it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

21.12.17

MENGELOLA PERUSAHAAN KELUARGA


            DI perusahaan saya ada beberapa kerabat yang bekerja didalamnya. Pertimbangannya sederhana; saya perlu pegawai dan kerabat saya mau bekerja. Hingga sekali waktu salah seorang diantaranya mengindikasikan ketidakbaikan untuk proses manajemen perusahaan saya.
            Kerabat saya ini datang suka-suka, tidak mau serius bekerja dan tidak menjadi bagian dari tim kerja yang baik. Dalam pikirannya dia merasa sedang bertamu di rumah saudaranya sendiri. dia merasa bahwa sebagai saudara mestinya dia mendapat keistimewaan.
          Akhirnya saya minta kepada manajer untuk menegur dan mengingatkan pegawai yang juga kerabat saya itu. Saya ingin dia Paham bahwa sebagai kerabat, apapun akan dilakukan untuk membantunya. Tetapi sebagai pekerja semestinya bekerja sesuai aturannya.
            Kerabat saya itu tidak paham bahwa semestinya menjadi pekerja yang juga kerabat harus bekerja lebih baik karena menyadari bahwa ia sedang bekerja di perusahaan kerabatnya, bukan malah merusak sistem yang harus berjalan.
            Saya berikan alternatif untuk keluar dari menjadi pegawai dan tetap menjadi kerabat. Dan sebagai kerabat saya tetap akan membantu sekuat saya.

MENUNTUT

Dalam perusahaan keluarga hampir semua keputusan dan urusan terkait emosi dan hubunga kekerabatan, jadi aplikasi konsep bisnis professional harus ditambah pendekatan khusus supaya tidak terjadi keributan dalam keluarga.
Kita dipaksa memilih antara keuntungan atau keutuhan keluarga, sebuah pilihan yang sulit. Belum lagi ketika manajemen direpotkan oleh sikap-sikap anggota keluarga yang bekerja dengan suka-suka.
Kadang mereka benar-benar tidak bisa membedakan peran antara keluarga dan bisnis. Sebuah sikap yang pada akhirnya akan merugikan dirinya sendiri.
Sangat bijak jika diberikan pemahaman kepada pekerja yang juga anggota keluarga bahwa bisnis itu adalah sarana untuk saling membantu. Membantu keluarga dan membantu dirinya sendiri.
Harus dengan jelas dan terang dipahami oleh seluruh anggota keluarga yang terlibat untuk bersikap professional dan tidak cengeng yang hanya menuntut untuk diperlakukan dengan baik, diberi prioritas dan kerja yang sesuka hatinya.
Pemahaman ini akan terbentuk lebih baik, jika perusahaan dikendalikan dengan sistem yang baik. Jangan biarkan rasa segan membuat kita tidak menciptakan aturan. Ketika sistem dan aturan dilaksanakan dengan baik, maka semua perselisihan dan permasalahan akan dapat diselesaikan dengan baik.
Jangan lupa, sistem yang baik ini harus dikomunikasikan dan mendapat persetujuan dari semua tim kerja termasuk anggota keluarga yang bergabung dalam tim tersebut.

MEMILIH TIM
Perusahaan pada umumnya, memiliki keleluasaan memilih tim kerja dari mana saja tanpa hambatan. Selama cocok dan tepat maka kita bisa merekrut siapa saja, kapan saja. Perusahaan keluarga umumnya hanya memiliki pilihan tunggal; hanya anggota keluarga.
Karena sumber pilihannya sempit, maka kadang dengan terpaksa kita mengangkat mereka dengan apa adanya yang kadang kurang sesuai dengan prasyarat yang harus terpenuhi untuk menjadi seorang pekerja atau manajer yang baik.
Disini kita terkena kewajiban untuk membuat Program Pengembangan Kemampuan untuk anggota keluarga. harus sudah ada langkah kongkret dari mereka kecil. Harus dilihat potensinya, diarahkan preferensinya, dipersiapkan pendidikannya dan dibangun kesepakatan ke depannya,
Jika perlu dicarikan mentor khusus untuk pengembangannya. Sangat direkomendasikan agar sebelum seorang generasi penerus diajak bergabung dengan perusahaan keluarga, sebaiknya dia disuruh bekerja dulu di perusahaan lain untuk belajar. Biarkan mengalami menjadi bawahan dan mengalami naturalnya sebuah perusahaan berjalan.
Jika kinerjanya sudah baik dan matang, panggilah kembali untuk mengurus perusahaan.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 18 Desember 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.


                         Business Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

20.12.17

Perusahaan Keluarga, Mengapa Tidak?

            SETELAH mendengar keluhan sahabat saya atas krisis dalam perusahaan keluarga yang dipimpinnya dan perebutan kekuasaan dan saling jegal diantara pengurusnya yang sebenarnya bersaudara, sahabat saya tersebut juga merasa prihatin, karena dibalik itu dia sedang merasakan keretakan hubungan kekeluargaan yang sebenarnya.
          Saya meyakini bahwa tidak semua perusahaan keluarga jelek dan tidak bisa berkembang. Di negeri ini sudah banyak terbukti bahwa perusahaan keluaga bisa berkembang dan bertahan lama. Jika pun banyak  yang gagal saya yakin faktor keluarga bukan satu-satunya penyebab dalam proses seleksi alam yang wajar terjadi.
       Adalah Fakta bahwa banyak keluarga (suami istri) yang memilih berbisnis untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kita menemukan hal ini di sekitar kita. ada yang membuat toko, ada yang membuat pabrik, ada yang membuat restoran dan lainnya.
         Sayangnya, bisnis keluarga yang dimulai oleh suami istri ini jarang yang bisa berkembang besar dan bertahan lama. Kebanyakan hanya bertahan sekadar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
        Saya mencatat ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan untuk menjalankan bisnis keluarga.

SATU NAHKODA
            Benar bahwa suami istri atau saudara berniat membangun bisnis untuk bersama dan dilakukan bersama-sama, tetapi harus ada kesepakatan yang jelas dan harus dipatuhi bahwa pimpinan hanya ada 1 orang.
            Kesepakatan itu harus dihormati dengan sungguh-sungguh. Jika ada kekurangan yang dimiliki oleh pemimpin yang ditunjukk, semestinya ada formula yang bijaksana untuk saling mengingatkan dan saling menguatkan. Wewenang harus dibagi dengan jelas dan tegas dengan aplikasi yang luwes. Ingat, tidak ada pembagian wewenang yang sama rata. Pemimpin hanya boleh 1 orang. Kalau wewenang dibagi rata, maka akan tercipta pertengkaran. Hal yang biasa terjadi antar saudara dan antara suami dan istri.
            Tantangan paling besar dalam pembagian wewenang adalah rasa hormat dan bersungguh yang kadang terabaikan karena merasa bahwa pihak lain toh saudara/keluarga yang pantasnya memaklumi jika seseorang saudara/keluarga yang lain membuat kesalahan.
            Sering terjadi dalam kepemimpinan yang di jabat oleh suami istri menghasilkan perintah-perintah yang saling bertentangan. Suami perintah A dan si istri perintah B. si suami berorientasi kepada peningkatan omset dan si istri lebih berorientasi kepada penekanan biaya.    Dan ketika si suami berusaha mati-matian menggenjot penjualan, si istri menahan penambahan pegawai penjualan atau berusaha menahan kenaikan gaji pegawai.

KAPASITAS
            Mengelola perusahaan dituntut kapasitas kemapuannya, bukan sekedar kepercayaan. Artinya, harus dipilih orang-orang yang kompeten, memiliki kemampuan yang mumpuni untuk menjalankan bisnis tersebut.
            Jika pun terpaksa memilih anggota keluarga untuk menjalankan salah satu tanggungjawab dala perusahaan keluarga, pastikan mereka mendapatkan bekal Pendidikan, pelatikan dan coaching agar mereka bergerak maju dan bukan menjadi penghambat laju perusahaan.
            Carilah guru, coach atau mentor professional untuk membimbing anggota keluarga mencapai level kapasitas yang baik. Jika memiliki waktu yang cukup anggota kelurga yang akan bergabung, selayaknya ‘disekolahkan’ dahulu ke perusahaan-perusaan lain untuk mendapat pengalaman.
            Biasakan untuk menggunakan pendekatan bisnis yang professional didalam mengambil keputusan. Banyak business tools yang tidak dikuasai tetapi tidak dipelajari. Hindari sikap karena sekadar senang, atau faktor keengganan kepada saudara / keluarga yang lain.
            Sikap anggota keluarga mestinya berposisi sebagai pembela keluarga dengan bekerja lebih serius dari pada yang bukan keluarga, bukan sebaliknya. Perilaku manja dan tidak ingin bekerja dengan maksimal selalu menjadi penyebab kehancuran bisnis keluarga.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 11 Desember 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.
           

                                        Business Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

6.12.17

Bisnis Keluarga Yang Sekarat

           SUATU sore di bulan November mempertemukan saya dengan seorang pengusaha yang memimpin bisnis keluarga warisan dari orang tuanya. Sore yang mendung itu mengantarkan kami pada sebuah rasa pedih batin sahabat saya itu karena dirundung pertengkaran dengan adik-adiknya yang sangat membutuhkan madu tetapi lebih senang menghancurkan sarang lebahnya.
            Kejayaan kerajaan bisnis yang dikibarkan pendirinya mulai pudar seiring meninggalnya si perintis. Kini kerajaan bisnis yang hampir karam itu dikelola dalam perang membara antar para pewarisnya.
            Dalam hening saya mendengarkan secara runtun kisah pilu itu. Tanpa komentar saya terus mendengarkannya. Menjelang magrib saya memberikan dukungan moral dengan memberikan beberapa masukkan.
            Kali ini saya tidak hendak menceritakan saran-saran yang saya sampaikan kepada sang abang. Tetapi saya ingin membagi kepada anda hal-hal yang menjadi penyebab keruntuhan sebuah bisnis karena faktor internalnya sendiri.

PERANG DOA
Ketika tidak ada ridho antar pengurus perusahaan, tidak akan ada kedamaian dan keindahan didalamnya. Dalam tataran doa saja masing-masing pihak sudah bertikai. Masing-masing memaksakan kehendaknya kepada Tuhannya.
Tidak terlihat secara jelas, tetapi terasakan aura yang negatif, gelap dan kasar. Suasana gersang penuh kecurigaan dan kecurangan terselubung.
Saudara tidak menjadi alasan yang baik untuk membuat teciptanya kerukunan. Kecemburuan dan ketamakkan menjadi makanan sehari-hari.
Ketika ridho tidak hadir, yang ada hanyalah perlombaan untuk saling membalas dan saling menjatuhkan. Memperebutkan dengan tidak baik sesuatu yang semestinya menciptakan kebaikan.

TANPA KONTROL
            Sibuknya para pengurus bisnis itu untuk saling menyerang dan menjatuhkan, menjadikan bisnis itu berjalan tanpa kontrol. Energi pengurus habis untuk mengintai kesalahan pengurus yang lain –yang sebenarnya saudara sendiri--.
            Dalam konsep auto pilot business, benar bahwa perusahaan bisa dibuat untuk bisa berjalan sendiri, tetapi tidak ada faktor kesengajaan meninggalkan tanpa pengawasan dan campur tangan pada level tertentu.
            Perusahaan dijalankan oleh pengurus yang tidak efisien dan efektif. Tidak ada rasa perduli terhadap proses yang bisa menghasilkan out put yang bisa membesarkan usahanya.
            Tidak ada langkah-langkah antisipatif atas perkembangan jaman dan tuntutan pasar yang terus berkembang. Dulu, benar usaha itu menjadi raja, tapi pertikaian itu menjadikannya perusahaan yang usang, lunglai dan mendekati ajalnya.
            Dalam situasi itu, pesaing tidaklah harus mengeluarkan energi besar untuk menjatuhkan perusahaan ini. tunggu saja sejenak, perusahaan yang sedang konflik internal ini akan karam dengan sendirinya. Akan ditinggalkan pasar dan dilupakan.
Pengurus hanya sibuk mendahulukan kepentingannya sendiri dan mengabaikan proses manajemen yang baik dan benar, laksana melepaskan setir mobil yang sedang melaju kencang. Tinggal tunggu tabarakan dan hancur.

BUTA
            Rupanya tak cuma cinta yang buta. Tapi kebencian justru lebih membutakan. Pengurus perusahaan yang hidup dipenuhi oleh prasangka dan merasa selalu terancam, kadang tidak sempat berhening diri mencari kesejatian.
            Memelihara dendam dan sakit hati laksana meminum air laut. Semakin banyak minum, semakin terserang dahaga.
            Sembari menuliskan artikel ini, saya berdoa untuk kebaikan si abang dan adik-adiknya. Berharap sekejap mereka tersadarkan oleh ridho Tuhan yang akan mengucur deras jika ridho diantara mereka tercipta.
            Ribuan pegawai dan jutaan orang --yang secara langsung dan tidak langsung akan mendapat efek dari perang saudara itu-- semestinya menjadi pertimbangan untuk menyisihkan ego pribadi yang tidak dewasa.
            Semoga kisah pilu ini tidak terjadi pada anda.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 4 Desember 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.



                                                Business Coahing & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

JANGAN PERNAH MERUBAH (MENURUNKAN) TARGET

                BEBERAPA waktu ini, kita melihat langsung maupun melalui media publik pesta perkawinan puteri presiden dalam dua budaya, Jawa dan Mandailing. Saya pikir semua prosesi adat yang dilaksanakan memiliki makna-makna positif seperti semua upacara perkawinan adat dari seluruh Negeri. Ada banyak pesan tersirat yang mengingatkan hal-hal baik dalam kehidupan.
                Kita yang lahir dan besar dalam adat budaya Indonesia dengan kekayaan adat istiadatnya, meyakini bahwa doa-doa baik adalah sebuah harapan dan target positif untuk kebaikan kita sebagai manusia. target-target inilah yang mestinya menjadi acuan yang harus kita sasar dalam kehidupan kita.
                Dalam aplikasi bisnis, target adalah sebuah keniscayaan yang harus dimiliki semua pelakunya. Bagi mereka yang berbisnis tanpa target, mereka sebenarnya hanyalah sebutir kelapa kering yang jatuh ke sungai, terhanyut dan terbawa arus kemanapun tanpa kepastian.
                 Target sudah semestinya dipatok pada posisi paling ideal, paling tinggi, paling besar, paling utama. Ketika target itu terlihat seperti mimpi, tak mengapa, karena kemudian kita dipaksa harus menterjemahkan mimpi-mimpi itu kepada cita-cita. Penterjemahan kepada cita-cita akan semakin tergambar, terukur, terjangkau dan logis. Penterjemahan itu akan mengantarkan kita kepada urutan-urutan capaian yang mudah dan  menyenangkan.

HAMBATAN
               Hidup bukan panggung sulap yang serta merta bisa dibalik atau dirubah segala sesuatu menjadi seperti apa yang kita mau tanpa proses logis. Hambatan dan proses perjalanan mencapai cita-cita adalah hal yang logis dan wajar untuk dilalui menuju capaian yang kita tuju.
                Disini proses seleksi alam bermain. Bagi siapa yang kuat bertahan, yang bisa melalui cobaan, yang bisa mengatasi rintangan, yang mampu menyelesaikan masalah, yang membuka rahasia ilmunya, yang tabah dan tekun terhadap ketidaknyamanan, maka keberhasilan adalah piala yang akan menjadi miliknya.
                Proses alamiah ini akan memilih siapa yang menang dan siapa yang kalah. Proses ini tidak serta merta membuat yang kalah mati. Tetapi karena tidak langsung mati secara fisik, banyak dari kita yang ketika gagal dan tidak mati, lalu merangkai berbagai alasan untuk menenangkan perasaan diri bahwa kita belum gagal.
              Upaya menenangkan diri kadang keterlaluan sehingga membuat kita tidak lagi termotivasi untuk berjuang lebih serius, tetapi memaklumi kelemahan diri dan tidak segera memperbaikinya.
              Salah satu teknik yang paling tidak terpuji –bagi saya—adalah ketika menurunkan target karena ketidakmampuan kita.

HARAM
                Sekali kita menurunkan nilai target yang sudah kita patok, lalu kita merasa baik-baik saja, disaat itulah kita sedang menjadi penghianat atas cita-cita luhur kita. Sekali kita menjadi tidak terganggu dengan praktek pengkhianatan  ini, maka kita akan melakukan lagi, lagi dan lagi. Dari sini, lama-lama kita tidak akan mencapai puncak keberhasilan, tetapi kita hanya menuruni lembah kehancuran tanpa kita sadari.
                Menurunkan standard target hanya karena kita terhambat, bukanlah sikap mulia. Itu sikap si kalah, si pecundang.
                Sejenak berhenti, sejenak membelok, sejenak mundur mestinya tidak masalah, tetapi tetap tidak pernah merubah target. Kita diberikan kebebasan untuk merubah strategi. Sangat boleh merubah teknik. Sangat boleh Merubah alat. Sangat bisa Merubah pasukan asal sekali lagi, jangan pernah merubah dan menurunkan target.
                Hambatan bukan alasan untuk berhenti. Hambatan adalah hal yang harus dihadapi. Disanalah kita dipaksa untuk lebih pandai, lebih mampu dan lebih habit. Jika tidak bisa dilewati, kita bisa melaluinya. Cobalah.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 27 November 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan menyebutan sumbernya

                                                         Business Coaching & Training; tj@cahyopramono.com
Share:

Blog Archive