkelas yang tidak dikenal hanyalah sebuah gambar dalam kanvas yang tidak berarti apa-apa. Sama seperti mutiara dalam lumpur. Saya tetap menganggapnya sebagai lumpur, hinga kemudian resmi menjadi mutiara, ketika sudah bergantung di leher perempuan.
                Saya menemukan ‘lumpur’ berharga ini pada sebuah galeri seni sederhana di sisi jalan utama kota kecil Sanur di Bali. Saya tertarik untuk berhenti karena ada beberapa lukisan dengan teknik lukis yang tidak biasa.
                Saya minta ijin untuk menikmati lukisan itu sejenak, hingga pelukisnya mendekat –yang kemudian mengaku sebagai Sofyan Wiyadi-- dan menyapa saya. Saya sampaikan apresiasi saya dan kami terlibat dalam pembicaraan seru.
                Pelukis handal yang sudah malang melintang dalam dunia seni, sudah berkali-kali menjadi pembicara di kampus-kampus besar, berkali-kali pameran, tetapi seperti terlipat dan terselip dalam tumpukan barang-barang usang. Tidak muncul dan tidak bersinar layaknya seorang maestro.
                Akhirnya saya membawa obrolan tentang teknik dan strategi pemasaran untuk menonjolkan diri bagi seorang artis pelukis seperti kang Sofyan Wiyadi (dalam facebook-nya tertulis Sofyan Wiayadi).

MEMBUAT KERIBUTAN
                Orang membeli lukisan karena beberapa alasan. Pertama; karena lukisan indah dan berkualitas. Kedua; karena pelukisnya terkenal. Ketiga; karena alasan lain yang tidak perlu kita bahas. Alasan pertama dan kedua, hanya bisa terjadi kalau pelukis dan lukisannya dikenal dan diketahui publik secara luas.
Atinya, diperlukan berbagai cara untuk membuat si pelukis dan lukisannya dikenal. Menggunakan media sosial , menggunakan media massa dan media promosi apapun memerlukan alasan untuk ‘dinaikkan’ sehingga pembaca/penonton/pendengar menerima pesan itu denga normal dan natural.
Duduk 45 menit di galeri Kang Sofyan, say menghitung sudah puluhan orang melewati kami, tetapi tak satupun berhenti dan menoleh ke lukisan-lukisan di galeri ini.  Untuk Kang Sofyan, saya menyarankan untuk melakukan aksi “menbuat keributan” agar terjadi kerumunan sehingga mencuri perhatian publik.
Saya menyarankan agar dibuat sebuah aksi melukis secara langsung di depan galeri dengan iringan musik tradisional Bali. Semuanya dibuat secara menonjol dan mengagetkan. Misalnya musik yang menghentak dengan suara yang menonjol. Lalu kanvas yang berukuran besar, hingga pakaian pelukis yang juga menonjol. Jika acara itu dilakukan sepanjang 2 jam, maka ratusan pasang mata akan berkerumun dan mulai  melihat dengan fokus. Disanalah kesempatan untuk menyampaikan pesan, bahwa Kang Sofyan adalah pelukis yang tidak biasa.
Acara itu bisa dijadikan alasan untuk pemberitaan di media massa, baik dalam bentuk cetak, tivi, maupun radio. Lalu bayangkan orang-orang yang mem-foto dan merekam dalam video melalui handphone masing-masing lalu mereka mengunggah di media sosial. Jika dilakukan setiap bulan, maka kang sofyan akan terkenal ke seluruh penjuru bumi .

TERLIHAT DAN TERUNGKIT
                Diperlukan pengungkit untuk bisa melejit. Salah satu yang bisa dilakukan Kang Sofyan, adalah dengan membuka kelas melukis. Dengan harga yang terjangkau, para turis yang tinggal cukup lama di lingkungan Sanur, akan menjadi sasarannya.
                Kelas melukis bukan sekedar menjual jasa mengajar, tetapi setiap murid dari kelas itu akan bercerita kepada jaringannya. Para Murid, Keluarga serta kawan-kawannya akan terkoneksi secara moral terhadap Kang Sofyan. Disanalah perjalan pengungkit terjadi.
                Lalu bayangkan jika para tokoh publik mengkoleksi lukisan Kang Sofyan, secara instant, Kang Sofyan akan bersinar dengan karya-karyanya. Semoga.
Artikel ini sudah diterbikan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 4 September 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.


Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

BUKAN MAJU, CUMA LEBIH LANCAR


                          DARI beberapa klien bisnis yang saya dampingi, saya menemukan fakta bahwa pada umumnya mereka tidaklah bertambah maju dengan berjalannya waktu. Mereka hanya menjadi lebih lancar menjalankan bisnisnya. Secara pribadi mereka hanya berjalan di tempat. Demikian juga dengan tim kerja-nya.
             Saya berharap anda bukan salah satu dari yang saya maksudkan disini. Untuk memastikannya, coba jawab pertanyaan saya. Pertama; kemajuan apa yang anda dapatkan dalam 3 tahun terakhir ini? coba secara jenih anda perhatikan. Mungkin benar anda semakin menguasai pekerjaan anda. anda semakin lihai mengerjakan rutinitas. Anda menjadi sudah sangat paham apa yang harus anda lakukan jika ada permasalahan. Jika benar, anda sesungguhnya tidak maju, anda hanya lebih lancar dan menguasai pekerjaan rutin anda.
                        Kedua, berapa persentase peningkatan omzet tahuan anda? jika omzet anda naik 25%, sesungguhnya anda tidak mengalami kenaikan. Anda hanya jalan di tempat. Begini cara berfikirnya; jika inflasi 7 %, lalu anda naikkan harga jual sebesar 15 %, maka kenaikan omzet yang tanpa harus berusaha apapun sebesar 22%. Apalah arti kenaikan 3% yang sebenarnya?
                  Ketiga; berapa besar asset yang anda miliki saat ini? jika peningkatannya tidak signifikan, anda sebenarnya hanya mengalir kemanapun angin membawa anda.
             Keempat; ilmu baru apa yang anda miliki dan dengan ilmu itu anda bisa meningkatkan kapasitas bisnis anda dengan pesat?

MAJU
                Maju meninggalkan rutinitas adalah hal penting yang harus kita lakukan. Apapun posisi kita, baik sebagai pekerja atau pebisnis. Lihatlah, benar bahwa pekerjaan memerlukan keseriusan khususnya untuk hal rutinitas, tetapi rutitinitas harus disikapi dengan bijaksana. Jangan sampai rutinitas menjebak anda dan menghambat kemajuan anda.
                Ada tiga hal penting untuk menstimulasi kemajuan anda. Pertama; pengetahuan. Coba Tanya diri anda sendiri. kapan terakhir kali anda membaca buku? Kapan terakhir kali anda ikut Pelatihan? Kapan terakhir kali anda berkonsultasi dengan konsultan?
                Jika anda tidak mengembangkan pengetahuan diri, anda hanya akan menjadi pribadi tua yang bebal tetapi merasa pandai dan berpengalaman. Anda akan digilas oleh anak-anak muda generasi berikutnya.
                Kedua; ketrampilan. Ketrampilan apa yang ada miliki. Hal baru apa yang mampu anda kerjakan? Jika dulu anda tidak bisa mengoperasikan komputer dan hari ini juga sama, tetapi anda tetap mencari alasan untuk tetap tidak mempelajarinya, anda sesungguhnya tidak sedang mengalami kemajuan.
                Jika anda tetap meminpin dengan keras dan kasar, tidak melakukan pendekatan-pendekatan yang lebih manusiawi, sesunggunya anda sedang menyia-nyiakan waktu.
                Ketiga; perilaku. Apakah gaya perliaku anda tidak berubah membaik dan tetap saja dari waktu ke waktu? Apakah anda masih saja menggunakan daya ingat untuk mengendalikan perusahaan dan pekerjaan? Apakah anda masih memimpin dengan tidak adil? Apakah anda masih sering tidak bisa mengalahkan rasa malas? Disitu sebenarnya anda sedang berjalan ditempat, anda tidak maju.
             Ketika anda tidak maju, usia anda bertambah. Sampai pada situasi bahwa anda merasa berpengalaman, tetapi anda tidak menyadari bahwa dunia sudah maju dengan sangat pesat meninggalkan anda.
                Saatnya untuk bergerak maju. Saatnya menantang diri dengan kemajuan yang sesunggunya. Cara termudah untuk maju adalah menentukan sasaran yang menantang. Misalnya menaikkan omzet anda hingga 500%, bukan 25%. Disana anda dipaksa untuk tidak terjebak dalam ‘kebiasaan’. Karena target yang menantang akan menghasilkan pejuang yang hebat.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 14 Agustus 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.


Coaching & Konsultasi; tj@cahyopramono.com
Share:

Blog Archive