it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

28.3.18

SELESAI, BAIK DAN BISA DIGUNAKAN


SEORANG pemborong bangunan rumah terkena damprat habis-habisan dari pemiliki rumah yang dibuatnya. Tidak cukup sekedar merasakan kesedihan yang mendalam, tetapi ia juga merugi secara keuangan karena si pemborong harus membayar semua biaya perbaikan belum lagi ditambah penalty karena keterlambatan penyelesaian proyeknya.
                 Alkisah si pemilik rumah mendapati rumahnya selesai secara fisik, tetapi situasinya tidak layak dari sisi keindahan dan teknis. Ada banyak kerusakan pada keramik lantai akibat tukang las tangga yang tidak menutup keramik ketika mereka mengelas tangga. Kerusakan keramik itu akibat cipratan las dan mengakibatkan luka-luka dan noda hitam tanpa bisa diperbaiki. Semua keramik mahal itu tergores-gores karena pekerja yang membawa pasir dan batu bata tidak membuat alas diatasnya.
                 Pada dinding rumah yang sudah dicat rapih, terlihat bekas pahatan tukang listrik dan ac yang memasang pipa ac dan kabel-kabel listriknya, dipasang asal-asalan, tidak rapih dan bergaris retak sepanjang pahatan.
                 WC duduk di kamar mandi lengket di dinding, sehingga tidak mungkin orang duduk dengan nyaman. Rupanya pekerjaan pemasangan pipa limbah beda dengan pekerja pasang WC duduk.
                Air hujan tergenang di lantai atas karena pipa buangan lebih tinggi dari lantai yang terpasang. Air hujan melimpah di talang karena pipa buangan lebih kecil dibanding volume debit air dan luasan genteng. Pipa air bersih terpasang diluar dinding, karena dinding sudah selesai sebelum pasang pipa air.
                Situasi di dapur tidak kalah hancurnya. Posisi meja kompor dan meja cuci piring setinggi dada orang dewasa. Bagaimana mau memasak? Dan cerobong asap dari atas kompor mengarah ke dalam ruangan dapur bukan keluar ruangan.
                Yang bisa dianggap lucu, adalah garasi mobil. Setelah selesai diabuat, mobil bisa masuk, tetapi pengemudinya tidak bisa keluar, karena waktu mengukur hanya menggunakan lebar bodi mobil, bukan ditambah lebaran bukaan pintu mobilnya.
               
SELESAI DAN BENAR
                Ini yang tidak terjadi didalam proses pembangunan rumah itu. Tidak salah jika si pemilik rumah merespon kejadian rumah itu dengan amarah yang sangat besar. lalu berakibat kepada kerugian yang mendalam, dari waktu, tenaga dan biaya plus sakit hati beramai-ramai.
                Lihatlah, semua pekerjaan selesai. Semua pekerja mengerjakan pekerjaan masing-masing dan terlihat selesai. Tetapi mereka lupa bahwa tujuan akhir adalah rumah itu secara keseluruhan bisa dipakai. Bukan sekedar selesai.
                Semua tukang disemua bagian – ac, listrik, pipa, kamar mandi, keramik, batu dll – bekerja sesuai bidangnya. Tetapi mereka tidak perduli dengan mata rantai dan urusan pihak lain. Mereka begitu egois yang penting selesai pekerjaan masing-masing. Dan tidak mau tahu dengan pekerjaan pihak lain.
                Kisah yang saya sebut diatas, bukan isapan jempol. Banyak sekali terjadi disekitar kita. bahkan itu terjadi juga dalam proses produksi dan manajemen di lingkup bisnis kita masing-masing. Dalam hal ini, pada proses produksi diatas selain faktor ego masing-masing, juga jelas tidak ada koordinasi dan pengawasan.
                Apalah artinya selesai tetapi tidak bisa digunakan? Apalah artinya selesai tetapi tidak benar? Pertanyaan inilah yang semestinya menjadi dasar kerjasama dan koordinasi antar bagian. Mesti ada kesadaran bersama kemana arah dan target bersama, bukan hanya target masing-masing.
                Disini harus tampil seorang pemimpin yang mampu mengendalikan semua tim kerja, semua bagian dan semua tahapan proses alur produksi sehingga tercipta produk dan jasa yang selesai, baik dan bisa digunakan.
Artikel ini sudah di terbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 12 Maret 2018, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.

Business coaching & Training; tj@cahyopramono.com

Share:

MENANTI DURIAN RUNTUH


                       ALKISAH ada sekelompok orang petani penggarap dikontrak untuk mengelola sebuah ladang yang cukup luas. Di ladang itu banyak pohon durian yang sudah mulai tinggi. Tugas yang diberikan kepada mereka adalah untuk menjaga ladang, dan mengelolanya sehingga menghasilkan keuntungan untuk pemiliknya. Atas pekerjaan itu mereka mendapatkan gaji bulanan yang pasti, mendapat tunjangan sosial lainnya dan kenyamanan bekerja lainnya.
               3 tahun setelah mereka bekerja, datanglah si pemilik untuk meninjau ladangnya. Betapa tekejut ketika didapatinya ladang dalam keadaan penuh semak belukar, tidak rapah dan bersih, kumuh dan penuh sampah. Tetapi ada yang lebih membuat si pemilik ladang terkaget setengah mati adalah ketika mendapati para pekerjanya semakin gembrot, malas bergerak dan hanya duduk-duduk merokok sambil bersenda gurau di bawah pohon durian.
                Ketika si pemilik ladang bertanya kenapa mereka bermalas-malasan begitu? Jawaban mereka sungguh membuat lemas si pemilik ladang. Mereka mengatakan sedang menunggu musim durian datang dan bauh duriannya akan berjatuhan. Dalam kalkulasi mereka, jika semua pohon itu berbuah dan buahnya bisa dibawa ke kota, maka si pemilik akan mendapatkan uang ratusan juta rupiah dan berar kemungkinan para pekerja itu akan mendapat bonus tambahan.
             Fakta yang ada adalah bahwa semua pohon durian itu masih dalam masa pertumbuhan dan masih jauh dari berbunga, apalagi berbuah.  Para pekerja terbuai andai-andai yang jauh dari kenyataan. Dan tak ada sedikitpun usaha para pekerja itu untuk memupuk dan melakukan perawatan semacam pemangkasan yang perlu agar potensi berbunga dan berbuahnya bisa datang lebih cepat.
                Sebegitu besar pesona durian runtuh dan angan-angan pemalas itu, sampai mereka sama sekali tidak melakukan pembersihan lahan. Tidak menyiram dan tidak melakukan apapun selain mendapat gaji tetap dan bermalas-malasan. Kini mereka gembrot hingga tak sanggup lagi mengangkat parang apalagi cangkul.

DURIAN RUNTUH
                Berharap ada keajaiban hendaklah tidak melepasan tapak kaki dari bumi. Biarlang angan-angan sampai ke bulan, tetapi kaki tetap jejak dialam nyata. Durian runtuh hanya sebuah keajaiban yang bisa diimpikan tetapi tidak bisa dijadikan harapan satu-satunya.
                Hitunglah, jika dalam 3 tahun para pekerja membersihkan ladang, lalu menanam jagung sambil menunggu durian runtuh, maka, semestinya mereka sudah 12 kali panen. Belum lagi jika mereka tanam pisang, ubi dan bibit sayuran lainnya. Mereka sudah mendapat bonus berlipat ganda tanpa durian.  Jika ladang dalam keadaan bersih dan terawat, bisa saja ada potensi bisnis lain yang bisa mendatangkan uang, seperti penyewaan lahan perkemahan dan lainnya.

LAMUNAN
                Dengan sedih saya bisa mengatakan bahwa begitulah tanda-tanda kehancuran sebuah bisnis ketika tim manajemennya hanya pandai berminpi. Hanya pandai berandai-andai seperti disetir oleh jin penunggu ladang agar tidak segera bekerja sekuat tenaga mengelola dan membuat hasil nyata dari ladang itu.
                Tidak sedikit manajemen perusahaan keluarga yang tidak rela menyerahkan tanggungjawabnya kepada mereka yang mengaku para professional karena professional yang lupa diri justru akan membuat perusahaan itu merugi dan mati.
                Mereka lupa bahwa rejeki itu harus di kais, nasib harus dibentuk dari keringat, bukan jatuh runtuh dari langit seperti durian. Mereka lupa bahwa untung besar itu datang dari yang kecil-kecil. Tak bisa mendadak besar dan hebat seperti mukzizat para nabi.
                Terjadilah tontonan siapa yang mendustakan nikmat Tuhannya.
Artikel ini sudah di terbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 5 Maret 2018, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.

Business Coaching & Training; tj@cahyopramono.com

Share:

21.3.18

Tantangan Berkompetisi


SEKALI lagi, kompetisi sesuatu yang tidak terelakkan dari kehidupan ini.  Mari kita hadapi persaingan itu dengan hati riang dan menikmati prosesnya. Ada beberapa indikator dan target untuk mengukur jarak antara kita dengan pesaing. Semakin jauh jarak kita dengan pesaing, tentu akan menjadikan kita terlihat lebih menonjol dan lalu kita akan menguasai pasar lebih leluasa.

LEBIH CEPAT
                Prinsip dasar kompetisi adalah waktu. Siapa yang paling unggul. Kecepatan bisa jadi faktor dominan yang diperlukan. Jika permintaan pasar dalam hal kecepatan menjadi acuannya, maka semua faktor yang menggunakan waktu harus mendapat perhatian serius.
                Faktor itu bisa berupa panjang waktu perencanaan, waktu proses produksi, waktu tunggu pada masing-masing proses, waktu yang diperlukan untuk pengiriman, waktu layanan, waktu penanganan keluhan, waktu evaluasi dan monitoring.
                Sekarang semua orang ingin menjadi pesulap, agar semua permintaannya terwujud dalam hitungan detik. Maka pemenuhan atas keinginan cepat itu harus menjadi pertimbangan.
Beberapa perusahaan pengiriman barang / jasa kiriman, kini menerapkan teknik jemput segera setelah telepon pemesan masuk. Tidak perduli jika termin pengiriman ke airport terjadi pada sore atau malam hari, tetapi jika pesanan masuk pagi hari, mereka mengusahan agar pagi itu juga harus dijemput.  Penjemputan yang segera itu menciptakan kesan mereka adalah perusahaan pengiriman yang paling cepat. Dan konsumen tidak perduli kalau barang mereka akan dikirim pada sore atau malam harinya.

LEBIH BAIK
                Penggunaan indikator ini harus dengan data yang objektif. Jangan hanya perasaan. Lebih baik dari pesaing dalam hal apa? Apakah produk yang dihasilkan, apakah proses produksi atau respon konsumen yang menjelaskan keunggulan produk dan layanan kita.
                Baik adalah kata yang terlalu normatif, sulit dipahami. Mesti ada kejelasan yang lebih spesifik atas apa yang disebut baik itu sendiri. Misal ukurannya lebih pas sesuai kebutuhan, atau sesuatu yang terperinci seperti rasa, jumlah, isi, kemasan dan sebagainya.

LEBIH MURAH
                Nah ini dia, pembelian bahan baku yang tepat, proses produksi yang hemat (efisien dan efektif), dan proses pengiriman serta proses promosi yang ramah biaya pasti akan mampu menjauhkan diri kita dari pesaing.
                Jika semua komponen terkontrol, lebih murah dibanding pesaing, tentu harga jualnya akan lebih murah dari pesaing. Ini kunci kemenangan yang tidak bisa diabaikan.
                Ingat, efisien yang diaplikasikan adalah berjiwa efektif. Bukan asal murah tanpa memperhatikan kualitas. Karena harga murah sering disamakan dengan murahan.

LEBIH MUDAH
                Pertama, mudah dalam hal proses bisnis secara internal. Prosedur dan semua aturan dibuat mudah dilaksanakan dan mudah dikontrol. Semua kemudahan itu akan membawa kepada efisiensi dan efektifitas. Alat bantu yang harus ada, semestinya harus disediakan. Contoh sederhana mesin hitung kalkulator. Barang sepele itu akan mempercepat dan memudahkan pekerjaan.
                Kedua, mudah dalam hubungan denan konsumen. Mudah mengetahui, menjangkau dan mudan dalam prosedur mendapatkan produk atau jasa yang kita tawarkan. Selanjutnya, mudah dalam pemakaian oleh konsumen. Termasuk mudah dalam hal pembayaran.

LEBIH BESAR
                Besar dan kuat dalam volume bisnis, luasan penyebaran, jumlah konsumen, dan yang penting adalah besar dalam hal keuntungan.
                Itu tantangan yang harus dijadikan titik tuju para pebisnis. Menuju kearah itu, peningkatan kapasitas dan kualitas produktifitas, jaringan kemitraan, inovasi adalah pilihan wajib yang dilakukan pebisnis secara bertahap. Ingat, proses tidak menghianati hasil.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 19 Februari 2018, dihalaman 7. Di Perbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya


Business Coaching & Training; tj@cahyopramono.com

Share:

13.3.18

FISIK VS MENTAL ( Manajemen Stress Untuk Pemilik / Manajer Bisnis )


            STRESS adalah konsekuensi logis dari berbisnis atau mengoperasikan bisnis. Semakin tinggi posisi seseorang, mestinya tekanan mental semakin menjadi. Ada banyak referensi tentang teknik menghadapi dan menyelesaikan tekanan mental tersebut. Saya menemukan sebuah formula yang cukup efektif untuk saya. Semoga bermanfaat juga untuk anda.

PSIKOMATIK
            Psikosomatik adalah Kecemasan Berlebihan Terhadap Kondisi Tubuh. Gangguan psikosomatik  merupakan gangguan psikis dan emosional yang melibatkan pikiran dan tubuh, sehingga menyebabkan gangguan fisik. Gangguan ini tidak hanya terjadi pada orang dewasa, anak-anak pun bisa mengalaminya. Konon 75% penyakit manusia adalah karena faktor ini.
            Seorang yang dikejar pekerjaan dan lupa makan dengan teratur lalu ditambah beban pikiran yang berlebihan tanpa kemampuan mengendalikannya, akan terkena keluhan lambung dalam bentuk maag atau asam lambung.
Seorang yang sakit gigi misalnya, dapat menjadi pendiam atau bahkan beringas jika ada sesuatu yang menggangunya. Selanjutnya jika tidak dikendalikan akan mengakibatkan tekanan darah tinggi dan gangguan pernafasan.

SOMATOFORM
Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik (sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis yang akurat.  Kasus ini banyak sekali dialami pengusaha atau manajer yang tidak memiliki kemampuan tangkal dan kelola stress. Gangguan mental sungguh bisa mempengaruhi keadaan fisik.
Orang yang mengalami gangguan somatorm ini meyakini bahwa dirinya mengidap sebuah penyakit fisik yang kronis dan tanpa menyadari dan mengakui bahwa penyakit itu terjadi karena salah kelola tekanan mental.

MENTAL VS FISIK
Dalam keyakinan saya, ada korelasi yang kuat antara fisik dan mental. Kesehatan masing-masingnya sangat berkaitan. Sikap mental yang salah berakibat stress yang tidak terkendali. Stress yang tidak terkendali akan mengakibatkan penyakit-penyakit fisik. Demikian juga dengan sikap fisik yang tidak benar akan menghasilkan sikap mental yang negative.
Cobalah anda sering-sering menunduk dan mengecilkan dada, apa yang anda rasakan? Pasti perasaan yang sempit dan sulit. Jika dilakukan secara jangka panjang, maka anda akan mengalami depresi tanpa anda sadari.
Sekarang cobalah merengut terus menerus, lama-lama anda akan merasakan kesedihan dan kemarahan yang tidak anda sadari.
Nah, dalam praktekya, saya mendapai bahwa permasalahan diantaranya bisa diselesaikan dengan bersikap benar pada posisi yang berlawanannya. Jadi, jika kita punya masalah mental, bisa kita lawan dengan sikap fisik yang benar. Demikian juga jika kita memiliki masalah fisik, memperbaikinya harus dengan sikap mental yang benar juga.
Memang jika terlatih secara fisik dan mental, kita akan lebih tahan terhadap tekanan fisik dan mental. Tetapi faktanya banyak dari para pelaku bisnis, tidak dalam posisi itu.
Misalnya ketika kita dituntut untuk bekerja secara fisik yang sepertinya diatas kapasitas fisik kita, yang harus dilakukan adalah memenangkan cara berfikir dan menguatkan mental kita. Ada banyak cara yang bisa dilakukan seperti yang disebu oleh para motivator. Bagi saya, keyakinan dan alasan untuk hiduplah yang bisa membuat saya bertahan secara fisik. Percaya bahwa semua akan selesai jika dikerjakan secara beratahap dan menghilangkan pikiran-pikiran pengganggu.
Ketika kita sedang dalam keadaan lemah semangat, malas dan sedih. Saya memaksa diri melakukan pergerakan fisik. Mulai dari bergeser tempat duduk berjalan dan jika perlu lari secara fisik atau berjoget mengikuti musik. Alhamdulillah bisa berhasil.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggan 26 Februari 2018, di Halaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya


Business Coaching & Training tj@cahyopramono.com

Share:

PERSAINGAN TANPA PESAING


                   SUDAH kita bahas pada artikel terdahulu tentang teknik dan semua aspek tentang pesaing serta cara mengambil jarak dengan pesaing. Tetapi saya merasa harus menyampaikan pemikiran sesuai dengan judul diatas.
                  Saya sebut persaingan tanpa pesaing, karena pada dasarnya, jarang ada produk atau bisnis yang benar-benar monopoli tanpa pesaing sama sekali. Tetapi ada satu praktek strategi yang menyisihkan kata pesaing dan persaingannya itu sendiri.
              Ada sebuah toko roti yang sudah bertahun bertahan dengan gaya dan model jadulnya. Berpuluhan toko roti yang modern muncul dan menjadi pesaingnya, bahkan ada 2 diantaranya yang dibuka perisi satu blok dengannya. Tetapi si toko tua itu masih tetap diburu pelanggannya bahkan mereka rela antri dengan fasilitas yang tidak senyaman toko-toko roti yang baru.
                 Saya begitu penasaran ingin mencoba mendalami konsep bisnis toko roti tua itu. Semakin dalam saya kenal, saya semakin terheran. Pemiliknya yang sudah paruh baya sungguh tidak pernah belajar manajemen bisnis. Tidak pernah belajar teori Pemasaran dan semua hal yang berhubungan dengan teknik dan strategi Pemasaran. Tetapi apa – apa yang dilakukannya bisa dipahami dan dilihat dari teori bisnis modern.

TEORI SENIMAN
                Secara sederhana saya menyebut konsep bisnis yang dianut pemilik toko roti tua ini sebagai “Teori Seniman”. Saya sebut dengan teori seniman karena seniman yang “terkesan” tidak komersial, biasanya Nampak tidak perduli dengan siapapun. Mereka tidak terganggu dengan seniman-seniman lain yang merupakan pesaingnya dan karya-karyanya.
Mereka fokus dan menikmati proses seni yang mereka lakoni sendiri. sehinga pada akhirnya karya seni yang mereka hasilkan terlihat sangat khas, orisinil dan dalam. Pada situasi inilah karya-karya masterpiece tercipta. Mereka adalah maestro.
                Pebisnis yang mengaplikasikan teori seniman ini biasanya menghasilkan produk yang khas, orisinil  dan relatif tidak terikuti oleh pesaingnya.

SELESAI DENGAN DIRI SENDIRI
                Menjalankan teori seniman, tentu saja harus berlaku selayaknya seniman. Mereka benar-benar menjadi dirinya sendiri, tidak terpengaruh oleh tingkah polah pesaing dan kadang terkesan tidak perduli dengan kehendak dan kemauan konsumen.
                Aksi itu terjadi bukan karena kesombongan tetapi lebih karena mereka sudah merasa selesai dengan dirinya sendiri.  Aliran penganut konsep bisnis ini bahkan tidak merasa khawatir terhadap apapun. Mereka tidak khawatir rugi dan tidak laku, mereka tidak khawatir atas kesuksesan pesaing. Bahkan mereka tidak khawatir dengan situasi ekonomi yang melambat atau menjadi cepat.
                Mereka melihat pesaing dan konsumen hanyalah pribadi-pribadi yang istimewa, tidak mengancam dan harus dihormati sesuai kemampuannya. Mereka melihat pribadi-pribadi itu dari sudut pandang religius. Dan meyakini rejeki sudah diset oleh Tuhan dan tidak akan tertukar dengan siapapun.
                Konsekuensi logis dari aplikasi teori ini adalah nuansa cinta dan ketulusan serta aura percaya diri yang kokoh dan tidak tergoyahkan. Bisnis yang dijalankan dengan konsep ini tidak pernah menunjukkan rasa resah dan khawatir. Bahkan ketika bisnis itu harus tutup sekalipun, mereka tidak menjadi stress dan panik.
                Aplikasi teori ini memerlukan kekuatan yang luar biasa besar, karena memerlukan waktu yang cukup panjang untuk meyakinkan konsumen dan kekuatan pribadi yang kokoh. Diperlukan dedikasi kelas seniman dan seorang sufi untuk bisa bertahan dengan keterlibatan batin yang dalam sehinga bisnisnya tetap bertahan dan maju. Saya melihat tanda-tanda hubungan yang sangat dekat antara mereka dengan Tuhannya.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 12 Februari 2018, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.

Business Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

Share:

Blog Archive