it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

8.6.18

PROMOSI DENGAN BERTANYA

ANAK saya ingin mengembangkan bisnisnya dengan membuat bidang usaha yang lebih khusus dari produk yang dia kelola. Timbul pertanyaan bagaimana cara promosinya. Selain cara-cara klasik yang sudah biasa perlu tetap dilakukan, sesungguhnya berpormosi sebelum produk diluncurkan, bisa menjadi sebuah kebaikan.  Setidaknya pasar sudah tahu lebih dahulu bahwa akan ada produk yang akan hadir.
Saya menyarankan agar pasar ikut dalam proses lahirnya produk itu. Sangat bagus jika semua proses itu dikabarkan kepada publik dengan apik dan santun. Tidak berkesan promosi dan yang penting adalah menjadikan publik terlibat seolah-olah menjadi bidan dari produk tersebut.
Seperti sebuah kisah di televisi yang diikuti terus oleh pemirsanya. Jadi, pemirsa sudah merasakan kehadiran produk itu jauh sebelum produknya tercipta atau beredar di pasaran.
Keterlibatan publik akan lebih kena jika mereka dilibatkan secara emosional. Ingat kata kuncinya adalah dengan melibatkan. Jadikan mereka seolah-olah menjadi bidan atas lahirnya bisnis itu.
Bagaimana caranya?

BERTANYA
            Melibatkan seseorang secara mudah adalah dengan bertanya. Ketika orang itu menjawab, maka ia sudah secara otomatis menyerap pesan kita. Karena dengan menjawab pertanyaan, ia sudah melewati beberapa langkah dasar.
            Pertama, ia sudah meluangkan waktu untuk mendengar. Kedua ia sudah memperhatikan, ketiga ia sudah berfikir dan keempat ia mengeluarkan energy untuk merespon pertanyaan kita.
            Keempat langkah itulah yang membuat pesan kita semakin dalam direkam dalam alam bawah sadar mereka. Menjadikan seseorang rela melewati keempat langkah itu, jelas sesuatu yang sangat berarti dan mereka yang berkenan melakukannya layak diberikan apresiasi.
            Secara sederhana, waktu itu saya minta anak saya untuk membuat desain logo usahanya. Setelah jadi, selanjutnya langkah promosi dengan bertanya sudah bisa dilakukan.
            Pada kontek bisnis anak saya, kami menyebar pertanyaan melalui media sosial yang isinya meminta pendapat khalayak ramai dan memilih salah satu dari beberapa opsi logo yang akan kami pakai.
            Publik merespon pertanyaan kami dengan berbagai macam unpan balik. Ada yang langsung memilih salah satu dari dfrat logo yang ditawarkan, lalu ada yang berkomentar dan memberi masukan. Bahkan ada yang tidak memilih tapi menyarankan hal-hal positif lainnya.
            Dalam posisi ini, kami sebenarnya sedang melalukan semacam uji sederhana atas respon publik. Kami jadi tahu sudut pandang publik atas logo yang kami ujicobakan itu. Dan yang paling penting adalah bahwa selama proses itu, publik jadi tahu bahwa akan ada bisnis seperti itu dengan logo seperti itu akan muncul kemudian hari.
            Pada saat itulah sebenarnya promosi sudah berjalan walaupun produk belum jadi. Dalam situasi anak saya, ia sudah memberitahu publik atas rencana bisnisnya. Publik sudah mulai tahu nama usaha dan jenis produknya, walau bisnis itu belum berjalan.

BERSAMBUNG
            Kisah pelibatan publik itu harus berkelanjutan. Sangat banyak pertanyaan-pertanyaan yang memungkinkan publik menjawab dan tanpa mereka sadari, mereka sudah terbidik dan mengenal bisnis anda.
            Dalam case anak saya, kami menggunakan banyak pertanyaan yang dikirimkan ke media sosial secara bertahap dan berkelanjutan. Tak cuma bertanya tentang draft logo, tetapi bisa saja bertanya tentang dimana mesin dan bahan bisa dibeli, harga serta rekomendasi mereka yang sudah berpengalaman.
            Proses Tanya jawab itu terkesan seperti sebuah forum Tanya jawab yang tidak komersial, tetapi sebenarnya proses komersial sudah berjalan.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 7 Mei 2018, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya




                                                   Business Coaching & Training : tj@cahyopramono.com
Share:

KEWIRAUSAHAAN VS MANAJERIAL

            DUA keilmuan yang berbeda bercampur dalam sebuah aplikasi bisnis. Kedua ilmu itu sangat penting untuk digabungkan untuk membuat, menjalankan dan mengembangkan bisnis.
Fakta yang semestinya terjadi adalah bahwa jiwa kewirausahaan hanya diperlukan ketika menentukan bidang usaha yang akan dibuat, cara membuatnya dan cara memacu tim operasional meningkatkan kapasitas keuntungan usaha serta pengembangannya. Tetapi, untuk menjalankan bisnis yang diperlukan adalah ilmu manajerial.
Banyak dari kita yang mencampuradukkan ilmu dan fungsi itu, sehingga banyak yang mendapati kekecewaan atas hasil yang terjadi sesudahnya.

KEWIRAUSAHAAN

Ada yang mendefinisikan Kewirausahaan sebagai semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan serta menerapkan cara kerja, teknologi dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang  lebih besar.
Kewirausahaan atau entrepreneurship jika diterjemahkan secara harfiah diartikan sebagai sikap dan perilaku mandiri yang mampu memadukan unsur cipta, rasa dan karya atau mampu menggabungkan unsur kreativitas, tantangan, kerja keras dan kepuasan untuk mencapai prestasi bisnis secara maksimal.      
Stoner, James: kewirausahaan adalah kemampuan mengambil faktor-faktor produksi-lahan kerja, tenaga kerja dan modal-menggunakannya untuk memproduksi barang atau jasa baru. Wirausahawan menyadari peluang yang tidak dilihat atau tidak dipedulikan oleh eksekutif bisnis lain.
Secara sederhana, saya menterjemahkan kewirausahaan adalah sebuah sikap yang diperlukan untuk memulai sebuah bisnis dan mengembangkannya.
Hanya orang dengan jiwa atau ilmu kewirausahaan sanggup melihat peluang-peluang yang tidak dilihat orang banyak dan mampu memanfaatkan peluang itu untuk kepentingan bisnisnya.
Orang dengan jiwa kewirausahaan yang baik, sanggup melihat potensi, melihat sambungan mata rantai antara kebutuhan dan pasokan serta potensi kompetisi dan sekali lagi bisa dan sanggup mengelolanya menjadi sebuah peluang binsis.
Yang menarik adalah, bahwa banyak bisnis sukses dan besar berangkat dari konsep yang sangat sederhana, mudah dan sepele. Tetapi hanya orang tertentu saja yang sanggup merubahnya menjadi keuntungan usaha.


MANAJERIAL

Manajerial adalah perpaduan seni dan ilmu dalam mengatur segala sesuatunya dengan benar. Disinilah ilmu ini bermanfaat untuk mengelola apa yang sudah diciptakan oleh ilmu wirausaha.
Kata kuncinya adalah mengelola dan mengatur secara benar. Dalam hal ini harus ada kejelasan tentang kata ‘benar’ ini. Harus benar dan jelas apa yang harus dikerjakan, benar dan jelas apa prosedurnya, benar dan jelas efisiensi dan efektifitasnya, benar dan jelas target dan tujuan yang hendak dicapai dan harus serta jelas siapa yang mengerjakannya.
Pengelolaan yang benar muncul dari ilmu manajerial yang benar. Ilmu manajerial yang benar mencakup semua sisi operasional usaha. Ilmu manajerial yang benar mengantarkan semua pihak yang terlibat menuju sasaran yang sama dengan cara yang paling baik dan benar.
Ilmu ini sering dianggap sepele tetapi justru disinilah kunci sukses sebuah usaha yang sudah dibuat. Yang menjadi tantangan adalah bahwa ilmu menjadi manajer hampir tidak ada tersedia di sekolah-sekolah formal. Yang dipelajari di sekolah seringkali hanya ilmu-ilmu menjadi pelaksana bukan menjadi manajernya.
Para manajer yang saat ini menjabat kabanyakan adalah mereka-mereka yang belajar secara turun temurun dari para seniornya. Mereka banyak dipilih oleh pemilik usaha karena baik dan cocok di hati bukan karena kapasitas kerjanya.
Pemilik yang mengoperasionalkan usahanya secara langsung harus memiliki kemampuan dan kapasitas manajerial, bukan hanya sekadar kewirausahaan.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 30 April 2018, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.


                                                Business coaching & Training; tj@cahyopramono.com
Share:

Generalis VS Spesialis


                PAGI ini saya diundang untuk menjadi pembicara pada sebuah seminar nasional di salah satu kampus terbesar di Sumatera. Penitia meminta saya untuk membahas generasi millennia dan tantangannya dalam kontek energy terbarukan. Saya bukan pakar dibidang energy, dan memang bukan domain saya disana. Akhirnya saya melihat satu celah besar yang sangat mungkin saya masuki mengingat peserta seminar adalah mahasiswa yang ditempa untuk menjadi para spesialis khususnya dalam hal energy terbarukan.
                Celah yang saya lihat adalah fakta bahwa sebegitu banyak penelitian dan penemuan bertumpuk di laboratorium kampus. Sayangnya hanya sedikit yang akhirnya menjadi sebuah projek dan dimanfaatkan oleh banyak orang. Mengapa begitu?

SPESIALIS
                Biasanya peneliti adalah para spesialis. Mereka fokus kepada pecahan-pecahan kecil atas sebuah bidang besar yang saya sebut sebagai aplikasi temuan. Ilustrasinya begini; jika sebuah mobil dibagi menjadi bagian-bagian spare-partnya, maka ada ribuan unit alat yang berada didalamnya. Kesemua alat itu akan berujud mobil setelah digabungkan menjadi satu.
                Sebutlah salah satu alat tersebut adalah setir. Khusus untuk masalah stir ini, sudah beratus kali penemuan dan perbaikan yang dilakukan khusus oleh ahli setir. Hingga muncul cabang-cabang ilmu spesialis stir, misal dari ahli hidrolik, otomatisasi, sistem kendali, hingga ahli kayu khsusu untuk handle stir tersebut.
                Jika untuk masalah stir saja sudah terbelah menjadi banyak sub spesialis, coba bayangkan dari ribuan alat dan perlengkapan yang harus ada dalam satu buah mobil. Artinya ada bekerja ribuan peneliti yang melakukan itu.
                Selain tantangan menemukan hal-hal baru yang bermanfaat, tantangan terberat dari para peneliti adalah hasilnya yang besar kemungkinan akan berhenti hanya sampai karya tulis atau jurnal saja. Itu terjadi jika para peneliti itu bekerja sendiri-sendiri. Tanpa upaya integrasi dan tata kelola jaringan para peneliti, maka tidak akan terjadi integrasi yang baik untuk menjadikan sebuah setir mobil yang bagus, berkualitas, ringan kendali dan ramah dengan pemakainya.
                Tempat bagi para spesialis adalah dunia kerja, dibayar untuk mengerjakan hal-hal khusus yang merupakan bagian kecil dari sebuah matarantai bisnis. Jika peluang karir ada, biasanya para spesialis ini hanya mungkin sampai level kepala departemen yang khusus dibidangnya. Walau tidak menutup kemungkinan sebagian kecil dari mereka menjadi pemimpin umum yang tidak lagi mengurus hal-hal spesialis.

GENERALIS

                Mereka yang mengelola integrasi itulah yang saya maksud dengan para generalis. Mereka adalah orang-orang yang sengaja melebarkan perhatian untuk mengurus yang tidak spesialis. Mereka mengelola hasil-hasil penelitian dan hal pendukung lainnya untuk menjadi sebuah bisnis.
                Para generalis inilah yang menyatukan semua bidang spesialis sehingga menjadi sebuah tim. Para generalis inilah yang akhirnya membawa hasil semua kerja para spesialis menjadi sebuah produk dan sistem yang layak dijual.
                Tempat para generalis adalah level manajer atau justru pemilik bisnis itu sendiri. Jika para spesialis tahu sedikit hal tetapi sangat mendalam, para generalis banyak tahu tetapi dangkal saja.

SPESIALIS YANG GENERAL
                JIka anak muda berencana menjadi spesialis, Kemampuan keharusan yang mestinya dimilikinya adalah cara berfikir yang general, menyeluruh dan holistic. Sangat penting jika para peneliti mempelajari kebutuhan pasar, ilmu Pemasaran, ilmu keuangan dan akuntansi, ilmu manajemen produksi dan sebagainya. Hingga jika waktunya datang, mereka tidak saja memperbanyak hasil penemuan yang tidak terpakai, tetapi justru bisa menjadikannya bernilai uang.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 23 April 2018, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya
                                               

                                      Business Coaching & Training; tj@cahyopramono.com

Share:

PENUGASAN PEKERJAAN

                SAYA pernah membuat kesalahan, hampir sepanjang karir pekerjaan saya. Kesalahan itu adalah dalam hal membuat Aturan Uraian Pekerjaan, hingga standar prosedur yang selanjutnya terhubung dengan Job Description. Kesalahan terbesar saya adalah, biasanya saya mencontek daftar uraian pekerjaan itu dari perusahaan-perusahaan besar yang diakui kehebatannya.
                Kesalahan itu adalah bahwa dengan daftar ’hebat’ yang  saya miliki itu, saya memerintah bawahan saya untuk bekerja seperti daftar itu yang nota bene adalah perusahaan lain yang memiliki latar belakang, gaya manajemn dan situasi yang pasti berbeda.
                Untuk membayar rasa bersalah itu saya buat tulisan ini.  Artikel kali ini adalah sedikit tips untuk satu; mengetahui sebenarnya apa saja pekerjaan yang harus kita tugaskan kepada tim kerja. Kedua; untuk mengetahui apakah tim kerja tahu apa saja pekerjaannya. Lalu yang ketiga; untuk mengetahui apakah mereka tahu urutan kerja dan prosedurnya. Yang keempat apakah mereka tahu standard yang pencapaian yang harus dicapai, dan yang kelima; apakah tim kerja memahami Kompetensi apa yang harus dipenuhi.

DAFTAR PEKERJAAN
                Langkah pertama, suruh tim kerja anda secara individu menuliskan daftar pekerjaan mereka dengan lengkap. Lengkap yang saya maksud adalah sempurna secara rinci. Jika ada daftar pekerjaan semisal “Mempromosikan Menu Baru”, itu bukan termasuk sempurna dalam kontek rinci. Harus ditambahkan kejelasan apa saja pekerjaan yang harus dilakukan dalam mempromosikan menu baru tersebut.
                Harus ada rincian, misalnya 1). Memfoto menu baru. 2) menyiapkan materi promosi dalam bentuk brosur elektronik, brosur kertas, spanduk, iklan radio dan berita di Koran. 3) memposting brosur tersebut ke media sosial. 4) mengirim brosur tersebut ke email para pelanggan. 5) membagikan brosur cetakan ke target pasar. 6) memasang spanduk, 7). Penempatan iklan radio. 8) penempatan berita di Koran.
                Benar anda dan tim kerja anda sudah tahu apa yang harus dilakukan, tetapi daftar ini justru sangat penting untuk mengingatkan diri kita tentang apa saja daftar pekerjaan kita. tantangan dalam tahap ini adalah ‘merasa tahu’. Jika muncul perasaan sudah tahu, maka semua dari kita akan berhenti.

URAIAN PEKERJAAN
                Setelah selesai dengan daftar pekerjaan secara rinci. Lanjutkan dengan membuat daftar urutan pekerjaannya. Lagi-lagi harus dengan sangat detail dan terperinci. Anda harus mengarahkan proses penulisannya dengan format, nomor urutan pekerjaan, lalu kolom pekerjaannya, kolom alat yang digunakan, kolom standard pekerjaannya dan Kompetensi yang harus dikuasai oleh pelaksana kerja.
                Sebutlah dari daftar pekerjaan mempromosikan menu baru diatas, ada pekerjaan turunannya berupa ‘memfoto menu baru’. Nah, pekerjaan memfoto menu itu berisi; 1) meminta pihak dapur mempersiapkan menu dimaksud. 2) Mempersiapkan kamera, lampu dan lokasi pemotretan. 3) Meminta saran pihak marketing tentang apa sudut dari menu yang akan diunggulkan. 4) melakukan pemotretan. 5) Dll.
                Sebutkan standard yang dipatok, misal; 1) Makanan tersaji dengan komposisi warna yang menarik. 2) Resolusi dan ukuran foto memenuhi kebutuhan cetak. 3) semua alat berfungsi dengan baik.
                Kompetensi yang harus dikuasai; 1) Mampu menggunakan kamera foto. 2) Menguasai tata cahaya. 3) dll.

PENILAIAN KERJA
Dengan menyelesaikan daftar pekerjaan dan urutan kerjanya, anda dan tik kerja secara otomatis mengetahui daftar pekerjaan, urutan kerja, alat yang digunakan, standard yang ditetapkan dan Kompetensi yang harus dikuasai pelaksana kerja.
Sekarang anda bahkan sudah punya alat bantu menilai tim kerja anda. 
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 16 April 2018, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

Business Coaching; tj@cahyopramono.com
Share:

EKSEKUSI



                SERIAL tentang perencanaan sudah kita bahas. Sekarang kita bahas bagaimana mengeksekusi perencanaan yang sudah kita susun. Sebagian orang berfikir bahwa membuat rencana/goal sudah selesai kerjaan. Padahal itu belum apa-apa. Harus ada langkah pasti merealisasikan apapun yang sudah kita susun dalam perencanaan.
                Tantangan seputar perencanaan dan eksekusi biasanya adalah; yang pertama tanpa perencanaan strategis, eksekusi akan membabi buta atau malah tidak ada aksi karena tidak ada tujuan dan panduan yang dituju. Yang kedua; tanpa eksekusi, perencanaan strategis hanyalah mimpi disiang bolong.
                Yang ketiga; 30% eksekusi yang salah terjadi karena salah perencanaan/goal setting. Keempat; 70% kegagalan rencana strategis adalah karena buruknya eksekusi. Kelima; membuat rencana strategis tidak memerlukan waktu yang panjang, tetapi ekekusinya sepanjang tahun.
                Yang keenam; perencanaan strategis yang bagus adalah yang juga memikirkan bagaimana eksekusi dilaksanakan dikemudian hari.

ROMANTISME EKSEKUSI
                Saya sebut sebagai romantisme, karena disini terlibat karakter manusia pelaksananya. Banyak hati dan pikiran yang terlibat, tersakiti, atau tersenangkan. Semua kembali kepada pribadi masing-masing dalam hal respon yang dipilihnya.
                Yang sering terjadi adalah, pertama; bernafas “sejenak” setelah selesai membuat perencanaan. Sebutannya sejenak, tetapi jika itu terjadi dalam hitungan bulan, sudah pasti energy yang dibutuhkan akan lebih besar lagi. Yang lebih parah adalah ketika karakter manajernya yang kurang bijaksana dan merasa bahwa membuat rencana strategis adalah pekerjaan berat.
                Yang kedua; eksekusi yang kelelahan karena kehilangan fokus. Gangguan-gangguan dalam sistem kerja, situasi perpolitikan kantor yang tidak kondusif atau situasi eksternal yang terlalu diambil hati.  
Yang ketiga; eksekutor menjadi gamang, karena tidak tahu apa yang hendak dilakukan. Eksekutor tidak memperkaya diri dengan ilmu dan ketrampilan yang diperlukan atau tidak ada tuntunan yang jelas kemana harus melangkah.
                Yang keempat; Tidak ada alat ukur pencapaian dan tidak tahu kearah mana yang akan dituju.  Biasanya kesesatan ini terjadi karena goal yang tidak spesifik, tidak terukur, tidak jelas waktu dan tidak jelas ukurannya. Ngambang dan terlalu normative.
                Alat ukur itu harus menjadi alat pantau tingkat efektifitas dan harus efisien. Alat pantau harus menjadi alat bantu, bukan pemberat beban.
                Yang kelima dan paling penting adalah faktor manusia pelaku eksekusinya. Sikap dan karakter pekerja sangat mempengaruhi bagaimana eksekusi dilakukan. Pribadi-pribadi yang tangguh, loyal, berdedikasi dan berkomitmen adalah syarat penting untuk suksesnya eksekusi.
                Inti dari manajemen adalah pengelolaan manusia. Dalam hal ini mungkin saja seorang manajer berada dalam jajaran pekerja yang pemalas dan tidak produktif, tetapi semua dari mereka juga manusia biasa yang berpotensi besar untuk berubah menjadi baik.
                Tidak menutup kemungkinan seseorang tidak cocok dengan sang manajer, mereka bukan tidak potensial, tetapi mungkin potensinya lebih cocok diaplikasikan di tempat lain. Pindahkan saja.
                Yang terakhir, semua eksekusi bisa berjalan dengan baik, jika semua pihak sudah terlatih dalam bekerjasama. Sama seperti ketika beberapa orang sudah berkawan lama, mereka saling kenal dan saling tahu kelemahan dan keunggulan kawannya. Bahkan seorang kawan bisa memahami situasi kesulitan kawan yang lain ketika kawan yang lain mendadak tidak banyak bicara seperti biasanya dan kawan yang mengetahui itu dengan sigap merespon.
                Kesetaraan kemampuan kerja pada semua lini eksekusi menjadi penting agar alur eksekusi berjalan imbang dan rata. Disini perlu peningkatan kapasitas yang terencana, terstruktur dan berkelanjutan.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 9 April 2018, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

Business Coaching & Training; tj@cahyopramono.com

Share:

MEMBUAT RENCANA BISNIS


                  TERIMAKASIH atas respon positif dalam rentetan artikel saya tentang perencanaan. Sekaligus menjawab beberapa pertanyaan, berikut saya sampaikan teknik membuat rencana. Hal sederhana yang sering diabaikan oleh praktisi dan operator bisnis, bahkan pemiliknya.

BUKAN KHAYALAN
                Sekali lagi, rencana bukanlah khayalan. Jadi rencana tidak hanya menceritakan “POKOKNYA”. Semua harus terperinci, jelas, lugas, tidak multi tafsir apalagi tidak bisa dipahami, terukur, terjangkau, logis, dan dalam hitungan waktu yang jelas.
                Dalam perencanaan ada faktor Proyeksi, sebuah perkiraan berdasarkan catatan masa lalu. Sebutlah, setiap menjelang hari raya, penjualan akan naik 500 %, maka selanjutnya target dipatok minimal naik 500 %. Itu proyeksi.
                Ada juga faktor Prediksi, ini adalah perkiraan berdasarkan teori. Sebutlah proyeksi tahunan moneter dari  bank sentral dll. Dan yang terakhir adalah Estimasi, sebuah perkiaraan berdasarkan keahlian. Misalnya prakiraan cuaca dari badan meteorolgi dan geofisika milik pemerintah. Manajer Pemasaran yang sudah ahli akan mampu memprediksi potensi penjualan menggunakan alat-alat ukur yang biasa digunakannya.

PERENCANAAN
                Sejatinya perencanaan selalu didahului dengan mengeset target/goal secara gamblang, detail dan spesifik dalam waktu yang jelas. Dalam tahap ini pastikan anda ingin apa? Berapa? Kapan? Jangan ada kata-kata yang tidak spesifik seperti “yang lebih baik”, karena lebih baik tidak bisa diukur.  Kata ‘lebih baik’ diganti, --mungkin—dengan ‘naik 10%’, ‘tambah 100 unit’ atau ‘hemat 35%”.
Dalam hal ini anda boleh menggunakan metoda proyeksi, prediksi  atau estimasi.  Pertanyaan yang harus dijawab adalah, apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang dengan ke tiga metode tersebut . Sehingga anda bisa mengantisipasinya dengan lebih baik.  Gunakan data dan angka untuk mengukurnya. Semua hal yang tidak bisa diukur sudah pasti tidak bisa diatur.
                Selanjutnya tentukan bentuk penugasan, dalam tahap ini anda harus menjelaskan apa saja bentuk tugas yang diberikan kepada siapa dalam tanggungjawan apa. Anda harus membuatnya secara rinci dan jelas pada setiap tahap-tahapannya. Pembagian tugas dan tanggungjawab yang jelas akan memudahkan pencapaian target/goal yang sudah di tetapkan diatas. Tidak boleh tahapan dibuat dengan ‘asumsi’ bahwa semua orang akan otomatis mengetahuinya.
                Pastikan anda menentukan strategi  dan pendekatan yang akan dilakukan atas penugasan tersebut.  Buat peta strategi dan taktiknya.  Komponen waktu harus menyertai semua langkah-langkah strategi yang di tetapkan. Jawab pertanyaan kapan? Apa urutan pekerjaannya dan berapa lama durasinya.
                Alokasikan sumberdaya yang anda miliki dan harus anda miliki, berapa banyak dan biaya apa saja yang harus ditanggung. Perencanaan pembiayaan yang detail dan terperinci menghindarkan anda dari kecerobohan penentuan keuntungan.
                Setelah itu, pastikan kebijakan apa yang harus anda putuskan sehubungan dengan semua hal diatas. Keputusan tersebut harus berorientasi kepada penyelesaian masalah, bukan menciptakan masalah baru.
                Daftar pekerjaan dan urutannya, pembagian waktu, dan penentuan siapa saja yang mengerjakannya membimbing anda menuju kepada standard prosedur yang bisa dilakukan oleh siapapun orangnya, biarpun pekerjanya berganti-ganti.
                Perencanaan ini berlaku untuk jangka waktu pendek, menengah maupun jangka panjang. Jadikan perencanaan ini peta anda menuju harta karun yang anda kehendaki. Perencanaan yang matang adalah 50% keberhasilan eksekusi bisnis anda.
                Beri  ruang untuk mengevaluasi strategi dan teknik dimasa yang akan datang. Jke perlu, sesuaikan dengan kondisinya. Tetapi ingat anda hanya boleh merubah strategi, bukan merubah target/goal yang sudah disepakati.  
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 2 April 2018, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

               
Business Coaching & Training; tj@cahyopramono.com

Share:

Blog Archive